Posted in

AKAD PERNIKAHAN INI SELESAI, DAN KELUARGAMU PUN SELESAI,” suara dingin ayahku terdengar saat dia melihat lebam di wajahku di hari pernikahanku.

Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupku.
Grand Ballroom di hotel paling mewah di kota dipenuhi ribuan mawar putih. Semuanya sempurna untuk pernikahan yang disebut “Pernikahan Tahun Ini.”
Namaku Isabella, satu-satunya anak dan pewaris Don Roberto, seorang miliarder sekaligus pengusaha paling disegani di negeri ini. Aku akan menikah dengan Dante, pria yang selama ini memperkenalkan dirinya sebagai cinta sempurna dalam kisah dongengku.
Tampan, lembut, penuh perhatian—itulah yang kupikir dia.
Aku berada di Bridal Suite, berdiri di depan cermin besar. Gaun desainer mahal penuh berlian membalut tubuhku. Tapi alih-alih tersenyum, air mata justru terus menggenang di mataku saat aku berusaha menutupi memar di pipi kiriku dengan concealer tebal.
Semua berubah tadi malam.
Dante mengetahui bahwa ayahku telah menyiapkan perjanjian pranikah yang ketat, yang menyatakan bahwa dia tidak akan mendapatkan harta apa pun jika kami bercerai, dan seluruh perusahaan tetap menjadi milikku.
Saat dia mengonfrontasiku di penthouse, sisi aslinya muncul.
Pria lembut yang selama ini aku kenal berubah menjadi sosok penuh amarah. Saat aku mengatakan bahwa aku tidak bisa melanggar aturan ayahku, dia mencengkeram lenganku dan mendorongku dengan keras.
Aku kehilangan keseimbangan dan wajahku menghantam sudut dinding.
“Jangan hancurkan rencanaku, Isabella. Kamu sudah milikku,” bisiknya dingin semalam saat aku terjatuh di lantai.
Dia membuatku percaya bahwa semua itu salahku. Karena takut dan malu, aku memilih diam.
Tanganku gemetar saat merapikan riasan, lalu pintu Bridal Suite perlahan terbuka.
Don Roberto masuk.
Ia mengenakan tuxedo, wajahnya penuh kebanggaan seorang ayah yang akan mengantar putrinya ke altar.
“Kamu sangat cantik, anakku,” katanya lembut.
Aku menoleh dan memaksakan senyum. “Terima kasih, Papa.”
Tapi Don Roberto bukan orang biasa. Ia terbiasa membaca orang, melihat kebenaran di balik topeng.
Saat mendekat, ia melihat tanganku yang gemetar. Dan meski makeup sudah tebal, memar di pipiku tetap tidak bisa disembunyikan.
Ayahku terdiam.
Senyumnya perlahan menghilang.
Ia mengangkat daguku pelan, memiringkan wajahku ke arah cahaya.
Dan dalam sekejap, seluruh tubuhnya menegang.
“Anakku…” suara Don Roberto bergetar—campuran sakit, kaget, dan amarah yang mulai membara.
“Siapa yang melakukan ini padamu?”
Air mataku jatuh. Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya menunduk, dipenuhi rasa malu dan takut.
Saat itu juga, pintu kembali terbuka.
Dante masuk.
Ia mengenakan setelan putih sempurna, tersenyum seolah tidak ada yang terjadi. Di belakangnya ada wedding coordinator.
“Sudah siap belum pengantin paling cantik di dunia?”
Untuk mengetahui akhir yang mengejutkan… lanjutkan ????
Grand Ballroom hotel termewah di pusat kota itu dipenuhi cahaya kristal dan harum ribuan mawar putih. Musik orkestra mengalun lembut, para tamu elite berdiri menunggu dimulainya akad pernikahan paling mewah tahun itu.

Semua orang iri pada hidupku.

Aku, Isabella Roberto, putri tunggal Don Roberto—miliarder sekaligus pengusaha paling ditakuti di negeri ini—akan menikah dengan Dante Alcazar, pria tampan yang selama dua tahun terakhir membuatku percaya bahwa cinta sejati benar-benar ada.

Tapi tidak seorang pun tahu bahwa di balik gaun pengantin seharga ratusan ribu dolar ini, tubuhku penuh ketakutan.

Dan tidak seorang pun tahu bahwa pipiku masih terasa nyeri karena tamparan pria yang sebentar lagi akan menjadi suamiku.

