“Dia Menghancurkan Kedua Kakiku Demi Wanita Simpanannya… Tapi Saat Mereka Melarangku Melihat Jenazah Papa, Saat Itulah Aku Mengeluarkan Rahasia yang Akan Menghancurkan Semuanya”
Aku kira rasa sakit terbesar adalah mendengar bahwa kedua kakiku patah karena pria yang kucintai selama sepuluh tahun.
Ternyata aku salah.
Yang lebih menyakitkan adalah menerima telepon dari tetangga dan mendengar bahwa ayahku yang mengidap Alzheimer tenggelam… karena keluar rumah untuk mencariku.
Dan pria penyebab semua itu hanya berkata:
“Papa kamu sudah tua, Lianne. Cepat atau lambat hari itu memang akan datang.”
Aku duduk di ranjang rumah sakit pribadi di Jakarta Selatan. Kedua kakiku dibalut gips tebal. Di samping tempat tidur, asisten Miguel Villafuerte berdiri sambil meletakkan sebuah kartu hitam di meja kecil.
“Nona Lianne,” katanya pelan tanpa berani menatapku, “Tuan Miguel bilang dia tidak sengaja mematahkan kaki Anda. Di kartu ini ada lima miliar rupiah… sebagai kompensasi.”
Aku menatap kartu itu seperti melihat ular berbisa.
Lima miliar.
Harga kedua kakiku.
Harga sepuluh tahun penantian, pengorbanan, dan keyakinanku bahwa suatu hari Miguel akan memilihku.
“Tuan Miguel juga bilang… jangan ganggu Nona Isabelle lagi,” lanjut si asisten. “Nona Isabelle perlu istirahat.”
Aku tertawa kecil. Hampa. Pecah. Hampir tanpa suara.
Isabelle Reyes.
Wanita yang kutampar di restoran setelah dia menunjukkan cincin tunangan yang seharusnya menjadi milikku.
Wanita yang menangis di depan Miguel seolah dialah korban.
Dan Miguel—pria yang selama sepuluh tahun tak pernah mengangkat tangan padaku—menyeretku keluar restoran, mendorongku dari tangga, dan saat aku jatuh… aku tak bisa berdiri lagi.
Saat sadar, aku sudah berada di rumah sakit.
Dan hadiah darinya hanyalah lima miliar rupiah.
Tanganku gemetar saat mengambil kartu itu.
Belum sempat aku bicara, ponselku berdering.
Bu Cora, tetangga kami di apartemen tua di kawasan Manggarai.
“Lianne…” suaranya bergetar karena menangis. “Nak… Pak Arturo…”
Tubuhku langsung dingin.
“Papa? Kenapa dengan Papa?”
“Dia keluar semalam. Cari kamu. Berkali-kali bilang, ‘Mana anak saya? Dia terluka.’ Kami tidak sadar… baru pagi tadi ditemukan di sungai belakang pasar.”
Aku tak mendengar sisa kalimatnya.
Rasanya seperti ada sesuatu yang meledak di dalam dadaku.
Papa.
Ayahku yang kadang lupa namaku, tapi tak pernah lupa bahwa aku adalah putrinya.
Pria yang selalu menyimpan foto lama kami berdua di saku jaket cokelat lusuhnya.
Pria yang saat takut selalu meraba saku itu dan berbisik, “Anakku ada di sini.”
Ponselku jatuh ke selimut.
Aku tidak menangis keras.
Air mataku hanya terus mengalir diam-diam, seolah jiwaku sendiri sedang meleleh.
Aku mengambil ponsel lagi dan menelepon Miguel.
Butuh waktu lama sampai dia menjawab.
Dari seberang sana, aku mendengar suara tawa perempuan.
“Sayang, siapa itu?” suara Isabelle.
Aku memejamkan mata.
“Miguel…” suaraku hampir tak keluar. “Beri aku lima puluh miliar. Setelah itu aku akan hilang dari hidupmu.”
Dia terdiam beberapa detik.
“Lianne, drama apa lagi sekarang?”
“Papa meninggal.”
Sunyi sesaat.
Lalu dia menghela napas.
“Aku turut berduka.”
“Turut berduka?” aku tersenyum pahit meski wajahku basah oleh air mata. “Dia mencariku saat aku terbaring di sini. Dia mencariku sebelum terpeleset dan jatuh!”
“Itu kecelakaan,” jawabnya dingin. “Jangan salahkan semuanya padaku.”
“Kalau kamu tidak menghancurkan kakiku, aku bisa pulang! Kalau kamu tidak lebih memilih air mata Isabelle daripada kebenaran… Papa masih hidup!”
“Lianne, cukup.”
Di belakangnya terdengar Isabelle batuk pelan.
Seketika suara Miguel melembut.
“Belle? Kamu nggak apa-apa?”
Aku menggenggam selimut erat.
Saat itulah aku sadar… yang sakit bukan hanya kakiku.
