Suara Ayu memecah kesunyian kamar pelayan yang pengap itu. Nadanya sangat rendah dan tenang. Tidak ada getaran ketakutan sama sekali.
Mata Tiara membelalak lebar. Senyum licik di bibirnya luntur seketika. Gu n dik itu jelas tidak menyangka a n ca mannya akan dijawab dengan tantangan terbuka yang menantang m a ut.
“Kamu g i la, ya?” Tiara mendesis kencang. Wajah cantiknya memerah. “Kamu mau lihat Mas Banyu m a ti malam ini juga?”
“Lebih baik aku menjadi ja n da m a ti yang terhormat daripada harus menyerahkan kehormatan pernikahanku pada iblis sepertimu.” Ayu menatap tepat di manik mata perempuan itu. Ia melangkah maju menembus jarak di antara mereka. “Ca b ut nya w anya sekarang, Tiara. Biar besok pagi aku bisa mengantar kerandanya ke taman makam pahlawan dengan seragam kebesaranku.”
Banyu yang berdiri di antara mereka tiba-tiba mengerang panjang. T ub uh tegapnya melengkung ke depan. Kedua tangan laki-laki itu memegangi pe ru tnya sendiri dengan kuat.
“Ayu … panas ….” Banyu meri nt ih tertahan. Suaranya sangat lemah dan putus-putus. Laki-laki yang biasa menaklukkan kerasnya medan tempur itu kini ambruk berlutut di lantai kamarnya sendiri.
“Piket penjagaan! Tolong!” Ayu berteriak seke r as mungkin. Suaranya menggelegar menembus deru hujan di luar jendela.
Tiara panik. Ia segera menarik lengan baju loreng Banyu. “Mas, ayo kita ke kamar depan. Jangan mau ditolong perempuan ini. Dia ja h at.”
Namun tu b uh Banyu terlalu berat. Pria itu terus memu n tahkan cairan hitam kental yang mengotori lantai ubin. Ba u bu s uk ban g kai menyeruak memenuhi seluruh sudut rumah.
Suara derap sepatu lars berlari terdengar dari arah luar. Sersan Dimas dan dua prajurit piket menerobos masuk ke bagian belakang rumah dengan wajah tegang.
“Siap, Komandan!” Sersan Dimas mematung melihat atasannya terkapar bersimbah mu n tahan gelap berbau menyengat.
“Angkat Bapak ke kamar utama sekarang, Dimas. Panggil Letnan Dokter Farhan dari poliklinik batalyon detik ini juga.” Perintah Ayu meluncur tegas. Wibawanya seketika menekan kepanikan para prajurit muda itu.
“Siap, laksanakan, Ibu!”
Para prajurit segera membopong tu b uh Banyu. Tiara mengekor di belakang mereka sambil berpura-pura menangis histeris. Perempuan itu meratap memanggil nama suaminya, memainkan peran istri malang yang sangat sempurna di depan para bawahan Banyu.
Ayu membiarkan mereka pergi. Ia berlutut di lantai kamarnya. Tangannya mengambil selembar tisu tebal dan mengusap sisa mun t ahan Banyu. Jari Ayu bergetar saat menemukan serpihan k ac a kecil dan p ot ongan ka w at berkarat bercampur dalam cairan pekat itu. Hatinya menj e rit perih. Suaminya sedang dihancurkan dari dalam. Waktu Banyu benar-benar tidak banyak lagi.
Satu jam berlalu. Hujan badai mulai mereda menyisakan gerimis tipis.
Dokter Farhan keluar dari kamar utama dengan wajah bingung. Ia membetulkan letak kacamatanya perlahan. Ayu sudah menunggunya berdiri di ruang tengah.
“Bagaimana keadaan Bapak, Dok?” tanya Ayu pelan.
“Secara medis, tekanan da r ah Komandan sangat rendah, Bu. Denyut jantungnya juga melemah.” Dokter Farhan menelan ludah. Wajahnya terlihat ragu. “Tapi anehnya, saya tidak menemukan indikasi inf e ksi atau l u ka lambung kronis. Semuanya normal. Mungkin Bapak hanya kelelahan parah dan stres berat. Saya sudah berikan su n tikan penenang dan vitamin. Bapak sudah tertidur.”
“Terima kasih, Dok. Tolong jangan ceritakan kondisi Bapak yang sebenarnya pada siapa pun di luar rumah ini.”
