Di Jakarta, acara lamaran keluarga (pamanhikan) bukanlah hal yang bisa dianggap remeh.

Itu bukan sekadar makan bersama.

Bukan sekadar pertemuan keluarga laki-laki dan perempuan.

Bagi kami, itu adalah hari di mana dua keluarga duduk bersama, berbicara serius, saling memperkenalkan diri, dan menentukan bagaimana kehidupan dua orang yang akan menikah akan dimulai.

Karena itu, sejak pukul lima pagi, Ibu sudah bangun.

Ia memasak bihun goreng, membuat lumpia, menyiapkan kue tradisional, bahkan mengeluarkan piring putih khusus yang hanya dipakai untuk acara penting.

Ayah juga terus-menerus mengelap meja ruang tamu.

Ia diam, tapi aku tahu dia tegang.

Aku hanya duduk di dekat jendela, memegang perutku.

Tiga bulan.

Baru tiga bulan anak ini berada di dalam kandunganku, tapi rasanya sudah menjadi seluruh duniaku.

Aku dulu berpikir hari itu akan bahagia.

Aku pikir akhirnya semuanya akan jelas.

Aku pikir Dante mencintaiku.

Aku juga berpikir, meskipun ibunya, Ibu Lourdes, agak keras, dia akan menerimaku karena aku membawa cucu mereka.

Ternyata aku salah.

Pukul 10.15, sebuah mobil silver berhenti di depan rumah.

Dante turun lebih dulu.

Kemeja putih rapi, celana licin, rambut tertata. Seperti pria yang siap menikah.

Di belakangnya, Ibu Lourdes turun sambil membawa keranjang buah berlapis renda.

Ayah Dante juga ikut, diam, terlihat tidak ingin ikut campur.

Begitu masuk ke ruang tamu, Ibu Lourdes langsung melihat sekeliling.

Bukan seperti tamu.

Tapi seperti orang yang sedang melakukan inspeksi.

Ia melihat sofa kayu jati kami.

Melihat altar kecil di sudut rumah.

Melihat AC baru.

Bahkan melihat foto wisuda di dinding.

Lalu ia tersenyum.

“Rumah kalian lumayan juga ya, Celia. Anak cuma satu, jadi semua investasi ya?” katanya.

Ibu tersenyum paksa.

“Seadanya saja, Lourdes. Rumah kecil yang penting bersih.”

Ibu Lourdes meletakkan keranjang buah, tapi tetap memegang tas kulit cokelatnya.

Dante duduk di sebelahku dan menggenggam tanganku di bawah meja.

Awalnya aku pikir itu untuk menenangkanku.

Tapi tangannya dingin.

Dan genggamannya bukan lembut.

Seperti peringatan.

Ibu menyiapkan jus jeruk nipis untuk semua orang.

Ayah menawarkan makanan.

Ibu Lourdes mengambil satu helai bihun, mencicipi, lalu langsung meletakkan sendoknya.

“Nanti saja makannya. Yang lebih penting kita bicara dulu.”

Suasana langsung sunyi.

Ayah duduk lebih tegak.

Ibu tetap tersenyum.

“Ya tentu. Kita sudah pernah bahas, kan? Kami tidak menuntut pernikahan mewah. Yang penting anak-anak serius. Sederhana saja. Biaya dibagi dua keluarga.”

Ibu Lourdes mengernyit.

“Itu dulu.”

Ibu menatapnya.

“Maksudnya?”

Ibu Lourdes menatap perutku.

Tatapan itu tidak akan pernah aku lupa.

Seolah aku bukan perempuan.

Seolah aku bukan calon ibu.

Seolah aku barang yang nilainya turun karena “masalah”.

“Kondisinya sudah berbeda,” katanya. “Rina sudah hamil.”

Dante menunduk, pura-pura melihat jam tangannya.

Ayah meletakkan gelas.

“Bedanya apa?” tanya Ayah.

Ibu Lourdes membuka tasnya.

Dikeluarkan sebuah map tebal warna krem dengan penjepit emas.

Di halaman pertama tertulis:

Family Wedding Agreement

Dadaku langsung sesak.

