Posted in

Namaku Nayla, mahasiswi semester akhir di salah satu kampus swasta di Bandung. Usia dua puluh dua tahun, hidup merantau jauh dari orang tua, dan seperti kebanyakan anak muda lainnya, aku menghabiskan banyak waktu di media sosial.

Aku tidak pernah menyangka, semua itu justru menjadi awal kehancuran hidupku.

Semua bermula dari sebuah permintaan pertemanan di Instagram. Akun itu memakai foto seorang pria berseragam polisi lengkap. Wajahnya tegas, kulit sawo matang, rahang tajam, dan senyumnya terlihat dewasa. Namanya Arga Pratama.

Awalnya aku tidak terlalu menggubris. Namun, setelah beberapa kali dia membalas story-ku dengan komentar lucu dan sopan, aku mulai merasa nyaman. Dia berbeda dari laki-laki lain yang biasanya langsung menggoda atau mengirim pesan aneh.

“Lagi skripsi ya? Jangan begadang terus, nanti sakit.”

Kalimat sederhana itu entah kenapa terasa hangat. Apalagi saat itu aku memang sedang stres berat mengurus revisi dosen pembimbing.

Hari demi hari, obrolan kami semakin intens. Arga mengaku bertugas di luar kota dan sering sibuk operasi. Kadang dia mengirim foto sedang memakai seragam polisi di depan mobil patroli. Kadang video singkat di kantor dengan suara sirene samar di belakangnya.

Aku percaya sepenuhnya.

Siapa yang akan curiga?

Dia tahu banyak istilah kepolisian. Dia bicara sangat meyakinkan. Bahkan beberapa kali dia menelepon saat mengenakan seragam lengkap.

Teman-temanku sempat iri saat tahu aku dekat dengan seorang polisi.

“Gila, Nay. Pacarmu ganteng banget,” kata Siska suatu malam sambil melihat profil Instagram Arga.

Aku cuma tersipu malu.

Hubungan kami berkembang cepat. Arga sangat pandai membuatku merasa spesial. Dia selalu hadir saat aku sedang sedih. Saat aku menangis karena revisi skripsi ditolak, dia menelepon semalaman menenangkanku.

“Tenang, calon istriku nggak boleh nyerah.”

Kalimat itu membuatku jatuh semakin dalam.

Sebulan kemudian, Arga mulai membahas soal masa depan. Dia mengaku serius denganku. Bahkan katanya ingin segera memperkenalkanku pada keluarganya setelah tugasnya selesai.

Aku benar-benar percaya.

Bodohnya, aku mulai membuka semua tentang diriku. Tentang keluargaku, tentang ketakutanku, bahkan tentang kenyataan bahwa aku belum pernah benar-benar dekat dengan laki-laki sebelumnya.

Arga selalu mendengarkan.

“Justru aku suka perempuan yang bisa jaga diri,” katanya lembut.

Kalimat-kalimat seperti itu membuat pertahananku runtuh perlahan.

Sampai akhirnya, dia mengajakku bertemu langsung.

“Aku lagi ada tugas di Bandung tiga hari. Ketemu bentar aja, aku pengin lihat kamu secara langsung.”

Jantungku berdebar luar biasa saat membaca pesan itu.

Hari pertemuan kami, aku berdandan sangat lama. Memilih blouse terbaik, memakai sedikit make up, bahkan berkali-kali bercermin karena gugup.

Dan saat melihatnya turun dari mobil hitam di depan kafe, aku seperti kehilangan napas.

Dia benar-benar tampan.

Tinggi, rapi, dan memakai kaus hitam ketat yang memperlihatkan tubuh atletisnya.

“Jadi ini Nayla?” katanya sambil tersenyum.

Aku cuma bisa mengangguk malu.

Pertemuan itu berjalan sangat manis. Kami makan malam, tertawa bersama, lalu berkeliling kota naik mobilnya. Arga memperlakukanku seperti putri kecil. Dia membukakan pintu mobil, memegang tanganku saat menyeberang, bahkan menyuapiku makanan.

Aku merasa sangat dicintai.

Malam semakin larut ketika hujan turun deras. Arga menghentikan mobil di depan sebuah hotel.

“Kita tunggu hujan reda dulu. Aku juga capek banget habis perjalanan.”

Aku sempat ragu.

Namun dia menggenggam tanganku pelan.

“Tenang, aku nggak akan ngapa-ngapain kamu.”

Kalimat itu justru membuatku merasa aman.

Aku masuk bersamanya.

Awalnya kami hanya mengobrol di kamar hotel sambil menonton televisi. Namun suasana berubah saat Arga mulai memelukku dari belakang.

“Nay…” bisiknya lirih.

Aku gemetar.

