Selama tiga tahun tinggal di rumah keluarga Hartono, aku selalu memainkan peran sebagai gadis baik yang sempurna.
Aku begitu baik hingga hampir tak ada yang bisa mereka kritik dariku.
Aku rajin belajar.
Tidak pernah membantah orang yang lebih tua.
Tidak suka keluyuran bersama teman.
Tidak pernah pulang larut malam.
Nilai-nilaiku selalu bagus.
Para tetangga sering memujiku di depan Bu Ratna.
“Anak itu benar-benar baik.”
“Nadia jauh lebih bertanggung jawab dibandingkan kebanyakan anak zaman sekarang.”
“Suatu hari nanti, dia pasti akan sukses.”
Setiap kali mendengar pujian itu, Bu Ratna hanya tersenyum tipis.
Ia tidak pernah memujiku.
Namun ia juga tidak pernah menyangkalnya.
Karena hanya aku yang tahu kenyataannya.
Aku tidak memilih menjadi gadis baik.
Aku terpaksa.
Setelah ibuku meninggal karena sakit yang berkepanjangan, aku tidak memiliki kerabat lain.
Sahabat terbaik ibuku kemudian mengadopsiku.
Mereka adalah keluarga Hartono.
Meski mereka memberiku tempat tinggal dan membiayai sekolahku, aku tahu bahwa aku bukan bagian dari keluarga itu.
Aku hanyalah seorang anak yang menumpang.
Setiap makanan yang kumakan di meja makan adalah sebuah utang budi.
Setiap rupiah yang mereka keluarkan untukku harus selalu kuingat.
Aku tumbuh dengan sangat berhati-hati.
Seolah-olah aku takut melakukan kesalahan sekecil apa pun.
Tiga tahun.
Selama tiga tahun, aku memakai topeng gadis sempurna.
Sampai akhirnya aku masuk universitas.
Saat itulah aku memutuskan untuk menjalani kehidupan yang berbeda.
Di pagi hari…
Aku adalah Nadia.
Pendiam.
Anggun.
Memakai kacamata.
Selalu masuk daftar mahasiswa berprestasi.
Namun di malam hari…
Aku menjadi orang yang berbeda.
Seseorang yang tidak dikenal siapa pun.
Bahkan teman-teman kampusku pernah terkejut.
“Nadia, serius? Itu kamu?”
Aku hanya tersenyum.
Karena itulah yang kuinginkan.
Sebuah kehidupan di mana tak seorang pun mengenal diriku yang sebenarnya.
Sebuah kehidupan yang tidak menuntutku menjadi sempurna.
Sebuah kehidupan di mana aku tidak harus selalu menyenangkan orang lain.
Aku mulai pergi ke pesta.
Ke klub malam yang penuh musik dan cahaya.
Ke tempat-tempat yang tak akan pernah didatangi Nadia yang dulu.
Dan aku menyukai perasaan itu.
Perasaan bebas.
Namun terkadang, kebebasan memiliki harga yang harus dibayar.
Dan hari itu akhirnya tiba.
Pada pesta ulang tahun seorang teman.
Aku minum lebih banyak dari biasanya.
Terlalu banyak.
Musiknya sangat keras.
Lampu-lampunya berputar.
Pandanganku mulai kabur.
Hal terakhir yang kuingat adalah aku menabrak seorang pria.
Dia tinggi.
Memakai kemeja hitam.
Dengan aroma parfum yang menenangkan.
Sepertinya aku bahkan memeluk lengannya.
Dan setelah itu…
Aku tidak ingat apa-apa lagi.
Ketika terbangun keesokan paginya…
Sinar matahari sudah menembus celah tirai.
Kepalaku terasa sangat sakit.
Perlahan aku bangkit.
Ruangan itu terasa asing.
Pakaian berserakan di lantai.
Jantungku langsung berdegup kencang.
Dengan gugup aku menoleh ke samping.
Seorang pria sedang tidur di sebelahku.
Dan saat aku melihat wajahnya…
Duniaku seolah berhenti berputar.
Dia bukan orang asing.
Dan bukan sembarang pria.
Melainkan…
Adrian Hartono.
Putra sulung keluarga yang telah mengadopsiku.
Pria yang tinggal serumah denganku selama tiga tahun.
Pria yang hampir tidak pernah berbicara denganku.
Pria yang selalu bersikap dingin.
