Aku menyeret putriku keluar rumah tanpa belas kasihan. Bahkan aku tega menendangnya saat dia memohon sambil menangis membawa bayinya. Namun, setelah kepergiannya, aku justru menemukan fakta yang membuat tubuhku lemas seketika. Karena ternyata ….
___
“Pergi yang jauh dari rumah ini sekarang juga. Dan jangan pernah kamu tunjukkan wajah kamu di depan saya!”
Nayara menghentikan tangisannya. Ia terkejut, lantas mendongakkan wajahnya menatapku. Detik berikutnya, ia berlutut di kakiku. “Pa … aku mohon … maafkan aku ….”
“Lepas!” Aku menendang tubuh Nayara yang bergelayut di kakiku. “Mulai detik ini, saya bukan papamu lagi!”
“Mas … kamu nggak mungkin membiarkan Nayara berkeliaran di luaran sana ‘kan?”
Lagi, Melinda tidak setuju dengan keputusanku. Ia terus-menerus membela anak tidak tahu diri itu. Apa jangan-jangan semua itu adalah didikannya?
“Apa lagi yang harus aku harapkan dari anak yang tidak tahu malu itu, Melinda? Kenapa kamu terus saja membelanya. Jangan-jangan kamu yang mengajarkan dia seperti itu, hah?!”
Melinda tersentak. Kemudian menggelengkan kepala setelahnya. “Bukan begitu maksudku, Mas, tapi ….”
“Tapi apa?” tanyaku memotong perkataannya. “Biarkan dia pergi. Lagipula tidak ada gunanya juga dia di sini. Keberadaannya dengan bayi itu hanya akan membuatku terganggu.”
“Mas, apa kamu sudah memikirkan semuanya dengan matang?” Melinda kembali mengingatkan. Sedangkan Nayara, ia masih duduk menangis, tidak meninggalkan tempat ini, bahkan tidak memberikan pembelaan sama sekali. Sepertinya dia memang benar-benar bersalah kali ini. Tidak ada unsur paksaan atas apa yang telah dialaminya.
“Bagaimana kalau sampai semua orang tahu tentang kondisi Nayara? Apa itu tidak akan menjadi bumerang untukmu nantinya?”
Aku diam.
Yang dikatakan Melinda ada benarnya juga. Hanya saja, aku sudah terlewat marah dengan Nayara. Tidak ingin lagi aku melihatnya berada di dalam rumah ini.
Reno yang sedari tadi diam seketika berdehem pelan. “Benar apa yang dikatakan Nyonya Baskara, Pak. Kalau sampai berita ini sampai ke publik, saya rasa beberapa rekan kerja Bapak akan memutuskan kontrak kerja juga.”
Aku mengepalkan kedua tangan. “Oke, kita akan membicarakan hal ini lagi nanti, Melinda. Sekarang, bawa dia dan bayinya itu ke kamar pembantu. Aku tidak ingin kamar putriku dinodai oleh perempuan kotor sepertinya!”
Setelah mengatakan itu, aku pun berjalan ke atas menuju kamar.
Kepalaku rasanya mau pecah. Dadaku pun sakit bagaikan tersayat belati.
Begitu sampai di depan pintu kamar, aku menatap lorong sebelah kiri di mana terletak kamar yang aku tiduri bersama istri pertamaku dulu.
Kulangkahkan kaki menuju lorong itu, lalu kemudian masuk ke dalam kamar sana. Begitu pintu dibuka, semuanya masih sama. Aroma ruangan yang menjadi kesukaan ibunya Nayara, masih tercium dengan sangat khas di hidung.
Selema bertahun-tahun, aku terus menjaga kamar ini agar terlihat bersih. Bahkan semua pernak-perniknya tidak pernah kuganti. Tidak ada yang diperbolehkan masuk ke kamar ini selain atas izinku, sekalipun orang itu adalah Melinda.
Aku meraih pas foto yang sedikit berdebu karena setahun belakangan ini tidak kuurus. Di sana, terlihat Nayara kecil dan ibunya serta aku tersenyum bahagia.
Tidak terasa air mataku menetes dengan sendirinya.
‘Nana … maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga putri kita,’ gumamku lirih.
Tiba-tiba, aku melihat Melinda berdiri di luar pintu, menatap ke arahku. Seketika, aku pun menghapus air mata itu dengan kasar, lantas kemudian bangkit menemuinya.
“Ada apa?” tanyaku bersikap dingin.
