Dia melakukan itu hanya agar slotku bisa diberikan kepada seorang siswi miskin.
“Dia lebih kasihan daripada kamu, dan dia jauh lebih membutuhkan kesempatan ini.”
Itulah kata-kata yang pernah dia ucapkan.
Impian hidupku hancur. Kondisi kesehatanku terus memburuk. Dan pada akhirnya, aku meninggal pada usia dua puluh delapan tahun di tengah musim dingin yang membekukan.
Sebelum meninggal, aku mengirimkan sebuah pesan kepadanya:
“Botol air itu… apakah kamu tahu?”
Dia tidak pernah membalas.
Ketika aku membuka mata lagi, aku kembali ke fajar sehari sebelum pemeriksaan kesehatan.
Botol air itu masih berada di dalam kulkas.
Segelnya masih utuh.
Belum pernah dibuka.
Aku membuang seluruh isinya, menggantinya dengan air biasa, menutupnya rapat-rapat, lalu meletakkannya kembali di tempat semula.
Tak lama kemudian, aku mendengar suaranya dari luar pintu.
“Nadia, sudah bawa air minummu? Jangan lupa diminum, ya.”
Aku membuka pintu dan tersenyum padanya.
“Sudah kubawa. Nanti aku minum.”
Bagian 1
Arga berdiri di depan pintu.
Suaranya masih selembut yang kuingat dari kehidupan sebelumnya. Bahkan nada dan cara bicaranya sama persis.
“Kalau begitu, kita berangkat ke AKMIL bersama.”
Sepanjang koridor, hanya suara langkah kaki kami yang terdengar.
Dia berjalan setengah langkah di depanku lalu menoleh.
“Nadia, kalau nanti kita lolos masuk akademi, kita bisa latihan bersama lagi.”
Kalimat yang sama.
Persis seperti yang pernah dia ucapkan dulu.
Setelah itu, saat aku terbaring sendirian di kamar kontrakan kecil menunggu kematian, justru dia dan Sinta yang berlari bersama di lapangan akademi.
Aku menundukkan pandangan.
“Iya.”
Di bawah gedung, mobil hitam milik ayahnya sudah terparkir.
Sinta sudah duduk di kursi belakang.
Seragam sekolahnya tampak pudar karena terlalu sering dicuci.
Dia menunduk sambil membolak-balik formulir pemeriksaan kesehatan. Beberapa helai rambut jatuh menutupi separuh wajahnya.
Saat melihatku, dia mengangkat kepala dan tersenyum malu-malu.
“Kak Nadia, Om Budi bilang rumah kita searah, jadi aku sekalian ikut.”
Aku tidak menanggapinya.
Aku membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang depan.
Arga menyalakan mesin mobil dan kembali mengingatkanku.
“Nadia, mana air minummu? Kalau terlalu lama belum makan kamu bisa pusing. Jangan lupa diminum.”
Terdengar helaan napas pelan dari kursi belakang.
Jari-jari Sinta yang memegang formulir tampak gemetar hingga kertasnya kusut.
Arga langsung meliriknya lewat kaca spion.
“Ada apa? Gugup?”
“Iya… aku kurang tidur semalam.”
Suaranya pelan dan lembut, seolah-olah dia telah mengalami penderitaan yang luar biasa.
“Jangan gugup. Nilaimu sangat bagus. Pasti tidak akan ada masalah.”
Nada suara Arga rendah dan sabar, seperti sedang menenangkan seorang anak kecil.
Aku bersandar di kursi dan diam-diam memandangi jalanan kota yang melintas cepat di luar jendela.
Di depan gerbang pusat pemeriksaan kesehatan, antrean sudah sangat panjang.
Setelah memarkir mobil, Arga mengambil sebotol air mineral dari dashboard dan memberikannya kepada Sinta.
“Aku juga membawakan air untukmu. Minumlah supaya lebih nyaman saat menunggu.”
Sinta menerimanya dengan kedua tangan, mengucapkan terima kasih pelan, lalu mengikuti kami dari belakang.
Ruang tunggu dipenuhi aroma disinfektan.
Aku duduk di samping Sinta.
Sepanjang waktu, dia terus memainkan botol air di tangannya.
Membuka tutupnya.
Menutupnya lagi.
Setidaknya lebih dari sepuluh kali.
“Nadia, minum dulu airmu.”
Arga melirik jam tangannya.
Ini sudah ketiga kalinya dia mengingatkanku.
“Nanti saja.”
“Baiklah. Jangan lupa.”
