“Usap keringatmu, Ma. Jangan sampai setetes pun jatuh merusak takaran adonan ini, atau nyawa Mama yang akan jadi taruhannya hari ini.”
Suaraku bergetar parau, memecah keheningan di sudut paling ujung dapur pusat Larasati Food & Beverage. Udara subuh yang membekukan tulang terasa kontras dengan hawa panas dari deretan oven raksasa di belakangku.
Di hadapanku, Mama tidak menjawab. Wanita yang minggu lalu masih tidur berselimut sutra di kamar ber-AC itu, kini berdiri dengan bahu merosot dalam balutan celemek putih yang mulai kusam.
Tangan keriputnya yang biasa dihiasi berlian, kini memerah dan lecet karena harus menguleni tepung gandum berjam-jam sejak jam dua pagi tadi.
“S-sembilan ratus sembilan puluh delapan …” gumam Mama putus asa. Napasnya memburu, matanya menatap nanar pada tumpukan adonan di mejanya.

“Yoga, dada Mama sakit sekali, Nak. Tanganku sudah mati rasa.”
Aku memejamkan mata erat-erat, menahan perih yang mengiris dada.
Di sekeliling kami, puluhan pembuat roti profesional bekerja dalam diam, sama sekali tidak mempedulikan kehadiran mantan majikan mereka yang kini terpuruk di kasta paling bawah.
Setiap kali otot lenganku menjerit karena harus memindahkan loyang panas, bayangan masa lalu menamparku telak.
Inilah yang Hani rasakan setiap subuh selama tiga tahun pernikahan kami.
Sementara aku tidur mendengkur nyenyak, istriku berjuang dengan panasnya oven dan beratnya tepung, hanya untuk dicaci maki oleh ibu mertuanya sendiri saat matahari terbit.
Karma ini bekerja dengan sangat senyap, namun terasa begitu mematikan.