DI TENGAH GELAPNYA DINI HARI, AKU TERBANGUN DAN MENDENGAR SUAMIKU BERBICARA DENGAN SELINGKUHANNYA MELALUI TELEPON.

— Jangan khawatir. Besok dia akan masuk ke neraka. Vila seluas 7.500 meter persegi dan polis asuransi senilai Rp150 miliar itu akan menjadi milikmu…

Seluruh tubuhku mulai gemetar.

Namun dalam keheningan malam itu, aku melakukan satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan nyawaku.

Aku terbangun di tengah malam dengan perasaan gelisah yang tak bisa dijelaskan.

Di sampingku, Arga tidak ada.

Rumah begitu sunyi.

Terlalu sunyi untuk sebuah vila mewah seluas 7.500 meter persegi di kawasan elit Menteng, Jakarta Pusat, yang biasanya selalu dipenuhi suara langkah para asisten rumah tangga, petugas keamanan, atau kendaraan yang keluar masuk garasi.

Perlahan aku bangkit dari tempat tidur dan menginjak lantai marmer yang dingin.

Lalu aku mendengar suaranya.

Pelan.

Terkendali.

Berasal dari ruang kerjanya.

— Jangan khawatir, besok semuanya selesai. Aku pastikan dia tidak akan kembali. Rumah itu akan jadi milikmu… begitu juga uang asuransinya. Semua sudah direncanakan.

Darahku seakan membeku.

Diam-diam aku mendekat ke lorong dan bersandar di balik dinding.

Aku tidak perlu mendengar nama wanita di ujung telepon.

Aku tahu itu pasti Nadia.

Wanita yang selama ini diperkenalkan sebagai “rekan bisnis” dalam proyek-proyek properti mereka di Jakarta Selatan dan Surabaya.

— Tunggu saja sedikit lagi, — lanjut Arga. — Tidak akan ada yang curiga. Semua akan terlihat seperti kecelakaan sempurna.

Tanganku mulai bergetar.

Enam bulan lalu, Arga memaksaku menandatangani polis asuransi jiwa bernilai Rp150 miliar.

Katanya demi melindungi masa depan keluarga.

Malam itu akhirnya aku mengerti.

Aku mengerti sikap dinginnya.

Aku mengerti pertengkaran-pertengkaran yang sengaja dia ciptakan beberapa minggu terakhir.

Aku mengerti kenapa dia terus mendesakku melakukan perjalanan bersamanya ke vila pegunungan yang terpencil.

Kematianku bukan lagi kemungkinan.

Melainkan sebuah rencana.

Aku kembali ke kamar dengan hati-hati.

Namun aku tidak tidur lagi.

Pukul tiga dini hari, aku sudah berpakaian rapi dan duduk di tepi tempat tidur.

Rasa takut hanya bertahan beberapa menit.

Setelah itu muncul sesuatu yang jauh lebih kuat.

Keputusan.

Aku membuka laptop.

Mengunduh salinan polis asuransi.

Menyimpan dokumen perusahaan keluarga.

Merekam bagian akhir percakapan yang masih terdengar dari ruang kerja.

Kemudian aku mengirim email terjadwal kepada pengacaraku, Bapak Andika Prasetyo.

Pesannya singkat:

“Jika sesuatu terjadi padaku, buka semua lampiran ini.”

Sebelum matahari terbit, aku meninggalkan rumah tanpa membangunkan Arga.

Saat menutup pintu utama, aku menyadari satu hal.

Aku bukan lagi istri naif yang selama ini dia anggap mudah dibohongi.

Tetapi ketika cahaya pertama pagi mulai menyinari gedung-gedung Jakarta…

Teleponku bergetar.

Pesan dari Arga.

— Sayang, nanti siang kita harus bicara.

Saat membaca pesan itu, jantungku kembali berdegup keras.

Karena aku langsung tahu.

Bahaya yang sebenarnya…

Baru saja dimulai.

BAGIAN 2… di kolom komentar 👇👇

Pesan dari Rafael membuat tubuhku membeku.

Sayang, kita harus bicara nanti.

Tapi kali ini, aku bukan lagi wanita yang hanya tahu percaya.

