CEO Kaya Datang ke Sebuah Toko Perhiasan untuk Membeli Cincin Tunangan bagi Kekasihnya.

Namun ketika sang desainer perhiasan wanita melihat desain yang dipilih pria itu, tubuhnya langsung membeku…

Suara lonceng angin di pintu toko perhiasan kecil itu berdenting pelan, sementara hujan dingin mengguyur jalanan Jakarta di luar.

Wanita yang duduk di belakang meja kerja sedikit tertegun.

Alat ukir yang sedang digunakannya untuk mengerjakan cincin platinum bergeser sedikit, meninggalkan goresan tipis di permukaannya.

Perlahan ia mengangkat kepala.

Dan seluruh tubuhnya seakan membeku.

Pria yang baru saja masuk itu masih sama seperti dalam ingatannya—tinggi, elegan dengan setelan hitam mahal, serta memiliki aura dingin yang mampu membuat seluruh ruangan menjadi sunyi.

Di lengannya bergelayut seorang wanita muda yang cantik.

Empat tahun.

Empat tahun sejak pria itu benar-benar menghilang dari hidupnya.

Dan sekarang…

Pria itu berdiri tepat di dalam toko yang ia bangun dari rasa sakit dan kehancuran masa lalunya.

Tangan yang memegang alat ukir itu sedikit bergetar.

Hampir saja cincin yang sedang dikerjakannya terjatuh.

Dari atas karpet kecil di samping meja, seorang anak laki-laki yang sedang bermain balok mengangkat kepalanya.

“Mama?”

Pria itu langsung menoleh.

Tatapannya perlahan turun ke arah bocah itu.

Dan seketika wajahnya kehilangan warna.

Anak itu kira-kira berusia empat tahun.

Kulitnya putih, matanya hitam pekat, dan terdapat lesung pipit kecil di pipi kirinya.

Persis seperti dirinya.

Wanita yang berada di samping pria itu langsung menyadarinya.

“Kamu mengenalnya?” tanyanya sambil menggenggam lengan pria itu lebih erat.

Pria itu tidak menjawab.

Ia hanya menatap anak kecil tersebut.

Seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Wanita di balik meja menarik napas panjang sebelum menggendong putranya dengan lembut.

“Tidak apa-apa, Sayang,” bisiknya sambil mengusap rambut anak itu. “Mereka hanya pelanggan.”

Anak itu langsung memeluk lehernya erat.

“Mama… Mama tidak suka pria itu?”

Suasana di dalam toko langsung menjadi hening.

Wanita yang bersama pria itu mulai merasa curiga.

Sedangkan pria tersebut…

Seolah lupa bagaimana caranya bernapas.

Beberapa saat kemudian, ia memanggil nama wanita itu dengan suara pelan.

“Isabella…”

Nama itu keluar dari bibirnya seperti luka lama yang kembali terbuka.

Namun wajah wanita itu tetap tanpa emosi saat ia menurunkan putranya dan kembali ke belakang meja.

“Selamat datang di Aurelia Jewelry,” katanya dingin. “Apakah Anda sudah membuat janji sebelumnya?”

Wanita di samping pria itu segera maju.

“Ya. Saya ingin memesan cincin tunangan khusus.”

Senyum bangganya terlihat jelas.

“Mereka bilang Anda adalah desainer perhiasan terbaik di Jakarta.”

Isabella hanya mengangguk pelan.

“Model seperti apa yang Anda inginkan?”

“Sesuatu yang unik.”

Wanita itu menoleh ke arah tunangannya dengan tatapan bangga.

“Aku tidak mau ada yang sama.”

Isabella mengambil sebuah portofolio kulit dan meletakkannya di atas meja.

“Semua desain di sini hanya dibuat satu kali.”

Wanita itu mulai membalik halaman demi halaman.

Sementara itu, pria tersebut masih tak bisa mengalihkan pandangannya dari anak laki-laki yang duduk di atas karpet.

Dan anak itu pun sedang menatapnya.

Mereka sangat mirip.

Terlalu mirip.

Isabella hampir tidak sanggup bernapas karena ketegangan yang memenuhi ruangan.

