“BU… CINCIN ITU MIRIP PUNYA IBUKU”: SEORANG ANAK JALANAN MEMBUAT SEORANG DONYA GEMETAR — DAN MEMBONGKAR RAHASIA YANG TERKUBUR SELAMA 13 TAHUN

Nama Donya Cecilia Hartono terkenal di seluruh Jakarta.

Pemilik jaringan mal terbesar di Indonesia.
Masuk daftar perempuan terkaya Asia Tenggara.
Selalu tampil elegan dengan mutiara, gaun mahal, dan mobil mewah.

Tapi orang-orang yang benar-benar mengenalnya tahu satu hal:

mata Donya Cecilia selalu terlihat sedih.

Tidak ada yang tahu alasannya.

Kecuali Arman, sopir pribadinya yang sudah bekerja lebih dari dua puluh tahun.

Tiga belas tahun lalu, putri tunggal Donya Cecilia hilang dalam kasus carjacking di kawasan Sudirman.

Mobilnya ditemukan beberapa jam kemudian.

Supir tewas.

Pengasuh terluka parah.

Tapi bayi perempuan berusia satu tahun itu…

tidak pernah ditemukan lagi.

Sejak hari itu, Donya Cecilia berubah.

Dia membangun bisnis lebih besar.
Membeli hotel baru.
Muncul di majalah Forbes.

Tapi setiap malam, dia tetap tidur dengan lampu kamar anaknya menyala.

Seolah berharap suatu hari putrinya pulang.

Suatu sore, Donya Cecilia makan sendirian di restoran steak mewah dengan area outdoor di kawasan SCBD.

Dia sedang memotong steak ketika seorang anak perempuan kecil mendekat.

Kurus.
Kotor.
Membawa setangkai bunga melati.

“Bu… beli bunganya, ya,” katanya lirih. “Buat beli obat ibu saya.”

Security langsung bergerak mendekat.

“Hei, jangan ganggu tamu!”

Tapi Donya Cecilia mengangkat tangan menghentikannya.

Entah kenapa, wajah anak itu membuat dadanya terasa aneh.

Dia mengambil uang Rp500 ribu dari dompetnya.

“Nih,” katanya lembut. “Buat ibumu.”

Mata anak itu langsung membesar.

Tapi bukannya mengambil uang itu, dia malah menatap tangan Donya Cecilia.

Tepatnya…

ke cincin emas antik berbentuk mawar dengan batu merah di tengah.

“Kenapa?” tanya Donya Cecilia pelan. “Kamu lapar?”

Anak itu menggeleng.

“Bu… cincin itu cantik banget,” katanya polos. “Mirip punya ibu saya.”

Tangan Donya Cecilia langsung membeku.

“Apa?”

“Ibu saya juga punya cincin bunga merah kayak gitu. Disimpan di bawah bantal katanya. Katanya nggak boleh dipakai karena sangat penting.”

Sendok di tangan Donya Cecilia jatuh berdenting ke piring.

Tubuhnya langsung dingin.

Mustahil.

Cincin itu dibuat khusus tiga belas tahun lalu oleh perancang perhiasan Italia.

Hanya ada dua di dunia.

Satu miliknya.

Dan satu lagi milik putrinya yang hilang—dibuat kecil lalu dijadikan liontin bayi.

Napas Donya Cecilia mulai gemetar.

“Siapa nama ibumu?” tanyanya cepat.

“Namanya Rina, Bu.”

“Di mana dia sekarang?”

“Di rumah… lagi sakit.”

Donya Cecilia langsung berdiri.

“Ikut saya.”

“B-Bu?”

“Sekarang juga.”

Arman buru-buru membukakan pintu Mercedes hitam panjang mereka.

Anak kecil itu terlihat ketakutan duduk di kursi kulit mahal sambil memeluk bunga melatinya erat-erat.

Mobil melaju meninggalkan gedung-gedung tinggi Jakarta menuju gang sempit dan kumuh di daerah Tanjung Priok.

Semakin masuk ke dalam…

semakin sesak dada Donya Cecilia.

Bau selokan.
Rumah seng reyot.
Anak-anak kecil bermain tanpa alas kaki.

