“Aku sungguh, sungguh masih tidak habis pikir, Na,” ucap Reyhan. Ia melonggarkan dasinya dengan ekspresi yang masih mengeras karena emosi tertahan. Ia menuangkan sampanye ke gelas kristalnya dengan gerakan elegan khas seorang bangsawan.
“Kau membiarkan tangan kotor laki-laki itu nyaris menunjuk-nunjuk wajahmu tadi siang,” lanjut Reyhan, menatapku tajam.
“Kau ingat apa yang dia bilang? ‘Oh, jadi setelah kabur dari rumah, kamu jadi simpanan om-om kaya, Ana? Hebat juga kamu bisa masuk toko perhiasan.’ Sialan. Kalau saja kau tidak mencengkeram lenganku tadi, aku bersumpah rahang pria halu itu sudah kupatahkan dan kujadikan pajangan di etalase.”
Aku memutar tubuhku, tersenyum tipis pada laki-laki berwajah aristokrat itu. Kakak kandungku satu-satunya. Pewaris utama Mahardika Group, konglomerasi raksasa yang menguasai jaringan properti, perbankan, dan retail mewah di seluruh negeri.

Dan aku, aku adalah Riana Maharani Mahardika. Putri bungsu dari dinasti ini. Sang Nyonya Besar yang sebenarnya.
“Biarkan saja, Kak Rey,” jawabku lembut. Aku melangkah mendekati sofa dan duduk menyilangkan kaki, meletakkan gelasku di meja marmer.
“Mematahkan rahangnya di tempat umum terlalu cepat. Itu hanya akan memberinya belas kasihan berupa rasa sakit fisik yang singkat. Lagipula, aku tidak mau dia pingsan begitu saja dan melupakan wajah sombongnya sendiri.”
Reyhan menaikkan sebelah alisnya, meletakkan sikunya di sandaran sofa.
“Lalu? Kau mau membiarkannya merasa menang karena mengira kau benar-benar wanita simpananku?”
“Aku ingin dia hancur perlahan,” desisku. Senyumku berubah dingin, membuat suhu di ruangan itu seolah turun beberapa derajat.