Posted in

AKU, ALDRIC VOSS, PEMILIK SEGALA YANG BERGERAK DI KOTA INI,HANYA BUTUH SATU HAL DARI MU:JIKA KAU BISA MENYELAMATKAN PUTRAKU DARI KEMATIAN YANG DIA PILIH SENDIRI,AKU AKAN MEMBERIMU APA SAJA.BAHKAN NYAWA KU SENDIRI.”^^

Malam itu, di ruang kerja vila tepi Danau Silvermere, aku duduk menghadap gadis yang kutemukan setelah berbulan-bulan mencari. Hujan gerimis menyapu kaca jendela di belakangnya.

Usianya baru 26 tahun, tapi matanya sudah membawa beban yang lebih berat dari usianya.
“Menikahlah dengan putraku,” kataku langsung, tanpa basa-basi. “Buatlah dia mau hidup lagi.

Lakukan apa pun yang kau bisa. Sebagai imbalannya, aku akan memberimu uang yang bisa mengubah seluruh hidupmu dan keluargamu.”
Gadis itu — Elara Quinn — menatapku tanpa gentar. Suaranya tenang saat dia bertanya:

“Kalau suatu hari nanti Kaelen pulih… apakah Tuan benar-benar akan melepaskannya? Memberinya kebebasan untuk memilih hidupnya sendiri?”
Pertanyaan itu membuatku diam sejenak.

Aku meletakkan gelas whiskey-ku perlahan di meja mahoni. Sudah lama sekali tidak ada yang berani menuntut syarat balik dariku. Kebanyakan orang hanya mengangguk patuh ketika mendengar jumlah uang yang kuberikan.

“Siapa namamu lagi?” tanyaku, meski aku sudah hafal.
“Elara Quinn.”

“Kau sudah tahu kondisi Kaelen?”
“Ya, Tuan. Kecelakaan helikopter tiga tahun lalu. Dia kehilangan kemampuan berjalan normal, dan sejak itu… dia menutup diri sepenuhnya.”

Aku mengamatinya lekat-lekat. Gaun hitamnya murah, tasnya sudah usang, tapi sikapnya tegak. Tidak ada kepura-puraan. Tidak ada air mata palsu atau senyum dibuat-buat seperti perempuan-perempuan sebelumnya yang kukirim ke Kaelen.
Dia berbeda.

“Kenapa kau mau menerima tawaran ini?” tanyaku.
“Saya butuh uang itu,” jawabnya jujur. “Untuk melunasi hutang besar ayah angkat saya dan biaya operasi adik perempuan saya yang sakit.”

Aku tersenyum tipis. Jawaban yang sudah kuduga, tapi caranya mengatakannya membuatku yakin.
“Bagus. Mulai malam ini, kau tinggal di vila ini. Kau boleh berkeliaran ke mana saja, kecuali ruang pribadi Kaelen di sayap barat lantai dua. Itu wilayahnya.”

Aku berdiri, memberi isyarat bahwa pembicaraan sudah selesai. Tapi sebelum dia pergi, aku menambahkan dengan suara rendah:

“Elara… Kaelen bukan lagi anak yang dulu kukenal. Dia penuh amarah, kecewa, dan kelelahan. Jika kau gagal seperti yang lain, aku tidak akan memaksamu tetap di sini. Tapi jika kau berhasil membuatnya mau membuka mata lagi pada dunia… kau tidak akan pernah kekurangan apa pun seumur hidupmu.”
Malam itu aku tidak bisa tidur.

Aku berdiri di balkon ruang kerjaku, memandang danau yang gelap. Sudah tiga tahun aku menyaksikan putra tunggalku perlahan mati di dalam tubuhnya yang masih hidup. Kaelen dulu adalah kebanggaanku — arsitek brilian, penuh ambisi, selalu melihat masa depan dengan mata penuh api. Sekarang dia hanya bayangan di kursi roda, mengurung diri di kamar gelap, menolak semua orang.

Aku sudah mencoba segalanya. Dokter, terapis, perempuan-perempuan cantik, bahkan ancaman. Semua gagal.
Elara adalah harapan terakhirku.

Aku memantau dari jauh saat pelayan mengantarnya ke lantai atas. Melalui kamera keamanan, aku melihat dia masuk ke kamar Kaelen. Aku mendengar percakapan mereka melalui alat penyadap yang sengaja kutaruh di ruangan itu.

Suara Kaelen yang dingin dan sinis terdengar:
“Jadi kamu yang dikirim ayahku untuk ‘menyembuhkan’ aku?”

Aku tersenyum kecil di balkon. Anakku masih tajam. Tapi kemudian aku mendengar jawaban Elara yang tenang dan jujur. Dia tidak merayu, tidak kasihan, tidak berpura-pura ingin menyelamatkan. Dia hanya… ada di sana.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku melihat Kaelen terdiam lama setelah mendengar kata-kata perempuan itu.
Mungkin kali ini berbeda.

Tiba-tiba, suara pecah kaca memecah keheningan malam.

Aku langsung menegang. Alarm keamanan menyala. Langkah kaki berlari terdengar dari koridor bawah.

Aku bergegas keluar ruangan dan melihat salah satu kepala keamanan berlari naik tangga dengan wajah tegang.

“Tuan Voss! Ada penyusup! Lima orang! Mereka langsung menuju ruang bawah tanah. Mereka mencari kotak besi lama yang Tuan simpan!”
Wajahku mengeras.

Kotak itu. Rahasia keluarga yang seharusnya sudah terkubur bersama masa lalu.

Saat pengawal itu bergerak, sesuatu jatuh dari sakunya. Sebuah gelang perak tua dengan ukiran bulan sabit dan burung phoenix.
Aku membeku.

Gelang itu… aku mengenalinya. Dulu pernah kulihat di tangan ibu kandung Elara, dua puluh tahun lalu, sebelum dia menghilang secara misterius setelah mengkhianati keluargaku.

Aku menatap gelang itu di lantai, lalu menoleh ke arah sayap barat di mana Elara dan Kaelen berada.
Senyum tipis muncul di bibirku.

Ternyata, gadis ini membawa lebih banyak rahasia daripada yang kukira.
Dan entah mengapa, aku merasa permainan baru saja dimulai.