BELUM GENAP DUA BULAN SEJAK AKU MENGALAMI KECELAKAAN, KAKAK IPARKU SUDAH MENGGUNAKAN KATA “KELUARGA” UNTUK MEMBEBANKAN SEMUA UTANG KELUARGA MEREKA KEPADAKU… TAPI SAAT AKU MENUNJUKKAN FILE BANK DI DEPAN SUAMIKU, BARULAH DIA MENYADARI BAHWA WANITA YANG SELALU DILINDUNGINYA ITU BUKANLAH ORANG YANG PATUT DIKASIHANI

BAGIAN 1: Apartemen Kecil Kami yang Berubah Menjadi Panggung Balas Budi

Penyangga di kakiku akhirnya dilepas pada suatu sore yang hujan di Jakarta Timur.

Dokter mengatakan aku harus berjalan perlahan.

Aku tidak boleh berdiri terlalu lama.

Dan selama tiga bulan ke depan, aku belum boleh kembali bekerja seperti biasa.

Aku hanya mengangguk.

Yang kuinginkan saat itu hanyalah pulang, merendam kakiku di air hangat, makan bubur panas, lalu tidur nyenyak.

Namun begitu pintu apartemen terbuka, suara karaoke yang keras langsung menyambutku dari ruang tamu.

Lampu-lampu menyala terang.

Di meja makan, mie goreng, ayam goreng, kue tradisional, gelas plastik, dan berbagai kantong belanja berserakan.

Sofaku sudah didorong ke sudut.

Meja kerja kecilku, tempat aku biasa membuat konten untuk para klien, kini ditutupi taplak renda berwarna ungu.

Di atasnya berdiri patung Bunda Maria, lilin aromaterapi, dan foto keluarga suamiku yang dibingkai rapi.

Aku berhenti di depan pintu.

Satu tangan memegang tongkat.

Tangan lainnya membawa kantong obat.

Kakak iparku, Lilis Santoso, menoleh.

Usianya sembilan tahun lebih tua dariku.

Ia belum menikah dan dialah yang membesarkan adikku, Dimas Santoso, sejak ibu mereka meninggal ketika masih kecil.

Karena itu, di mata seluruh keluarga Santoso, Lilis adalah setengah ibu dan setengah malaikat.

Senyumnya lebar.

“Nadia, kamu sudah pulang? Nanti malam teman-teman kelompok doa datang ke sini. Kami mau mendoakan supaya kamu cepat sembuh. Jangan sungkan ya.”

Aku melihat ruang tamu kami yang hampir tak menyisakan tempat kosong.

Aku berusaha bicara dengan tenang.

“Mbak Lilis, penyangga kaki saya baru dilepas hari ini. Dokter bilang saya harus banyak istirahat. Apa nanti suara karaoke bisa dikecilkan sedikit?”

Senyum di wajahnya langsung hilang.

Dimas keluar dari dapur sambil membawa piring kertas.

Ia melihatku.

Lalu melihat kakaknya.

Udara mendadak terasa berat.

Lilis menunduk sambil memegang dadanya.

“Aku tahu… aku memang merepotkan. Seharusnya aku tidak datang.”

Belum sempat aku menjawab, matanya sudah memerah.

“Aku cuma ingin berdoa supaya Nadia cepat sembuh. Aku tidak tahu kalau kehadiranku malah mengganggunya.”

Dimas membanting piring di atas meja.

“Nadia, kamu baru pulang dan sudah bikin apa lagi?”

Aku terdiam.

“Aku cuma minta suara dikecilkan.”

“Niat Mbak Lilis baik.”

Ia segera menghampiri kakaknya dan memegang bahunya.

“Dia meninggalkan toko kecilnya di Semarang untuk datang merawatmu. Kamu bukannya berterima kasih, malah membuatnya menangis.”

Aku menatap pria yang sudah tiga tahun menjadi suamiku.

Saat aku mengalami kecelakaan, dialah yang menandatangani surat operasi.

Dia juga yang berjanji akan merawatku sampai aku bisa berjalan normal lagi.

Tapi hanya karena Lilis memegang dadanya dan hampir menangis…

Akulah yang langsung dianggap tidak tahu balas budi.

Aku terlalu lelah.

Aku tidak ingin bertengkar.

Aku berjalan menuju kamar dengan tongkatku.

Namun saat membuka pintu, tubuhku langsung membeku.

Di samping lemari pakaian ada koper milik Lilis.

Dua kardus barang-barang milik keponakannya, Bella, memenuhi sisi tempat tidur.

