Kabar itu entah bagaimana langsung sampai ke keluarga suamiku.
Keesokan paginya, ibu mertuaku bahkan tidak bisa menunggu lebih lama dan langsung datang ke rumah.
Dengan kasar ia menjatuhkan dirinya ke sofa ruang tamu.
“Ambil Rp3 miliar dari uang itu dan berikan kepada Clarissa. Rumahnya di Bogor perlu direnovasi.”
Aku terdiam sejenak.
“Tapi Bu, itu uang kompensasi dari rumah yang atas nama saya…”
“Kamu tinggal di rumah keluarga kami, makan makanan kami, lalu sekarang saat diminta membantu keluarga sedikit saja kamu berani membantah?” bentak Bu Maria.
Di belakangnya berdiri suamiku, Jovan Pratama, dengan tatapan tajam.
“Ibu benar. Kalau kamu tidak mau memberikan uang itu, kita cerai saja.”
Pada detik itu…
Aku malah tersenyum.
Dia tidak tahu bahwa surat gugatan cerai sudah lama kusiapkan dan tersimpan rapi di laci kamar.
Dan dia juga tidak tahu bahwa aku memiliki seluruh dokumen kepemilikan rumah yang dulu digusur di Jakarta Timur.
Sebuah fakta yang bahkan tidak pernah terlintas dalam mimpinya.
Dan fakta itulah yang akan menjadi kartu as-ku.
01
Saat kantor relokasi menelepon, aku sedang mengupas sayuran di dapur.
“Selamat siang, apakah ini Ibu Kristina Santoso? Dana kompensasi dan keuntungan relokasi sebesar Rp6,5 miliar telah berhasil ditransfer ke rekening Anda. Silakan dicek kembali.”
Aku terdiam beberapa detik.
Kemudian mengucapkan terima kasih dan menutup telepon.
Tak lama kemudian, notifikasi bank masuk.
Deretan angka nol yang panjang membuat kepalaku sedikit pening.
Uang itu datang tepat waktu.
Sudah lima tahun aku menikah dengan Jovan.
Dan selama lima tahun itu kami tinggal di rumah tua milik orang tuanya di kawasan Jakarta Utara.
Sementara rumah peninggalanku di Jakarta Timur kosong tak berpenghuni sejak kami menikah.
Aku tidak pernah menyangka rumah itu akan terkena proyek pembangunan pemerintah dan menghasilkan kompensasi sebesar ini.
Bagiku…
Uang itu adalah satu-satunya jaring pengaman yang kumiliki.
Aku tidak memberi tahu siapa pun.
Namun entah bagaimana kabar itu tetap bocor.
Keesokan harinya Bu Maria datang dengan wajah masam.
Di belakangnya mengikuti Jovan seperti pengawal setia.
Bahkan ia tidak repot-repot melepas sepatu.
Ia langsung duduk di sofa.
Matanya menatapku seperti pedagang yang sedang menaksir harga barang.
“Kristina, aku dengar uang kompensasinya sudah masuk?”
Aku mengangguk.
“Sudah.”
“Rp6,5 miliar?”
Matanya berbinar penuh keserakahan.
“Ya.”
Ia menepuk pahanya keras.
“Ambil Rp3 miliar dan berikan kepada kakak iparmu, Clarissa.”
Apel yang sedang kupegang jatuh ke lantai.
Clarissa adalah kakak perempuan Jovan.
Ia tinggal di Bogor bersama suaminya.
Kehidupan mereka sebenarnya cukup baik, tetapi ia selalu mengeluh kekurangan uang.
“Rumah mereka sudah tua dan perlu direnovasi,” kata Bu Maria santai.
Aku memungut apel itu lalu menatapnya.
“Bu, ini uang dari rumah yang atas nama saya.”
Rumah yang kubeli bahkan sebelum mengenal Jovan.
Meskipun aku tidak mengatakannya secara langsung, maksudku sudah sangat jelas.
Wajah Bu Maria langsung berubah.
“Apa maksudmu?”
“Kamu masuk ke keluarga Pratama, tinggal di sini, makan di sini, memakai fasilitas keluarga ini. Sekarang saat keluarga membutuhkan bantuan, kamu malah pelit?”
Air liurnya hampir mengenai wajahku.
Aku menoleh kepada Jovan.
Suamiku.
Dari awal sampai sekarang ia hanya berdiri di belakang ibunya seperti patung.
Akhirnya ia membuka mulut.
“Ibu benar.”
“Kalau kamu tidak mau memberi uang itu, kita bercerai saja.”
Kata-kata itu terasa seperti pisau tumpul yang menusuk jantungku.
Dan pada saat yang sama…
Menghancurkan sisa harapan terakhir yang masih kupendam terhadapnya.
Aku tertawa.
Benar-benar tertawa.
Mereka tidak tahu bahwa surat gugatan cerai sudah kutandatangani.
