Aku memegang ponsel itu.
Di layar masih tertulis: “Ibu”.
Hari itu, waktu kembali ke titik yang sama—hari saat kakak perempuanku Marites sedang melahirkan dalam kondisi kritis di rumah sakit St. Luke’s Medical Center – Taguig.
Suara ibuku di telepon bergetar.
“Arnel! Kakakmu berdarah! Dokter bilang harus pilih—ibu atau bayi! Di mana kamu?!”
Di kehidupan sebelumnya, aku berlari tanpa berpikir.
Dan aku kehilangan segalanya.
Tapi sekarang…
Aku bersandar di kursi, tenang.
“Macet di EDSA EDSA, Bu. Tidak bergerak.”
“MACET?! SEKARANG?!”
Aku menghela napas.
“Kalau memang darurat, panggil saja Kak Danilo. Siram dia air dingin biar sadar, lalu biar dia yang tanda tangan.”
“Hah?! Kamu gila?!”
Aku menutup telepon.
Lalu melanjutkan makan hotpot di depanku.
Malam itu aku tidak pergi ke rumah sakit.
Aku minum bir, makan dengan santai, lalu tidur seperti biasa.
Tidak ada rasa bersalah.
Hanya ketenangan.
Pagi berikutnya, aku datang ke rumah sakit.
Ibuku sudah menungguku di lorong, matanya merah.
“Kenapa baru datang?!”
Aku menjawab santai.
“Macet semalaman.”
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak lagi berlari untuk menyelamatkan drama mereka.
Di dalam kamar, Marites hidup.
Bayi… tidak.
Dan semua orang mulai saling menyalahkan.
Tapi aku hanya duduk di kursi, melihat ponselku.
Harga saham naik.
Uang bertambah.
Dunia terus berjalan.
Tanpa harus aku korbankan diriku lagi.
Ibuku mendekat.
“Arnel… rumahmu yang baru, kita pakai untuk pemulihan Marites, ya?”
Aku tersenyum tipis.
“Sudah kusewakan.”
“Apa?!”
“Tiga tahun.”
Hening.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…
tidak ada yang bisa mereka ambil dariku lagi.
Tidak rumah.
Tidak uang.
Tidak hidupku.
Aku berdiri.
“Mulai sekarang…”
Aku menatap mereka satu per satu.
“Aku bukan lagi orang yang kalian panggil saat ada masalah.”
Aku berbalik.
Dan berjalan keluar.
Di belakangku, mereka berteriak.
Tapi suara itu… tidak lagi berarti apa-apa.
Karena kali ini—
aku yang akhirnya memilih hidupku sendiri.

Aku terus berjalan meninggalkan lorong rumah sakit St. Luke’s Medical Center – Taguig, sementara suara mereka perlahan memudar di belakangku.
Tidak ada yang memanggilku lagi.
Tidak ada yang mengejarku lagi.
Dan untuk pertama kalinya… aku tidak merasa sedang kabur.
Aku merasa sedang bebas.
Di luar, langit Metro Manila masih kelabu, tapi tidak lagi menekan dadaku.
Aku membuka ponsel.
Satu notifikasi masuk.
“Rekening Anda menerima transfer besar dari penjualan kontrak properti.”
Aku menatap angka itu lama.
Bukan karena kaget.
Tapi karena akhirnya aku sadar—
dunia ini tidak runtuh hanya karena aku berhenti menyelamatkan orang yang tidak pernah mau diselamatkan.
Beberapa hari kemudian.
Ibuku menelepon lagi.
Aku menatap layar.
Nama yang sama.
Kebiasaan lama yang sama.
Tapi aku tidak langsung mengangkat.
Aku membiarkannya berdering.
Sekali.
Dua kali.
Lalu mati sendiri.
Baru setelah itu aku berdiri di balkon apartemenku.
Angin pagi menyentuh wajahku.
Tenang.
Sunyi.
Punya aku.
Di belakangku, kehidupan lama masih berusaha memanggil.
Tapi aku sudah tidak lagi di tempat itu.
Tidak lagi di peran itu.
Tidak lagi menjadi “anak yang harus selalu mengalah”.
Aku menatap kota di bawah sana.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak bertanya:
“Apa yang mereka inginkan dariku?”
Aku hanya bertanya:
“Apa yang aku inginkan untuk diriku sendiri?”
Jawabannya sederhana.
Tidak ada mereka.
Tidak ada rasa bersalah.
Tidak ada pengorbanan yang tidak dihargai.
Hanya aku.
Dan hidup yang akhirnya menjadi milikku sepenuhnya.