Kupikir dia akan menangis. Memohon. Atau setidaknya marah besar.
Tapi malam itu…
dia justru tersenyum sambil menyuapi ayahku bubur hangat.
Dan senyum itu—
entah kenapa membuatku tidak tenang.
“Ayah pelan-pelan makannya…”
Suara Rania terdengar lembut dari kamar belakang.
Aku duduk di ruang tamu sambil memainkan ponsel.
Notifikasi transfer baru saja masuk.
[Transfer berhasil Rp150.000.000 ke rekening: MELISA PRATAMA]
Beberapa detik kemudian, video call dari Melisa langsung muncul.
Aku tersenyum kecil lalu mengangkatnya.
“Sayang!” serunya girang. “Aku jadi ambil paket Swiss yang first class ya?”
“Terserah kamu.”
“Aku juga mau operasi hidung sekalian di sana. Kata dokter hasilnya lebih natural.”
Aku tertawa kecil.
“Lakukan aja. Aku suka manjain perempuan yang tahu cara bikin aku nyaman.”
Di belakang, suara batuk ayah terdengar keras.
Rania buru-buru menepuk punggung beliau.
“Airnya pelan, Yah…”
Melisa langsung meringis di layar.
“Ih, suara batuknya kedengeran terus. Kamu nggak capek tinggal serumah sama orang sakit?”
Aku melirik sekilas ke arah kamar.
“Makanya aku pengen cepat pindah ke apartemen baru.”
Tepat saat itu—
Rania keluar membawa baskom cucian.
Daster lusuhnya basah di bagian lengan.
Wajahnya pucat karena kurang tidur.
Namun matanya tetap tenang.
Ia melihat layar ponselku.
Melihat wajah Melisa.
Dan melihat nominal transfer yang belum sempat kututup.
Hening beberapa detik.
Aku sengaja tersenyum sinis.
“Kenapa? Kaget?”
Rania diam.
Aku berdiri lalu mengambil dompet.
Kulempar beberapa lembar uang ke meja.
“Nih. Jatah bulanan kamu.”
Ia melirik.
Dua juta rupiah.
Jumlah yang bahkan tidak cukup untuk obat ayahku sebulan.
Padahal tadi sore aku baru mentransfer ratusan juta untuk perempuan lain.

“Kok diam?” tanyaku sambil menyandarkan tubuh ke dinding. “Mau marah?”
Rania justru menatap uang itu lama.
Lalu tersenyum tipis.
“Ayah belum makan obat malam.”
Jawaban itu membuat dahiku berkerut.
“Aku lagi ngomong sama kamu.”
“Aku juga jawab, Mas.”
Ia menaruh baskom pelan.
“Uang segitu cukup kok buat beli obat generik sama popok ayah tiga hari.”
Nada suaranya datar.
Tidak menangis.
Tidak memohon.
Entah kenapa justru itu membuatku kesal.
“Kamu iri sama Melisa?”
Rania tertawa kecil.
“Iri?”
Ia menggeleng pelan.
“Perempuan yang dipamerkan diam-diam biasanya cuma dipakai untuk menyenangkan ego laki-laki. Tapi perempuan yang disuruh merawat orang tua, masak, nyuci, nutup utang keluarga…”
Ia menatap langsung mataku.
“…biasanya yang dipakai mengorbankan hidup.”
Suasana langsung dingin.
Aku mendecih.
“Kamu mulai berani sekarang?”
“Aku cuma capek pura-pura bodoh.”
Ponselku berbunyi lagi.
Pesan dari kantor.
[Pak Arga, audit internal dipercepat besok pagi. Seluruh akses keuangan cabang akan diperiksa langsung oleh komisaris.]
Dadaku langsung menegang.
Karena hanya ada satu orang di rumah ini yang tahu semua akses keuanganku.
Rania.
Aku langsung menatapnya tajam.
“Kamu ngomong apa ke kantor?”
Rania terlihat bingung.
“Ngomong apa?”
“Jangan pura-pura!”
Aku melangkah mendekat.
Namun Rania tetap tenang.
Ia malah mengambil gelas obat untuk ayahku.
“Mas,” katanya pelan. “Ayahmu demam tiga malam berturut-turut. Aku nggak punya waktu buat ngurusin drama selingkuhanmu.”
“Kalau audit itu gara-gara kamu—”
“Kalau audit itu memang bersih…”
Ia berhenti sebentar sambil menatapku.
“…kenapa Mas takut?”
Aku membeku.
Untuk pertama kalinya sejak menikah—
aku melihat sesuatu di mata istriku yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Bukan sedih.
Bukan kecewa.
Melainkan…
rasa muak yang sudah terlalu lama ditahan.
Tiba-tiba adikku, Vina, keluar dari kamar sambil memainkan ponsel.
“Ih Mbak Rania drama lagi ya?” katanya sinis. “Mas Arga tuh kerja capek-capek juga buat keluarga ini.”
Rania menoleh pelan.
“Keluarga?”
“Iya lah.”
Rania tersenyum kecil.
“Kalau begitu… mulai besok, kalian rawat sendiri ayah kalian.”
Vina langsung melotot.
“Maksud Mbak apa?”
Rania tidak menjawab.
Ia hanya melepas celemek lusuhnya.
Lalu berjalan masuk ke kamar.
Dan beberapa detik kemudian—
ponselku tiba-tiba kehilangan sinyal akses aplikasi kantor.
Aku mencoba login ulang.
Gagal.
Sekali lagi.
Tetap gagal.
Lalu masuk satu email baru.
[Seluruh otorisasi keuangan telah dipindahkan oleh pemegang akses utama.]
Tanganku mulai dingin.
Karena baru saat itulah aku sadar—
selama ini…
bukan aku yang memegang kendali perusahaan cabang itu.
Melainkan istriku.
Perempuan yang tiap hari kuanggap tidak punya harga diri…
ternyata adalah orang yang diam-diam menopang seluruh hidupku.