”Apa?! Jadi … semua ini pakai u ang Nina, Ren?” Suara Mama Ani terdengar terta han, sarat akan rasa terke jut yang luar biasa dari balik pintu ka mar. “Bukannya selama ini kamu bilang, Nina cuma membia yai kuli ahmu saja sampai lulus? Mama pikir ru mah dan mo bil ini murni hasil kerjamu di kantor yang sekarang!”
Terdengar suara Mas Reno yang terkekeh pelan, mencoba menenangkan ibunya yang sedang sy ok pasca mengetahui kebenaran yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh a nak kesa yangannya.
”Awalnya memang begitu, Ma. Tapi kalau Reno tidak pakai taktik pu ra-pu ra demi masa depan, mana mau Nina menyerahkan semua u angnya secara sukarela,” sambung baji ngan itu lagi tanpa tahu ma lu.
Terdengar he laan napas lega dari Mama Ani, disusul decakan kagum yang mulai memuji kelihaian a nak lelakinya.
”Belum lagi untuk kebutuhan dapur dan sehari-hari, semuanya pakai u ang Nina. Jadi, u ang Reno aman,” lanjut pria para sit itu, terdengar begitu bangga dengan perbuatannya yang meru gikan hidupku. “Aset tetap jadi milik kita, dan dia tidak akan berkutik!”
Seketika, tawa mere mehkan yang bersahut-sahutan dari dalam ka mar itu terdengar begitu menu suk telinga.
Aku menarik napas dalam-dalam, menge lus da daku yang mendadak terasa se sak. Bukan karena se dih atau terlu ka, melainkan karena rasa mu ak yang sudah mencapai ubun-ubun.
tersimpan
Untung sejak tadi aku sudah mengaktifkan video dan merekam semua percakapan itu.
Biarlah mereka tertawa sepuasnya pagi ini. Setiap kalimat dan rencana bu suk yang keluar dari mulut pria par asit itu akan menjadi pelu ru ta jam yang siap menembus jan tung perta hanannya sendiri di penga dilan nanti.
Setelah memastikan rekaman dengan aman, aku melangkah mundur tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Dengan setengah berlari, aku keluar dari ru mah yang terasa seperti nera ka itu.
Aku memesan taksi online, langsung meluncur membe lah jalanan pagi menuju alamat yang tertera di kartu nama peninggalan Bapak.
Taksi akhirnya berhenti di depan sebuah gedung perkantoran berdesain klasik dan tampak sangat kokoh di kawasan pusat kota.
Jan tungku berde gup kencang saat melangkah masuk dan menyebutkan nama almarhum bapakku–Budi Purnomo, kepada resepsionis di lobi utama.
Tidak butuh waktu lama, aku langsung diantar menuju sebuah ruangan luas di lantai atas yang didominasi rak buku hu kum yang menj ulang tinggi.
Di balik meja kayu jati yang besar, seorang pria paruh baya berambut sedikit memutih dengan setelan jas rapi langsung berdiri begitu melihatku. Tatapannya yang ta jam seketika berubah menjadi begitu ha ngat.
“Benarkah kamu an ak perempuan semata wayang sahabatku?” tanya pria itu dengan suara berat.
Aku mengangguk pelan, seulas senyum tipis terbit di bi birku. “Iya, Pak. Saya Nina.”
Pak Joni menghela napas panjang, lalu melangkah mendekat dan mempersilakanku untuk duduk. Tatapannya tertuju pada kartu nama usang yang kuambil di dalam tas dan kini kuletakkan di atas meja.
“Budi pernah berpesan pada saya, jika suatu hari putrinya datang membawa kartu ini secara langsung tanpa menelepon terlebih dahulu, itu artinya singa kecilnya sedang terlu ka dan butuh bantuan hu kum yang mutlak.”

Pak Joni mena tapku, so rot matanya memancarkan ketegasan seorang penegak hu kum yang berpengalaman. “Katakan pada Om, Nina. Masalah apa yang sedang kamu hadapi?”
Aku mere mas tas kecil di pang kuanku, mencoba mengumpulkan seluruh sisa kekuatan yang kupunya.
Sepasang mata Pak Joni yang menatapku dengan so rot kebapakan membuat perta hananku yang sempat run tuh kini kembali kokoh.
”Suami saya berseling kuh, Om. Seling kuhannya bahkan sudah ha mil,” ucapku li rih. “Bukan itu saja. Dia dan ibunya berencana mende pak saya dan Ibu dari ru mah yang kami tempati saat ini.”
Pak Joni menghentikan gerakannya yang hendak menulis sesuatu di atas kertas. Alis tebalnya bertaut rapat.
”Mereka sengaja memanfaatkan nama dan seluruh u ang tabung an saya selama bekerja di pabrik untuk mengambil K P R ru mah berlantai dua dan kre dit mo bil,” lanjutku sembari menyerahkan ponsel yang dayanya sudah kunyalakan kembali.