Mustahil putrinya hidup di tempat seperti ini.

Mobil berhenti di depan rumah kecil hampir roboh.

Anak itu menunjuk pintu kayu lusuh.

“Ibu ada di dalam.”

Donya Cecilia turun perlahan.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

kakinya gemetar.

Pintu rumah dibuka pelan.

Dan seorang wanita kurus keluar sambil batuk keras.

Wajahnya pucat.
Tubuhnya lemah.
Tapi saat mata wanita itu bertemu dengan Donya Cecilia…

wajahnya langsung berubah panik.

Seolah melihat hantu.

“Kamu…” bisik Donya Cecilia pelan.

Wanita itu buru-buru mundur.

“Saya nggak kenal Anda.”

Tapi sudah terlambat.

Karena saat wanita itu memegang dadanya sambil batuk…

kalung kecil tersembunyi keluar dari balik bajunya.

Liontin emas berbentuk mawar merah.

Pasangan dari cincin Donya Cecilia.

Air mata Donya Cecilia langsung jatuh.

“Ya Tuhan…”

Wanita itu langsung gemetar hebat.

“Maaf…” suaranya pecah. “Maafkan saya…”

Anak kecil itu bingung melihat mereka.

“Bu… kenapa?”

Donya Cecilia melangkah masuk perlahan.

Tiga belas tahun lalu, pengasuh bayinya bernama Rina.

Dan sekarang…

Rina berdiri di depannya sambil memakai liontin yang seharusnya ada pada putrinya yang hilang.

“Di mana anak saya?” suara Donya Cecilia bergetar. “Di mana putri saya?!”

Rina langsung menangis histeris.

“Saya nggak pernah mau menculik dia!” teriaknya. “Waktu carjacking itu terjadi, saya takut! Saya pikir semua orang akan menyalahkan saya!”

Tubuh Donya Cecilia melemas.

“Jadi… selama ini…”

Rina jatuh berlutut sambil menangis.

“Saya kabur sambil membawa bayi itu… saya takut dipenjara… takut dibunuh…”

Air mata terus jatuh dari wajahnya.

“Tapi saya membesarkannya seperti anak sendiri… saya bersumpah saya sayang sama dia…”

Donya Cecilia tidak bisa bernapas.

Matanya perlahan beralih ke anak kecil pembawa bunga melati itu.

Anak yang sejak tadi berdiri kebingungan.

Anak yang punya mata persis seperti dirinya.

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga belas tahun…

Donya Cecilia akhirnya mengerti kenapa dadanya terasa sakit sejak pertama melihat anak itu.

Karena darah…

selalu mengenali darahnya sendiri.

Rumah kecil itu sunyi.

Hanya terdengar suara tangis Rina dan napas Donya Cecilia yang gemetar.

Sementara anak perempuan kecil itu berdiri di sudut ruangan, kebingungan melihat dua wanita dewasa menangis di depannya.

“Bu…” katanya pelan. “Aku salah apa?”

Kalimat sederhana itu langsung menghancurkan hati Donya Cecilia.

Tiga belas tahun.

Tiga belas tahun putrinya tumbuh tanpa tahu siapa dirinya sebenarnya.

Tanpa kamar mewah.
Tanpa sekolah internasional.
Tanpa kehidupan yang seharusnya dimilikinya.

Tapi juga…

tanpa kasih sayang palsu.

Karena meskipun miskin, jelas terlihat satu hal:

anak itu dicintai.

Donya Cecilia perlahan berlutut di depan gadis kecil itu.

Tangannya gemetar saat menyentuh pipi kurus anak itu.

“Siapa namamu, sayang?” tanyanya lirih.

“Naila.”

Air mata Donya Cecilia jatuh lagi.

Dulu…

nama putrinya adalah Anabella Cecilia Hartono.

Tapi sekarang, anak itu hidup sebagai Naila.

Dan entah kenapa, itu membuat dadanya terasa semakin sakit.

Karena berarti selama tiga belas tahun…

ada kehidupan lain yang tumbuh tanpa dirinya.

Rina menangis sambil memegangi dada.

