DI TAHUN KETIGA PERNIKAHAN BISNIS KAMI, AKU TAK SENGAJA DIMASUKKAN KE DALAM SEBUAH GRUP CHAT PARA SOCIALITE.

【Ada yang tahu di hotel mana Alex Wijaya, pewaris keluarga terkaya di Jakarta, menginap saat berada di Surabaya? Hadiahnya besar! Penting banget!!!】

Barulah aku sadar bahwa grup ini adalah tempat berkumpulnya para wanita yang bermimpi masuk ke kalangan elite Indonesia.

Dan target mereka hanya satu:

Alexander “Alex” Wijaya.

Pewaris tunggal konglomerat terbesar di Indonesia.

Aku menopang dagu dengan tangan dan mengirim pesan kepadanya:

【Hubby, kamu lagi menginap di hotel mana di Surabaya?】

Balasannya datang kurang dari satu menit.

【The Westin Surabaya.】

Aku langsung meneruskan nama hotel itu ke grup.

Detik berikutnya, aku menerima transfer sebesar Rp10.000.000.

Sudah tiga tahun aku dan Alex menjalani pernikahan bisnis.

Namun jumlah kalimat yang pernah kami ucapkan satu sama lain bahkan tidak sampai sepuluh.

Kalimat pertama diucapkannya pada malam pernikahan kami.

Sambil mengangkat gelas wine, ia berkata dengan dingin:

“Kita sama-sama mendapatkan apa yang kita butuhkan dari pernikahan ini. Jangan mencampuri kehidupan masing-masing.”

Aku langsung menjawab:

“Baik, Hubby.”

Selama tiga tahun berikutnya, aku mematuhi aturan itu.

Alex hampir selalu berada di luar negeri atau melakukan perjalanan bisnis ke berbagai kota.

Rumah mewah kami di Jakarta Selatan lebih sering kosong daripada dihuni.

Karena itu, saat aku masuk ke grup chat tersebut, reaksi pertamaku bukan marah.

Melainkan penasaran.

Nama grup itu adalah:

“Jakarta Elite Girls”

Anggotanya lebih dari dua ratus orang.

Foto profil mereka dipenuhi selfie mewah yang diedit sempurna.

Sampul akun mereka berisi foto yoga di Bali, liburan di Nusa Dua, atau menikmati sunset di resort bintang lima di Labuan Bajo.

Begitu masuk, admin grup bernama Vivian langsung mengirim pengumuman:

【Siapa yang tahu hotel tempat Alex Wijaya menginap di Surabaya? Bayaran besar!】

Aku menggunakan akun anonim yang sudah lama kumiliki.

Foto profilnya hanyalah selfie buram saat kuliah.

Tidak ada yang mengenaliku.

Aku bahkan tidak tahu siapa yang memasukkanku ke grup itu.

Tapi satu hal langsung muncul di pikiranku.

Ini peluang bisnis.

Alamat hotel suamiku?

Aku hanya perlu bertanya langsung kepadanya.

Setelah mendapat jawaban, aku menulis di grup:

【Aku tahu.】

Grup langsung heboh.

Beberapa detik kemudian, Vivian mengirim permintaan pertemanan.

Aku menerimanya.

【Vivian: Serius? Jangan main-main ya! Kalau bohong, aku keluarkan kamu dari grup!】

【PatahkanTulang: Serius. The Westin Surabaya.】

Vivian tidak langsung menjawab.

Aku menambahkan satu kalimat lagi.

【Kalau informasinya palsu, aku kembalikan uangmu sepuluh kali lipat.】

Tanpa ragu, Vivian langsung mentransfer Rp10.000.000.

Lalu menulis:

【Aku percaya padamu.】

Aku menerima transfer itu sambil tersenyum.

Rasanya bisnis ini punya masa depan yang cerah.

