Posted in

Ayahku menolak membiayai operasi ibuku yang seka-rat, tapi merayakan pertunangan putri kesayangannya dengan pesta mewah. Baiklah, biar kurebut saja tunangan putrinya, biar tahu rasa!..

Aku tidak menyangka hidupku akan berubah sejauh ini. Dari seorang buruh kebun yang bahkan kesulitan membeli obat untuk ibunya, menjadi perempuan yang kini duduk di dalam mobil mewah, menuju rumah seorang pria yang bahkan dunianya terasa terlalu jauh untuk kugapai.

Aku menatap ke luar jendela. Lampu-lampu kota berlalu seperti bayangan. Namun kali ini … aku tidak lagi merasa kecil. Tidak lagi merasa takut. Yang tersisa hanya satu hal. Dendam.

“Bersiaplah.”

Suara Rafka memecah lamunanku saat mobil berhenti di depan sebuah rumah besar. Tidak.
Ini bukan rumah. Ini … istana.

Gerbang tinggi menjulang. Halaman luas. Lampu-lampu taman menyala terang, seolah menyambut siapa pun yang datang dengan kemewahan yang mencolok. Rumah keluarga Dirgantara.

Aku turun perlahan. Bahkan kakiku sempat ragu menyentuh tanah. Bukan karena kagum, tapi karena sadar … dunia ini bukan milikku.

Belum. Dan aku akan mengambilnya, sedikit demi sedikit.

“Ayo.”

Rafka berjalan lebih dulu. Aku mengikutinya.
Langkahku pelan, tapi pasti. Namun begitu pintu besar itu terbuka, aku langsung tahu.

Ini bukan sekadar pulang. Ini … medan perang.

***

Ruang tamu itu luas, elegan. Dipenuhi orang-orang berpakaian rapi. Dan di tengah ruangan, duduk beberapa orang yanemungkinan adalah keluarga Rafka. Setidaknya itu yang pertama kali muncul dalam pikiranku.

Juga seseorang yang kukenal ada di sana. Nadira.

Dia duduk di samping seorang wanita paruh baya yang tampak anggun, namun tatapannya tajam seperti pisau. Di sisi lain, seorang pria berwajah tegas duduk dengan aura wibawa yang kuat.

Mungkin mereka adalah orang tua Rafka. Nyonya dan Tuan Dirgantara.

Dan di sebelah Nadira, Ayah dan ibu tiriku tak kalah tajam menatapku. Menghakimi dan merendahkan. Aku bisa merasakannya … bahkan tanpa mereka berkata apa-apa.

“Jadi ini perempuan itu.”

Suara wanita yang duduk di samping Nadira terdengar dingin. Aku tidak menunduk. Ya, aku tidak akan menunduk lagi.

Rafka berjalan masuk tanpa ragu. Aku tetap setia mengikutinya. Ayahnya menatapnya tajam.

“Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan, Rafka?!”

“Aku tahu.”

“Lalu kamu masih berani membawanya pulang?”

“Aku tidak butuh izin.”

“Rafka!!”

Suasana langsung menegang. Aku masih berdiri di samping Rafka. Diam, mengamati, dan mengingat setiap wajah. Setiap ekspresi.

“Lihat itu, Tante!” Suara Nadira terdengar manja sambil bergelayut di lengan Ibu Rafka. “Perempuan itu sudah mempermalukanku di depan semua orang.”

Mata ibu Rafka menatapku penuh amarah, entah apa saja yang sudah Nadira ceritakan padanya.

“Entah sejak kapan dia berhasil merayu Rafka, Tante. Dia sengaja mau merebut Rafka dariku,” lanjut Nadira lagi, kali ini dengan isak tipis. Entah benar, entah cuma acting.

Aku tersenyum tipis.

“Merebut?” ulangku pelan.

Ruangan mendadak sunyi. Aku menatapnya lurus.

“Ternyata perebut juga takut jika miliknya direbut?”

Nadira langsung berdiri.

“Tutup mulutmu, Alea!”

Dia melangkah mendekat. Matanya berkilat penuh kebencian. “Kamu pikir kamu siapa?! Kamu cuma perempuan miskin yang bahkan tidak pantas berdiri di sini!”

Aku menatapnya.

Dingin.

“Benar,” jawabku pelan. “Aku memang miskin.”

Aku melangkah satu langkah mendekat, menghadapinya tanpa rasa takut.

“Tapi apa kamu yakin semua kekayaan yang kamu punya bukan hasil merebut hak dari si miskin ini?”

Tamparan itu sepertinya terasa. Bukan di wajah, tapi di harga diri. Wajah Nadira langsung berubah merah padam.

“Sudah cukup!” Ibu Rafka berdiri. “Jadi begini sikap perempuan yang kamu bawa, Rafka?”

Rafka tidak menjawab. Dia masih diam, sedingin es.