“Saya tahu saya berdosa…” katanya terisak. “Tapi saya nggak pernah jual dia… nggak pernah sakiti dia… saya kerja apa aja supaya dia bisa makan…”

Donya Cecilia memejamkan mata.

Ia ingin marah.
Ingin membenci.
Ingin berteriak.

Tapi saat melihat rumah reyot itu…

dan melihat seragam sekolah lusuh yang tergantung rapi di sudut ruangan…

ia tahu satu hal.

Rina mungkin mencuri anaknya.

Tapi wanita itu juga menghabiskan tiga belas tahun hidupnya membesarkan anak itu dengan seluruh kemampuan yang dia punya.

Naila menatap Donya Cecilia hati-hati.

“Bu… kenapa nangis?”

Bibir Donya Cecilia bergetar.

Lalu untuk pertama kalinya dalam tiga belas tahun…

dia mengucapkan kata yang selama ini hanya ada di doanya.

“Karena… aku ibumu.”

Sunyi.

Naila berkedip bingung.

“Apa?”

“Aku ibu kandungmu.”

Rina langsung menutup wajah sambil menangis keras.

Naila menatap mereka bergantian.

Lalu pelan-pelan mundur.

“Jangan bohong…”

Suara kecil itu langsung membuat Donya Cecilia hancur.

Karena bagi anak itu…

ibunya adalah Rina.

Bukan wanita kaya asing yang tiba-tiba datang dengan mobil mewah dan air mata.

Malam itu, Donya Cecilia tidak pulang ke mansion megahnya di Menteng.

Dia tetap tinggal di rumah kecil itu.

Duduk di samping Naila sampai anak itu tertidur.

Dan untuk pertama kalinya…

dia melihat wajah putrinya dari dekat.

Bentuk hidungnya.
Cara tidurnya.
Kebiasaan menggenggam selimut kecil.

Semuanya sama seperti ayahnya.

Tangis Donya Cecilia pecah diam-diam di tengah malam.

Karena ternyata…

hal paling mahal yang pernah dirampas dari hidupnya bukan uang.

Melainkan waktu.

Keesokan paginya, Rina dilarikan ke rumah sakit.

Penyakit paru-parunya sudah terlalu parah.

Sebelum masuk ruang ICU, Rina memanggil Donya Cecilia.

“Saya nggak minta dimaafkan…” katanya lemah. “Saya cuma mohon… jangan pisahkan saya dari Naila sepenuhnya.”

Donya Cecilia menggenggam tangan wanita itu lama.

Lalu pelan berkata:

“Kamu salah besar mengambil anakku.”

Air mata Rina jatuh.

“Tapi kamu juga wanita yang membesarkannya saat aku tidak bisa.”

Rina menangis semakin keras.

Dan untuk pertama kalinya…

dua wanita yang sama-sama mencintai satu anak itu berhenti saling melihat sebagai musuh.

Enam bulan kemudian, hidup Naila berubah total.

Dia pindah ke rumah besar keluarga Hartono.
Masuk sekolah terbaik.
Memiliki kamar sendiri yang lebih besar dari rumah lamanya.

Tapi setiap akhir pekan…

Donya Cecilia selalu mengajaknya ke makam Rina.

Karena beberapa minggu setelah operasi gagal, Rina meninggal dunia.

Di depan makam sederhana itu, Naila sering duduk diam sambil membawa bunga melati.

Suatu sore, Naila bertanya pelan:

“Kalau Mama Rina nggak ambil aku dulu… Mama Cecilia masih bakal sayang aku nggak?”

Pertanyaan itu membuat Donya Cecilia hampir menangis.

Dia menarik putrinya ke pelukan hangat.

“Sayang,” bisiknya pelan, “bahkan saat Mama kehilangan kamu selama tiga belas tahun… Mama nggak pernah berhenti mencintaimu.”

Naila memeluknya erat.

Lalu untuk pertama kalinya…

anak itu memanggilnya:

“Mama.”

Dan satu kata sederhana itu…

lebih berharga daripada seluruh mall, hotel, dan miliaran rupiah yang pernah dimiliki Donya Cecilia.

Karena akhirnya, setelah tiga belas tahun kosong dan sepi…

hatinya pulang kembali ke tempat yang seharusnya.