Keesokan harinya, Vivian mengirim pesan ke grup:

【Girls! Informasinya benar! Semalam Alex Wijaya memang ada di The Westin Surabaya! @PatahkanTulang benar-benar terpercaya!】

Grup langsung meledak.

【Ya ampun! Hebat banget!】

【Kalau ada info baru, kabari aku duluan ya! Aku bayar mahal!】

【Kamu orang dalam keluarga Wijaya ya? Kok tahu jadwal pribadinya?】

Aku membaca semua pesan itu dan tersenyum perlahan.

Orang dalam?

Kurasa tidak ada yang lebih “orang dalam” daripada istrinya sendiri.

Tak lama kemudian, seseorang meminta Vivian menceritakan apa yang terjadi semalam.

Vivian langsung menjawab:

【Vivian: Girls, semalam aku sengaja duduk di meja sebelah Alex saat makan malam!】

【Vivian: Jam tangan Patek Philippe yang dia pakai harganya pasti lebih dari Rp2 miliar!】

Seluruh grup kembali ramai.

【Terus?】

【Apa yang terjadi setelah itu?!】

Vivian menjawab:

【Aku sengaja menumpahkan kopi ke jasnya supaya bisa membantunya membersihkan dan meminta nomor WhatsApp pribadinya.】

【Hasilnya? Dia cuma mengernyit, lalu pergi tanpa melihatku sama sekali.】

Seketika seluruh grup menghela napas kecewa.

Melihat suasana mulai muram, Vivian segera menyemangati semua orang.

【Vivian: Jangan menyerah, Girls! Sekarang kita punya sumber informasi rahasia!】

【Vivian: Menurut sumber terpercaya, Alex sama sekali tidak mencintai istrinya dalam pernikahan bisnis itu. Mereka juga kabarnya akan segera bercerai!】

【Kesempatan kita masih terbuka lebar!】

【Ayo semangat! Kita pasti bisa menaklukkan Alex Wijaya!】

Aku membaca pesan itu.

Lalu tanpa sadar tertawa kecil.

Karena “sumber terpercaya” yang mereka maksud…

Kemungkinan besar adalah aku sendiri.

Namun, yang tidak diketahui para anggota grup itu adalah…

Orang yang mereka sebut sebagai “sumber terpercaya” sebenarnya adalah aku sendiri.

Istri sah Alexander Wijaya.

Beberapa minggu kemudian, grup “Jakarta Elite Girls” menjadi semakin ramai.

Setiap hari ada saja yang bertanya tentang jadwal Alex.

Hotel tempat ia menginap.

Restoran tempat ia makan.

Acara bisnis yang akan ia hadiri.

Dan setiap kali aku memberikan informasi…

Uang terus mengalir ke rekeningku.

Rp10 juta.

Rp20 juta.

Kadang bahkan Rp50 juta sekali informasi.

Dalam waktu tiga bulan, aku sudah menghasilkan lebih dari Rp2 miliar hanya dari menjual informasi yang sebenarnya bisa kutanyakan langsung kepada suamiku.

Lucunya, Alex sama sekali tidak tahu.

Sampai suatu malam.

Saat aku sedang menikmati teh di ruang tamu, sebuah pesan muncul di grup.

【Vivian: Girls!!! Besok malam Alex akan menghadiri gala dinner di Hotel Mulia Jakarta! Ini kesempatan terbaik kita!】

Grup langsung meledak.

Semua sibuk mempersiapkan gaun, perhiasan, dan strategi untuk mendekatinya.

Aku hanya tersenyum.

Karena satu jam sebelumnya…

Alex sendiri yang memberitahuku jadwal itu.

Malam berikutnya.

Ballroom Hotel Mulia dipenuhi para pebisnis, investor, dan keluarga konglomerat.

Aku datang dengan gaun hitam sederhana.

Tanpa perhiasan mencolok.

Tanpa riasan berlebihan.

Sama seperti biasanya.

Sementara itu, para anggota grup datang bak ratu kecantikan.

Termasuk Vivian.