Mesin pembuat rotiku sudah dipindahkan ke bawah meja.

Dimas mengikuti dari belakang.

Suaranya pelan.

“Mbak Lilis dan Bella tinggal di sini dulu beberapa bulan. Rumah mereka kebanjiran di Semarang. Cobalah mengerti.”

Aku menatapnya.

“Kenapa kamu tidak bilang padaku?”

Ia menghindari tatapanku.

“Kamu masih dalam masa pemulihan. Aku tidak ingin menambah pikiranmu.”

Aku tertawa kecil.

Jadi di rumah yang cicilannya kami bayar bersama…

Akulah orang terakhir yang tahu siapa yang akan tinggal di dalamnya.

Dari ruang tamu, suara karaoke kembali terdengar.

Lilis memegang mikrofon.

Suaranya sengaja dibuat serak, seolah ia akan menangis lagi.

“Keluarga itu tidak pernah saling meninggalkan.”

Semua orang di ruang tamu bertepuk tangan.

Sedangkan aku…

Berdiri di kamar milikku sendiri.

Kakiku masih sakit.

Dan hatiku perlahan mulai membeku.

Malam itu, Dimas bahkan memintaku keluar untuk meminta maaf kepada kakaknya.

Aku bertanya,

“Untuk apa?”

Jawabnya,

“Karena kamu membuat Mbak Lilis merasa dia bukan bagian dari keluarga.”

Aku melihat kamar yang kini dipenuhi barang milik orang lain.

Aku melihat barang-barangku yang dipindahkan ke bawah meja.

Aku melihat tongkat yang bersandar di dinding.

Lalu aku berkata dengan tenang,

“Dimas… di rumah ini, justru aku yang diperlakukan seperti orang asing.”

(Bagian berikutnya aku tinggalkan di kolom komentar. Jika ingin membaca kelanjutannya, tekan “lihat semua komentar”.

Dan jika kisah ini membuatmu berpikir, tinggalkan satu kata di komentar. Semoga hal-hal baik tidak pernah meninggalkan hidupmu.)

Tiga minggu setelah itu, aku masih berusaha meyakinkan diriku bahwa semuanya hanya sementara.

Aku berpikir, mungkin setelah kakiku benar-benar sembuh, keadaan akan kembali normal.

Aku salah.

Suatu malam, saat aku sedang menyusun laporan untuk klien dari atas tempat tidur, aku mendengar suara Lilis dari ruang makan.

“Nanti cicilan pinjaman keluarga kita dibayar pakai tabungan Nadia dulu. Toh dia kerja dari rumah. Penghasilannya lebih besar.”

Aku membeku.

“Pinjaman apa?” tanya Dimas.

“Pinjaman Arman, pinjaman Bella untuk kuliah, sama utang renovasi rumah. Totalnya sekitar Rp380 juta.”

Aku hampir menjatuhkan laptop.

Rp380 juta?

Dan mereka membicarakannya seolah itu hanya tagihan listrik.

“Kalau Nadia keberatan?” tanya Dimas pelan.

Suara Lilis langsung terdengar sedih.

“Jadi sekarang aku dan keluargaku dianggap orang lain?”

“Ayah dan Ibu pasti sedih kalau melihat kamu berubah seperti ini.”

Dan seperti biasa…

Dimas terdiam.

Aku tidak keluar malam itu.

Aku hanya duduk sambil memandangi langit Jakarta yang gelap.

Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, aku merasa sendirian.


Puncaknya terjadi dua hari kemudian.

Lilis datang ke kamarku sambil membawa teh hangat.

“Nadia, Mbak mau bicara baik-baik.”

Ia duduk di sampingku.

“Kita ini keluarga.”

Aku sudah hafal kalimat itu.

“Jadi?”

“Bella harus masuk universitas tahun depan. Adik Mbak juga terlilit utang. Mbak pikir, kalau kamu pinjamkan dulu Rp380 juta, nanti kita cicil pelan-pelan.”

Aku tersenyum.

Bukan karena lucu.

Tapi karena hatiku sudah terlalu lelah untuk marah.

“Siapa yang bilang aku punya uang sebanyak itu?”

Lilis tersenyum kecil.

“Dimas bilang semua tabungan dan investasi kalian atas namamu.”

Saat itulah aku sadar.

Suamiku sendiri yang membocorkan semuanya.


Malam itu, aku meminta Dimas duduk di ruang tamu.

Lilis juga ada di sana.

Ia bahkan sudah menangis sebelum aku bicara.

