Aneh, istriku terus memaksaku memperpanjang kontrak kerja di luar negeri. Setelah 12 tahun, aku memilih kembali diam-diam. Ternyata di tanah air, kabarnya aku sudah m4ti sejak 10 tahun lalu dan istriku sudah menikah lagi.
Tanpa banyak kata, kubalas mereka dengan …
Aku menghem paskan tubuh ke atas kasur ho tel melati di daerah Parung ini. Pandanganku kosong menatap langit-langit kamar yang mengelupas. Air mata yang sempat mengalir di balik helm tadi sudah mengering, berganti dengan rasa dingin yang menjalar di sekujur afeksi.
Dua belas tahun. Dua belas tahun aku dipe ras seperti sapi pera 4h, sementara istriku men de –s4h manja di pelukan pria lain di dalam rumah yang kubangun dengan da rah dan air mata. Lebih menji jik-k4n lagi, mobil SUV mewa
4h di garasi itu dibeli dari hasil meme ras keringatku, lalu mereka dengan tidak tahu diri melabeliku sebagai ba bu mereka yang bo doh.
“Kalian pikir aku akan diam aja?” bisikku lirih, mengepalkan tangan hingga buku-buku jariku memutih.
“Tadi itu adalah tangisan terakhirku untuk kalian. Sintia, aku akan mengambil apa aja yang harusnya jadi milikku!”
Aku mulai memutar otak. Aku tidak boleh gegabah langsung mela brak mereka. Aku harus mengamankan aset fi nans ialku terlebih dahulu. Sintia memegang sisa ta bunganku sebesar 300 ju4a rupi4h, u4-ng yang dikl aimnya sebagai da –na daru rat dan persiapan masuk SMP Aldin. Aku harus mena rik u4-ng itu kembali ke reke ningku sebelum mereka menyadariku sudah berada di Indonesia.
Aku memang punya u4-ng sendiri, hasil lembur yang tidak kuberitahukan padanya. Tapi itu ditotal hanya ada 200 juta4. Aku butuh lebih untuk memulai bis nisku.
Aku terduduk di tepi kasur, menopang dagu. Berpikir keras. Bagaimana caranya membuat Sintia melepaskan u4ng sebanyak itu secara sukarela dan terburu-buru?
Sebuah seringai tipis terbit di wajahku ketika mengingat obsesi Sintia agar aku tetap berada di luar negeri. Dia sangat takut aku pulang. Dia takut kehilangan mesin A T M-nya. Kalau begitu, aku akan menggunakan ketakutan terbesarnya itu sebagai umpan.
Aku tahu seluk-beluk bi ro krasi pekerja mi gran karena aku mengalaminya sendiri. Mengingat usiaku yang kini sudah mengin jak 33 tahun, bergerak legal di Korea atau pindah ke negara lain bukanlah perkara mu dah dan mu rah.
Aku segera merapikan diri, mema tikan lampu kamar agar suasananya tampak meyakinkan seperti di luar negeri, lalu melakukan panggilan video call ke ponsel Sintia melalui aplikasi khusus yang biasa kami gunakan.

Hanya butuh tiga kali nada sambung sebelum wajah cantik penuh kepal suan itu muncul di layar. Sintia tampak sedang berada di kamarnya, kamar utama yang seharusnya menjadi milikku.
“Halo, Mas? Tumben video call jam segini? Kamu nggak lembur?” tanya Sintia langsung, tanpa basa-basi menanyakan kabarku.
Nada suaranya ke tus, sangat kontras dengan suara ma4nja yang dia berikan pada selingku hannya beberapa jam lalu. Aku sengaja memasang wajah sefrus trasi dan selelah mungkin. Aku menghela napas panjang di depan kamera.
“Sin, Mas mau ngomong penting. Masalah kontrak kerja Mas.”
“Kenapa lagi? Kan aku sudah bilang, jangan pulang dulu sebelum Aldin masuk SMP favorit! Kamu bisa cari agen lain di Korea, kan?”