Sebagai perempuan yang belum pernah benar-benar dekat dengan laki-laki, sentuhan itu membuatku lemah. Ditambah lagi, aku memang sudah sangat mencintainya.

“Aku serius sama kamu,” katanya sambil menatap mataku dalam-dalam. “Aku nggak akan ninggalin kamu.”

Aku percaya.

Malam itu menjadi kesalahan terbesar dalam hidupku.

Keesokan paginya, semuanya berubah.

Arga mendadak dingin.

Dia sibuk bermain ponsel dan beberapa kali keluar kamar menerima telepon. Saat kutanya ada apa, dia hanya menjawab singkat.

“Masalah kerjaan.”

Setelah check out hotel, dia mengantarku pulang tanpa banyak bicara. Tidak ada lagi sikap manis seperti malam sebelumnya.

Aku mulai merasa tidak enak.

Namun yang lebih menghancurkan adalah setelah hari itu, Arga perlahan menghilang.

Pesanku mulai jarang dibalas.

Teleponku sering ditolak.

Alasannya selalu sibuk operasi atau tugas luar kota.

Sampai akhirnya… akun Instagramnya hilang.

Nomornya tidak aktif.

Aku panik setengah mati.

Selama hampir seminggu aku mencoba menghubunginya, tapi tidak pernah berhasil. Aku mulai menangis setiap malam. Perasaanku kacau. Lebih parah lagi saat tubuhku mulai merasa aneh dan pikiranku dipenuhi ketakutan.

Siska yang melihat kondisiku akhirnya membantu mencari tahu tentang Arga.

Dan kenyataan yang kami temukan membuat duniaku runtuh.

Foto-foto Arga ternyata hasil curian dari akun polisi asli milik orang lain.

Semua identitasnya palsu.

Bahkan mobil yang dipakainya saat bertemu denganku adalah mobil rental.

Aku langsung lemas saat tahu semuanya.

Artinya… laki-laki yang selama ini kupercaya bukan polisi.

Dia hanya polisi gadungan.

Aku merasa seperti orang paling bodoh sedunia.

Namun penderitaanku belum selesai.

Dua minggu kemudian, sebuah nomor tak dikenal mengirimiku foto-foto saat aku berada di hotel bersama Arga. Beberapa diambil diam-diam saat aku tertidur.

Tanganku gemetar hebat.

“Aku masih simpan semua videonya. Kalau nggak mau tersebar, transfer uang.”

Aku langsung menangis histeris.

Ternyata sejak awal aku memang dijebak.

Arga bukan hanya penipu, tapi juga pemeras.

Aku ketakutan luar biasa. Aku tidak berani cerita pada orang tua karena malu. Aku bahkan sempat berpikir mengakhiri hidup.

Berhari-hari aku mengurung diri di kos. Skripsiku terbengkalai. Berat badanku turun drastis.

Sampai akhirnya, Siska memaksaku melapor ke polisi.

Awalnya aku takut.

Bagaimana kalau videonya benar-benar disebar?

Bagaimana kalau semua orang tahu?

Namun Siska menggenggam tanganku erat.

“Kamu korban, Nay. Yang salah itu dia.”

Kalimat itu membuatku menangis semakin keras.

Untuk pertama kalinya sejak semuanya terjadi, aku merasa masih ada orang yang peduli padaku.

Proses laporan tidak mudah. Aku harus menceritakan semuanya dengan detail. Berkali-kali aku merasa malu dan ingin pulang.

Namun ternyata aku bukan satu-satunya korban.

Polisi menemukan setidaknya ada empat perempuan lain yang pernah ditipu pria yang sama. Modusnya serupa: kenalan lewat media sosial, mengaku polisi, membuat korban jatuh cinta, lalu memanfaatkan mereka.

Beberapa bulan kemudian, pria itu akhirnya tertangkap di sebuah kota kecil.

Namanya bahkan bukan Arga.

Saat polisi menunjukkan fotonya setelah ditangkap, aku langsung gemetar. Wajah yang dulu begitu kucintai kini terasa sangat mengerikan.

Dia tersenyum ke kamera seolah tidak merasa bersalah sedikit pun.

Yang paling menyakitkan bukan hanya karena aku ditipu.

Tetapi karena setelah mendapatkan apa yang dia mau, dia membuangku seperti sampah.

Seolah perasaanku tidak pernah berarti.

Butuh waktu lama untuk memulihkan diri. Aku menjalani terapi, menjauh dari media sosial untuk sementara, dan belajar menerima bahwa apa yang terjadi bukan sepenuhnya salahku.

Kini, setiap kali melihat berita tentang penipuan online atau cinta palsu di media sosial, dadaku masih terasa sesak.

Karena aku tahu rasanya.

Rasanya percaya sepenuh hati pada seseorang… lalu dihancurkan tanpa sisa.