“Sudah siap belum pengantin paling cantik di dunia?” suara Dante terdengar lembut saat ia masuk ke Bridal Suite.

Ia tersenyum sempurna. Wajah tampan itu membuat semua orang mudah jatuh cinta padanya.

Tapi sekarang aku tahu…

Senyum itu hanyalah topeng.

Don Roberto berdiri di depanku. Tatapannya dingin menatap Dante, lalu kembali melihat lebam samar di pipiku.

Ruangan mendadak terasa mencekam.

Wedding coordinator yang berdiri di belakang Dante bahkan langsung menunduk gugup.

“Ada masalah, Sir?” tanya Dante santai, seolah tak terjadi apa-apa.

Ayahku melangkah perlahan mendekatinya.

Setiap langkah Don Roberto selalu membawa tekanan yang membuat orang lain sulit bernapas.

“Aku hanya ingin memastikan,” katanya tenang, terlalu tenang, “bahwa putriku benar-benar bahagia hari ini.”

Dante tertawa kecil lalu merangkul pinggangku posesif.

“Tentu saja dia bahagia. Benar kan, sayang?”

Tangannya mencengkeram pinggangku sedikit terlalu kuat.

Isyarat ancaman.

Aku menegang.

Dan ayahku melihat semuanya.

Tatapan Don Roberto berubah mengerikan.

Aku mengenal tatapan itu sejak kecil.

Tatapan seorang pria yang biasa menghancurkan lawannya tanpa ampun.

“Lepaskan tanganmu,” ucap ayahku pelan.

Dante masih tersenyum. “Maaf?”

“Aku bilang…” suara ayahku makin rendah, “…lepaskan tanganmu dari putriku.”

Untuk pertama kalinya, senyum Dante sedikit goyah.

Ia melepas tangannya perlahan.

“Ayah terlalu protektif,” katanya mencoba tertawa.

Namun Don Roberto tidak ikut tertawa.

Ia justru menatapku.

“Isabella. Jawab Papa.”

Dadaku sesak.

Aku tahu semua tamu sedang menunggu di ballroom. Media juga hadir. Pernikahan ini disiarkan hampir ke seluruh negeri.

Jika aku bicara sekarang…

Semuanya akan hancur.

Tapi jika aku diam…

Aku tahu hidupku akan jauh lebih hancur.

Air mataku jatuh perlahan.

Dan itu sudah cukup menjadi jawaban.

Ruangan mendadak sunyi.

Aku melihat rahang ayahku mengeras.

Dante mulai panik. “Sayang, jangan mulai drama seperti ini—”

BUGH!

Dalam satu gerakan cepat, Don Roberto menghantam wajah Dante begitu keras hingga pria itu tersungkur ke lantai marmer.

Wedding coordinator menjerit kaget.

Aku membeku.

Dante memegang bibirnya yang berdarah dengan mata membelalak tidak percaya.

“Beraninya kau menyentuh putriku,” suara ayahku terdengar sangat dingin sampai membuat bulu kudukku merinding.

“Sir, ini salah paham!” Dante buru-buru berdiri. “Saya mencintai Isabella!”

“Mencintainya?” Don Roberto tertawa kecil.

Tapi tawa itu jauh lebih menyeramkan daripada amarah.

“Pria yang mencintai wanita tidak akan meninggalkan lebam di wajahnya sehari sebelum pernikahan.”

Wajah Dante pucat.

“Aku bisa jelaskan—”

“Tidak perlu.”

Ayahku menoleh ke bodyguard yang berdiri di luar pintu.

“Batalkan pernikahan ini.”

Aku membelalak.

Wedding coordinator langsung panik. “S-Sir… para tamu sudah hadir, media juga—”

“Aku tidak peduli.”

Lalu Don Roberto menunjuk Dante.

“Dan keluarkan sampah ini dari hotelku.”

Dante akhirnya kehilangan topeng lembutnya.

“Kau pikir kau bisa menghancurkan hidupku begitu saja?!” bentaknya marah.

Aku tersentak.

Untuk pertama kalinya, sisi aslinya muncul di depan semua orang.

“Aku sudah menoleransi keluarga kalian selama ini!” Dante melanjutkan dengan mata merah penuh amarah. “Aku hampir mendapatkan semuanya!”