Namaku dipanggil melalui pengeras suara.
Aku berdiri.
Botol air di dalam tasku tetap berada di kantong samping.
Tutupnya masih rapat.
Tidak berkurang setetes pun.
Di ruang tes buta warna, seorang pemeriksa yang berwajah serius menunjuk kursi di depannya.
“Perhatikan baik-baik gambar ini dan sebutkan angkanya.”
Kartu pertama dibuka.
Di kehidupan sebelumnya, kartu inilah yang pertama kali kulihat.
Saat itu, semuanya tampak kabur.
Aku tidak bisa melihat apa pun dengan jelas.
“29.”
Aku menjawab tanpa ragu.
Kartu kedua.
Ketiga.
Keempat.
Hingga kartu tersulit yang dipenuhi titik-titik merah dan biru.
“Kupu-kupu. Dan di sudut kanan bawah ada angka 12.”
Pemeriksa membetulkan kacamatanya.
Dia bahkan mengeluarkan dua kartu tambahan yang jauh lebih sulit.
Aku menjawab semuanya dengan mudah.
“Penglihatan warna normal. Lulus seluruh kategori pemeriksaan.”
Aku keluar dari ruang ujian.
Arga dan Sinta langsung berdiri bersamaan.
“Nadia, bagaimana hasilnya?”
Arga menyambutku dengan senyum.
“Aku lulus. Tidak ada masalah pada tes warna.”
Senyumnya membeku.
Hanya sesaat.
Lalu kembali normal.
“Bagus. Aku sudah bilang kamu pasti bisa.”
Sinta berdiri terpaku.
Botol air di tangannya hampir terjatuh.
“Kak Nadia hebat sekali.”
Dia memaksa tersenyum.
Namun ekspresi kaku di wajahnya tidak bisa disembunyikan.
Arga mengulurkan tangan seolah ingin mengacak rambutku.
Aku langsung menghindar.
Tangannya membeku di udara.
“Nadia?”
“Aku sedikit lelah. Aku ingin pulang.”
Dalam perjalanan pulang, Sinta sama sekali tidak berbicara.
Beberapa kali Arga melihatnya melalui kaca spion.
Aku memejamkan mata dan bersandar di kursi.
Angin dingin masuk melalui jendela mobil.
Di kehidupan sebelumnya, saat Arga mengantar Sinta kembali ke sekolah, mereka juga melewati jalan ini.
Aku berdiri sendirian di tepi jalan.
Mobil mereka melintas di depanku.
Tanpa berhenti sedikit pun.
Malam harinya, ponselku menyala.
Sebuah pesan dari Arga.
“Nadia, besok kamu ada waktu? Aku ingin menjenguk Sinta. Sepertinya hasil pemeriksaan hari ini membuatnya sedih.”
Aku tidak membalas.
Aku menutup ruang obrolan dan meletakkan ponsel di atas meja.
Keesokan siangnya, teleponku berdering.
Panggilan itu berasal dari pusat pemeriksaan kesehatan.
“Saudari Nadia, ada seseorang yang menggunakan identitas asli untuk melaporkan dan mempertanyakan hasil tes buta warna Anda kemarin.”
Suara di seberang terdengar formal dan mekanis.
Namun setiap katanya terasa seperti palu yang menghantam telingaku.
“Kami meminta Anda datang besok pagi untuk menjalani pemeriksaan ulang.”
Tanganku mengepal kuat di sekitar ponsel.
Sendi-sendiku memutih karena terlalu erat menggenggam.
Orang yang melaporkanku…
Tidak lain adalah Arga.
Bagian 2
Keesokan paginya, saat aku turun dari apartemen, mobil Arga sudah terparkir di bawah.
Jendela kursi belakang terbuka.
Sinta duduk di sana.
Matanya bengkak karena menangis.
Di tangannya ada tisu kusut.
Arga menjulurkan kepala dari kursi pengemudi.
“Nadia, aku dengar ada yang melaporkanmu. Apa kamu tidur nyenyak semalam?”
Aku membuka pintu mobil dan duduk di sampingnya.
“Lumayan.”
Sinta terisak dari belakang.
Suaranya serak.
“Kak Nadia, jangan gugup. Pemeriksaan ulang pasti akan berjalan lancar.”
Aku memasang sabuk pengaman tanpa menoleh.
“Iya.”
Mobil melaju melewati dua persimpangan.
Beberapa kali Arga melirikku.
Seolah ada sesuatu yang ingin dia katakan tetapi tidak berani.
Jarinya mengetuk-ngetuk setir.