“Ini rekaman video percakapan mereka pagi tadi sebelum saya keluar ru mah, Om. Mas Reno berencana mempo ligami saya. Jika saya meminta ce rai, dia mengan cam akan menun tut har ta go no-gi ni demi mere but ru mah itu.”
Pak Joni menerima ponselku, lalu mendengarkan rekaman tersebut dengan saksama. Sepanjang durasi video berputar, aku bisa melihat ra hang pria paruh baya itu mengeras. Urat-urat di pelipisnya mene gang mena han ama rah.
Pak Joni meletakkan ponsel itu kembali ke meja. Beliau mengembuskan napas berat, lalu bersandar pada kursi kerjanya yang me gah. Bukannya cemas, seulas senyum si nis yang sarat akan inti midasi justru terbit di wajah sang pengacara senior tersebut.
”Baji ngan pi cik yang bo doh,” gumam Pak Joni, suaranya terdengar rendah dan berba haya.
Beliau menatapku dalam-dalam, memberikan sorot mata menenangkan. “Nina, dia mengan cammu pakai hu kum go no-gi ni?”
Pak Joni terkekeh si nis, seolah apa yang diucapkan Reno dalam rekaman video tadi hanyalah lelucon mura han. “Om beri tahu kamu satu hal. Suamimu itu bu ta hu kum, tapi lagaknya sudah seperti ahli hu kum paling pintar saja.”
Pak Joni mengetuk meja kerjanya dengan pulpen, memperlihatkan sikap seorang pengacara papan atas. “Karena semua dokumen kre dit, baik K P R maupun mo bil, dari awal menggunakan nama dan data pribadimu, maka secara hu kum mutlak, ak ta dan kuasanya ada di tanganmu.”
Beliau mencondongkan tu buhnya sedikit ke depan, mempertegas kalimat berikutnya. “Dia tidak punya hak sepe ser pun untuk menggu gat ru mah itu menjadi har ta go no-gi ni. Apalagi, semua u angnya murni keluar dari hasil kering atmu sendiri!”
Jan tungku bertalu mendengarnya. Ada rasa lega yang luar biasa mera yap di da daku. “Jadi … Mas Reno tidak bisa menun tut ru mah itu, Om?”
”Bukan cuma tidak bisa menun tut, Nina,” balas Pak Joni dengan senyuman penuh kemenangan, seolah sudah menyiapkan skenario serangan balik yang mema tikan.
Beliau melipat kedua tangannya di atas meja, menatapku dengan sorot mata yang teramat dingin. “Dengan bukti rekaman video ini, ditambah semua dokumen yang sah atas namamu, kita bisa melakukan hal yang jauh lebih ke jam untuk memba las perbuatan mereka.”
Pak Joni menjeda kalimatnya sejenak, memberikan aura inti midasi yang kuat. “Mulai besok pagi, Om sendiri yang akan urus surat somasi dan pembekuan a set. Kita balikkan keadaan seketika.”
Beliau kembali tersenyum si nis. “Tunggu kabar dari Om. Kita u sir Reno dan ibunya dari ru mah itu secara legal, kita tarik mo bil yang dia pakai, dan kita biarkan dia pusing memikirkan nasib seling kuhannya tanpa punya har ta sepeser pun. Om akan pastikan pria para sit itu merang kak memo hon am pun di kakimu!”
Aku mengangguk mantap, merasakan aliran kekuatan baru yang memba kar seluruh sendi tu buhku. Setelah menyerahkan salinan berkas hu kum yang diperlukan Om Joni, aku pamit pulang.
Sepanjang jalan kembali ke ru mah, da daku tidak lagi se sak. Kartu nama pening galan Bapak yang kusimpan di tas kecil ini terasa seperti jimat pelindung. Tunggulah, Mas Reno. Nikma ti sisa tujuh malam terakhirmu di istana hasil kering atku.
Akan tetapi, atmosfer ha ngat yang kubawa dari kantor Om Joni seketika menguap begitu aku melangkah masuk ke halaman ru mah. Pintu utama terbuka lebar, dan dari luar saja, suara melengking yang teramat kukenali sudah menu suk telinga.
”Nina! Nina! Keluar kamu!”
Aku melangkah masuk dengan tenang. Kulihat mertuaku sedang berdiri berka cak pinggang di dekat tangga sambil mendo ngak ke lantai atas. Wajahnya merah padam, napasnya membu ru menahan ama rah yang tidak jelas ujung pangkalnya.
Begitu mendengar langkah kaki dan melihatku dari arah ruang ta mu, sepasang matanya langsung melo tot ta jam.
“Dasar menantu tak bergu na. Dari mana saja kamu?!”