Ia mengenakan gaun senilai ratusan juta rupiah.

Matanya terus mengikuti ke mana pun Alex berjalan.

Namun Alex bahkan tidak meliriknya.

Tidak sekali pun.

Ketika acara hampir dimulai, CEO grup perusahaan Wijaya naik ke atas panggung.

“Selamat malam.”

“Kami juga ingin mengumumkan sesuatu yang istimewa.”

Ruangan langsung hening.

CEO itu tersenyum.

“Lima tahun lalu, Tuan Alexander Wijaya menikah dalam sebuah perjanjian bisnis.”

“Namun hari ini, beliau ingin mengumumkan sesuatu yang berbeda.”

Semua orang mulai berbisik.

Vivian terlihat bersemangat.

Mungkin ia mengira pengumuman perceraian akan segera terjadi.

Lalu Alex naik ke atas panggung.

Tinggi.

Tampan.

Dingin seperti biasanya.

Ia memegang mikrofon.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun…

Aku melihatnya gugup.

Kemudian ia berkata:

“Selama bertahun-tahun, banyak orang berpikir bahwa pernikahan kami hanyalah kontrak.”

“Itu memang benar pada awalnya.”

Ruangan semakin sunyi.

Tatapan semua orang tertuju kepadanya.

Alex menarik napas panjang.

Lalu tersenyum tipis.

“Namun saya baru menyadari sesuatu.”

“Saya tidak pernah pulang ke rumah karena menganggap rumah hanyalah tempat tinggal.”

“Sampai suatu hari saya sadar…”

“Rumah adalah tempat seseorang menunggu saya pulang.”

Mataku membelalak.

Karena aku tidak pernah mendengar nada bicara seperti itu darinya.

Kemudian Alex menoleh ke arahku.

Di depan ribuan tamu.

Di depan semua anggota grup yang ingin merebutnya.

Di depan para investor dan keluarga konglomerat.

Ia berjalan turun dari panggung.

Langsung menuju tempat dudukku.

Seluruh ballroom menahan napas.

Vivian bahkan terlihat pucat.

Lalu Alex berlutut.

Mengeluarkan sebuah kotak kecil.

Dan berkata:

“Dulu aku menikahimu karena bisnis.”

“Tapi hari ini…”

“Aku ingin memintamu menikah denganku karena cinta.”

Air mata langsung memenuhi mataku.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun…

Pria yang hampir tidak pernah berbicara denganku itu akhirnya mengungkapkan isi hatinya.

Seluruh ballroom meledak dalam tepuk tangan.

Sedangkan Vivian dan para anggota grup lainnya hanya bisa terpaku.

Karena pria yang selama ini mereka kejar mati-matian…

Ternyata sejak awal sudah menjadi milikku.

Dan lebih lucunya lagi…

Orang yang menjual informasi tentang dirinya kepada mereka selama berbulan-bulan…

Juga adalah aku.

Enam bulan kemudian.

Aku keluar dari grup “Jakarta Elite Girls”.

Bukan karena ketahuan.

Melainkan karena bosan.

Saldo rekeningku sudah bertambah miliaran rupiah.

Pernikahanku juga tidak berakhir dengan perceraian.

Justru sebaliknya.

Alex mulai pulang lebih awal.

Mulai makan malam bersamaku.

Mulai mengajakku bepergian.

Dan setiap kali aku menggodanya tentang grup itu, ia hanya menggeleng sambil tertawa.

“Aku mengelola perusahaan triliunan rupiah.”

“Tapi ternyata istriku yang paling pintar mencari uang.”

Aku tertawa.

Lalu menyandarkan kepala di bahunya.

Karena terkadang…

kisah cinta terbaik bukanlah tentang seseorang yang jatuh cinta pada pandangan pertama.

Melainkan dua orang asing yang menikah karena kepentingan…

lalu perlahan menemukan bahwa rumah yang mereka cari selama ini ternyata ada pada satu sama lain.