Sampai tiba-tiba wanita itu berhenti pada sebuah desain di halaman belakang portofolio.

Matanya langsung berbinar.

“Cantik sekali!”

Ia menyerahkan sketsa itu kepada tunangannya.

“Aku mau yang ini.”

Dan saat Isabella melihat desain tersebut…

Wajahnya langsung pucat.

Karena di sudut kanan bawah kertas itu terdapat tulisan tangan lama.

“Untuk malaikat kecil kita.”

Dan tulisan tangan itu…

Adalah tulisan tangan pria yang sedang berdiri di hadapannya sekarang.

Seluruh dunia seakan berhenti.

Pria itu juga melihatnya.

Tangannya mengepal kuat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol.

Sedangkan Isabella…

Jarinya tak mampu berhenti gemetar.

Karena desain itu adalah cincin yang dulu mereka impikan untuk anak mereka.

Ia teringat apartemen kecil mereka di Bandung.

Pelukan hangat pria itu.

Dan bisikannya yang lembut saat meletakkan tangan di atas perutnya yang sedang mengandung.

“Kalau anak kita sudah besar, aku akan memberinya cincin terindah di dunia.”

Namun sebelum anak itu lahir…

Pria itu tiba-tiba menghilang.

Dan pada hari yang sama…

Keluarga pria itu datang.

Malam penuh kekerasan.

Perpisahan yang dipaksakan.

Dan sebuah operasi darurat yang hampir merenggut nyawa ibu dan anak tersebut.

Wanita di samping pria itu sama sekali tidak mengetahui semua itu.

Ia masih fokus menatap sketsa tersebut.

“Bisa berlian utamanya diperbesar?” tanyanya. “Minimal lima karat. Aku tidak masalah menghabiskan sampai Rp5 miliar.”

Perlahan Isabella mengangkat kepalanya.

Ia menatap langsung pria di hadapannya.

Kemudian ia tersenyum.

Namun senyum itu terasa dingin.

“Maaf.”

“Desain itu tidak dijual.”

“Kenapa?” tanya wanita itu dengan bingung.

“Karena—”

Belum sempat Isabella menyelesaikan kalimatnya, anak laki-laki itu tiba-tiba berlari mendekat.

Ia menarik lembut lengan ibunya sebelum menatap pria tersebut.

Dan di tengah keheningan yang memekakkan telinga, ia bertanya dengan suara polos:

“Mama…”

“Apakah dia ayahku?”

“Mama…”

“Apakah dia ayahku?”

Pertanyaan polos itu membuat seluruh ruangan membeku.

Tak ada seorang pun yang berbicara.

Jantung Adrian Wijaya seolah berhenti berdetak.

Anak kecil itu…

Anak yang memiliki mata, senyum, bahkan lesung pipit yang sama persis dengannya…

Sedang memanggilnya ayah.

“Isabella…” suaranya bergetar. “Dia… putraku?”

Namun sebelum Isabella sempat menjawab, wanita di samping Adrian mundur beberapa langkah dengan wajah pucat.

“Apa maksud semua ini?” tanyanya.

Tak seorang pun menjawab.

Karena pada saat itu, seorang pria tua berusia sekitar tujuh puluh tahun tiba-tiba masuk ke dalam toko dengan payung basah di tangannya.

“Maaf, Isabella, Kakek terlambat menjemput Ethan—”

Kalimatnya terhenti.

Matanya langsung membelalak ketika melihat Adrian.

Dan wajah Adrian seketika berubah.

“Kakek Surya?”

Pria tua itu adalah Surya Hartanto, mantan kepala pelayan keluarga Wijaya.

Orang yang membesarkannya sejak kecil.

Orang yang menghilang secara misterius empat tahun lalu.

Air mata langsung memenuhi mata pria tua itu.

“Tuan muda…”

Adrian melangkah maju.

“Kakek… selama ini Kakek di mana? Kenapa Isabella bilang tidak pernah bisa menemukan siapa pun dari keluarga lama?”

Suara Surya bergetar.

“Karena aku yang menyembunyikan mereka.”

Semua orang terdiam.

Empat tahun lalu, pada malam Isabella hampir kehilangan nyawanya saat melahirkan, Surya diam-diam membawa ibu dan anak itu pergi.