“Nggak bisa semudah itu, Sin,” kataku dengan suara yang dibuat bergetar, berpura-pura panik.
“Aturan sekarang makin ke tat karena usiaku udah 33 tahun. Pihak imigrasi Korea menganggap umurku sudah riskan untuk pekerja fisik. Mas sudah tanya ke beberapa agen resmi di sini.”
Sintia mendekatkan wajahnya ke kamera, matanya membela lak panik.
“Terus gimana? Kamu dipec at?!”
“Ada dua pilihan kalau kamu mau Mas tetap di luar negeri dan terus ngirim ua4ng,” ujarku, mulai menebar jala.
“Pertama, kalau mau tetap di Korea, Mas harus memperpanjang kontrak lewat agen jalur khusus. Tapi bia yanya ma4hal banget, butuh banyak Won, sekitar 24 juta4 won. Kalau dirupiahkan sekitar 280 jut-a.”
“Apa?! Dua ratus delapan puluh ju-ta?!” Sintia berte riak kaget, wajah mulusnya mendadak pu cat.
“Iya. Pilihan kedua, kalau mau pindah ke negara lain seperti Hong Kong atau Taiwan, bia yanya jauh lebih bengkak karena usiaku yang sudah berkepala tiga. WNA seusiaku agak sulit dapat visa kerja ins tan di sana. Agen minta dide pos itkan u ang 300 jut4 rup-iah bersih untuk pengurusan dokumen cepat.”
Sintia tampak mondar-mandir di kamarnya, menggigit kuku jarinya dengan gelisah. Kehadiran nominal ua- ng itu benar-benar menggoncang dunianya.
“Kamu nggak bisa usahain nggak ba yar atau ba yar maksimal 10 ju-ta aja apa? Mamamu tiap bulan harus kontrol, Mas!” bo hong Sintia dengan lancar, membawa-bawa nama Ibuku demi menekan pengeluarannya.
Hatiku berdesir perih mendengar betapa lic iknya dia menggunakan nama Ibuku sebagai ta meng.
“Nggak bisa, Sin. Ini aturan mutlak dari agen dan imi grasi,” jawabku tegas, menahan em osi agar suaraku tidak pe cah.
“Masalah Ibu, pakai BPJS aja dulu. Kalau kamu nggak bisa ngirim ua -ngnya sekarang, ya udah … Mas pulang ke Indonesia minggu depan. Mas nggak punya ua -ng lagi di sini.”
Mendengar kata pulang, Sintia langsung panik setengah mat i.
“Memangnya kamu nggak nyimpen semua u a-ng? Kamu nggak lembur? Masak kamu kirim kemari semua?!” cecarnya dengan nada menu duh, tidak terima jika kenyamanannya teru sik.
“Iya, memang Mas nggak ada lembur lagi belakangan ini, karena jam kerjaku sehari udah 12 sampai 13 jam, Sin! Tenagaku udah habis. Semua ua ng Mas kirim ke kamu karena makan di mes sini grat -is. Ta bunganku kosong. Jadi gimana, Sin? Pilihannya cuma dua, Sayang. Kirim 300 juta4 itu sekarang ke reke ning Mas untuk urus visa baru, atau Mas pulang dan kita rin tis usaha dari nol di kampung?”
Sintia terdiam di seberang sana. Wajahnya tegang, matanya bergerak gelisah, tampak jelas dia sedang menghitung-hitung kerugian jika b a bu yang selama ini menghidupinya mendadak pulang dan merusak istana yang dibangunnya bersama pria lain.
“Aku … aku pikir-pikir dulu, Mas. Nanti aku kabari lagi,” ucap Sintia terbata-bata.
Klik.
Panggilan diputus sepihak olehnya. Aku menurunkan ponselku perlahan, lalu menyandarkan punggung ke dinding hotel. Sebuah senyuman dingin terukir di bib irku.
Pikirkanlah, Sintia. Pikirkan bagaimana cara kamu mempertahankan mesin u4ngmu ini, sebelum seluruh dunia kepalsuan yang kamu bangun run tuh tanpa sisa.