Posted in

Punya mertua kaya syaiton. Kalau punya makanan diumpetin dalam lemari. Dia pikir aku akan diam, lihat saja, bukan cuma kunci lemari yang akan kuambil, tapi kunci berharga lain miliknya.

“Daren, kenapa mukamu masih seperti benang kusut begitu? Bukannya tadi kamu sudah naik ke kamar untuk memberi ‘pelajaran’ pada istrimu itu?”

Aku menyesap teh kamomilku dengan elegan sambil menyandarkan punggung di sofa kulit Italia. Televisi di depanku menayangkan drama sinetron, tapi drama nyata di rumah ini jauh lebih menarik untuk dinikmati. Aku melirik Daren yang baru saja turun dengan langkah gontai, wajahnya masih tampak tegang, tapi ada kilat puas yang mulai muncul di matanya.

Daren menghempaskan tubuhnya ke kursi sampingku. “Ibu tahu? Siti tadi menangis meraung-raung. Bapaknya sekarat di puskesmas katanya. Dia mau lari pulang malam-malam begini.”

Aku hampir saja tersedak tawa. “Lalu? Kamu biarkan dia pergi?”

“Tentu saja tidak, Bu,” Daren menyeringai tipis, sebuah seringai yang sangat mirip denganku. “Aku kunci dia di kamar. Biar saja dia teriak sampai suaranya habis. Pita suaranya putus. Aku tidak peduli. Aku bilang, dia nggak boleh keluar selangkah pun sebelum cicilan hutang bapaknya lunas atau sebelum kolega bisnisku besok pagi merasa puas dengan pelayanannya.”

Aku meletakkan cangkir tehku, lalu bertepuk tangan pelan. “Bagus! Itu baru anak Ibu! Akhirnya kamu sadar juga kalau menantu gratisan itu harus diinjak sampai ke tanah. Biarkan saja bapaknya mam–pus di sana. Satu pengemis berkurang, satu beban hidup kita hilang.”

“Iya, Bu. Aku pikir, kalau bapaknya mati dan dia tidak ada di sana, mentalnya pasti hancur total. Kalau dia sudah hancur, dia akan mudah diper–da–ya. Kita bisa ambil alih lagi kendali rumah ini, dan dia akan kembali menjadi babu penurut yang tidak berani melawan,” Daren terkekeh, membayangkan rencana licik kami.

Aku mengangguk setuju. Menghancurkan mental seseorang jauh lebih efektif daripada menghancurkan fisiknya. Siti mungkin jago karate, tapi dia lemah soal perasaan. Dan titik lemahnya adalah orang tua rentanya yang penyakitan itu.

Tiba-tiba, ponsel di saku celana Daren bergetar. Daren melihat layarnya dengan kening berkerut.

“Siapa ini? Nomor tidak dikenal.”

“Angkat saja, mungkin itu kabar gembira kalau bapaknya sudah lewat,” ucapku santai.

Daren mengaktifkan pengeras suara. “Halo?”

“Halo? Mas Daren? Ini saya, Ketua RT di kampung Pak Ahmad,” suara pria di seberang sana terdengar panik dan terengah-engah. “Saya dapat nomor Mas dari kontak HP Pak Ahmad. Mas, tolong segera bawa Neng Siti ke sini! Kondisi Pak Ahmad kritis sekali, detak jantungnya sudah lemah. Dia terus memanggil nama Siti… Tolong, Mas, ini soal nyawa!”

Aku langsung merebut ponsel itu dari tangan Daren. Rasa kesalku memuncak mendengar suara cemas dari orang kampung itu.

“Halo, Pak RT? Dengar ya,” suaraku terdengar tajam dan dingin. “Anak dan menantu saya sedang sangat sibuk. Kami ini orang kaya, banyak urusan penting, bukan cuma ngurus urusan orang tua sekarat yang tidak punya uang. Siti sedang melayani suaminya, jangan diganggu dengan alasan-alasan konyol seperti ini. Kalau Bapaknya mau mati, ya mati saja sendiri, tidak perlu mengajak-ajak orang lain repot!”

“T-tapi Nyonya… ini masalah kemanusiaan…”

“Urusan kemanusiaan tidak akan membayar tagihan listrik saya, Pak RT!” bentakku sebelum memutuskan sambungan telepon secara sepihak.

Aku dan Daren saling pandang, lalu tawa kami pecah bersamaan. Rasanya sungguh nikmat melihat orang-orang miskin itu memohon-mohon. Kami merasa sudah memenangkan peperangan ini. Siti terkunci di atas, bapaknya sekarat di sana, dan kami tetap menjadi penguasa di rumah ini.

“Lucu sekali ya, Bu. Padahal Siti tadi sudah sombong sekali,” Daren tertawa sampai matanya berair.

Namun, tawa kami terhenti seketika. Sebuah suara dentuman keras terdengar dari lantai atas, diikuti suara pintu yang seolah nyaris roboh. Kemudian, sebuah teriakan menggelegar, sangat nyaring dan penuh aura kematian, hingga membuat bulu kudukku berdiri dan gelas teh di meja bergetar.

“Kalau sampai bapakku tidak tertolong, ku–pa–tah–kan tulang kalian!”

Tanpa sadar ludahku melesat begitu saja ke kerongkongan. Halah, kuncinya kan dibawa Daren. Siti nggak mungkin bisa keluar kamar, apalagi mematahkan tulang. Mimpi Kau SITTIII!

Tapi saat aku menoleh…