Posted in

“Mbak Naya b u tuh bukti? Saya bisa kirimkan tangkapan layar status Wha t s A p p tenaga penj u a l mobilnya sekarang juga.”

Suara Rina dari se be rang telepon terdengar serupa bisikan. Malam semakin larut, tapi mataku tidak bisa terpejam sama sekali. Aku duduk di lantai kamar mandi yang dingin. Pintunya kukunci rapat-rapat agar suaraku tidak terdengar oleh laki-laki yang sedang mendengkur pelan di atas kasur sana.

“Kirimkan semuanya padaku, Rin. Jangan ada satu pun yang terlewat.”

Suaraku parau. Aku menahan d a d a yang bergemuruh hebat. Tanganku yang memegang ponsel gemetar hebat sampai aku harus menempelkannya kuat-kuat ke telinga.

“Sudah saya kirim, Mbak. Mbak Naya yang sabar ya. Saya sebenarnya sudah lama gemas lihat tingkah Saira di kantor. Dewa itu dipecat karena ketauan make u a ng kas kecil untuk j u d i, bukan karena mengundurkan diri. Dan Saira tau semuanya.”

Telepon terputus. Bunyi notifikasi pesan masuk terdengar dua kali berturut-turut.

Aku membuka aplikasi pesan dengan napas memburu. Ada dua foto yang dikirimkan Rina. Mataku menyipit, menyesuaikan diri dengan cahaya terang dari layar ponsel. Jantungku serasa dipu k ul palu godam saat melihat foto pertama.

Itu foto Saira. Adik iparku itu sedang berdiri di depan sebuah mobil berjenis hatchback berwarna merah marun yang mengilap. Ia tersenyum sangat lebar sambil bersalaman dengan seorang pria berseragam dealer mobil. Tangan kirinya memegang sebuah map berisi dokumen.

Lalu mataku turun ke foto kedua. Tangkapan layar dari status WhatsApp pria berseragam itu. Ada tulisan kecil di bawah foto Saira.

‘Alhamdulillah, u an g muka cair dengan lancar. Brio merah marun siap meluncur ke garasi Ibu Saira besok pagi. Terima kasih kepercayaannya.’

Keterangan waktu di sudut atas foto itu menunjukkan pukul empat sore. Waktu yang sama persis saat suamiku memindahkan tujuh puluh lima juta rupiah dari rekeningku ke rekening perempuan berwajah polos itu.

Aku menyandarkan kepala ke dinding kamar mandi. Ubin keramik terasa dingin menembus kulitku, tapi kepalaku terasa mendidih. Air mataku jatuh, namun aku segera mengusapnya dengan kasar. Aku menolak menangis untuk orang-orang yang sedang menari di atas penderitaanku.

Aku bangkit perlahan. Kakiku terasa kebas saat melangkah keluar dari kamar mandi. Di atas ranjang, Mas Baskara tidur dengan napas teratur. Selimut menutupi separuh tu b uhnya. Wajahnya terlihat begitu tenang, seolah ia baru saja melakukan pekerjaan mulia menyelamatkan keluarganya. Padahal ia baru saja mera m pok masa depan istrinya sendiri.

Aku duduk di sofa kecil semalaman. Menunggu pagi datang dengan mata terbuka lebar.

Pukul lima subuh, Maa Baskara menggeliat bangun. Ia mengusap wajahnya, lalu menatapku yang sudah duduk berpakaian rapi dengan tas kerja di pangkuan.

“Naya? Kamu nggak tidur?” Mas Baskara duduk di tepi ranjang. Suaranya serak. Wajahnya menyiratkan rasa bersalah yang kini terlihat sangat memuakkan di mataku.

“Aku ada rapat pagi,” jawabku singkat. Nada suaraku sangat datar.

Mas Baskaracberdiri dan melangkah mendekat. Ia mencoba meraih tanganku, tapi aku menariknya lebih dulu. Laki-laki itu menghela napas panjang.

“Nay, aku tau kamu marah. Tapi percayalah, ini yang terbaik untuk keluarga kita. Dewa sudah berjanji akan mencari pi nj a man lain untuk mengganti uangmu bulan depan. Sertifikat rumah Ibu sekarang sudah aman.”

