Posted in

Selimut Kiriman Mertua yang Katanya Hangat 8 Kilo—Tapi Setiap Malam Anak Kami Menggigil, Sampai Aku Mengguntingnya dan Menemukan Rahasia yang Menghancurkan Hidupku

Sudah tiga malam anakku terbangun sambil menggigil kedinginan.

Padahal selimut yang membungkus tubuhnya beratnya hampir delapan kilogram.

Katanya, itu selimut paling hangat buatan tangan mertuaku sendiri.

Tapi malam ketika aku akhirnya menggunting sisi selimut itu, aku tidak menemukan kapas.

Yang aku temukan justru sesuatu yang membuat jantungku berhenti sesaat.

Telepon dari mertuaku, Ibu Erlinda, masuk di suatu sore hujan di Jakarta Selatan.

“Mariel, selimut baru untuk Nico sudah Mama kirim. Itu buatan Mama sendiri. Bersih, dijemur sampai kering. Jangan disia-siakan ya.”

Suaranya terdengar lembut, seperti biasa.

Tapi seperti biasa juga—ada sesuatu yang terasa berat di baliknya.

Lima tahun aku menikah dengan Paolo.

Dan setiap musim dingin atau hujan, ibunya selalu mengirim selimut tebal.

Katanya dibuat dari kapas pilihan, dicuci sendiri, dijemur sampai benar-benar bersih.

Di keluarga besar, dia terlihat seperti mertua sempurna.

Di grup keluarga, dia mengirim foto selimut dengan caption:

“Untuk cucuku tercinta. Nenek akan lakukan apa saja agar dia tidak kedinginan.”

Semua orang memujinya.

“Beruntung sekali Mariel punya mertua seperti itu.”

“Baiknya Ibu Erlinda.”

“Tidak semua menantu dapat perlakuan seperti ini.”

Dan aku?

Aku harus tersenyum.

Harus terlihat berterima kasih.

Dua hari kemudian, paket besar itu tiba.

Tapi begitu aku mengangkatnya, aku langsung merasa aneh.

Beratnya tidak normal.

Ketika kubuka, sebuah selimut merah tebal bermotif bunga besar terlihat seperti tirai rumah tua.

Ada label kecil di sisinya:

Netto: 8 kg

“Ini seperti karung,” gumamku.

Malamnya, aku memakaikan selimut itu pada Nico.

Anak laki-laki kami baru empat tahun, tubuhnya kecil dan sering sakit.

Dia langsung senang.

“Mommy, besar banget! Aku kayak roti isi!”

Aku tertawa dan mencium keningnya.

“Tidur ya, Nak. Ini dari Nenek.”

Dia tersenyum dan memejamkan mata.

Jam dua dini hari, aku terbangun karena tangisnya.

“Mommy… dingin…”

Aku berlari ke kamarnya.

Dan aku membeku.

Nico meringkuk di bawah selimut merah itu.

Tubuhnya gemetar hebat.

Bibirnya pucat kebiruan.

Aku langsung mengangkatnya.

“Kenapa kamu dingin sekali, Nak?”

Tanganku menyentuh bagian dalam selimut.

Dingin.

Tidak ada kehangatan sama sekali.

Seharusnya ada panas tubuh yang tersimpan.

Tapi ini… seperti kain dari gudang lama.

Malam itu aku pikir mungkin dia terlalu sering menendang selimut.

Tapi malam berikutnya, kejadian itu terulang lagi.

Dan malam ketiga, dia mulai demam.

Aku memutuskan tidak memakainya lagi.

Saat Paolo pulang, dia langsung bertanya:

“Kenapa selimut dari Mama tidak dipakai?”

“Anak kita kedinginan setiap malam,” jawabku.

Ekspresinya langsung berubah.

“Mariel, jangan mulai lagi.”

“Maksudmu apa?”

“Kamu selalu berpikir Mama punya niat buruk. Itu cuma selimut.”

“Selimut delapan kilo tapi tidak hangat.”

“Jangan salahkan Mama.”

Aku diam.

Karena aku tahu—di dunia Paolo, ibunya selalu benar.

Malam itu aku tidak tidur.

Jam tiga pagi, aku masuk ke kamar Nico.

Selimut itu masih terlipat di sudut kasur.

Di bawah cahaya bulan, warnanya terlihat seperti darah.

Aku duduk dan meraba jahitannya.

Lalu… aku menemukan sesuatu di dalamnya.

Benda keras.

Bukan satu.

Tapi banyak.

Aku mengambil gunting.

Tanganku gemetar.

Tapi bukan karena takut.

Karena aku tahu—setelah ini, semuanya akan berubah.

Aku menggunting selimut itu.

Dan saat kubuka isinya…

Aku hampir muntah.

Di dalamnya bukan kapas.

Melainkan:

potongan sampah basah,
tutup botol berkarat,
pecahan kaca,
rambut kusut,
plester tua,
dan kain kecil putih.

Aku membuka kain itu perlahan.

Dan dunia seolah berhenti.

Di sana tertulis dengan benang merah:

“MATI KAU.”

Di sampingnya, boneka kecil tertusuk jarum di dada.

Aku jatuh ke lantai.

Tidak menangis.

Tidak berteriak.

Aku hanya memotret semuanya.

Lalu menelpon Paolo.

“Mariel? Aku di kamar sebelah—”

“Paolo,” kataku pelan.

“Masuk ke kamar Nico.”

“Hah? Kenapa—”

“Sekarang.”

Dan setelah itu aku berkata:

“Telepon ibumu. Video call sekarang.”

Di ujung telepon, sunyi.

Dan dalam sunyi itu…

aku tahu.

Sesuatu di rumah ini akhirnya tidak bisa lagi disembunyikan.