Karena ia mengetahui sebuah rahasia mengerikan.

Ayah Adrian…

Leonard Wijaya.

Pemilik Wijaya Group.

Adalah orang yang memerintahkan agar Isabella dipisahkan dari Adrian.

Dan ketika mengetahui Isabella sedang hamil, ia bahkan memerintahkan agar anak itu “tidak boleh dilahirkan”.

Namun Surya tidak sanggup melihat kekejaman itu.

Malam itu, ia membawa Isabella pergi dan memutus semua jejak.

Selama empat tahun, ia menjaga mereka seperti keluarganya sendiri.

Tubuh Adrian bergetar.

“Tidak…”

Air mata jatuh dari matanya.

“Tidak mungkin…”

“Semua surat yang kau kirim untuk Isabella dibakar oleh ayahmu,” kata Surya pelan.

“Dan semua surat Isabella untukmu tidak pernah sampai ke tanganmu.”

Empat tahun.

Empat tahun mereka saling mencintai.

Empat tahun mereka saling merindukan.

Namun juga empat tahun mereka percaya bahwa masing-masing telah mengkhianati.

Isabella tak mampu lagi menahan air matanya.

Sedangkan Adrian…

Pria yang dikenal dingin dan tak pernah menunjukkan emosi itu…

Berlutut.

Di tengah toko perhiasan kecil itu.

Berlutut di depan Isabella.

Dan menangis seperti seorang anak kecil.

“Aku minta maaf…”

“Aku tidak tahu…”

“Aku benar-benar tidak tahu…”

Air mata yang ditahan Isabella selama bertahun-tahun akhirnya pecah.

Untuk pertama kalinya dalam empat tahun…

Ia melihat pria yang dulu sangat dicintainya.

Bukan CEO Wijaya Group.

Bukan pewaris miliaran rupiah.

Melainkan Adrian yang dulu memeluknya di apartemen kecil mereka.

Ethan memiringkan kepalanya.

Kemudian dengan langkah kecil ia berjalan mendekat.

“Kalau Om menangis…”

“Mama bilang harus dipeluk.”

Anak itu membuka kedua tangannya.

Dan tanpa ragu, Adrian memeluk putranya.

Tangisnya semakin pecah.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

Ia mendengar suara kecil itu berbisik di telinganya.

“Ayah…”


Satu tahun kemudian.

Aurelia Jewelry telah berkembang menjadi merek perhiasan paling terkenal di Indonesia.

Cabangnya tersebar di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali.

Namun Isabella tetap bekerja di meja kecil tempat ia memulai segalanya.

Dan setiap sore, seorang CEO terkaya di Indonesia selalu datang tepat pukul lima.

Membawakan susu cokelat untuk Ethan.

Dan bunga mawar putih untuk istrinya.

Suatu hari, Ethan yang berusia lima tahun bertanya sambil tertawa:

“Ayah, kenapa Ayah selalu kasih bunga buat Mama?”

Adrian tersenyum.

Kemudian ia memandang Isabella, wanita yang hampir hilang darinya untuk selamanya.

“Karena Ayah pernah kehilangan harta paling berharga dalam hidup.”

“Dan Tuhan memberi Ayah kesempatan kedua.”

“Jadi Ayah akan mencintai Mama sampai napas terakhir Ayah.”

Isabella tersenyum sambil menggenggam tangannya.

Di jari manisnya berkilau sebuah cincin berlian yang sederhana.

Cincin yang dulu hanya berupa sebuah sketsa dengan tulisan tangan lama:

“Untuk malaikat kecil kita.”

Dan akhirnya…

Malaikat kecil itu tumbuh dengan bahagia.

Bukan karena warisan miliaran rupiah.

Bukan karena kekuasaan.

Tetapi karena ia dibesarkan oleh dua orang yang, setelah melewati begitu banyak luka dan perpisahan…

Akhirnya menemukan jalan pulang satu sama lain.

Karena cinta sejati…

Kadang terlambat.

Kadang diuji oleh waktu.

Namun jika memang ditakdirkan…

Ia akan selalu menemukan jalan untuk kembali.