“Penga-man yang dipakai suamimu, sudah kutu-suk jarum sebelumnya! Kalau aku sudah ha mil, kamu pasti akan dice-raikan. Aku harap kamu nggak nangis ya, Ge!”
PeDe sakali Pe-la-kor itu, dia tidak tahu, kalau selama 5 tahun pernikahan, yang bermasalah adalah suamiku, dia tidak akan ha-mil. Tapi aku yang akan ha-mil karena aku—
“Apa itu? Kamu ha mil, Ge?“
Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat bersuara untuk menyangkal, Bu Arimbi sudah menghambur. Ia memeluk Gea dengan begitu erat, menyandarkan kepalanya di bahu sang menantu.
“Akhirnya … akhirnya Ibu jadi nenek. Akhirnya Ibu punya cucu! Terima kasih, Gea! Terima kasih, Sayang!”
Bu Arimbi menangis haru. Bahunya terguncang hebat, meluapkan penantian lima tahun yang melelahkan.
Dava yang tadinya penuh a-marah, kini hanya bisa mematung dengan kepalan tangan yang perlahan melonggar. Logikanya buntu.
Keben ciannya pada pengkhia natan Gea mendadak berben turan dengan kenyataan bahwa ibunya sangat bahagia. Ia tahu, satu kalimat kejujuran saja dari mulutnya saat ini akan menghan curkan ibunya berkeping-keping.
“Bu, jangan erat-erat peluknya. Kasihan Gea,” gumam Dava lirih. Suaranya datar, namun cukup untuk membuat Bu Arimbi tersadar.
“Oh, iya! Ibu lupa! Ibu terlalu senang!”
Bu Arimbi melepas pelukannya, mengusap air mata di pipinya dengan ujung daster, lalu menatap Gea dengan tatapan memuja.
“Sini, Ge, duduk. Jangan terlalu lama berdiri. Kamu sedang ha mil muda, jangan sampai kecapekan! Dava, ambilkan air hangat buat istrimu!”
Bu Arimbi menuntun Gea menuju sofa di ruang tengah, mengabaikan koper yang tergeletak malang di dekat pintu, saksi bisu rencana pelarian Gea yang gagal total. Gea hanya bisa menurut, langkahnya terasa berat saat ia merasakan usapan lembut tangan mertuanya di punggungnya.
“Kita harus mengumumkan keha milan Gea ke keluarga besar secepatnya. Terutama pada Kakek. Ingat, Dava … kalau Gea ha mil, Kakek janji akan memberimu posisi penting dan saham di perusahaannya. Keluarga Arsen tidak akan pernah putus keturunan sekarang!” seru Bu Arimbi dengan wajah berseri-seri.
“Jangan dulu, Bu,” potong Dava cepat, matanya melirik Gea dengan kilat yang sulit diartikan.
“Kenapa? Ini berita besar!” Kening Bu Arimbi berkerut heran.
Dava terdiam beberapa detik, otaknya berputar keras mencari alasan.
“I-ini baru hasil tes pek. Belum periksa ke dokter. Kita harus pastikan dulu ja ninnya sehat, baru bicara pada Kakek. Kita nggak mau kasih harapan palsu kalau terjadi apa-apa, kan?”
Bu Arimbi terdiam sejenak, lalu mengangguk-angguk setuju meski rautnya kecewa.
“Benar juga kamu. Kamu harus jaga Gea baik-baik sekarang. Kapan mau ke dokter? Biar Ibu bilang sama Ayah. Ayah pasti langsung pulang dari kantor kalau tahu berita ini. Dia pasti bakal belikan semua kebutuhan ba yi besok!”
“Haduh, biar kita saja yang urus, Bu. Ibu istirahat saja, ini sudah malam,” tolak Dava lagi, wajahnya tampak makin tertekan.
“Nggak bisa, Dava! Ini cucu pertama Ibu! Ibu harus ikut!”
Bu Arimbi langsung bangkit dengan langkah ringan.
“Baiklah, Ibu pulang dulu, Ibu nggak sabar ngasih tahu Ayah. Nanti telepon Ibu, ya, kabari jam berapanya. Pokoknya Ayah sama Ibu harus ikut ke rumah sakit!”
Sosok Bu Arimbi menghilang di balik pintu, meninggalkan keheningan yang jauh lebih berat dari sebelumnya. Gea menunduk, tangannya perlahan meraba perutnya sendiri yang masih rata. Ada rasa perih yang menjalar di dadanya saat menyadari kebo hongan besar ini mulai memakan korban orang yang paling baik padanya.