Kupikir aku sedang bermimpi.
Namun bekas lipstik di lehernya masih terlihat jelas.
Dan gelang milikku tertinggal di atas meja.
Bukti bahwa semua yang terjadi malam itu benar-benar nyata.
Aku ingin menghilang karena malu.
Satu-satunya kabar baik adalah…
Dia tidak akan mengenaliku.
Rambutku sekarang berwarna pirang keemasan.
Aku memakai soft lens.
Dan riasanku sangat tebal.
Tak seorang pun akan mengira bahwa aku adalah Nadia.
Aku menarik napas panjang.
Lalu diam-diam turun dari tempat tidur.
Aku hanya perlu pergi.
Menghapus semua jejak.
Dan kami tidak akan pernah bertemu lagi.
Namun ketika tanganku menyentuh gagang pintu…
Sebuah suara terdengar dari belakang.
“Kamu pergi begitu saja?”
Tubuhku langsung membeku.
Adrian sudah bangun.
Ia duduk di atas tempat tidur sambil menatapku.
“Semalam kamu sangat bersemangat.”
“Sekarang bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa?”
Aku segera mengubah suaraku.
“Sepertinya Anda salah orang.”
Sudut bibir Adrian sedikit terangkat.
“Benarkah?”
Aku bahkan tidak berani menatapnya.
Aku hanya ingin kabur.
Untungnya…
Ia tidak menghentikanku.
Aku berlari keluar dari hotel seperti seseorang yang sedang dikejar.
Sepanjang hari aku merasa gelisah.
Namun beberapa hari berlalu.
Tidak terjadi apa-apa.
Adrian tidak menelepon.
Tidak mencari.
Tidak menghubungiku.
Aku mengira semuanya telah aman.
Sampai seminggu kemudian.
Saat aku sedang mengikuti kuliah.
Ponselku tiba-tiba bergetar.
Pesan dari akun yang tidak dikenal.
Aku membukanya.
Hanya ada sebuah foto.
Foto gelang yang tertinggal di hotel.
Dan di bawahnya tertulis:
“Nadia.”
“Aku sudah menemukanmu.”
Jantungku seolah berhenti berdetak.
Perlahan aku menoleh ke luar kelas.
Di ujung koridor…
Seorang pria berdiri di sana.
Menatap lurus ke arahku.
Tatapannya tak berpaling sedikit pun.
Dan kemudian…
Adrian perlahan mengangkat gelang yang berada di tangannya.
Lalu…
Ia tersenyum.
Bagian selanjutnya dari cerita ini ada di kolom komentar. Pilih “SEMUA KOMENTAR” untuk membaca kisah lengkapnya…
Semoga harimu menyenangkan! 👇

Aku membeku di chỗ.
Seluruh tubuhku terasa dingin.
Adrian Hartono…
Dia tahu.
Dia benar-benar tahu.
Kulihat senyum tipis di wajahnya saat ia perlahan berjalan mendekat.
“Jadi…”
“Masih ingin berpura-pura tidak mengenalku?”
Aku langsung berdiri.
“Aku tidak mengerti apa yang Kak Adrian bicarakan.”
Namun ia justru tertawa pelan.
“Kamu bahkan memanggilku ‘Kak Adrian’ sekarang?”
“Padahal malam itu, kamu memelukku sambil memanggil namaku berkali-kali.”
Wajahku langsung memerah.
Beberapa mahasiswa di sekitar kami mulai memperhatikan.
Aku buru-buru menariknya ke tangga darurat.
“Pelankan suaramu!”
“Bagaimana kalau ada yang mendengar?”
Adrian hanya menatapku.
Tatapannya yang biasanya dingin kini dipenuhi senyum yang aneh.
“Kenapa?”
“Takut rahasiamu terbongkar?”
Aku menggigit bibir.
“Anggap saja malam itu tidak pernah terjadi.”
“Kita kembali seperti dulu saja.”
Senyum di wajah Adrian langsung menghilang.
“Seperti dulu?”
“Nadia…”
“Bagiku, malam itu tidak pernah bisa dianggap tidak terjadi.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat kesedihan di matanya.
“Aku mencarimu selama seminggu.”
“Aku bahkan meminta rekaman CCTV hotel.”
“Aku hampir gila karena berpikir wanita itu hanya ingin mempermainkanku.”
Aku tertegun.
“Mencariku?”
Adrian mengangguk.
