Di kehidupan sebelumnya, tiba-tiba rekening bankku menerima transfer sebesar ₱400.000—yang dalam hidupku sekarang setara dengan sekitar Rp100.000.000.

Di kehidupan sebelumnya, tiba-tiba rekening bankku menerima transfer sebesar ₱400.000—yang dalam hidupku sekarang setara dengan sekitar Rp100.000.000.

Suamiku, Paolo Sanjaya, bilang itu bonus dari proyek konstruksinya. Katanya itu kejutan untukku.

“Sudah, belanja saja sampai puas,” katanya sambil tertawa lembut. “Anggap hadiah dariku.”

Tanpa curiga, aku langsung pergi ke Plaza Indonesia untuk membeli tas desainer yang sudah lama kuimpikan.

Namun beberapa hari setelah tas itu kubeli, tubuhku mulai melemah. Aku jatuh sakit parah. Bahkan bayi yang ada di kandunganku tidak bisa diselamatkan.

Tak lama kemudian… aku juga meninggal.

Di saat aku sekarat, sahabat masa kecil Paolo—yang selama ini menderita penyakit kritis—tiba-tiba sembuh secara ajaib. Lebih menyakitkan lagi… ia hamil.

Baru setelah aku mati, aku tahu kebenarannya.

Uang ₱400.000 itu adalah uang penukar nyawa.

Paolo menggunakannya untuk melakukan ritual “pinjam hidup” — menukar hidupku agar umur wanita itu bisa diperpanjang.

Ketika aku membuka mata lagi…

Aku kembali ke waktu sehari sebelum uang itu masuk ke rekeningku.

Kalian ingin meminjam hidupku?

Baik. Kali ini aku yang akan menentukan siapa yang membayarnya.


2

Hal pertama yang kulakukan setelah bangun adalah pergi ke bank.

Semua kartu atas namaku kututup.

Mobile banking, e-wallet, semua fitur penerimaan dana kumatikan.

Kalau Paolo ingin mentransfer uang itu untuk menyelesaikan ritualnya, dia tidak akan bisa.

Saat makan malam, ia bertanya dengan nada santai:

“Lana, kenapa aku nggak bisa transfer uang ke rekeningmu?”

Jantungku berdegup kencang, tapi wajahku tetap tenang.

“Belakangan ini banyak telepon penipuan. Aku takut dataku dipakai pinjaman online. Jadi aku tutup dulu semua rekening.”

“Oh begitu… padahal aku baru dapat pencairan dana proyek. Mau transfer buat kamu.”

Aku tersenyum tipis.
“Simpan saja dulu. Itu uangmu.”

Tidur di samping pria yang ingin membunuhku…

Aku harus berpura-pura tidak tahu apa-apa.


3

Malam berikutnya, ia menyeretku ke meja makan dengan senyum misterius.

Di atas meja ada tumpukan uang tunai.

Tepat Rp100.000.000.

Karena transfer gagal, dia menarik semuanya dalam bentuk cash.

“Surprise!” katanya. “Kalau nggak bisa transfer, ya aku kasih langsung.”

Uang itu tersusun rapi. Warnanya merah menyala seperti darah.

“Bukannya kamu mau tas? Ayo kita beli sekarang.”

Amarah membakar dadaku.

Kupikir kalau rekeningku ditutup, dia akan menyerah.

Ternyata tidak.

Dia memang berniat mengambil hidupku.


4

Aku membalikkan tasku dan menumpahkan semua uang itu ke lantai.

“Aku tidak mau uangmu!”

Paolo tiba-tiba marah besar.

“Aku sudah kasih ke kamu! Kamu harus terima!”

Di matanya kulihat kegilaan.

Namun aku menarik napas panjang.

“Baiklah,” kataku pelan. “Kalau ini benar-benar untukku… jangan menyesal nanti.”

Wajahnya melunak.
“Terserah kamu mau pakai untuk apa.”

Itu yang kutunggu.

Aku mengambil uang itu, memasukkannya ke tas besar, lalu pergi sendirian.

Bukan ke mal.

Melainkan ke dealer mobil.

Aku membeli sebuah mobil dengan harga tepat Rp100.000.000 termasuk pajak dan registrasi.

Dan nama pemilik di STNK?

Paolo Sanjaya.

Dalam ritual “pinjam hidup”, korban harus menerima dan memiliki harta yang dibeli dari uang tersebut agar takdirnya bisa dipindahkan.

Di kehidupan sebelumnya, aku membeli tas untuk diriku sendiri—dan mulai melemah.

Kali ini, aku menerima uangnya.

Lalu kupindahkan kepemilikannya kepadanya.

Kalau hukum gaib itu adil…

Kutukan itu akan kembali ke sumbernya.


5

Aku memarkir mobil itu di depan apartemen.

