Posted in

Suamiku meninggal, tapi yang membuatku akhirnya tidak berduka, dia meregang nyawa di atas tvbvh kakakku sendiri.

“Mba suamimu meninggal!”

Sebuah panggilan telepon masuk ketika Haisha baru saja mencuci tumpukan piring yang ia biarkan sejak semalam. Tinggal dengan keluarga suami dan kanan kiri ipar membuatnya lelah luar biasa, apalagi saat ini ia sedang hamil lima bulan.

“Kamu jangan ngomong sembarangan, Mila!” jawab Haisha dengan suara bergetar.

“Iya, Mba. Dia meninggal di rumah bude.”

Bude yang dimaksud Mila adalah ibu Haisha. Ia tinggal dengan kakaknya yang baru setahun lalu bercerai dengan suaminya. Namanya Nisa.

“Hah? Ngapain di sana?”

“Selama ini suamimu memang sering ke sini.”

Haisha membeku sesaat, tak lama setelah itu suara kakak iparnya memanggil dengan nada yang cukup tinggi.

“Ngapain kamu berdiri di situ!” ucap Hana, kakak ipar pertamanya. Ia masih tinggal di sini dan mempunyai dua anak, sementara suaminya bekerja di luar kota.

Haisha masih membeku setelah menerima telepon dari Mila. Sementara dari ruang tamu terdengar suara ibu mertuanya sedang menangis meraung-raung.

“Kita harus ke rumah sakit sekarang! Suami kamu enggak sadarkan diri!” ucap Hana dengan suara yang panik.

“Gak perlu dibawa ke rumah sakit, dia sudah m4ti, Mba!” jawab Haisha tenang, padahal hatinya luar biasa hancur. Kenapa Rendra harus m4ti dengan cara seperti ini.

“Apa maksud kamu, hah! Dia itu suami kamu, bisa -bisanya kamu tenang dengar kabar seperti ini. Dimana pikiran kamu Haisha!”

“Ngapain sedih! Dia meninggal dengan cara yang nikmat kan? Mati di atas tvbuh perempuan lain! Harusnya kamu ikut senang, Mba,” jawab Haisha masih dengan wajah datar.

Hana tertegun, matanya membesar tidak percaya.

“Apa yang kamu bilang, Haisha?” suaranya meninggi.

“Yang aku bilang itu kenyataan, Mbak,” jawab Haisha dingin. “Mas Rendra meninggal… di atas tvbuh perempuan lain. Kakakku sendiri.”

“Fitnah!” bentak Hana. “Jangan asal ngomong!”

“Kalau Mbak enggak percaya, silakan tanya langsung ke rumah ibu saya,” balas Haisha tanpa emosi.

Ibu mertuanya yang sejak tadi menangis tiba-tiba berdiri. Wajahnya memerah, napasnya memburu.

“Haisha!” bentaknya keras. “Mulut kamu itu dijaga!”

Haisha menoleh pelan. “Saya cuma bilang yang sebenarnya, Bu.”

“Tidak! Itu tidak mungkin!” teriak ibu mertuanya. “Anak saya laki-laki baik! Tidak mungkin melakukan hal serendah itu!”

Haisha tersenyum tipis. “Ibu yakin benar-benar mengenal anak Ibu?”

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipi Haisha. Tubuhnya sedikit oleng, namun ia tetap berdiri.

“Kurang ajar kamu!” bentak ibu mertuanya. “Suami kamu baru saja meninggal, tapi kamu malah menjelek-jelekkan dia!”

Haisha memegang pipinya yang perih. “Saya tidak menjelekkan, Bu. Saya hanya—”

“Diam!” potong ibu mertuanya. “Sejak awal saya sudah tidak suka kamu!”

Hana ikut menyahut, “Iya! Dari dulu kamu itu cuma bikin masalah!”

Haisha menatap mereka satu per satu, matanya mulai berkaca-kaca.

“Saya bikin masalah?” suaranya lirih.

“Iya!” jawab ibu mertuanya tanpa ragu. “Sejak kamu masuk ke rumah ini, hidup anak saya berubah!”

“Berubah bagaimana, Bu?” tanya Haisha.

“Dia jadi tidak betah di rumah! Sering keluar! Itu karena kamu tidak becus jadi istri!”

Hati Haisha seperti diremas.

“Jadi… semua ini salah saya?” tanyanya pelan.

“Jelas!” bentak ibu mertuanya. “Kalau kamu bisa melayani suami kamu dengan benar, dia tidak akan mencari perempuan lain!”

Air mata akhirnya jatuh dari mata Haisha.

“Saya melayani dia, Bu…” suaranya bergetar. “Saya kerja dari pagi sampai malam di rumah ini… saya bahkan jarang duduk…”

“Itu kewajiban kamu!” sahut Hana cepat.

“Sebagai istri, iya… tapi saya juga manusia…”

“Manusia?” ibu mertuanya tertawa sinis. “Manusia macam apa yang tidak bisa menjaga suaminya sendiri?”

Haisha terdiam.

“Sekarang kamu malah menuduh dia selingkuh dengan kakak kamu sendiri! Kamu benar-benar tidak punya rasa malu!”

Haisha mengangkat wajahnya. “Saya tidak menuduh, Bu. Itu kenyataannya.”

Plak!

Tamparan kedua mendarat.

“Keluar kamu dari rumah ini kalau masih berani bicara seperti itu!” bentak ibu mertuanya.

Hana menambahkan, “Iya! Jangan jadi menantu durhaka!”

Haisha menggigit bibirnya, menahan tangis yang semakin deras.

Mereka akhirnya pergi ke rumah ibu Haisha, sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Begitu tiba di sana, Haisha hanya bisa mematung melihat jenazah suaminya di evakuasi, tidak ada air mata.

Suaminya diduga kena serangan jantung saat bermain dengan kakaknya sendiri, sementara kakaknya lebih banyak diam nampak syok.

“Enak Mba suamiku?” tanya Haisha dengan wajah datar.

Nisa hanya diam tanpa banyak bicara.

“Selamat ya, jadi perempuan terakhir yang dipakai suamiku. Kenapa kalian gak mati barengan biar bisa lanjut di kuburan? Couple banget kalian!” lanjut Haisha.

Nisa membuang muka enggan menoleh adiknya.

“Main berapa ronde sampai suamiku m@ti? Bergetar sampai ke jantung kayaknya.”

“Berisik kamu, Haisha!” Nisa mulai murka mendapatkan serangan dari adiknya.