Bu Sari sudah tiga bulan didekati oleh Pak Budi Santoso.

Bu Sari sudah tiga bulan didekati oleh Pak Budi Santoso.

Kadang ia datang membawa sayuran dari kebunnya, kadang membantu memperbaiki keran air yang bocor. Orang-orang di RT bilang kami terlihat serasi.

Karena hatiku mulai luluh, aku setuju bertemu untuk membicarakan masa depan kami.

Tapi aku terkejut ketika ia membawa dua anak perempuannya.

Anak sulungnya, Mira, langsung membuka pembicaraan:

“Setiap bulan Papa harus memberi kami masing-masing Rp40.000.000. Sudah puluhan tahun begitu. Tidak bisa dihentikan hanya karena Papa ingin menikah lagi.”

Anak kedua, Nina, ikut menimpali:

“Aku juga Rp40.000.000. Biaya sekolah anak-anak sekarang mahal.”

Aku menoleh ke Pak Budi.

Ia tersenyum kaku.

“Kehidupan anak-anak juga tidak mudah. Untuk kita berdua, Rp8.000.000 per bulan sudah cukup.”

Cukup?

Obat tekanan darahnya saja Rp6.000.000 per bulan.
Sisa Rp2.000.000—apa ia ingin aku yang menanggung makan tiga kali sehari, listrik, air, dan gas?


1

Ruang tamu terasa dingin meski matahari sore menembus jendela.

Aku duduk tegak di sofa.

Pak Budi duduk gelisah di tengah dua putrinya, seperti terdakwa yang pura-pura tidak bersalah.

Mira berbicara lagi, nadanya seperti memberi perintah:

“Bu Sari, aturan ini sudah lama. Papa wajib memberi kami masing-masing Rp40 juta. Jangan karena Ibu masuk ke hidup Papa, hak kami dihapus.”

Tatapannya tajam, seolah aku penyusup.

Nina memasang wajah sendu.

“Gaji saya kecil, Bu. Kami benar-benar bergantung pada Papa.”

Aku memandang Pak Budi.

Ia menghindari tatapanku.

“Sari, jangan hitung-hitungan terus. Ini soal cinta.”

Soal cinta?

Aku tersenyum—senyum yang sangat tenang.

“Baik. Kita hitung saja dengan jelas.”

Suasana langsung hening.

“Pensiun Bapak Rp88.000.000 per bulan.”

“Rp40 juta untuk Mira, Rp40 juta untuk Nina.”

“Sisa Rp8 juta.”

“Obat Bapak Rp6 juta.”

“Sisa Rp2 juta.”

Aku menatapnya satu per satu.

“Dua juta untuk dua orang selama sebulan. Tiga kali makan sehari. Artinya 180 porsi makan.”

“Rp2.000.000 dibagi 180.”

“Sekitar Rp11.000 per porsi.”

Aku tersenyum tipis.

“Pak Budi, apa Bapak pikir saya bisa mengubah batu jadi emas?”

Wajah mereka berubah.

Mira berdiri dan menunjukku.

“Belum resmi menikah sudah hitung uang Papa! Dasar wanita matre!”

Nina pura-pura menangis.

“Kami cuma ingin Papa ada yang merawat di hari tuanya. Kenapa Ibu tidak punya hati?”

Hebat.

Satu galak.
Satu pura-pura lemah.

Pak Budi mencoba menengahi.

“Mira, jangan kasar.”

Lalu ia menoleh padaku.

“Sari, cinta tidak boleh dihancurkan oleh uang.”

Aku hampir tertawa.

Di mata mereka, rumahku, pensiunanku, hidupku—semuanya otomatis dianggap dana bantuan keluarga mereka.

Aku berdiri.

Tubuhku gemetar, tapi suaraku dingin.

“Saya tidak menjalankan yayasan sosial.”

“Kalau kalian mencari perawat gratis yang juga harus keluar uang sendiri, kalian salah alamat.”