Aku menatap mata suamiku dalam-dalam. Mencari setitik saja kebohongan di sana. Namun yang kutemukan hanyalah kebo d ohan yang luar biasa pekat. Laki-laki ini benar-benar tidak tahu apa-apa. Ia menyerahkan hartaku karena ia sungguh-sungguh percaya pada air mata palsu ibu dan adiknya.

“Oh ya? Syukurlah kalau rumah Ibumu aman,” balasku dingin.

Aku berdiri, merapikan letak kerah kemejaku. Aku melangkah menuju pintu kamar tanpa menoleh lagi.

“Kamu nggak sarapan dulu, Nay? Biar aku belikan bubur ayam di depan ya?” tawar Baskara dari belakang.

Langkahku terhenti di ambang pintu. “Nggaak usah, Mas. U a n gmu simpan saja. Nanti adikmu butuh u a n g bensin untuk jalan-jalan keliling kota.”

Mas Bas terdiam. Aku menutup pintu kamar rapat-rapat, meninggalkan laki-laki itu dengan kebingungannya sendiri.

Aku berjalan menyusuri gang kontrakan menuju jalan raya. Udara pagi terasa men u s uk, sisa hujan semalam masih meninggalkan genangan air di jalanan aspal. Aku menghentikan ojek pangkalan di ujung jalan. Namun aku tidak menyebutkan alamat kantorku.

“Ke Jalan Cempaka Putih ya, Pak. Dekat gapura hijau.”

Tujuanku pagi ini bukan kantor. Aku mengambil cuti setengah hari. Ada hal yang jauh lebih penting untuk kuselesaikan. Aku ingin melihat langsung wajah ibu mertuaku. Aku ingin melihat seperti apa rupa perempuan tua yang semalam dikabarkan nyaris m a ti karena sesak napas didatangi preman.

Motor melaju menembus kemacetan pagi. Tiga puluh menit kemudian, aku turun di depan sebuah gang sempit. Rumah Ibu Laras berada di ujung gang ini, rumah tua dengan cat dinding hijau yang sudah memudar.

Aku melangkah pelan. Sepatu hak datarku nyaris tidak menimbulkan suara sama sekali. Jarakku dengan rumah itu semakin dekat. Pagar besinya yang berkarat tidak terkunci, terbuka sedikit menyisakan celah yang cukup untuk dilewati satu orang dewasa.

Kondisi rumah itu terlihat sangat tenang. Tidak ada tanda-tanda sisa kekacauan atau teror preman seperti yang diceritakan Mas Baskara semalam. Pintu kayu jati di depan terbuka separuh. Korden jendelanya dibiarkan berkibar pelan tertiup angin.

Aku baru saja hendak melangkah masuk ke teras saat langkahku membeku di udara. Suara tawa renyah terdengar dari dalam ruang tamu. Sangat jelas.

Aku memundurkan langkahku, berlindung di balik tembok pilar teras. Jantungku berdetak kencang. Aku menahan napas, mena j amkan telinga.

“Kue putu ini enak lho, Nduk. Makan yang banyak. Ibu beli di pasar tadi pagi waktu lewat sehabis dari bank.” Suara Bu Laras terdengar riang. Sangat segar. Jauh dari kesan orang sa k it.

“Iya, Bu. Hatiku lagi senang banget ini. Akhirnya Saira nggak perlu kepanasan lagi kalau pergi arisan. Teman-teman Saira pasti kaget lihat mobil baruku nanti sore.”

Itu suara Saira. Adik iparku yang semalam menangis sesenggukan meratapi nasib suaminya.

Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat sampai terasa perih. Tanganku mengepal erat di sisi tu b uh.

“Kamu ini memang pintar milih warna. Merah marun itu kelihatan mewah. Ibu nanti sore ikut ya keliling kompleks? Biar Bu Tejo yang mulutnya ta j am itu lihat kalau a n aknya Laras bisa beli mobil bagus,” balas Bu Laras sambil tertawa lepas.

“Beres, Bu! Nanti Saira bukakan kaca jendelanya lebar-lebar biar semua orang lihat.”