“Kami tidak akan menerima perempuan seperti ini di keluarga kita.” Nada suaranya lembut, namun setiap katanya terasa seperti pisau.

“Latar belakangnya tidak jelas. Sikapnya kasar. Dan dia datang hanya membawa masalah.”

Aku menatapnya, tidak gentar.

“Mohon maafkan saya, Nyonya. Tapi sebelumnya, apakah ayah saya tidak menceritakan siapa saya pada Anda?”

Semua orang terdiam. Bahkan Rafka sedikit menoleh ke arahku. Aku menarik napas pelan, lalu menatap ke arah Ayahku yang tiba-tiba salah tingkah.

“Ayah?” Ibu Rafka mengerutkan kening.”

Aku tersenyum tipis. Tapi belum sempat aku kembali bicara, ibu tiriku tiba-tiba menyela.

“Jangan dengarkan dia, Nyonya! Dia itu hanya anak haram yang mengaku-ngaku bagian dari keluarga kami!”

Aku mengatupkan bibir, kali ini tersenyum getir. Bahkan ayahku tak sedikitpun mencoba membantah ucapan istrinya.

Ibu Rafka kembali menatapku. Aku tidak menyalahkan sikapnya, karena dia memang belum mengenalku. Tentu saja dia akan membela calon menantu dan besannya.

“Apapun itu, keluarga kami tetap tidak akan menerima sembarangan orang.”

Aku tersenyum lagi.

“Saya tidak datang untuk meminta diterima.” Suaraku tenang. “Saya datang karena ada yang meminta.”

Tatapanku beralih ke Nadira, Ayah dan ibu tiriku.

“Dan karena orang-orang yang sudah mengambil terlalu banyak dari hidup saya.”

Sunyi. Tidak ada yang berbicara. Bahkan wajah Ibu Rafka masih penuh seribu pertanyaan terhadapku.

“Jadi, kalau kehadiran saya saat mengganggu … saya bisa pergi.”

Aku melangkah mundur sesaat, namun sebelum aku berbalik, Rafka memegang lenganku.

“Kamu tetap di sini.”

Aku berhenti, lalu perlahan menoleh. Dia menahan lenganku tanpa menatapku, tapi pandangannya tajam menuju ke arah semua orang di ruangan itu.

“Aku yang memilih dia.”

Kalimat itu sederhana. Namun efeknya … seperti bom.

“Rafka!” ibunya membentak. “Kamu tidak mengerti apa yang kamu lakukan!”

“Aku sangat mengerti.”

Ayahnya akhirnya ikut berdiri. Wajahnya terlihat keras.

“Pernikahan ini bukan hanya masalah kamu saja! Ini masalah keluarga. Masalah bisnis. Masalah masa depan keluarga kita!”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa kamu tetap bersikeras?!”

Sunyi sejenak. Aku melihat sesuatu di mata Rafka. Bukan sekadar ketegasan. Tapi … keputusan.

“Aku akan menikahinya.” Kalimat itu jatuh. Berat, tapi pasti. Dan tidak bisa ditarik kembali.

Ruangan itu benar-benar sunyi sekarang. Seolah semua orang kehilangan kata-kata.

Nadira mundur satu langkah. Wajahnya pucat.

“Nggak, Rafka! Kamu bercanda, kan?”

Namun Rafka tidak melihatnya lagi. Tatapannya tetap lurus, kepada keluarganya.

“Aku akan menikahinya.” Rafka mengulang ucapannya. “Dengan atau tanpa restu kalian.”

“Rafka!” Suara Ayahnya menggelegar. Tapi kali, sang Ibu mengelus pundaknya, menenangkannya.

“Kamu memang benar-benar anak durhaka!”

Aku menahan napas, dadaku berdebar. Bukan karena cinta, bukan karena bahagia.
Tapi karena mulai sekarang, tidak ada jalan kembali.

Nadira tertawa. Pelan, lalu semakin keras.
Tertawa yang terdengar … nyaris gila.

“Kamu sudah gila, Rafka! Kamu mau membatalkan pernikahan kita demi perempuan kampung ini?!”

Matanya menatapku penuh kebencian. “Sepertinya kamu sudah kena guna-guna!”

“Rafka, jangan buat Papamu marah lagi.” Ibu Rafka kembali berbicara. “Sejak awal, perjanjian keluarga kita adalah menikahkanmu dengan putri keluarga Subandono!”

“Kalau begitu, aku tidak salah,” jawab Rafka, masih dengan ekspresi datarnya.

“Maksud kamu?” Ibunya kembali terlihat kaget.

Rafka menarik tanganku, mendekat ke arahnya.

“Dia Alea, putri pertama keluarga Subandono. Putri kandung Firman Subandono!” ucapnya lantang, diikuti oleh ekspresi panik Ayah dan juga ibu tiriku.