“Kasihan Ibu, Mas. Dia pikir ini cucunya,” ucap Gea dingin tanpa menoleh pada Dava. “Lebih baik kamu jelaskan kesalahpahaman ini sekarang sebelum semuanya semakin buruk. Kasihan orang tuamu. Jelaskan, lalu ce raikan aku, dan nikahi seling kuhanmu itu!”
Dava menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar seperti keputusasaan yang dalam. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di depan Gea, mengamati setiap inci wajah istrinya lalu turun ke arah perut.
“Kenapa kamu begini, Ge? Kenapa kamu sampai seling kuh?” tanya Dava dengan suara yang bergetar hebat.
“Lima tahun kita bersama, Ge. Apa satu tahun aku berpaling darimu cukup jadi alasan untukmu menyerahkan tubuhmu pada lelaki lain?”
Gea mendongak, menatap lurus ke mata Dava yang memerah.
“Karena kamu seling kuh duluan! Kamu yang mengkhia natiku, menghan curkan sumpah pernikahan kita. Aku hanya membalas rasa sakit itu, Mas. Aku juga manusia, aku punya rasa sepi yang tidak pernah kamu pedulikan lagi semenjak wanita itu datang.”
“Maafkan aku, Ge … aku nggak berniat seling kuh sejauh itu! Aku hanya butuh pelarian karena desakan keluarga soal ank!”
Gea tertawa sumbang, tawa yang terdengar sangat menyakitkan.
“Satu tahun, Mas! Satu tahun seling kuhanmu itu menginjak-injak harga diriku. Dia menghi naku seolah aku sampah tak berharga karena tidak bisa memberimu ank. Sementara kamu? Kamu lebih betah di apartemennya, lebih bahagia menghabiskan malam bersamanya, memanjakannya, menuruti semua keinginannya sementara aku di sini sendirian, menatap langit-langit ka mar dan terpuruk dalam kehampaan.”

Gea menarik napas pendek, matanya berkaca-kaca namun ia menolak untuk menangis di depan pria penge cut ini.
“Lalu … kalau ada lelaki yang baik padaku, yang memberiku perhatian saat suamiku sendiri sibuk memuja wanita lain, memangnya salah jika aku menanggapinya? Memangnya hanya kamu yang boleh mencari kehangatan di luar rumah?”
Dava terdiam. Setiap kalimat Gea seperti hantaman godam yang menghan curkan egonya sebagai lelaki keluarga Arsen. Ia ingin marah, ingin memaki, namun ia sadar bahwa dialah yang pertama kali membuka pintu ne raka ini.
Penyesalan mulai merayap, namun tertutup oleh rasa dikhia nati yang juga sama besarnya.
Suasana kembali mence kam saat Dava melangkah satu langkah lebih dekat, menatap Gea dengan tatapan yang sangat ta jam, menuntut kejujuran paling pahit. Ia menceng keram lengan sofa.
“Siapa lelaki itu?” desis Dava pelan namun menu suk.
Gea tidak berkedip. Ia menantang tatapan Dava dengan keberanian yang tersisa.
“Kenapa kamu ingin tahu? Apa itu penting sekarang? Kamu ingin berce rai, kan? Lakukan saja.”
Dava menggeleng, rah angnya mengeras.
“Bagaimana aku bisa mence raikanmu sekarang? Ibu sudah tahu! Seluruh keluarga akan tahu sebentar lagi! Kamu menghan curkan segalanya, Gea. Kamu menjebakku dalam situasi yang menji jikkan ini!”
“Ji jik? Lalu bagaimana denganmu dan Sora?”
“Setidaknya aku menahan diri untuk tidak mengha mili Sora sebelum menikah!” bentak Dava tertahan, suaranya parau menahan ledakan a marah agar tidak terdengar sampai kamar ibunya.
Gea hanya tersenyum miring, sebuah senyum kemenangan yang pahit.
“Siapa lelaki yang mengha milimu, Gea?! Katakan padaku!”
Dava terus mendesak, tangannya kini mencengkeram bahu Gea, menggun cangnya pelan seolah ingin memak sa kejujuran itu keluar dari mulut istrinya. Gea memejamkan mata sesaat.
“Katakan, Ge! Siapa?!”