Di group chat kelas kami tengah malam, tiba-tiba seseorang melempar pertanyaan populer:
“Pakai tiga kata untuk merangkum masa SMA kalian.”
Liza Mercado—mantan campus queen angkatan kami yang sudah lama menghilang—tiba-tiba muncul.
“Berbunga-bunga, penuh mimpi.”
Beberapa detik kemudian, ia menambahkan:
“Dan… Gino Salvador.”
Satu kalimat itu langsung meledakkan seluruh grup.
Di St. Mary’s Academy dulu, mereka adalah pasangan yang paling disayangkan perpisahannya.
Seorang bad boy pemberontak dan seorang campus queen yang lembut,
mencintai dengan tulus dan membara.
Sayangnya, cinta itu berakhir di musim panas setelah kelulusan.
Semua teman sekelas menjadi saksi kisah cinta dan patah hati mereka.
Termasuk… aku.
Aku menoleh ke pria di sampingku yang tertidur lelap.
Gino.
Anak muda yang dulu arogan dan penuh emosi itu telah lama berubah.
Kini ia adalah suamiku.
Terhormat. Tenang.
Dan… tidak mencintaiku.
Duri yang tertanam bertahun-tahun di hatiku tiba-tiba kembali menusuk.
1
Kadang justru orang luar yang lebih sulit melupakan dibanding pemerannya sendiri.
“Status Facebook Liza masih single. Gino bagaimana? Ada yang tahu?”
“Dulu setelah putus dia hancur banget, keluar dari grup dan memutus semua kontak. Sekarang kita cuma lihat dia di berita bisnis.”
“Selama ini nggak pernah dengar dia punya pacar lagi. Pasti sibuk kerja. Kayaknya masih sendiri.”
“Kalau waktu muda sudah pernah ketemu cinta yang tak terlupakan, memang susah puas dengan orang lain setelahnya.”
“Ngomong-ngomong, dulu mereka putus kenapa sih?”
“Masih muda. Yang satu mau ke luar negeri, yang satu keras kepala.”
“Wah kayak plot drama ya! Nanti ketemu lagi, balikan lagi. Manis banget pasti.”
Chat makin lama makin ramai.
Sementara aku… tetap diam dari awal.
Di kepalaku muncul satu pertanyaan yang tak pernah berani kuucapkan:
Apakah aku… hanya pilihan sementara bagi Gino?
Aku mematikan lampu, berniat tidur.
Tepat saat itu, layar ponsel Gino menyala dalam gelap.
“A-Gino, aku sudah kembali.”
Tidak ada nama pengirim.
Tapi hanya satu orang di dunia ini yang memanggilnya “A-Gino”.
Liza Mercado.
Gino tidur nyenyak.
Seperti biasa, tangannya bertumpu di perutku.
Cincin pernikahan di jariku tiba-tiba terasa dingin.
Rasa berat di dadaku berubah menjadi ketakutan.
Karena takut… aku ingin menghapus pesan itu.
Aku tahu password ponselnya.
Di keyboard pinyin—
angka itu berarti: Gino dan Liza.
Tanganku gemetar di atas layar.
Jika aku menghapusnya…
aku bisa pura-pura tidak pernah melihat apa pun.
Jika aku membacanya…
mungkin aku akan kehilangan segalanya.
Aku menatap wajah suamiku dalam gelap.
Selama lima tahun pernikahan, ia tidak pernah menyakitiku.
Ia bertanggung jawab. Setia secara fisik. Baik sebagai ayah bagi putri kami.
Tapi hatinya…
Tidak pernah benar-benar di sini.
Aku menarik napas panjang.
Lalu perlahan… meletakkan kembali ponselnya.
Aku tidak menghapus pesan itu.
Karena aku tiba-tiba sadar—
Masalahku bukan Liza.
Masalahku adalah:
aku menikahi seseorang yang tidak pernah memilihku dengan sepenuh hati.
Keesokan paginya, Gino terbangun seperti biasa.
Ia mencium keningku sebelum berangkat kerja.
Di meja makan, aku berkata dengan tenang:
“Semalam Liza mengirim pesan.”
Tangannya berhenti di udara.
Hanya sepersekian detik.
Tapi cukup.
Ia tidak pura-pura tidak tahu.
Ia tidak bertanya, “Liza siapa?”
Ia hanya diam.
“Aku tidak akan melarangmu bertemu siapa pun,” lanjutku pelan.
