Posted in

Aku merasa ketakutan ketika pria berambut gimbal itu membawaku ke rumahnya yang tampak seperti sarang ha ntu jika dilihat dari luar.

Di depan halaman rumah papan itu dipenuhi dengan sampah plastik yang kotor.

“Tolong jangan apa-apa kan aku, Kang Bidin!” cicitku ketakutan.

Ketakutan luar biasa menyelimuti Aisya saat ia diseret masuk ke sebuah rumah kayu yang tampak kumuh dan dipenuhi sampah. Pria yang membawanya adalah Kang Bidin, sosok berambut gimbal yang selama ini dikenal sebagai Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di kampungnya. Meski Aisya memohon dilepaskan, Bidin bersikeras dengan status mereka yang kini sah sebagai suami-istri.

Pernikahan tragis ini terjadi karena paksaan sang bapak. Aisya dijadikan tum bal untuk menutupi aib keluarga setelah calon suaminya, Bagas, kabur di hari pernikahan. Luka Aisya kian dalam karena Bagas ternyata berselingkuh dan melarikan diri bersama Nana, kakak kandung Aisya sendiri. Pengkhianatan orang-orang terdekatnya membuat Aisya merasa hidupnya telah hancur.
Namun, di balik pintu rumah “h antu” itu, Aisya menemukan kenyataan yang kontradiktif. Meski luarnya berantakan, bagian dalam rumah Bidin sangat rapi dan bersih. Ia terkejut melihat sebuah laptop tergeletak di nakas—sesuatu yang mustahil dimiliki oleh seorang ODGJ. Bidin pun bersikap sangat tenang dan berjanji tidak akan menyentuh Aisya sebelum ia siap.

Keajaiban berlanjut keesokan harinya. Bidin membelikan Aisya paket makanan mewah dan sebuah ponsel pintar keluaran terbaru seharga belasan jut a rup iah. Saat Aisya mencurigai barang itu hasil curian, Bidin hanya tertawa tenang. Rasa penasaran Aisya memuncak ketika ia menemukan sebuah ruang rahasia berisi perpustakaan mini dengan koleksi buku marketing, bisnis, hingga kitab-kitab agama yang tebal. Aisya mulai meragukan apakah suaminya benar-benar gi la atau hanya sedang menyamarkan identitas aslinya.

Suatu sore, keluarga besar Aisya dan warga datang menjemput, mendesak Bidin untuk menceraikan Aisya dengan alasan pernikahan itu hanya untuk formalitas penyelamat nama baik. Menanggapi itu, Bidin mendadak “kumat”. Ia mengamuk dan mengusir semua orang dengan galah bambu hingga mereka lari tunggang-langgang. Aksi itu membuat Aisya bingung; apakah kegil aan itu nyata atau hanya akting untuk melindunginya?

Meski terjebak dalam situasi aneh, Aisya enggan kembali ke rumah orang tuanya. Ia sudah muak dengan perlakuan pilih kasih bapak dan ibunya yang selalu mengunggulkan Nana. Selama ini, Aisya selalu dianaktirikan—beasiswanya diputus, ia dilarang kuliah, dan hanya diberikan barang bekas, sementara Nana yang hamil di luar nikah tetap dibela habis-habisan.

Kini, Aisya memilih bertahan di sisi Kang Bidin. Baginya, hidup bersama pria yang dianggap gi la jauh lebih baik daripada kembali ke pelukan keluarga yang telah memat ikan hatinya. Selama Bidin tidak menyakitinya, Aisya siap menjalani takdir barunya di rumah misterius itu.

Kelanjutannya ada di KBM app, judulnya Suamiku Kurang Waras, karya Kang Fere