Mengapa anak gu-ndik sepertiku dihina dan ditolak? Nggak ada yang mau menerimaku. Mama sudah meninggal, Papa entah di mana, keluarga istri sah Papa membenciku setengah mati. Padahal aku salah apa sama mereka ?
Kupikir Eyang Kusumo mau menerimaku di rumahnya. Dia bapaknya Papa. Sudah tua dan sakit-sakitan.
Saat beliau meneteskan air mata, aku hampir yakin Eyang akan menerimaku. Aku bernapas penuh syukur.
Akhirnya aku punya rumah.
Tapi Eyang malah menggeleng. Tangannya memberi aba-aba.
‘Jangan. Kita ndak bisa terima anak ini.’
Aku yakin itu maksudnya. Dia buang muka dariku. Nggak mau lagi melihatku.
“Aku juga ndak bisa, Buk. Aku ndak akan terima anak ini masuk ke keluarga kita,” ucap Tante Sinta.
“Ibuk juga ndak bisa, Sin. Tapi yg Ibuk tahu, kalau kita ngusir anak ini, ndak beda jauh sama nendang anak kucing dari emperan. Ndak punya tempat, ndak punya siapa-siapa. Dan kamu, kamu yg dulu waktu kecil aja rewel dikit langsung Ibuk belain. Kok tega kamu ngomong ke anak kecil kayak gitu…”
Aku nyaris menahan napas, tak bisa lagi menangis. Tertahan di tenggorokan.
“Jangan pikir muka cantikmu ini bikin kami semua langsung luluh, ya,” kata Tante Sinta. “Muka kamu justru bikin aku inget mamamu dan caranya yang licik. Mamamu itu udah bikin hidup keluarga kami berantakan. Rumah tangga Mas-ku hancur. Aku ndak bisa pura-pura baik sama kamu!”
Aku menunduk. Mataku panas. Tega sekali mereka.
Aku ingin lari sejauh mungkin dari tempat ini. Tapi ke mana?
KE MANA??
Tak ada tempat untuk pulang. Tidak ada siapa pun yang akan membukakan pintu untukku.
–
Akhirnya Mas Ricky membawaku pulang ke rumahnya.
Aku lega saat kami sampai di Temanggung dan mobil berhenti di depan rumah. Aku sempat takut Mas Ricky akan menurunkanku di tengah jalan. Atau di persimpangan lampu merah. Sepanjang jalan aku berdoa semoga Tuhan menjauhkan Mas Ricky dari bisikan setan. Tanganku berkumpul di pangkuan, saling menggenggam dan begitu dingin.
Tante Maya tengah memasak saat kami masuk. Aroma tumis buncis dan ikan goreng menguar pelan di udara. Aku sangat lapar, tapi nggak berani ngomong. Padahal aku punya uang, pemberian Tante Maya tadi pagi waktu aku mau berangkat. Muka Mas Ricky sepanjang jalan bikin aku takut. Mau nangis takut, mau napas aja takut. Aku bahkan nggak berani noleh. Nahan pipis dari jalan sampai rumah.
“Percuma jauh-jauh ke Magelang. Hasilnya zonk.” Mas Ricky melempar kunci ke meja. Hampir kena aku.
Tante Maya menatapku sejenak. Aku berjalan ke kamar mandi, lalu keluar dan duduk sambil memeluk tas. Tubuhku sudah tak punya arah, aku cuma bisa diam dan termenung, berharap sedikit rasa kasihan dari orang-orang dewasa ini.
“Jadi sekarang bagaimana, Ma? Nicky pulang sekolah sebentar lagi. Jangan sampai dia lihat anak ini malah balik ke sini.”
Tante Maya mendekat dan duduk di sampingku.
“Kamu istirahat dulu di kamar Tante, ya. Pasti kamu capek,” katanya.
Aku mendongak menatapnya. Suaranya lembut sekali, membuatku jadi tambah sedih.
Dan tambah berharap.
Malam itu, menjelang tidur, doaku hanya satu.
Semoga Tante Maya mau menerimaku di rumah ini.

POV MAYA
Rumah itu senyap seperti tidak berpenghuni. Maya duduk sendiri di ruang makan. Di depannya, ponsel tergeletak di atas meja.
Ia sudah menelepon Alam, tapi gagal tersambung. Akhirnya ia mengirim pesan. Centang satu, yang semenit kemudian berubah menjadi centang dua abu-abu. Tampaknya memang gangguan sinyal di sana.
Maya mencoba menelepon sang mantan suami sekali lagi, tapi lagi lagi tidak tersambung.
Ricky sudah naik ke lantai atas. Putri di kamar. Mungkin tidur. Atau pura-pura tidur. Entahlah. Maya tak punya tenaga untuk mengeceknya. Fokusnya sekarang adalah bagaimana Putri secepatnya pergi dari rumah ini. Ia gentar memikirkan reaksi Nicky ketika nanti gadis 15 tahun itu pulang sekolah dan menemukan Putri di rumah mereka.
Maya menarik napas, lalu tekan tombol hijau sekali lagi.
Nada sambung. Satu… dua… tiga… enam detik.
“Halo?”
Suara itu.
Maya memejamkan mata sesaat, seakan membeku selama beberapa detik. Dada kirinya terasa berdenyut. Suara itu masih sama—berat, familiar, mengandung kenangan yang ingin ia kubur, tapi juga tak pernah benar-benar mati. Sudah lama sekali dia tidak mendengar suara Alam, pria yang dulu ia cintai. Yang pernah membuatnya tergila-gila, sebelum akhirnya mengkhianatinya.
“Mas, ini aku. Maya.”
Hening.
“Maya…” Suara di ujung sana melembut. “Ya Allah… kamu nelfon aku? Kamu apa kabar, Dik?”
“Aku baik.” Suara Maya pelan, mencoba tetap tenang. “Mas… Putri ada di sini.”
“Putri? Putri siapa?” Alam terdengar bingung.
“Putri anakmu.”
“Apa??”
“Ya, dia di sini, Mas. Di rumahku.”
Kursi kayu berderit saat Maya menyandarkan tubuh. Ia bisa bayangkan ekspresi syok di wajah mantan suaminya itu. Wajah yang tampan, dengan ekspresi teduh dan bibir yang selalu menyunggingkan senyum. Alam selalu bersikap manis, ia selalu tahu cara menyenangkan hati orang. Tapi justru itu yang membuat pengkhianatannya terasa luar biasa menyakitkan. Karena sikap manisnya ia tujukan bukan hanya pada Maya seorang.
“Mas?”
“Dia… mau apa dia di rumah kamu? Bagaimana dia berada di sana?”
“Seseorang mengantarnya ke depan rumahku.”
“Seseorang? Maksud kamu … Wina?”
Maya menggeleng, lupa bahwa Alam tidak bisa melihatnya. “Bukan. Kata Putri, teman ibunya, tapi ia sendiri ngga kenal.”
“Lha, trus ibunya ke mana?” tanya Alam, asal.
“Emangnya Mas nggak tahu, Win—mantanmu itu… meninggal?”
“Apa?” Alam terdiam. Lalu, “Me-meninggal?”
Hening lagi. Lama sekali.
“Dan seseorang mengantar anakmu ke rumahku. Menurut Putri, itu wasiat ibunya sebelum meninggal. Mungkin karena kamu nggak bisa dihubungi.”