“Siap, mengerti, Ibu.” Dokter Farhan mengangguk hormat lalu pamit undur diri menembus malam.
Ayu berjalan menuju teras depan. Sersan Dimas masih berdiri tegak berjaga di dekat mobil dinas. Pemuda berseragam loreng itu menunduk hormat saat Ayu mendekat.
“Dimas, kamu sudah lima tahun ikut Bapak. Kamu pasti tahu ada yang tidak beres di rumah ini sejak kemarin, kan?” Ayu membuka suara menembus hawa dingin.
Sersan Dimas menelan ludah. Matanya melirik awas ke arah pintu rumah yang tertutup rapat.
“Siap, Ibu. Tadi waktu mengangkat Bapak, saya menci um bau kemenyan yang sangat kuat dari badan beliau. B a unya sama persis dengan dukun santet yang pernah ditangkap satuan kita di desa sebelah tahun lalu.” Sersan Dimas menjawab dengan nada sangat pelan.
Ayu menghela napas panjang. Beban di da d anya sedikit berkurang menemukan satu orang yang masih memiliki akal sehat dan bisa ia percayai di lingkungan ini.
“Saya butuh bantuanmu malam ini juga, Dimas. Cari tahu alamat Kyai sepuh di lereng bukit yang kabarnya sering membantu mengobati prajurit dari gangguan gaib.” Ayu menatap ajudan muda itu penuh harap. “Kita harus berangkat ke sana secepatnya sebelum napas Bapak benar-benar berhenti.”
“Siap, Ibu. Kebetulan paman saya tinggal di dekat padepokan Kyai tersebut. Besok pagi usai apel saya akan pi nj am mobil pribadi untuk mengantar Ibu ke sana.”

“Bagus. Jangan sampai ada yang curiga, terutama perempuan yang ada di dalam rumah ini.”
Ayu kembali masuk ke dalam rumah. Jam dinding menunjuk angka dua dini hari. Suasana rumah dinas yang besar itu terasa sunyi dan sangat mencekam. Lampu utama sudah dimatikan, menyisakan cahaya kuning temaram dari lampu tidur di sepanjang lorong.
Langkah Ayu terhenti saat mendengar suara aneh dari arah dapur.
Bunyi kecipak basah dis u s ul suara kunyahan yang sangat rakus. Seperti suara hewan kelaparan yang sedang melahap makanan mentah dengan terburu-buru.
Ayu menahan napas. Ia melangkah tanpa suara melewati meja makan menuju dapur kotor. Udara di sekitarnya mendadak terasa sedingin bongkahan es. Bau kemenyan pekat kembali me nu s uk hidungnya.
Cahaya remang dari luar jendela menampakkan sesosok tub u h membelakangi Ayu. Sosok itu duduk bersimpuh di lantai dapur tepat di depan panci besar tempat Ayu menyimpan sisa kaldu ayam tadi sore.
“Ibu?” panggil Ayu pelan.
Sosok itu menoleh perlahan.
D a r r ah Ayu seakan berhenti mengalir detik itu juga. Jantungnya berdebar liar mem u k ul tulang rusuk.
Ibu mertuanya duduk di lantai dengan kedua tangan berlumuran da r ah kental bercampur lumpur hitam. Mulut wanita tua itu penuh dengan kunyahan rambut manusia dan tanah basah yang ia ambil dari dalam panci. Mata Bu Desi melotot lebar ke arah Ayu. Tatapannya sangat kosong dan menyorotkan ketakutan yang teramat sangat. Air mata menetes deras membasahi pipi keriputnya.
Bu Desi sadar akan apa yang ia makan, namun ia menangis karena tu b uhnya tidak bisa berhenti mengunyah gum p alan ko t o ran berbau ba n gkai itu.
Di sudut dapur yang paling gelap, Tiara berdiri menyilangkan tangan di depan da da. Perempuan bergaun sutra merah itu tersenyum sangat lebar menatap penderitaan ibu mertuanya sendiri.
“Tadi pagi dia berani membe nt akku karena urusan seragam Persit.” Tiara berbisik lembut memecah keheningan dapur yang mengerikan. “Jadi aku buat mu lut cerewetnya sibuk mengu nyah tanah kuburan sampai pagi. Kamu mau coba juga, Mbak Ayu?”