Hening sejenak. Hanya terdengar suara kunyahan makanan dan denting sendok yang beradu dengan piring kaca. Di balik tembok ini, napasku terasa hampir putus. Rasanya ada batu besar yang baru saja menimpa d a d aku.

“Untung saja Mas Bas itu gampang banget dibohongin ya, Bu.” Suara Saira kembali memecah kesunyian. “Pakai air mata dikit aja, langsung luluh dia. Langsung cair itu tabungan si Naya pelit.”

“Baskara itu kan anak laki-laki Ibu. Dia pasti lebih takut kualat sama ibunya daripada takut sama istrinya.” Bu Laras mendengkus pelan. “Lagi pula Naya itu memang harus diberi pelajaran. Dia pikir karena gajinya lebih besar, dia bisa mengatur rumah tangga a n ak Ibu? U a ng suami itu u a ng ibu. U a ng istri ya jatuhnya u a ng suami juga.”

“Betul, Bu,” timpal Saira cepat. “Saira semalam sampai tahan napas lho waktu Mas Bas telepon bilang uangnya sudah ditran s f er. Saira langsung buru-buru hubungi dealer. Lagian preman sewaan teman Mas Dewa itu aktingnya bagus juga ya, Bu. Mas Bas sampai pucat pasi waktu lihat Ibu didorong sedikit ke tembok.”

Mataku membelalak lebar. Kakiku lemas seketika. Aku menekan d a d aku sendiri yang terasa sangat sakit.

Preman sewaan.

Ternyata semua kejadian malam itu hanyalah panggung sandiwara. Mereka menyewa orang untuk berpura-pura menjadi rentenir agar Baskara panik. Dan suamiku yang bo d oh itu menelan umpan mereka bulat-bulat, lalu menyerahkan ha r taku sebagai tebusannya.

Tanganku merogoh tas dengan cepat, mengeluarkan ponsel dan menekan tombol rekam suara. Aku membiarkannya menyala dalam genggamanku. Aku butuh semua ini. Aku butuh mengumpulkan se n j a ta sebelum meratakan mereka semua dengan tanah.

“Eh, tapi ngomong-ngomong soal u t a ng ….” Suara berat seorang pria terdengar. Itu Dewangga. Pria itu pasti baru keluar dari kamar mandi atau dapur. “U a ng dari Mas Bas kan udah habis untuk bay ar u a ng muka mobil. Sisanya sedikit cuma cukup buat nutup u t ang j u d iku ke teman-teman.”

“Ya nggak apa-apa. Yang penting istrimu punya mobil dulu biar nggak malu sama teman arisannya,” sahut Ibu Laras santai.

“Masalahnya, Bu,” po t o ng Dewangga cepat dengan nada cemas. “Sertifikat rumah ini kan memang udah disi t a sama bos bandar ju d i sebulan lalu karena aku kalah taruhan besar. Lusa bos itu beneran mau kirim orang ke sini untuk s i t a rumah kalau nggak ada pelunasan lima puluh juta.”

Hening kembali turun. Aku menahan napas. Ternyata rumah ini memang benar-benar sudah diga d aikan, tapi sebulan yang lalu. Bukan karena u t a ng p i n ja m an, tapi karena kalah j u d i.

Namun yang terjadi selanjutnya membuat seluruh aliran da r ah di tu b uhku seolah berhenti mengalir. Bu Laras sama sekali tidak terdengar panik. Mertuaku itu malah tertawa kecil. Tawa yang terdengar sangat menyeramkan di telingaku.

“Kamu tenang saja, Wa. Lusa u t an gmu ke bandar itu pasti lunas.”

“Pake apa, Bu? Uwaaang Mas Bas sudah habis di rekening Naya,” tanya Dewangga ragu.

“Bas masih punya satu rahasia lagi,” jawab Bu Laras dengan suara rendah yang terdengar penuh kemenangan. “Tadi subuh kakak iparmu itu mengirim pesan ke Ibu. Dia bilang Naya masih menyimpan tiga keping emas batangan peninggalan almarhumah ibunya di laci bawah meja rias. Malam ini, waktu Naya tidur, Bas yang akan mengambil emas itu dan membawanya ke sini untuk Ibu juwal besok pagi.”