Melinda meraih pergelangan tanganku. “Nggak ada salahnya kamu menangis, Mas, tapi … jangan biarkan egomu menghancurkan semuanya. Aku tahu, pasti kamu merasa gagal menjadi seorang ayah, tapi bukan berarti kamu juga harus gagal menjadi seorang kakek ‘kan?”
Aku mengerutkan kening heran. “Maksudmu?”
Melinda menghela napasnya sejenak. “Apa kamu nggak memperhatikan mata bayi itu tadi, Mas?”
Aku diam.
Melihatnya? Tentu saja tidak. Melihatnya saja sudah cukup membuatku terluka. Untuk apa aku melukai diriku sendiri lebih dalam karenanya?

“Aku akui, Nayara memang salah, tapi bayi itu nggak salah, Mas. Dia berhak mendapatkan kasih sayang dari kakek-neneknya bahkan dia juga berhak atas harta yang kamu punya. Dia penerus keluarga ini, Mas. Nggak sepantasnya kamu membiarkan dia tidur di kamar pembantu seperti itu. Bagaimana dengan masa pertumbuhannya?”
“Aku tidak peduli.”
“Mas, ayolah.” Melinda mengelus-elus pergelangan tanganku. Mungkin berniat menenangkan.
Aku mengembuskan napas berat. “Kamu sudah dengar tadi bukan? Aku tidak ingin kamar putriku dinodai oleh perempuan kotor itu!”
Melinda melepaskan tangannya dariku. “Yang kotor perempuan itu doang, kan? Bukan bayinya juga?”
Aku diam. Semakin bingung dengan arah bicaranya Melinda.
“Kalau begitu, biarkan bayi itu tinggal di kamar Nayara. Sedangkan Nayara, dia tetap di kamar pembantu.”
“Apa maksudmu?!”
Ide konyol macam apa ini? Bayi itu masih memerlukan seorang Ibu. Kalau dipisahkan seperti itu, siapa yang akan merawatnya?
“Siapa yang akan merawatnya kalau begitu?”
“Aku.” Melinda menjawab dengan mantap. Aku menatapnya penuh selidik. Sebegitu sayangkah dia pada cucu tirinya yang hadir karena sebuah kesalahan? Ralat, sebuah kebodohan. Ya, kebodohan ibunya. “Aku akan mencarikan baby sitter juga untuknya. Bayi itu akan dijaga selama 24 jam.”
“Melinda ….”
“Mas, bayi itu nggak salah.”
“Ya sudah, terserah apa maumu.”
***
Keesokan harinya. Melinda tidak ada di sampingku saat aku terbangun.
Aku bangkit, lalu mendengar suaranya di kamar sebelah. Dengan langkah ragu, aku pun menemui asal suara itu.
Begitu sampai di depan pintu, mata ini langsung tertuju ke arah Melinda yang sedang menenangkan bayi dengan seorang perempuan yang memakai seragam baby sitter di sampingnya. Seperti apa yang ia katakan kemarin. Ya, dia benar-benar melakukannya.
Beberapa detik kemudian, dia menyadari keberadaanku.
“Mas, sini!”
Aku pura-pura tidak mendengar, dan hendak berjalan kembali ke kamar. Namun, Melinda malah menghampiriku dengan bayi itu.
“Lihat, lucu, kan?”
Aku menatap Melinda. Wajahnya terlihat begitu bahagia. Apa dia menginginkan seorang anak? Sedangkan aku sudah tidak bisa memberikannya.
“Lucu, kan, Mas?” tanya Melinda mengulangi perkataannya.
Aku mengangguk samar. “Ya, tapi ….”
Melinda langsung mengalihkan pandanganya dari bayi itu padaku. “Mas, aku mohon.”
Aku mengembuskan napas berat. “Sampai kapan kita akan menyembunyikan hal ini, Melinda? Lama kelamaan, meraka pasti tahu juga.”
“Kalau begitu, nikahkan saja Nayara secepatnya. Buat seolah-olah ini memang anak Nayara dengan pernikahannya.”
“Kamu gila, Melinda?!” bentakku kembali tersulut emosi. “Usia bayi ini sudah satu bulan, lalu bagaimana mereka akan percaya, hah?!”
Ya, bayi itu sudah sangat besar. Tidak memungkinkan jika dia diakui anak Nayara dengan pernikahannya kecuali Nayara saat ini hamil, bukan memiliki bayi!
“Nikahkan saja Nayara dengan Darmadi Utomo, mereka pasti akan mengira bayi itu anak dari istri Darmadi yang sebelumnya.”
Aku mengangkat alis. “Darmadi Utomo?”
Baca selengkapnya di kbm app
Bayi di Pangkuan Putriku karya LaylaAmelia