Aku sedang duduk di sebuah hotel kecil di Jakarta, jauh dari mansion kami. Di sampingku ada pengacara Arman Prasetyo dan seorang penyelidik swasta yang kuhubungi diam-diam malam itu juga.

Menjelang siang, Rafael terus menelepon.

Sepuluh kali.

Dua puluh kali.

Tiga puluh kali.

Aku tidak mengangkat satu pun.

Sampai akhirnya dia mengirim pesan terakhir:

Kamu di mana?

Aku membalas:

Di tempat yang tidak bisa kau gunakan untuk membunuhku.

Tiga menit kemudian, teleponku berdering.

Aku mengangkatnya.

Di seberang sana, hening beberapa detik.

Lalu Rafael tertawa.

Tawa yang dingin dan membuat bulu kudukku merinding.

— Kamu menguping pembicaraanku semalam?

— Aku tidak perlu menguping. Kamu sendiri yang bicara terlalu keras.

— Kamu salah paham.

— Benarkah?

Aku memutar rekaman itu.

Suara Rafael terdengar jelas:

“Besok dia turun ke neraka. Rumah itu dan asuransi miliaran rupiah akan jadi milikmu…”

Keheningan panjang menyusul.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Rafael tidak tahu harus berkata apa.


Dua hari kemudian, tim hukumku menemukan lebih banyak fakta mengejutkan.

Bukan hanya Vanessa.

Rafael ternyata diam-diam memindahkan dana perusahaan ke beberapa rekening rahasia.

Ia terlilit utang ratusan miliar rupiah akibat investasi yang gagal.

Jika aku meninggal…

Uang asuransi itu akan menyelamatkan seluruh kerajaan bisnisnya yang sedang runtuh.

Aku bukan istri yang dicintai.

Aku hanyalah rencana cadangan finansial terakhirnya.


Seminggu kemudian, Rafael dipanggil untuk diperiksa oleh pihak berwenang.

Vanessa juga ikut diselidiki.

Berita itu segera menyebar ke seluruh Jakarta.

Orang-orang yang selama ini iri pada kehidupan mewah kami terkejut.

Karena di balik foto-foto glamor dan pesta-pesta eksklusif…

Tersembunyi rencana kejahatan yang disusun dengan sangat rapi.


Hari persidangan tiba.

Rafael menatapku dengan mata merah dan wajah yang jauh lebih tua dari usianya.

— Kenapa kamu harus melakukan ini?

Aku memandang pria yang dulu menjadi seluruh duniaku.

Pria yang kucintai selama dua belas tahun.

Pria yang pernah kubayangkan akan menua bersamaku.

Lalu aku menjawab dengan tenang:

— Karena kamu yang lebih dulu memutuskan bahwa nyawaku memiliki harga.

Rafael menunduk.

Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat kesombongan.

Tidak melihat kekuasaan.

Hanya melihat seorang pria yang telah kehilangan segalanya.


Enam bulan kemudian.

Aku menjual mansion seluas 7.500 meter persegi itu.

Sebagian hasil penjualannya kugunakan untuk mendirikan yayasan yang membantu perempuan yang menjadi korban manipulasi, penipuan, dan kekerasan dalam rumah tangga.

Pada hari peresmian yayasan, seorang wartawan bertanya:

— Apakah Ibu menyesali pernikahan itu?

Aku menatap langit senja Jakarta yang berwarna keemasan.

Lalu tersenyum.

— Tidak.

— Karena jika aku tidak pernah melewati kegelapan itu, aku tidak akan pernah tahu seberapa kuat diriku sebenarnya.

Angin sore berhembus pelan.

Aku melangkah keluar dari gedung dengan kepala tegak.

Tidak ada lagi rasa takut.

Tidak ada lagi pengkhianatan.

Tidak ada lagi malam-malam panjang yang dipenuhi air mata.

Wanita yang dulu gemetar ketika mendengar suaminya merencanakan kehancurannya telah hilang.

Dan wanita yang kini berjalan menuju masa depan…

Akhirnya belajar menyelamatkan dirinya sendiri.

TAMAT.