Posted in

“Kalau bukan karena nikah sama anakku, hidupmu gak bakalan bisa seenak ini. Tinggal di rumah bagus, dan makan makanan enak. Apalagi orangtuamu gak pernah kasih apa-apa,” ucap mertuaku

Padahal acara pernikahan adik ipar yang diadakan besok 100% aku yang bayar pakai uangku, bukan uang suamiku. Setalah mendengar hin4an mertua, kuputuskan untuk membatalkan. Dan responnya ….

****

“Astaga, Reno! Apa yang kamu lakukan?!” Mama memekik, ia bergerak cepat mendekati Angga yang masih terlihat syok dengan perubahan sikapku.

“Angga besok mau nikah, kamu jangan begitu sama adikmu. Mama tau kamu sedang marah sama Nala, tapi bukan berati Adikmu bisa kamu jadikan tempat pelampiasan,” protes Mama.

“Sudah sana, kamu masuk kamar,” imbuhnya.

Tanpa memberi respon apapun, lekas aku berbalik lalu berjalan menuju kamar. Kututup pintu rapat-rapat, setelahnya kududukkan bokong di tepian ranjang. Aku duduk membungkuk sembari kedua tangan meremas rambut.

***

“Saya terima nikah dan kawinnya Agnes Valeria binti Johan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!”

“Bagaimana, saksi? Sah?”

“Sah!”

“Sah!”

Acara ijab qabul berjalan dengan lancar. Aku bisa bernapas lega. Setelah semuanya selesai, kami dari pihak mempelai laki-laki langsung pulang. Bukan tanpa sebab, kami juga harus menyiapkan acara *ngunduh mantu* di rumah esok hari.

Sesampainya di rumah, kuambil ponsel yang sengaja aku tinggalkan.

Tak ada pesan.

Tak ada panggilan tak terjawab.

Sepertinya Nala benar-benar marah dan kecewa denganku.

Sebelum menekan tombol kembali, mataku tidak sengaja menangkap lingkaran hijau di sekeliling foto profil Nala pada aplikasi Whats4pp—tanda bahwa dia telah memperbarui statusnya.

Rasa penasaran membuat jemariku refleks mengetuk layar, menampilkan beberapa slide foto yang baru diunggah beberapa jam lalu.

Di sana, Nala tampak tersenyum lebar tanpa beban, slide pertama memperlihatkan tumpukan belanjaan di sebuah mall mewah, slide kedua memperlihatkan dirinya yang sedang memanjakan diri di salon kecantikan, dan slide terakhir adalah fotonya yang sedang bersantai menikmati kopi di sebuah kafe estetik.

Dadaku seketika bergemuruh panas. Di saat aku di sini babak belur memikirkan urusan pernikahan Angga, dia justru bersenang-senang menghabiskan uang seolah kepergiannya dari rumah ini adalah sebuah perayaan kebebasan.

“Argh!” Aku mengerang frustasi, kulempar ponsel ke kasur dengan kasar. Rasa sepi di kamar ini mendadak terasa nyata. Biasanya, Nala yang akan sibuk menyiapkan handuk, baju ganti, atau sekadar membuatkanku teh hangat setelah lelah seharian menghadiri acara.

Namun kini, yang tersisa hanyalah keheningan. Dan tiba-tiba ….

Brak!

Pintu kamarku tiba-tiba digebrak terbuka tanpa mengetuk. Mama masuk dengan wajah panik yang kaku. Kedatangan Mama seketika membuyarkan lamunanku tentang Nala.

“Ada ap–”

“Ren, baru saja Angga telepon besok rombongan besan datang jam sembilan,” ujar Mama, napasnya terengah-engah.

“Ya, aku tau, Ma. Terus kenapa? Tenda sudah dipasang, katering sudah ada, isi piring buat suguhan juga tinggal nunggu datangnya saja. Mama gak usah panik, semua urusan sudah Reno selesaikan.”

Mama mengatur napas.