Tersimpan di bagian paling bawah laci meja samping tempat tidur.
Dua rangkap.
Lengkap dengan tanda tanganku.
Tinggal menunggu tanggal pengajuan.
Aku sudah menunggu hari ini sejak lama.
Dan mereka juga tidak tahu bahwa di laci yang sama terdapat Sertifikat Hak Milik dan seluruh dokumen pembelian rumah di Jakarta Timur.
Di dalam dokumen itu tertulis sebuah fakta yang tidak pernah diketahui Jovan.
Fakta yang akan menghancurkan semua rencananya.
02
Tawaku membuat Bu Maria dan Jovan terdiam.
Di mata mereka, Kristina Santoso hanyalah wanita lemah yang bisa diperas kapan saja.
Mereka sudah terlalu terbiasa melihatku diam dan mengalah.
“Apa yang lucu?” bentak Bu Maria.
Jovan juga mengerutkan dahi.
“Kristina, jangan keterlaluan. Ibu sedang berbicara baik-baik denganmu.”
Baik-baik?
Meminta Rp3 miliar lalu mengancam cerai jika ditolak disebut baik-baik?
Aku tidak menjawab.
Aku berjalan menuju kamar.
Di belakangku terdengar suara Bu Maria.
“Lihat saja, paling juga dia sedang cari drama!”
Suara Jovan penuh ancaman.
“Kristina, tidak ada kompromi dalam masalah ini!”
Aku membuka laci paling bawah.
Surat gugatan cerai masih ada di sana.
Namun aku tidak mengambilnya.
Aku mengambil sebuah buku catatan tua berwarna biru.
Sampulnya sudah kusam dimakan waktu.
Kubawa buku itu ke ruang tamu.
Lalu meletakkannya perlahan di atas meja.
Tok.
Suara kecil itu membuat suasana menjadi dingin.
“Kalian ingin tahu ini apa?”
Aku membuka halaman pertama.
“Ini buku catatan utang dan pengeluaran.”
Aku mulai membaca.
“Tahun pertama pernikahan. Ulang tahun Ibu Maria. Kalung emas dari Glodok, Rp55 juta.”
“Biaya kursus mengemudi dan pembuatan SIM Jovan, Rp25 juta.”
“Pernikahan Clarissa. Hadiah uang tunai Rp100 juta. Karena katanya kurang, aku menambah Rp80 juta lagi.”
Aku membalik halaman.
Suaraku tetap tenang.
“Tahun kedua. Clarissa meminjam Rp200 juta dan tidak pernah mengembalikannya.”
“Ibu kalah bermain judi kartu, aku membayar Rp80 juta.”
“Usaha Jovan bangkrut. Aku menggunakan uang tabunganku untuk melunasi utangnya sebesar Rp1,2 miliar.”
“Tahun ketiga…”
“Tahun keempat…”
“Tahun kelima…”
Semakin lama aku membaca, wajah mereka semakin pucat.
Karena untuk pertama kalinya…
Mereka menyadari satu hal yang selama ini mereka abaikan.
Selama lima tahun, bukan mereka yang menghidupiku.
Akulah yang menghidupi mereka.
…Baca kelanjutan cerita di kolom komentar 👇👇

Ruang tamu itu sunyi.
Tidak ada seorang pun yang berani menyela saat aku terus membalik halaman demi halaman buku catatan biru itu.
Setiap angka yang kubacakan seperti tamparan keras ke wajah mereka.
Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun…
Mereka tidak bisa membantah.
Karena semuanya nyata.
Ada tanggal.
Ada bukti transfer.
Ada kuitansi.
Ada foto.
Bahkan ada tanda tangan mereka sendiri.
Wajah Bu Maria semakin pucat.
Sedangkan Jovan mulai gelisah.
“Sudah cukup!” bentaknya.
Aku mengangkat kepala.
“Belum.”
Aku membuka halaman terakhir.
“Tanggal 14 Juli, tahun lalu.”
“Jovan meminjam Rp500 juta dengan alasan investasi.”
“Uang tidak pernah kembali.”
Tangannya langsung mengepal.
“Itu urusan suami istri!”
Aku tersenyum.
“Benarkah?”
Lalu aku mengeluarkan satu map lagi dari tasku.
Map merah.
Map yang selama ini kusimpan rapat-rapat.
“Apa itu?” tanya Clarissa dengan suara gemetar.
Aku membuka isinya perlahan.
“Ini hasil penyelidikanku selama enam bulan terakhir.”
Jovan langsung memucat.
Karena dia mengenali dokumen-dokumen itu.
Mutasi rekening.
Tagihan hotel.
Transfer bank.
Dan foto-foto.
Banyak foto.
Sangat banyak.
Foto dirinya bersama wanita lain.
“Jangan…” bisik Jovan.