“Karena aku ingin bertanggung jawab.”
“Tapi lebih dari itu…”
“Aku ingin bertemu lagi dengan wanita yang membuatku tidak bisa tidur selama seminggu.”
Jantungku berdegup semakin cepat.
Namun aku hanya menundukkan kepala.
“Kak Adrian…”
“Aku tidak pantas.”
“Aku hanya anak yang ditampung keluarga Hartono.”
“Semua yang kumiliki berasal dari keluarga kalian.”
“Aku bahkan tidak berhak menyukaimu.”
Begitu mendengar itu, wajah Adrian berubah.
“Nadia.”
“Siapa yang mengatakan hal bodoh itu kepadamu?”
“Selama tiga tahun ini…”
“Apa kau benar-benar mengira keluargaku hanya menganggapmu sebagai orang asing?”
Aku terdiam.
Bukankah memang begitu?
Bu Ratna memang baik padaku.
Namun aku selalu merasa bahwa aku hanya seorang tamu.
Seseorang yang suatu hari nanti harus pergi.
Melihat ekspresiku, Adrian menghela napas.
Lalu ia menarikku masuk ke dalam mobilnya.
“Tampaknya ada sesuatu yang harus kau ketahui.”
Setengah jam kemudian.
Mobil berhenti di depan rumah keluarga Hartono.
Saat aku masuk ke ruang tamu…
Aku langsung membeku.
Di atas meja terdapat sebuah kue ulang tahun besar.
Dan semua orang sedang menungguku.
Bu Ratna.
Pak Surya.
Bahkan adik Adrian, Kevin.
Mereka semua tersenyum.
Aku bingung.
“Ini… ada apa?”
Bu Ratna berjalan mendekat.
Matanya merah.
“Selamat ulang tahun, Nak.”
Aku tertegun.
Hari ini…
Memang hari ulang tahunku.
Namun selama bertahun-tahun, aku bahkan sudah melupakannya.
Air mataku mulai menggenang.
“Aku…”
“Tapi…”
“Aku bukan anak Ibu…”
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku.
Bu Ratna langsung memelukku.
Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun…
Beliau menangis.
“Siapa bilang?”
“Sejak ibumu menitipkanmu kepada kami…”
“Aku sudah menganggapmu sebagai putriku sendiri.”
“Kalau tidak, mengapa aku mempertahankan kamar di samping kamar Adrian selama tiga tahun?”
“Kalau tidak, mengapa aku menyimpan semua piala dan sertifikatmu?”
“Apa kau pikir aku melakukan semua itu hanya karena kasihan?”
Air mataku langsung jatuh.
Selama ini…
Ternyata orang yang paling tidak menerimaku adalah diriku sendiri.
Saat itulah Kevin tertawa.
“Kak Nadia, sebenarnya Kak Adrian sudah menyukaimu sejak lama.”
“Aku pernah melihat dia diam-diam mengambil foto kelulusanmu.”
Wajah Adrian langsung menghitam.
“Kevin!”
Seluruh keluarga tertawa.
Dan untuk pertama kalinya…
Aku ikut tertawa bersama mereka.
Enam bulan kemudian.
Di taman belakang rumah keluarga Hartono.
Di bawah cahaya matahari sore.
Adrian berlutut di depanku.
Dengan cincin di tangannya.
“Nadia…”
“Aku kehilangan ibuku saat kecil.”
Dan kau kehilangan ibumu terlalu cepat.
“Kita berdua pernah hidup dalam kesepian.”
“Karena itu…”
“Maukah kau membiarkanku menjadi rumahmu?”
Air mataku mengalir tanpa henti.
Kali ini…
Bukan karena kesedihan.
Melainkan karena kebahagiaan.
Aku tersenyum sambil mengangguk.
“Mau.”
Dan saat Adrian memakaikan cincin itu di jariku…
Aku akhirnya mengerti.
Terkadang…
Keajaiban terbesar dalam hidup bukanlah bertemu seseorang yang sempurna.
Melainkan menemukan seseorang…
Yang membuatmu tidak perlu lagi berpura-pura menjadi sempurna.
Karena di hadapannya…
Dengan semua luka, ketakutan, dan ketidaksempurnaanmu…
Kamu tetap dicintai.
Dan sejak hari itu…
Aku tidak lagi hidup menumpang di rumah orang lain.
Karena akhirnya…
Aku telah pulang.