“Berita hoax itu, Jeng,” kata Dina, tertawa tanpa ekspresi. “Mana ada kami ngutang? Udah lunas semua kok.”
“Tapi beritanya udah tersebar luas lho, Jeng. Kamu nggak mau buat klarifikasi gitu?”
Dina melirik Bima tajam, sementara Bima lebih memilih untuk kembali menatap layar laptopnya.
“Nanti aja, Jeng. Kami lagi sibuk ini. Biasalah, pengantin baru, mau bulan madu dulu,” ucap Dina, masih dengan tawa tanpa ekspresinya.
“Ya udah, Jeng. Aku cuma khawatir aja karena beritanya udah kesebar di semua grup arisan kita.”
“Makasih lho, Jeng.”
Sambungan diputus dan Dina seketika melemparkan ponselnya ke atas sofa. Ditatapnya Bima dengan pandangan sangat ta jam, namun dia belum mengatakan apapun. Wanita itu pergi untuk mencuci maskernya, bersiap untuk mengomeli Bima karena membuat masalah sebesar ini.
“Kamu ini gimana sih, Mas!” ujar Dina, melempar satu bantal sofa ke suaminya itu. “Bukannya ngelunasin biaya nikah, malah dibiarkan menunggak sampai diviralin sama orang-orang!”
Bima menyingkirkan bantal sofa itu dari hadapannya, lalu kembali menatap layar laptop.
“Bukan nggak mau lunasin, Sayang. Uangnya belum cukup,” kata Bima sabar.
“Belum cukup gimana? Tabunganmu masih ada, kan? Pakai aja buat bayar,” kata Dina, tidak habis pikir.
“Nggak cukup, Sayang,” ucap Bima, kini dengan helaan napas dalam. “Kalau aku pake semuanya buat bayar, besok-besok gimana kita mau makan? Mana kamu sama Eza maunya makan di luar terus setiap hari.”
“Oh, jadi sekarang kamu nyalahin aku?” ucap Dina marah. “Kamu nuduh aku boros karena mau makan enak terus di luar?”
Dina menyilangkan kedua tangannya di depan dada, bersiap untuk menghujani Bima dengan kata-kata pedas.
“Aku seharian di rumah tuh nyuci, ngepel, nyuci piring, nyetrika baju sekolah Eza. Mana sempat buat masak?” omel Dina. “Aku udah selalu bilang, kerjaan rumah tuh banyak. Kalau mau masak lagi, tambah hancur nih kukuku.”
Bima mendengarkan tanpa menyela, lalu mengangguk.
“Aku tahu, Sayang. Aku bukan nyalahin kamu, cuma ingetin aja kalau kamu sama Eza sukanya makan di luar. Kalau aku pake semua tabunganku buat lunasin biaya nikah kita, aku nggak bakal bisa bawa kalian makan di luar lagi selama beberapa minggu.”
Dina menggelengkan kepalanya, masih tidak habis pikir apa kata suaminya.
“Aku tahu tabunganmu banyak,” kata Dina, tidak percaya dengan ucapan Bima. “Aku nggak mau tahu, Mas. Besok kamu lunasin semua vendor nikahan kita. Aku nggak mau berita soal kita lebih kesebar lagi dan buat aku malu.”
Dina bangkit berdiri.
“Kalau besok semuanya belum lunas, jangan harap aku biarin kamu masuk rumah pulang kantor besok.”
Bima menatapnya dengan pandangan putus asa, sementara Dina mulai beranjak menuju kamarnya. Dia perlu menenangkan diri dengan mendengarkan lagu-lagu klasik sendirian. Namun belum sampai dia di depan pintu kamar, Bima sudah memanggilnya lagi.
“Yang.”
“Apa?” ketus Dina.
“Tolong bikinin kopi dong,” kata Bima lembut. “Aku kayaknya harus begadang buat ngerjain ini. Butuh kopi sama camilan biar kuat begadangnya.”