“Aku malu sebenarnya meminta begini…”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya mengambil sebuah map biru.

Lalu aku meletakkannya di atas meja.

“Dimas, sebelum kamu meminta aku menyelamatkan seluruh keluargamu…”

“Lihat ini dulu.”

Ia membuka map itu.

Perlahan.

Dan wajahnya langsung berubah.

Itu adalah laporan rekening keluarga kami selama tiga tahun terakhir.

Ada transfer bulanan.

Ada pembayaran cicilan mobil.

Ada biaya rumah sakit ayahnya.

Ada modal usaha untuk toko Lilis.

Ada uang sekolah Bella.

Dan semuanya…

Berasal dari rekening pribadiku.

Totalnya lebih dari Rp1,4 miliar.

Suara Dimas bergetar.

“Ini…”

Aku tersenyum tipis.

“Selama tiga tahun, aku tidak pernah menghitung.”

“Aku pikir kita keluarga.”

“Dan aku pikir, membantu orang yang kamu sayangi adalah hal yang wajar.”

Aku lalu mengeluarkan map kedua.

“Ini laporan toko Mbak Lilis.”

Wajah Lilis langsung pucat.

“Kenapa… kenapa kamu punya itu?”

Aku menatapnya tenang.

“Karena modal toko itu dariku.”

“Dan karena nama usahanya terdaftar atas namaku.”

Tangannya mulai gemetar.

Aku membuka halaman terakhir.

Ada rekening pribadi.

Ada deposito.

Ada transaksi pembelian emas.

Ada tabungan pendidikan Bella.

Dan totalnya…

Hampir Rp2,3 miliar.

Semua atas nama Lilis.

Air mata di wajahnya langsung berhenti.

Dimas membelalakkan mata.

“Mbak…”

“Selama ini…”

Lilis langsung berdiri.

“Aku bisa jelaskan!”

Aku menggeleng.

“Tidak usah.”

“Selama aku terbaring di rumah sakit, Mbak masih sempat menangisi nasibnya di depan semua orang.”

“Padahal orang yang paling kaya di rumah ini… adalah Mbak.”

“Tapi Mbak lebih memilih memakai kata ‘keluarga’ agar orang lain membayar semuanya.”

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Dimas menatap kakaknya dengan wajah yang penuh kekecewaan.

“Mbak…”

“Kamu bohong padaku?”


Sebulan kemudian, Lilis pindah dari apartemen kami.

Bella ikut bersamanya.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengalami kecelakaan, rumah kecil kami kembali sunyi.

Namun sesuatu telah berubah.

Dimas berubah.

Suatu malam, ia duduk di hadapanku sambil menangis.

“Aku gagal menjadi suami yang baik.”

“Aku terlalu sibuk menjadi adik yang berutang budi.”

“Aku bahkan tidak sadar bahwa orang yang paling sering aku sakiti adalah orang yang paling banyak berkorban untukku.”

Untuk pertama kalinya…

Aku melihat pria itu menangis bukan karena kakaknya.

Melainkan karena aku.


Enam bulan kemudian, aku sudah bisa berjalan normal lagi.

Pekerjaanku berkembang.

Dan pada hari ulang tahunku, Dimas mengajakku ke balkon apartemen.

Di sana hanya ada dua cangkir teh hangat.

Tidak ada pesta.

Tidak ada karaoke.

Tidak ada tamu.

Hanya kami berdua.

Dimas menggenggam tanganku.

“Terima kasih karena dulu kamu tidak menyerah pada pernikahan ini.”

Aku tersenyum.

“Bukan.”

“Aku tidak bertahan demi pernikahan ini.”

“Aku bertahan untuk diriku sendiri.”

“Dan karena aku percaya, orang bisa berubah… kalau mereka berani melihat kebenaran.”

Air mata Dimas jatuh.

Ia memelukku erat.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

Aku tidak lagi merasa seperti orang asing di rumahku sendiri.


Kadang, orang yang paling sering berkata “kita keluarga” bukanlah orang yang paling mencintaimu.

Karena keluarga bukanlah mereka yang paling banyak menuntut pengorbanan.

Keluarga adalah mereka yang tahu kapan harus berhenti meminta…

dan mulai belajar berterima kasih.

Dan malam itu, sambil memandang lampu-lampu kota Jakarta dari balkon kecil apartemen kami, aku akhirnya mengerti:

Tidak semua utang harus dibayar dengan uang.

Tetapi rasa hormat…

adalah hal yang tidak boleh hilang di dalam sebuah keluarga.