Kalimat itu membuat dadaku dingin.

Hampir mendapatkan semuanya.

Jadi benar…

Selama ini dia hanya mengincar hartaku.

“Aku mencintaimu, Isabella!” teriaknya padaku.

Tapi anehnya, kali ini aku tidak lagi mempercayainya.

Karena cinta tidak membuat seseorang takut.

Dan cinta tidak meninggalkan memar.

Don Roberto mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.

“Kau membuat kesalahan terbesar dalam hidupmu,” bisik ayahku dingin.

Dante tertawa sinis. “Kalau pernikahan ini batal, media akan menghancurkan nama keluarga Roberto. Semua orang akan tahu putri kesayanganmu dipukuli calon suaminya.”

Ayahku tersenyum tipis.

“Kalau begitu biarkan mereka tahu.”

Aku menatap ayahku kaget.

Seumur hidup, Don Roberto selalu menjaga reputasi keluarga di atas segalanya.

Tapi hari ini…

Ia memilih melindungiku.

“Ayah…” suaraku bergetar.

Don Roberto menatapku lembut.

“Tidak ada bisnis, kekuasaan, atau reputasi yang lebih penting daripada dirimu.”

Kalimat itu membuat tangisku pecah.

Selama ini aku takut mengecewakan ayahku.

Padahal yang paling ia takutkan hanyalah kehilangan aku.

Bodyguard segera menyeret Dante keluar. Tapi pria itu masih berteriak marah.

“Kalian akan menyesal!”

Aku pikir semuanya selesai.

Ternyata aku salah.

Karena malam itu, neraka baru saja dimulai.


Berita pembatalan pernikahan kami meledak di seluruh negeri.

Media membicarakannya siang malam.

“PERNIKAHAN ABAD INI GAGAL!”

“PUTRI MILIARDER DIDUGA MENJADI KORBAN KEKERASAN!”

“DANTE ALCAZAR HILANG SETELAH INSIDEN SKANDAL!”

Semua orang membicarakanku.

Aku mengurung diri selama berminggu-minggu di mansion keluarga.

Rasa malu memakanku hidup-hidup.

Aku merasa bodoh karena begitu mudah ditipu.

Tapi yang paling menghancurkanku adalah kenyataan bahwa aku benar-benar mencintai Dante.

Atau setidaknya… pria palsu yang selama ini dia perankan.

Suatu malam, aku duduk sendiri di balkon kamar sambil menatap kota.

Don Roberto datang membawa dua cangkir teh hangat.

Sejak pembatalan itu, ia menjadi jauh lebih sering menemaniku.

“Apa Papa kecewa padaku?” tanyaku pelan.

Ayahku diam beberapa saat.

Lalu ia berkata, “Papa kecewa karena tidak menyadari lebih cepat bahwa pria itu menyakitimu.”

Aku menunduk.

“Kenapa aku begitu bodoh?”

“Karena orang manipulatif selalu tahu cara membuat korbannya merasa bersalah.”

Aku menatap ayahku.

“Papa pernah mengalami hal seperti ini?”

Don Roberto tersenyum pahit.

“Dengan ibumu.”

Aku terdiam.

Ayah hampir tidak pernah membicarakan Mama sejak beliau meninggal.

“Ibumu dulu terlalu baik,” katanya pelan. “Dan Papa hampir kehilangan dia karena terlalu sibuk menjaga kerajaan bisnis.”

Malam itu untuk pertama kalinya aku melihat sisi rapuh ayahku.

Di balik kekuasaan dan ketakutan yang ia ciptakan, ternyata ia hanyalah seorang pria tua yang takut kehilangan keluarga.

Dan aku sadar…

Aku tidak sendiri.


Tiga bulan berlalu.

Aku mulai perlahan bangkit.

Aku kembali bekerja memimpin perusahaan ayahku. Aku belajar menghadapi media. Aku belajar berdiri sendiri.

Sampai suatu malam…

Mobilku hampir ditabrak truk besar di jalan tol.

“AWAS!” teriak sopirku.

BRAKKK!

Mobil kami berputar keras sebelum menghantam pembatas jalan.

Aku menjerit.

Saat semuanya berhenti, tubuhku gemetar hebat.

Dan beberapa detik kemudian…

Sopirku berbisik takut.

“Nona… rem mobil tadi dirusak.”

Darahku membeku.