Dina mendengus sebal. Bisa-bisanya lelaki itu malah minta dibuatkan kopi setelah membuatnya marah seperti tadi.
“Bikin sendirilah,” kata Dina tidak peduli. “Aku capek. Mau tidur.”
Dan tanpa memedulikan Bima lagi, Dina pergi dan masuk ka-mar tanpa perasaan bersalah sama sekali.

“Kenapa kamu datang sama dia?”
Bima bertanya pada Dini saat melihat wanita itu datang ke sidang ce-rai perdana mereka bersama Fathan. Lelaki itu mengerutkan kening, merasa tidak senang melihat Dini masuk ke ruangan sidang bersama Fathan.
“Mas Fathan mau menemaniku, Mas,” kata Dini tenang. “Daripada sendirian, lebih baik punya seseorang yang menemani, kan?”
Bima terdiam mendengarnya.
Sepanjang proses sidang, Bima tidak bisa tidak melirik ke arah Dini dan Fathan. Hingga ketika hakim menanyakan apakah mereka ingin mengatakan sesuatu untuk satu sama lain, Dini tampak enggan berkata apapun.
“Izinkan saya berbicara, Yang Mulia,” kata Bima yang membuat Dini menatapnya dengan alis tertaut.
“Silakan.”
Bima mengambil jeda sejenak, lalu berkata, “Saya ingin rujuk dengan istri saya.”
Ruangan itu mendadak hening usai mendengarkan perkataan Bima.
“Saya tidak pernah ingin menjatuhkan talak pada istri saya. Saya tidak pernah menginginkan perceraian. Perpisahan ini karena istri saya sendiri yang menggugat, bukan saya sebagai suami yang menjatuhkan talak padanya.”
Bima menatap Dini dengan pandangan paling lekat yang bisa dia berikan, padahal selama ini dia tidak pernah menatap wanita itu dengan pandangan dalam seperti itu.
“Saya ingin meminta maaf atas segala hal yang mungkin menyakiti hati istri saya selama kami menikah. Namun saya melakukannya bukan karena sengaja, semuanya murni karena ketidaksempurnaan saya sebagai suami.”
Hakim menunggu lanjutan kalimat Bima, namun saat Bima tidak mengatakan apapun lagi, sang hakim kembali bertanya pada Dini apakah ada yang dia sampaikan.
“Saya mantap untuk berpisah, Yang Mulia,” kata Dini tanpa keraguan sedikit pun. “Selama kami menikah, suami saya adalah orang baik. Dia berkata dengan lembut, memberi perhatian, dan juga menafkahi saya dengan nafkah yang cukup.”
Bima tersenyum mendengarnya. Meskipun Dini mengatakan dia mantap untuk berpisah, namun pujian barusan terdengar seperti harapan yang diberikan Dini padanya.
“Tapi selama enam tahun kami menikah, saya mengalami kekerasan batin,” lanjut Dini yang membuat Bima menatapnya dengan pandangan terkejut. “Suami saya lebih banyak menghabiskan waktu bersama sepupu saya yang saat ini sudah menjadi istrinya. Suami saya lebih perhatian pada sepupu saya dan anaknya dibandingkan pada saya, istrinya saat itu.”
Bima mendengarkan dengan perasaan bersalah. Dia memang melakukannya, dan dia tidak bisa mengelak dari hal tersebut.
“Dan lagi, jika suami saya mengatakan bahwa dia tidak pernah berniat mence-raikan saya, maka saya bisa mengatakan bahwa itu adalah kebohongan, Yang Mulia.”
Dini menatap Bima dengan tajam. Tatapan sa-kit hati masih terlihat jelas dalam matanya.
“Sepupu saya, yang sekarang menjadi istri Mas Bima, yang mengatakan langsung di depan saya bahwa Mas Bima sudah berniat untuk mence-raikan saya setelah mereka menikah. Jadi meskipun saya tidak mengajukan gugatan ce-rai, talak otomatis akan jatuh pada saya setelah suami saya menikah lagi karena suami saya sudah berniat demikian.”