“Iya, Mama tau. Tapi kan kemarin Mama sudah janji bakalan jemput pengantinnya pakai mobil mewah punyamu. Sekarang kan mobilnya gak ada, terus gimana?” Mama terlihat panik.

“Gampang, Ma, nanti Reno cari tempat sewa mobil.” Kedua bola mata Mama melotot begitu mendengar ucapanku.

“Ya gak bisa gitu! Mau ditaruh mana muka Mama dan adikmu kalau keluarga Agnes kalau kita cuma sewa mobil rental, Reno?! Astaga ….”

“Ya terus gimana? Kan memang mobilnya gak ada.”

“Ya makanya kamu telpon Nala sekarang, suruh dia ke sini bawa mobilnya. Kalau dia gak mau, kamu pulang saja dulu ambil mobilnya.”

Aku terdiam, sembari memijit pelipis yang mulai berdenyut nyeri.

Satu patah kata pun tak ada yang keluar dari mulutku. Terdengar Mama berdecak kesal, ia menghentakkan kakinya lalu melangkah keluar kamar.

Sepeninggal Mama, kamar kembali dilingkupi keheningan yang mencekam. Aku mengempaskan tubuh ke atas ranjang tanpa berniat mengganti pakaian terlebih dahulu. Rasa lelah yang teramat sangat, baik fisik maupun batin, membuat mataku terasa berat hingga akhirnya aku terlelap di dalam kamar yang gelap.

Dret

Dret

Dret

“Astaga, siapa sih?” keluhku saat getaran kencang disertai dering nyaring dari ponsel di samping bantal membuatku terbangun.

Aku menggerutu jengkel, meraba-raba kasur dalam kegelapan untuk mematikan benda berisik itu. Sambil mengucek mata, kuarahkan layar ponsel ke depan wajah.

Seketika itu juga, kedua bola mataku melebar sempurna.

Istriku, Nala, dia menghubungiku!

Sebuah lengkungan senyum tipis perlahan terbit di bibirku. Dadaku mendadak dipenuhi rasa lega dan percaya diri yang membubung tinggi.

Benar, kan?

Dugaan Mama sama sekali tidak salah. Nala tidak akan pernah bisa bertahan lama tanpa aku. Sore ini, dia akhirnya menyerah dan mencariku duluan. Aku bersyukur sudah bisa menahan jemariku untuk tidak menghubunginya. Setidaknya aku tidak perlu memohon, menghiba dan meminta maaf.

Aku duduk, rasa kantuk benar-benar hilang begitu saja.

Dengan dagu terangkat demi menjaga wibawaku sebagai suami yang harus disegani, aku menggeser tombol hijau ke kanan.

“Halo, Nala? Ada apa?”

“Mas Reno! Tolong urus Ibumu yang tidak tahu malu itu sekarang juga!”

Bukan suara tangisan atau rengekan maaf yang kudengar, melainkan bentakan murka Nala yang menggelegar dari seberang telepon.

Senyum di bibirku seketika luntur, tergantikan oleh rasa bingung yang mendadak menyergap.

“Kamu kenapa sih, Nal, sekali telepon kok marah-marah?” tanyaku, masih mencoba membela diri.

“Kamu kenapa sih, Nal, sekali telepon kok marah-marah?”

“Gimana aku gak marah-marah, ini ibumu datang ke sini bawa orang buat ambil mobilku!”

Deg!

Jantung seperti berhenti berdetak mendengarnya. Sesaat aku terperangah, sampai-sampai tak bisa menjawab ucapan Nala. Jangankan bicara, sekedar menelan ludah pun rasanya susah sekali.

“Maksudnya gimana?”

Nala berdecak kesal.

“Ini Mama kamu datang ke sini, katanya kamu suruh ambil mobilku. Maksud kamu apa ya? Kamu lupa siapa pemilik mobil ini? Aku gak mau tau ya, sepuluh menit kamu gak datang, temui saja Mama kamu di kantor polisi.”