“Nah, lihat itu. Pulang pagi lagi. Dokter sih dokter, tapi kalau telat nikah, aura cantiknya lama-lama hilang,” suara Bu Rosa terdengar renyah, disambut tawa kecil oleh yang lain.
Arini turun dari mobil, merapikan gamisnya dan memastikan jilbabnya tetap menutup dada dengan sempurna. Ia berjalan menuju pagar tanpa ekspresi.
“Pagi, Dokter Arini! Gimana, semalam ada pasien ganteng nggak yang nyangkut?” seru Bu Lastri.
Arini berhenti, lalu menatap mereka dengan senyum yang sangat tenang. “Pagi, Ibu-ibu. Pasien saya rata-rata a n a k-a n a k, Bu. Jadi yang ganteng paling cuma balita yang sedang tumbuh gigi. Permisi.”
“Dih, ditanya baik-baik malah jawabnya begitu,” gumam Bu Rosa ketus. “Eling, Rin! Di atas dokter spesialis, tetap saja butuh laki-laki buat jadi imam!”

Arini tidak membalas. Ia masuk ke rumah dan mendapati pemandangan yang lebih menyesakkan: Mama sudah duduk di ruang tamu dengan mata merah.
“Mama nggak pulang semalam. Mama malu pulang ke rumah besar itu sendirian,” suara Mama serak. “Haryo bilang dia tersinggung, Rin. Dia bilang kamu wanita sombong yang tidak punya adab kepada orang tua.”
“Arini bekerja, Ma. Arini menyelamatkan nyawa!” suara Arini mulai bergetar.
“Nyawa siapa? Nyawa a n a k orang lain? Lalu bagaimana dengan ‘nyawa’ Mama yang perlahan m a t i karena menanggung malu?” Mama berdiri. “Tadi pagi, Bu Rosa masuk ke sini. Dia bilang dia punya saudara, duda cerai m a t i, mau nggak sama kamu? Katanya daripada nggak laku sama sekali.”
Arini terbelalak. “Mama terima?”
“Mama hampir bilang iya kalau saja Mama nggak ingat kamu itu dokter! Tapi Arini… Mama capek. Bawa satu laki-laki ke hadapan Mama dalam bulan ini, atau Mama akan terima lamaran siapa pun yang datang, termasuk duda itu!”
“Ma, ini bukan zaman Siti Nurbaya!”
“Ini zaman di mana mulut tetangga lebih k e j a m daripada pisau bedahmu, Arini!” Mama berjalan keluar dengan langkah gontai.
Arini terduduk di sofa. Dunianya serasa runtuh. Di usia 34 tahun, ia merasa seperti terdakwa di pengadilan yang ia sendiri tidak tahu apa kesalahannya. Ia meraih ponselnya, namun sebuah notifikasi pesan dari nomor tidak dikenal muncul di layar.
“Dokter Arini, saya Dewa. Ayah Kenzie. Maaf atas sikap saya kemarin sore. Saya ingin meminta jadwal konsultasi lanjutan untuk luka Kenzie secara privat. Apakah bisa kita bertemu di luar jam rumah sakit? Saya tunggu jawabannya.”
Arini mengerutkan kening. Dewa? Pria arogan itu? Di tengah desakan Mama dan hinaan para tetangga, permintaan pria itu terasa seperti gangguan baru. Namun, ada sesuatu dalam nada pesan itu yang tidak seangkuh kemarin.
Arini menarik napas panjang, menatap pantulan dirinya di cermin. Jilbabnya tetap rapi, wajahnya tetap tegar, namun hatinya sedang berteriak meminta perlindungan.
“Ya Allah, jika ini adalah awal dari ujian yang lebih besar, kuatkanlah hamba,” bisiknya pelan.