Ia mendorong map itu ke tengah meja.

“Kami sudah mempertimbangkan ini. Dante anak tunggal. Dia bertanggung jawab atas Rina meskipun hamil di luar nikah. Itu hal besar. Jadi keluarga perempuan juga harus tahu diri.”

Tidak ada yang bicara.

Ia lanjut:

“Pertama, pernikahan diadakan di hotel di Jakarta Selatan. Sekitar 200 tamu. Keluarga perempuan menanggung 70% biaya.”

Ibu perlahan bertanya, “Kenapa kami yang 70%?”

Ibu Lourdes tersenyum.

“Karena kami menerima kondisi anak kalian.”

Satu kalimat.

Tapi seperti tamparan.

Ayahku mulai tegang.

“Lalu?” tanya Ayah Lourdes.

“Selain itu, perlu mobil untuk mereka. Rina hamil, Dante kerja jauh. Lebih praktis jika dibelikan Toyota Fortuner. Atas nama Dante.”

Aku hampir tertawa.

Dante menatapku.

“Rina, jangan reaksi dulu. Ini hanya soal praktis.”

“Praktis?” kataku. “Mobil yang dibeli orang tuaku, tapi atas namamu?”

Ia menghindari tatapanku.

“Ini untuk kita juga.”

Ibu Lourdes tidak peduli.

“Ketiga, Rina sebaiknya berhenti kerja setelah menikah. Istirahat di rumah kami. Tapi supaya tetap ada pemasukan, bisnis catering keluarga kalian bisa dialihkan ke Dante.”

Ayah tertawa kecil.

Tapi itu bukan tawa biasa.

Aku tahu itu tanda marah.

“Lourdes,” kata Ayah, “ini lamaran atau jual beli?”

Ibu Lourdes menggeleng.

“Jangan berlebihan. Saya hanya ingin masa depan mereka stabil.”

Ia lalu mengeluarkan pena emas dan meletakkannya di meja.

Dante mendorong pena itu ke arahku.

“Tanda tangan saja dulu, Rina.”

Dadaku jatuh.

Ini orang yang dulu melamarku di Eastwood.

Yang dulu bilang akan melindungiku.

Sekarang dia menyodorkan pena untuk dokumen yang bahkan belum kubaca.

Ibu mengambil map itu dan membukanya satu per satu.

Biaya pernikahan.

Mobil.

Pekerjaan.

Sampai akhirnya…

Ibu berhenti.

Wajahnya pucat.

Aku membaca halaman terakhir.

Di bagian kecil tertulis:

Jika keluarga perempuan tidak memenuhi kewajiban finansial sebelum Rina melahirkan, maka hak asuh anak akan diprioritaskan kepada keluarga pihak ayah agar anak tumbuh dalam keluarga yang lengkap.

Suasana membeku.

Aku menatap Dante.

Dia tidak kaget.

Tidak sama sekali.

Ia hanya menatapku seperti meminta aku diam.

“Rina,” katanya pelan, “tanda tangan saja. Jangan memalukan Mama.”

Aku memegang pena emas itu.

Lalu menatap ibuku.

Tangannya gemetar.

Bukan karena takut.

Tapi karena marah.

Ibu Lourdes mendorong pena itu lagi.

“Anak yang baik tahu prioritasnya.”

Aku mengambil pena itu.

Dante menghela napas lega.

Ibu Lourdes tersenyum.

Tapi aku tidak menandatangani.

Aku hanya memutar pena itu di tangan, lalu berkata pelan:

“Kalau ini tradisi keluarga kalian, berani tidak Anda baca bagian terakhir itu keras-keras di depan seluruh keluarga besar kalian?”

Senyumnya hilang.

Dan pada saat itu, ponsel Ayah berbunyi.

Di layar muncul notifikasi:

Recording saved.

Ibu Lourdes masih belum sempat bereaksi ketika suara notifikasi itu menggantung di udara seperti pisau yang belum jatuh.

Ruangan langsung sunyi.

