Adhi mengernyit. Setelah kemarin, mereka sempat bert3ngkar, bukannya minta maaf, ibunya justru chat begitu.
“Siapa, Mas? Kok ekspresimu gitu?” tanya Savira yang sedang meletakkan makanan di meja makan.
“Ibu. Sebentar, Yang.” Adhi menghubungi ibunya via telepon. “Ada apa, Bu?”
Savira menoleh, tersenyum tipis, karena suaminya mengaktifkan mode loudspeaker, pasti agar dirinya tidak cur1ga.
Ia melanjutkan menata makanan di piring, sambil mendengarkan percakapan mereka.
“Kran air di rumah tersumbat. Ayahmu juga pagi-pagi sudah narik. Kamu ke sini cepat!”
“Oh… iya, nanti setelah sarapan ke sana.”
Panggilan berakhir. Adhi menghela napas. ‘Begitu saja, kenapa sampai chat, gak perlu ajak istriku? Ck, ibu itu selalu ada-ada saja.’
“Cuma diminta betulin kran air, kenapa ekspresimu gitu, Mas? Masih mar4h sama ibu?”
Adhi menggelengkan kepala. “Entahlah. Aku curig4nya, ini bukan soal kran air, Yang.”
Savira meletakkan gelas, kemudian duduk, di kursi sebelah suaminya. “Soal ueang itu lagi mungkin.”
“Bisa jadi.” Adhi sudah menyendokkan nasi, ke piring istrinya, kemudian piringnya.
“Kalau kubilang, aku sungguhan gak mau kasih uwang itu. Kamu mar4h?”
Adhi masih menyendokkan lauk ke piringnya dan piring istrinya. “Gak. Jelas-jelas mereka sendiri yang bilang, gak mau kamu ikut campur. Yaudah turuti aja.”
“Yakin?”
Adhi menghentikan gerakan tangannya, menatap sang istri. “Yakin, Yang. Udah ya? Aku yakin kok, kamu kayak gini, pasti juga biar ibu lebih menghargai apa-apa yang udah kamu kasih sebelumnya, kan?”
Savira menganggukkan kepala, wajahnya cukup puas, dengan pengertian suaminya.
“Yaudah. Mau disuapin?” tanya Adhi mengg0da, mencoba menetralkan suasana.
>>
Selesai sarapan, Adhi menuju ke rumah orang tuanya. Namun, motornya melambat saat melihat kerumunan di pinggir sawah. Di tengahnya, Rere tampak menangis panik.
Ia segera menepikan motor. “Kenapa, Re?”
“I-itu, Mas… Ibu nabr4k mobil… terus —” Suaranya terputus oleh tangis.
Adhi langsung menyibak kerumunan.
Seorang perempuan berdiri di dekat mobil yang bagian depannya ringsek, wajahnya terlihat kesal namun masih berusaha menahan em9si.

“Aku juga gak mau ribut, Sri,” katanya dengan nada ditekan. “Tapi lihat ini. Rusaknya gak sedikit, parah.”
Sri terlihat gemetar. “To-tolong, aku… aku gak punya uwang sebanyak itu…!”
Perempuan itu menarik napas, seolah menahan sabar yang mulai habis.
“Ya sudah, kita selesaikan saja baik-baik. Ganti rvgi empat pulvh jut4.”
Adhi yang baru mendekat langsung mengernyit. “Empat puluh jut4?”
Matanya meneliti kondisi mobil itu. Penyok memang ada, tapi sebanyak itu?
“Bu?” Adhi pun segera mendekat.
“Adhi… tolong Ibu, Nak!” Sri langsung menangis, meraih lengannya.
“Tenang dulu, Bu.” Adhi menahan ibunya. “Ini sebenarnya gimana ceritanya?”
Ulin langsung menyela, kali ini nadanya lebih tegas. “Ibumu nyer3mpet, terus berhenti mendadak. Aku banting setir, mobil nabr4k pohon. Akhirnya ringsek semua, mau gimana lagi?”
Ia menatap tajam. “Empat puluh jut4 itu sudah aku hitung serendah mungkin.”
Adhi kembali melirik mobil itu, rah4ngnya sedikit mengeras. “Kalau kita bawa ke bengkel —“
“Gak bisa!” potong Ulin cepat. Nada suaranya berubah lebih dingin. “Aku gak mau ribet. Aku maunya uwang. Hari ini.”
Ia melipat tangan. “Atau… kita selesaikan lewat polisi saja.”
Sri langsung panik. “Jangan polisi! Jangan, Ulin, aku mohon —!”
Tangisnya pecah, tubuhnya mendadak limbung.
“Bu!” Adhi dan Rere panik, memegangi tu b u h ibunya yang pingsan.
>>
Beberapa saat kemudian.
Savira turun dari ojek di depan rumah mertuanya. Pandangannya langsung tertuju pada mobil yang terparkir di sana.
Ia berhenti sejenak. Alisnya mengernyit tipis. Mobil itu, terasa familiar. Bukan sekadar modelnya, tapi ada hal lain yang membuatnya merasa seperti pernah melihat.
Namun, sebelum ia sempat memikirkan lebih jauh, pintu rumah terbuka.
Seorang perempuan keluar, berpapasan dengannya. “Kamu menantunya, kan?”
Savira menatapnya tenang.
“Cepat sediakan empat puluh jut4. Hari ini.” Nada suaranya kini tanpa basa-basi. “Kalau tidak, mertuamu itu akan aku lap0rkan!”
Tanpa menunggu jawaban, perempuan itu langsung masuk ke mobil dan pergi.
Savira menghela napas pelan. Pandangan matanya kembali jatuh pada mobil itu sesaat, sebelum akhirnya ia melangkah masuk.
Dari depan pintu, suara tangis Sri terdengar jelas.
“Ibu gak mau dip3njara, Adhi… tolong… bay4rin ganti rug1nya, ya? Kalau bukan kamu, ke siapa lagi ibu minta tolong, Nak?”
“Aku mana punya uwang sebanyak itu, Bu?” suara Adhi terdengar tertekan. “Nanti aku coba bicara lagi, mungkin gak harus sebesar itu —“
“Jangan, Adhi!”
Savira mengernyit.
“Kenapa jangan, Bu?” Suara Adhi terdengar lagi, nadanya, seperti orang sedang terheran.
“Dia maunya uwang. Dari dulu dia memang mata du1tan. Kalau tidak diberi, dia pasti lap0tkan ibu ke po li si!” suara Sri makin panik. “Mending, kamu minta uwang ke istrimu saja ya?”
Savira tersenyum kecut, seolah sudah bisa menebak arah pembicaraan itu.
“Iya, Mas,” sahut Rere mendukung perkataan ibunya. “Lagian, orang itu katanya tadi punya kenalan po li si. Gawat kalau dia sampai lap0rkan ibu. Masa’ kamu tega, lihat ibu dip3njara?”
“Empat puluh jut4 itu kecil buat istrimu. Jadi minta aja dia, masalah selesai!” imbuhnya.
Sunyi sejenak, sampai suara langkah kaki terdengar. Savira mendorong pintu perlahan.
Semua orang menatapnya. Ia tetap tenang, tapi sorot matanya tajam. “Empat puluh jut4?”
Ia tersenyum. “Angka yang… kebetulan sekali, ya?”