“Tapi aku ingin tahu satu hal.”
Ia mengangkat wajahnya.
“Kalau suatu hari dia meminta kesempatan kedua… kamu akan memilih siapa?”
Sunyi memenuhi ruang makan.
Akhirnya, ia berkata jujur:
“Aku tidak tahu.”
Jawaban itu lebih menyakitkan daripada pengkhianatan.
Karena itu berarti—
aku tidak pernah benar-benar menjadi pilihan pasti.
Aku tersenyum tipis.
“Terima kasih sudah jujur.”
Hari itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku membuat keputusan bukan karena cinta.
Tapi karena harga diri.
Beberapa bulan kemudian, kami berpisah dengan tenang.
Tanpa drama. Tanpa saling menghancurkan.
Karena cinta yang setengah hati lebih kejam daripada perpisahan yang jelas.
Beberapa orang mungkin mengira Liza adalah orang ketiga.
Tapi sebenarnya, aku lah yang terlalu lama berdiri di antara dua bayangan masa lalu.
Kini, ketika melihat kembali grup chat itu, aku tidak lagi merasa sakit.
Karena aku akhirnya mengerti—
Menjadi pilihan kedua tidak pernah salah.
Yang salah adalah bertahan ketika kamu tahu kamu pantas menjadi yang pertama.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama,
aku merasa… bebas.

Aku menatap deretan angka itu cukup lama.
Sebuah kata sandi yang sudah ada bertahun-tahun — seperti pintu yang tak pernah benar-benar dikunci.
Jariku melayang di atas layar.
Hanya satu sentuhan, aku bisa menghapus pesan itu.
Hanya satu sentuhan, aku bisa berpura-pura tidak pernah melihatnya.
Tapi kemudian aku berhenti.
Jika cintanya masih untuk orang lain,
menghapus satu pesan tidak akan menghapus perasaan itu.
Aku meletakkan ponselnya kembali.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku menatapnya dengan saksama.
Gino tertidur sangat lelap.
Wajahnya tenang, jauh berbeda dari pemuda pemberontak dulu.
Namun di dalam mimpinya… siapa yang sedang ia lihat?
Pelan-pelan aku mengangkat tangannya dari perutku.
Keesokan paginya, ketika sinar matahari masuk lewat jendela,
aku sudah berada di dapur membuat kopi.
Ia keluar kamar, dengan sikap tenang yang sama seperti biasa.
“Kamu bangun pagi sekali?”
Aku meletakkan secangkir kopi di depannya dan menatap langsung ke matanya.
“Liza mengirim pesan untukmu.”
Tangannya berhenti sejenak.
Bukan panik.
Hanya… keheningan yang cukup panjang.
“Aku tahu,” katanya pelan.
Aku tersenyum tipis. “Kamu mau membalas apa?”
Ia menatapku lama.
Lalu ia mengambil ponselnya, membuka layar di hadapanku.
Ia memasukkan kata sandi.
Setelah itu, ia terdiam sebentar.
Lalu satu per satu angka itu dihapus.
Ia mengganti kata sandi.
Kemudian ia menoleh kepadaku.
“Kamu yang masukkan.”
Aku tertegun.
“Buat kata sandi yang baru.”
Aku menatapnya.
Tak ada janji manis.
Tak ada penjelasan panjang.
Hanya tatapannya — jelas dan tegas.
Aku perlahan memasukkan tanggal lahir kami yang digabungkan.
Ketika ia membalas pesan itu, aku melihat setiap katanya:
“Liza, semoga kamu selalu baik-baik saja.
Tapi masa laluku sudah selesai.
Istriku sedang menungguku sarapan.”
Ia meletakkan ponselnya.
“Aku pernah mencintainya,” katanya. “Tapi orang yang kupilih untuk tinggal bersamaku adalah kamu.”
Aku tidak bertanya lagi.
Karena akhirnya aku mengerti—
Ada orang yang menjadi masa muda kita.
Dan ada orang yang menjadi seluruh hidup kita.
Malam itu, aku kembali berbaring di sampingnya.
Cincin di jariku tak lagi terasa dingin.
Di group chat, kisah cinta lama masih terus dibicarakan.
Tapi aku sudah mematikan notifikasinya.
Karena untuk pertama kalinya, aku yakin—
Aku bukan pengganti.
Aku adalah pilihan.
Dan kali ini… dia memilihku.