Dante menatap ponsel itu, lalu menatap Ayah. Wajahnya berubah sedikit—bukan takut, tapi panik yang dipaksa disembunyikan.

“Apa maksudnya itu?” suara Ibu Lourdes meninggi, tapi nadanya tidak lagi seangkuh tadi.

Ibu tidak menjawab. Ia hanya menutup map krem itu perlahan.

“Celia…” Dante akhirnya bicara, suaranya lebih rendah dari sebelumnya. “Kamu… kamu rekam?”

Aku tidak langsung menjawab. Aku meletakkan pena emas itu di atas meja, tepat di samping map yang sekarang terasa lebih berat daripada sebelumnya.

“Dari awal kalian datang,” kataku pelan. “Aku cuma memastikan satu hal: apakah ini lamaran… atau ancaman yang dikemas rapi.”

Ayah berdiri.

Tidak tinggi suaranya. Justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.

“Lourdes,” katanya, “jadi ini maksudnya? 70% biaya, mobil atas nama anakmu, hak asuh anak kalau kami tidak bayar?”

Ibu Lourdes langsung berdiri juga.

“Itu hanya klausul standar untuk perlindungan keluarga! Jangan dibesar-besarkan!”

“Perlindungan?” Ibu tertawa kecil, tapi kali ini dingin. “Kau menyebut ini perlindungan?”

Aku mengambil ponselku. Satu sentuhan, file rekaman itu sudah terkirim ke dua kontak: pengacara keluarga kami dan kakakku di Surabaya.

Dante melihat itu.

“Rina, hapus itu.” suaranya berubah. “Kita masih bisa bicarakan baik-baik.”

Aku menatapnya lama.

“Baik-baik?” ulangku.

Aku menunjuk map di meja.

“Yang ini kamu sebut baik-baik?”

Dante membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar.

Untuk pertama kalinya, dia tidak punya kalimat siap pakai.

Ibu Lourdes mencoba tersenyum lagi, tapi gagal.

“Rina, jangan emosional. Kamu sedang hamil. Kita semua bisa atur ulang ini.”

Aku menggeleng.

“Bukan aku yang emosional, Bu. Aku yang sadar.”

Aku berdiri dari kursi.

Pelan, tapi cukup membuat semua orang menahan napas.

“Dulu aku pikir aku masuk ke keluarga. Ternyata aku sedang dinilai seperti aset.”

Aku mengambil map krem itu, lalu meletakkannya kembali di depan Ibu Lourdes.

“Tolong simpan ini. Mungkin bisa dipakai untuk transaksi lain.”

Wajahnya langsung memerah.

“Berani sekali kamu—”

“Berani?” aku memotong. “Yang berani itu kalian. Datang ke rumah orang, bawa harga, bawa syarat, bahkan bawa ancaman atas anak yang belum lahir.”

Ayah Dante akhirnya berdiri di belakangnya, tapi kali ini bukan untuk mendukung—melainkan untuk menjauh.

Dante mencoba mendekat ke arahku.

“Rina, aku bisa jelaskan…”

Aku mundur satu langkah.

“Jangan.”

Satu kata itu cukup.

Karena untuk pertama kalinya, dia berhenti.

Aku memegang perutku sebentar, menarik napas dalam.

Lalu berkata dengan tenang:

“Anak ini tidak akan tumbuh di rumah yang menganggap ibunya bisa dibeli.”

Sunyi.

Hanya suara kipas angin yang terdengar.

Aku mengambil tas kecilku.

Sebelum melangkah pergi, aku menatap Dante untuk terakhir kalinya.

“Kalau kamu masih ingin jadi ayahnya,” kataku, “belajarlah dulu jadi manusia.”

Lalu aku berjalan keluar.

Tanpa menoleh.

Di belakangku, aku mendengar suara kursi bergeser, suara panik, suara Ibu Lourdes yang mulai meninggi, dan suara Dante yang akhirnya memanggil namaku—lebih pelan dari sebelumnya.

Tapi aku tidak berhenti.

Karena untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai,

aku tidak lagi takut kehilangan mereka.

Aku justru takut kalau dulu aku hampir menerima semuanya.