Malam itu juga Don Roberto murka.

Ia langsung memerintahkan penyelidikan besar-besaran.

Dan hasilnya membuat kami semua terdiam.

Dalang di balik kecelakaan itu adalah…

Dante.

Ia tidak pernah pergi.

Selama ini ia bersembunyi sambil diam-diam menghancurkan bisnis keluarga kami sedikit demi sedikit.

Dan yang paling mengerikan…

Ia bekerja sama dengan salah satu pesaing terbesar ayahku.

“Dia bukan sekadar pemburu harta,” kata kepala keamanan keluarga. “Dia memang mendekati Nona Isabella sejak awal untuk menghancurkan keluarga Roberto dari dalam.”

Aku merasa mual.

Jadi seluruh hubungan kami…

Benar-benar palsu.

Don Roberto menatapku penuh khawatir.

Tapi anehnya, kali ini aku tidak menangis.

Aku justru merasa marah.

Sangat marah.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku berhenti menjadi korban.

“Aku ingin menemuinya,” kataku.

Ayah langsung menolak. “Tidak.”

“Aku harus melakukannya.”

“Dia berbahaya.”

Aku menatap ayahku mantap.

“Dan aku tidak mau lagi hidup dalam ketakutan.”


Pertemuan itu terjadi di sebuah gudang tua milik keluarga Roberto.

Dante dibawa masuk oleh bodyguard dengan tangan terikat.

Wajahnya masih tampan.

Tapi sekarang matanya dipenuhi kebencian.

Saat melihatku, ia tertawa kecil.

“Kamu terlihat lebih kuat sekarang.”

Aku berdiri di depannya tanpa rasa takut.

“Kenapa?”

“Karena ayahmu menghancurkan keluargaku bertahun-tahun lalu.”

Aku terdiam.

Dante tersenyum pahit.

“Ayahku bangkrut setelah kalah bersaing dengan Don Roberto. Dia bunuh diri. Dan sejak itu aku bersumpah akan menghancurkan keluargamu.”

Dadaku sesak.

“Jadi selama ini…”

“Awalnya hanya balas dendam.” Dante menatapku lama. “Tapi lalu aku benar-benar jatuh cinta padamu.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

“Orang yang mencintai tidak mencoba membunuh.”

Wajah Dante berubah gelap.

“Kamu seharusnya tetap bersamaku!”

Ia mendadak berusaha menyerangku, tapi bodyguard langsung menahannya.

Dan saat itulah…

Aku benar-benar berhenti mencintainya.

Yang tersisa hanya rasa jijik.

Aku melangkah mendekat lalu berkata pelan:

“Aku kasihan padamu, Dante.”

Ia membeku.

“Kau menghabiskan hidupmu untuk membalas dendam sampai lupa bagaimana mencintai dengan benar.”

Untuk pertama kalinya, matanya terlihat goyah.

Tapi semuanya sudah terlambat.

Aku berbalik pergi.

Dan di belakangku, suara dingin Don Roberto terdengar:

“Sekarang… keluarga Alcazar benar-benar selesai.”


Setahun kemudian.

Aku berdiri di ballroom yang sama.

Tempat yang dulu hampir menjadi awal kehancuranku.

Tapi kali ini bukan untuk pernikahan.

Melainkan peluncuran perusahaan baru milikku sendiri.

Aku berhasil membangun bisnis tanpa bergantung penuh pada nama ayahku.

Media kembali hadir.

Tapi kali ini mereka tidak melihat perempuan lemah penuh lebam.

Mereka melihat Isabella Roberto yang baru.

Kuat.

Mandiri.

Dan tidak lagi takut.

Don Roberto berdiri di sampingku sambil tersenyum bangga.

“Akhirnya Papa bisa tenang,” katanya.

Aku tertawa kecil. “Karena aku tidak akan tertipu pria tampan lagi?”

“Karena sekarang tidak ada pria yang cukup berani menyakitimu.”

Aku tersenyum sambil menggenggam tangan ayahku.

Dulu aku mengira kisah cintaku hancur di altar.

Ternyata tidak.

Karena hari pernikahan itu bukan akhir hidupku.

Itu adalah hari ketika aku akhirnya diselamatkan.

Bukan oleh pangeran.

Tapi oleh diriku sendiri… dan seorang ayah yang menolak membiarkan putrinya hidup dalam ketakutan lagi.