Kutelepon dia.

“Sayang, turun sebentar. Ada kejutan.”

Saat melihat mobil itu, matanya berbinar.

“Serius? Ini buatku?”

“Ya.”

Ia mengelus bodinya dengan penuh suka.

Aku mendekat dan berbisik di telinganya:

“Atas namamu.”

Senyumnya membeku.

Dalam hitungan detik, ia menamparku keras.

“Siapa suruh kamu pakai namaku?! Kamu mau bunuh aku?!”

Jadi benar.

Aku tertawa kecil meski pipiku perih.

“Kenapa marah? Bukannya kamu senang?”

Ia panik, mencengkeram lenganku.

“Kita ke Samsat sekarang! Ganti nama mobil ini!”

Aku menatapnya lurus.

“Kenapa tidak boleh atas namamu, Paolo? Tadi kamu bilang uang itu sudah jadi milikku.”

Wajahnya pucat seperti mayat.

Dan untuk pertama kalinya…

Aku melihat ketakutan yang sama seperti yang kurasakan saat tubuhku melemah di kehidupan sebelumnya.

Kali ini, bukan aku yang menjadi korban.

Kali ini, permainan sudah kubalikkan.

Dan siapa pun yang mencoba meminjam hidupku…

Akan belajar bahwa setiap hutang nyawa
selalu menagih pemilik aslinya.

Aku masih bisa merasakan panas tamparannya di pipiku.

Tapi kali ini… aku tidak takut.

Paolo menarikku masuk ke dalam mobil dengan tangan gemetar. Bukan gemetar karena marah—melainkan karena panik.

“Kita ke Samsat sekarang! Harus diganti namanya!” teriaknya.

Aku menatapnya tenang.
“Kenapa begitu takut? Bukankah tadi kamu bilang ini hadiah untukku?”

Belum sempat mobil menyala, ponselnya berdering.

Nama yang muncul di layar: Mira.

Aku lebih cepat darinya. Kutekan tombol speaker.

Suara lemah terdengar dari seberang.

“Paolo… kenapa dadaku sakit lagi? Bukannya ritualnya sudah selesai? Kamu sudah kasih uangnya ke dia, kan?”

Sunyi.

Wajah Paolo berubah pucat seperti mayat.

“Matikan!” bentaknya.

Tapi sudah terlambat.

Aku tertawa kecil.

“Jadi benar ya… hidupku memang mau kalian tukar.”

Paolo memegangi dadanya tiba-tiba.

Napasnya terengah.

“Kok… kok pusing…”

Tangannya gemetar hebat. Keringat dingin mengucur di pelipisnya.

Persis seperti gejalaku dulu.

Teleponnya kembali berdering. Kali ini dari rumah sakit.

Aku yang menjawab.

“Pasien atas nama Mira mengalami gagal organ mendadak! Kondisinya kritis!”

Aku menutup telepon perlahan.

Ritual itu bukan sekadar soal memberi uang.

Korban harus menerima dan memiliki hasil dari uang tersebut.

Di kehidupanku sebelumnya, aku menerima uang itu dan membeli tas untuk diriku sendiri.

Kali ini…

Aku menerima uangnya.

Lalu kupindahkan kepemilikannya.

Dan takdir pun ikut berpindah.

Paolo terjatuh setengah sadar di kursi pengemudi.

“Kamu… kamu sengaja…” bisiknya lemah.

Aku menatapnya tanpa emosi.

“Kamu yang memulai.”

Ambulans datang malam itu.

Mira meninggal lebih dulu.

Paolo bertahan dua hari… lalu menyusul.

Dokter menyebutnya gagal organ misterius.

Tak ada yang tahu tentang ritual.
Tak ada yang tahu tentang tukar nyawa.

Aku berdiri di pemakaman dengan gaun hitam sederhana.

Bukan karena aku berduka.

Tapi karena akhirnya aku bebas.

Beberapa minggu kemudian, aku mengajukan perceraian resmi secara hukum terhadap almarhum—membersihkan semua ikatan finansial dan legal.

Aku menjual mobil itu.

Uangnya kupakai untuk membuka usaha kecil atas namaku sendiri.

Dan untuk pertama kalinya sejak dua kehidupan…

Aku bisa tidur tanpa rasa takut.

Aku berdiri di balkon apartemen, menatap matahari terbit.

Di kehidupan sebelumnya, aku mati tanpa sempat melawan.

Di kehidupan ini, aku belajar satu hal:

Hidup bukan untuk dipinjamkan.

Dan siapa pun yang mencoba menukarnya dengan darah orang lain…

Akan membayar dengan miliknya sendiri.

Karena takdir mungkin bisa dipelintir—

Tapi keadilan…
selalu menemukan jalannya kembali.