Untuk pertama kalinya aku melihat ketakutan di matanya.
Bukan takut kehilangan istrinya.
Tetapi takut kehilangan topeng yang selama ini ia pakai.
Aku meletakkan satu foto di atas meja.
Kemudian foto kedua.
Ketiga.
Keempat.
Sampai seluruh meja penuh.
Clarissa menutup mulutnya.
Bu Maria terduduk lemas.
“Tidak mungkin…”
Aku mengangguk pelan.
“Ini sebabnya uangku selalu habis.”
“Ini sebabnya bisnisnya selalu gagal.”
“Ini sebabnya dia selalu butuh pinjaman.”
Aku menatap langsung ke arah Jovan.
“Karena selama ini kamu menghabiskan uang untuk wanita lain.”
Wajahnya langsung runtuh.
“Kristina, dengarkan aku…”
“Tidak.”
Untuk pertama kalinya aku memotong perkataannya.
Selama lima tahun aku selalu mendengarkan.
Sekarang gilirannya dia yang diam.
Aku mengeluarkan dokumen terakhir.
Surat gugatan cerai.
Lengkap dengan tanda tanganku.
Aku meletakkannya tepat di depannya.
“Tanda tangani.”
Jovan membeku.
Matanya membelalak.
“Kamu serius?”
Aku tertawa kecil.
“Aneh ya.”
“Tadi kamu yang mengancam menceraikanku.”
“Sekarang saat aku setuju, kamu malah takut.”
Tidak ada yang bisa menjawab.
Dua bulan kemudian.
Perceraian kami resmi disahkan.
Aku meninggalkan rumah keluarga Pratama tanpa membawa apa pun selain barang-barang milikku sendiri.
Tidak ada tangisan.
Tidak ada penyesalan.
Karena yang kutinggalkan bukan keluarga.
Melainkan orang-orang yang selama ini hanya melihatku sebagai sumber uang.
Setahun kemudian.
Aku membeli sebuah rumah baru di Bandung.
Rumah dua lantai dengan taman kecil yang selalu kuimpikan.
Sebagian uang kompensasi relokasi kugunakan untuk membuka restoran keluarga.
Lalu restoran kedua.
Kemudian yang ketiga.
Usahaku berkembang jauh melampaui warung kecil yang dulu kumiliki.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku…
Aku hidup tanpa harus meminta izin kepada siapa pun.
Suatu sore, saat sedang memeriksa cabang baru restoranku, seorang pegawai menghampiriku.
“Bu Kristina.”
“Ya?”
“Ada tamu yang ingin bertemu.”
Aku keluar.
Dan melihat Jovan.
Tubuhnya jauh lebih kurus.
Pakaiannya sederhana.
Tidak lagi seperti pria yang dulu merasa dirinya paling penting di dunia.
Di tangannya ada sebuah amplop.
“Aku hanya ingin mengembalikan ini.”
Aku membukanya.
Di dalamnya terdapat seluruh kuitansi utang yang dulu pernah kubayar untuknya.
Beserta cek bank.
Nilainya lengkap.
Tidak kurang satu rupiah pun.
“Aku bekerja selama setahun untuk mengumpulkannya,” katanya lirih.
Aku menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya…
Aku tidak merasakan marah.
Tidak juga cinta.
Hanya rasa asing.
Seperti melihat seseorang yang pernah kukenal dalam kehidupan lain.
“Aku minta maaf, Kristina.”
Matanya memerah.
“Aku baru sadar setelah kehilanganmu.”
Aku tersenyum tipis.
“Lalu?”
Air matanya jatuh.
“Aku kehilangan orang terbaik yang pernah mencintaiku.”
Aku mengangguk pelan.
“Mungkin.”
Kemudian aku mengembalikan amplop itu kepadanya.
“Gunakan uang ini untuk membangun hidupmu lagi.”
Dia membeku.
“Kenapa?”
Karena aku tidak membutuhkannya lagi.
Aku tidak membutuhkan uangnya.
Tidak membutuhkan penyesalannya.
Dan tidak membutuhkan dirinya.
Malam itu aku berdiri di balkon rumah baruku.
Angin dingin berembus pelan.
Lampu kota Bandung berkilauan di kejauhan.
Aku teringat hari ketika mereka memaksaku menyerahkan Rp3 miliar.
Hari ketika mereka mengira aku tidak akan mampu hidup tanpa mereka.
Mereka salah.
Sangat salah.
Karena terkadang, hal terbaik yang bisa dilakukan seseorang kepada kita adalah mengkhianati kita.
Sebab pada saat itulah kita akhirnya berhenti hidup untuk orang lain…
Dan mulai hidup untuk diri sendiri.
Dan sejak hari itu, aku tidak pernah lagi menjadi wanita yang meminta untuk dihargai.
Aku menjadi wanita yang tahu bahwa dirinya memang berharga.