Napasnya terdengar lebih berat dari biasanya.
Sementara itu, Sinta menunduk di kursi belakang sambil memegang tisu.
Bahu gadis itu bergetar karena tangisan.
Arga meliriknya melalui kaca spion lalu menelan ludah dengan susah payah.
Pikirannya kembali pada kejadian semalam.
Sinta menangis di depannya.
Menceritakan betapa pentingnya pemeriksaan kesehatan itu.
Ayahnya sakit-sakitan.
Ibunya bekerja sebagai tukang laundry.
Dan kesempatan ini adalah satu-satunya jalan untuk mengubah nasib keluarganya.
Setelah selesai berbicara, dia menggigit bibir, menyeka air mata, dan berkali-kali mengatakan bahwa dia tidak berniat jahat.
Dia hanya takut kehilangan kesempatan itu.
Saat itu Arga terdiam lama.
Seolah seluruh tubuhnya membeku.
Akhirnya dia mengangguk.
Setelah Sinta pergi, dia duduk lama di depan komputer.
Lalu membuka halaman pengaduan.
Dan mengetik namaku satu huruf demi satu huruf.
Arga tersadar dari lamunannya.
Dia mengambil sebotol air mineral dari samping pintu mobil dan menyodorkannya kepadaku.
Botol itu sama persis dengan yang dia berikan kemarin.
Merek yang sama.
Kemasan yang sama.
“Nadia, minumlah dulu. Pemeriksaan ulang juga mengharuskan perut kosong. Air ini akan membuatmu lebih nyaman.”
Aku menatap botol itu.
Di kehidupan sebelumnya, dia juga memberikannya kepadaku seperti ini.
Dengan suara lembut.
Dengan tatapan penuh perhatian.
Dan aku meminum habis seluruh isinya.
Setelah itu aku gagal dalam pemeriksaan kesehatan.
Gagal masuk AKMIL.
Tubuhku semakin lemah.
Sampai akhirnya meninggal sendirian di kamar kontrakan kecil.
Aku mengangkat pandangan.
Menatap tepat ke matanya.
“Arga.”
Bahu pria itu sedikit bergetar.
“Kamu benar-benar ingin aku meminumnya?”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
Dalam sekejap, seluruh mobil menjadi sunyi.
Bahkan isak tangis Sinta ikut berhenti.
Arga menggenggam botol itu semakin erat hingga plastiknya berderit pelan.
Dia membuka mulut.
Tatapannya sempat goyah.
Lalu melihat ke arah kaca spion.
Di sana, Sinta menatapnya dengan mata merah penuh air mata.
Tatapan yang berisi permohonan.
Permohonan yang tak terucapkan.
Sesaat kemudian, dia kembali menyodorkan botol itu ke arahku.
“Minumlah, Nadia. Aku tidak akan mencelakaimu.”
Saat itu aku merasakan sesuatu benar-benar hancur di dalam hatiku.
Bukan rasa sakit.
Melainkan putusnya sebuah ikatan untuk selamanya.
Seperti tali yang telah menegang sepanjang hidupku.
Dan akhirnya terputus saat ini.
Menyisakan keheningan yang dingin.
Aku menerima botol itu.
Membuka tutupnya.
Mengangkat kepala.
Lalu membiarkan mulut botol berada tepat di atas bibirku.
Pergelangan tanganku sedikit kumiringkan.
Air mengalir melewati daguku menuju kerah jaketku.
Kain jaket langsung menyerap semuanya.
Dari luar, tidak ada yang terlihat.
Air itu sangat dingin.
Saat mengalir di leherku, rasa dinginnya menusuk hingga ke dada.
Persis seperti suhu saat aku dimakamkan dulu.
Aku menurunkan botol itu dan menyeka bibir dengan punggung tangan.
“Aku sudah meminumnya.”
Mulai hari ini…
Kita akan menempuh jalan masing-masing.
Bahu Arga tampak mengendur.
Namun beberapa detik kemudian kembali menegang.
Di kursi belakang, Sinta menurunkan tisu dari wajahnya.
Tatapannya jatuh pada botol yang kupegang.
Kami akhirnya tiba di pusat pemeriksaan kesehatan.
Kali ini aku dibawa ke sebuah ruangan khusus.
Tiga orang penguji duduk berjajar.
Di hadapan mereka terletak satu set lengkap kartu pemeriksaan warna.
“Saudari Nadia, silakan duduk. Prosedur pemeriksaan ulang sama seperti kemarin. Lihat kartu ini dan bacakan angka yang Anda lihat.”