“Kalian tidak diterima di rumah saya. Silakan pergi.”

Aku menunjuk pintu.

Mira hampir menamparku.

Aku menatap matanya tanpa berkedip.

“Coba sentuh saya.”

Tatapanku membuatnya berhenti.

Akhirnya Pak Budi menarik kedua putrinya keluar.

“Sari, buka pintu, kita bisa bicarakan baik-baik…”

Aku menutup dan mengunci pintu.

Dunia akhirnya sunyi.

Aku bersandar pada pintu.

Keringat dingin membasahi punggungku.

Sedikit lagi…
sedikit lagi aku hampir terjebak.

Selama tiga bulan, sayuran dan perbaikan keran itu ternyata investasi.

Yang mereka inginkan adalah “makan siang gratis” seumur hidup.

Di luar, Pak Budi masih mengetuk pelan.

“Sari, maafkan anak-anak…”

Aku memejamkan mata.

Tidak.

Pintu ini tidak akan pernah kubuka lagi.

Tidak untuknya.
Tidak untuk siapa pun yang datang membawa cinta dengan kalkulator di tangan.

Kabar itu cepat menyebar di lingkungan.

Mira dan Nina mulai menelepon Pak Budi semakin sering.
Nada suara mereka tak lagi manis.

“Papa, uang bulan ini belum masuk.”
“Papa, kenapa cuma transfer Rp10 juta?”

Pak Budi tidak lagi mengirim Rp40 juta seperti dulu.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia benar-benar melihat buku tabungannya sendiri.

Dan ia sadar—
ia tidak punya apa-apa untuk dirinya sendiri selain gelar “ayah yang baik”.

Suatu sore saat hujan turun pelan, ia berdiri di depan pagar rumahku.

Tak ada lagi kantong sayur.
Tak ada lagi senyum penuh percaya diri.

Hanya seorang pria yang tampak jauh lebih tua dibanding tiga bulan lalu.

“Sari… aku salah.”

Aku tidak mempersilahkannya masuk.

Kami berbicara terpisah oleh pagar besi.

“Aku pikir kalau terus memberi uang, anak-anak akan selalu membutuhkanku.”

“Tapi saat aku bilang ingin menyisakan sedikit untuk hidupku sendiri… mereka marah.”

Ia tersenyum pahit.

“Mungkin… mereka tidak mencintaiku. Mereka hanya mencintai uangku.”

Aku menatapnya.

Kali ini aku tidak marah.
Tapi juga tidak ada lagi cinta.

“Cinta bukan kontrak transfer bulanan.”

Ia menunduk.

“Apa aku masih bisa mulai lagi?”

Aku menggeleng pelan.

“Kamu bisa mulai lagi dengan dirimu sendiri. Tapi bukan denganku.”


Satu Tahun Kemudian

Aku mendengar Mira dan Nina akhirnya harus mengurus hidup mereka sendiri.

Tak ada lagi Rp40 juta setiap bulan.
Tak ada lagi “Papa ATM”.

Pak Budi pindah ke rumah yang lebih kecil.

Ia mulai ikut perkumpulan lansia, belajar menanam bunga, dan untuk pertama kalinya menyimpan uang untuk dirinya sendiri.

Dan aku?

Aku memakai tabunganku untuk membuka warung makan kecil di depan rumah.

Tidak mewah.
Tapi hangat.

Pelanggan tetap bilang masakanku enak.

Suatu hari, seorang tetangga bertanya,
“Bu Sari, kenapa tidak cari pasangan baru?”

Aku tersenyum.

“Aku tidak butuh pria untuk mengisi rumahku.”

“Aku butuh ketenangan untuk mengisi hatiku.”

Malam itu, aku duduk di teras, mendengarkan angin.

Aku akhirnya mengerti—

Perempuan di usia matang tidak takut kesepian.

Yang mereka takutkan hanyalah salah memilih orang untuk kedua kalinya.

Dan kali ini, aku memilih dengan benar.

Aku memilih diriku sendiri.