“Student Nene, maupo ka. Ang proseso ng re-examination ay kapareho lang ng kahapon, tingnan ang card at basahin ang numero.”
Umupo ako nang tahimik.
Isa-isang inilatag ng examiner ang mga card.
“29.”
“Tatlo.”
“Labing-anim.”
“Paru-paro.”
“Labindalawa.”
Walang kahit isang saglit ng pag-aalinlangan.
Nagpalitan ng tingin ang tatlong examiner.
Pagkatapos ng mahigit sampung minutong pagsusuri, ibinaba ng pinakamatandang examiner ang kanyang panulat.
“Resulta: normal color vision.”
Tumango siya.
“At dahil may reklamo laban sa iyo, nagsagawa rin kami ng karagdagang pagsusuri gamit ang instrument-based test.”
Inilapag niya ang isa pang papel sa mesa.
“Pareho ang resulta.”
Tumigil siya sandali bago idinagdag:
“Walang anumang senyales ng color blindness.”
Para akong nakahinga matapos ang napakahabang panahon.
Ngunit hindi pa tapos.
Muli akong tinawag ng examiner.
“May isa pa kaming gustong malaman.”
Ipinakita niya ang laboratory report.
“Nakita namin na may bakas ng isang kemikal sa bote ng tubig na isinumite mo bilang ebidensya.”
Napatigil ako.
Sa pagkakataong ito, ako naman ang tumingin sa kanya.
“Ibig sabihin?”
“Ibig sabihin, may taong nagtangkang manipulahin ang iyong visual perception sa pamamagitan ng iniinom na likido.”
Naging malamig ang buong silid.
“Kami na ang bahala sa natitirang imbestigasyon.”
Pagsapit ng hapon, ipinatawag sina Ethan at Sunshine.
Sa unang oras, matigas pa silang dalawa.
Sa ikalawang oras, nagsimula nang magkabuhol-buhol ang mga sagot nila.
Sa ikatlong oras, tuluyan nang bumigay si Sunshine.
Habang umiiyak, inamin niya ang lahat.
Inamin niyang siya ang unang nagsabi kay Ethan na kung hindi makakapasa si Nene, mas lalaki ang tsansa niyang makapasok.
Inamin niyang siya ang nagbigay ng gamot.
At inamin niyang alam niyang ilalagay iyon sa bote ng tubig.
Tahimik na nakaupo si Ethan sa kabilang upuan.
Maputla ang kanyang mukha.
Hindi niya magawang tumingin sa akin.
Hindi niya rin magawang tumingin kay Sunshine.
Sa wakas ay nagsalita siya.
“Akala ko… hindi naman siya masasaktan nang ganoon.”
Napangiti ako.
Hindi sa tuwa.
Kundi sa lungkot.
Sa dalawang buhay ko, iyon pa rin ang sagot niya.
Hindi “patawad.”
Hindi “nagkamali ako.”
Kundi:
“Akala ko.”
Pagkaraan ng isang buwan, inilabas ang opisyal na resulta.
Tinanggap ako sa Akademi Militer Nasional Indonesia.
Habang nakatayo ako sa harap ng malaking tarangkahan ng akademya, suot ang bago kong uniporme, bigla kong naalala ang sarili ko sa nakaraang buhay.
Ang babaeng nakahiga sa malamig na kama.
Ang babaeng unti-unting nawawalan ng lakas.
Ang babaeng naghintay ng isang sagot na hindi kailanman dumating.
Dahan-dahan kong inilabas ang lumang cellphone.
Naroon pa rin ang huling mensaheng ipinadala ko noon.
“Tentang botol air itu… apakah kau tahu?”
Ngayon alam ko na ang sagot.
Matagal na niya iyong alam.
Pinili lamang niyang manahimik.
Ngunit hindi na iyon mahalaga.
Pinindot ko ang delete.
Kasama ng mensahe, tuluyan ko ring binura ang nakaraan.
Sa likod ko ay bumukas ang pintuan ng akademya.
Sa harap ko ay isang bagong buhay.
At sa unang pagkakataon sa loob ng dalawang buhay ko, hindi ako lumingon pabalik.
Diretso akong naglakad pasulong.
Habang sumasayaw ang pulang-puting bandila ng Indonesia sa hangin, alam kong may mga bagay na hindi na mababawi.
Ngunit mayroon ding mga bagay na karapat-dapat ipaglaban.
At sa pagkakataong ito—
ang kinabukasan ko ay hindi na pag-aari ng iba.
Ako na mismo ang may hawak nito.