Hatiku juga sudah hancur.
“Miguel,” kataku lirih, “aku mau lihat Papa.”
“Kamu nggak boleh bergerak.”
“Kalau begitu bawa aku.”
Dia diam.
“Tunggu aku.”
Tak lama kemudian dia datang.
Dan Isabelle ikut bersamanya.
Wajah Isabelle pucat, pergelangan tangannya dibalut perban seperti wanita rapuh yang hampir hancur hanya karena satu tamparan.
Begitu melihatku, matanya langsung memerah.
“Kak Lianne…” katanya dengan suara gemetar manis, “aku datang untuk minta maaf.”
Aku menatap Miguel.
“Kenapa dia ikut?”
Miguel tidak menjawab.
Isabelle mendekat ke ranjangku.
“Aku nggak bermaksud bikin Miguel marah,” katanya sambil menangis. “Aku cuma takut waktu Kakak menamparku.”
Aku mengambil kartu bank itu lalu melemparkannya ke lantai.
“Lima miliar nggak cukup.”
Wajah Miguel langsung menegang.
“Kedua kakiku. Nyawa papaku. Dan sepuluh tahun hidupku yang kamu curi… lima puluh miliar saja masih kurang.”
“Kak…” Isabelle berkata pelan, “cinta nggak bisa dibeli dengan uang.”
Aku menatap tajam ke arahnya.
“Diam.”
Wajah Miguel langsung gelap.
“Lianne.”
Aku tertawa sinis.
“Apa? Mau hancurkan aku lagi demi dia?”
Kali ini dia tak bisa menjawab.
Akhirnya dia menyuruh asistennya mengambil kursi roda dan membawaku ke rumah duka di Jakarta Pusat.
Saat tiba di sana, aku melihat Papa terbujur kaku di dalam peti dingin.
Pucat.
Diam.
Tak ada lagi suara yang selalu memanggilku meski namaku sering salah dia ucapkan.
“Pa…” isakku sambil menempelkan telapak tangan ke kaca peti. “Aku sudah datang…”
Di pantulan kaca, aku melihat Miguel mendekat sambil membawa tisu.
Tapi sebelum dia sempat memberikannya, Isabelle lebih dulu maju.
“Kak,” katanya pura-pura menangis, “kasihan sekali Om Arturo. Kalau Kakak mau, aku bisa bantu urus pemakamannya.”
Aku menepis tangannya.
“Jauhkan dirimu dari ayahku.”
Ekspresinya langsung terluka.
Miguel segera mencengkeram lenganku.
“Jangan kasar. Niatnya baik.”
“Baik?” aku menatapnya tajam. “Apa hak dia ada di sini?”
Miguel memerintahkan orang-orang menyiapkan peti mati termahal, bunga terbaik, dan makam paling mewah.
“Sudah cukup,” katanya dingin. “Anggap saja ini kompensasiku.”
Dia pikir uang adalah yang kubutuhkan.
Aku dibawa ke kapel.
Di tengah ruangan tergantung foto Papa duduk di bangku tua depan apartemen, memakai jaket cokelat lusuh favoritnya—jaket yang dijahit Mama sebelum meninggal.
Aku mencarinya di antara barang-barangnya.
Tidak ada.
“Mana jaket Papa?” tanyaku pada pengurus rumah duka yang disewa Miguel.
Dia tak berani menatapku.
Isabelle yang menjawab.
“Kak… jaket itu sudah tua dan bau. Jadi aku suruh buang.”
Dadaku langsung sesak.
Dari belakang kapel, aku mencium bau asap.
Aku memaksa kursi roda bergerak ke halaman kecil.
Di sana, dalam drum besi, kulihat sisa kain yang hangus terbakar.
Jaket Papa.
Dan di antara abu itu ada setengah foto kami berdua yang ikut terbakar.
Aku meraih sisa lengan jaket itu meski masih panas.
Jariku menghitam terkena abu.
“Apa yang kamu lakukan…” bisikku pada Isabelle.
Dia menangis.
“Aku cuma mau pemakaman Om terlihat lebih layak…”
Aku menoleh ke Miguel.
Dan satu-satunya yang dia katakan hanyalah:
“Lianne, dia sudah meninggal. Kamu masih mau ribut cuma gara-gara jaket tua?”
Saat itulah aku sadar…
Semuanya benar-benar sudah berakhir.
Malam itu mereka mengunciku di sebuah kamar kecil di kapel.
Dari luar, aku mendengar suara Miguel.
“Awasi dia. Besok pagi jangan biarkan dia masuk ke krematorium.”
Aku menggenggam sisa lengan jaket Papa yang hangus.
Dan di dalam lapisan kain yang belum terbakar sepenuhnya…
Aku merasakan benda kecil yang keras.
Sebuah memory card lama…
Baca kelanjutan cerita lengkapnya di kolom komentar 👇👇

Tanganku gemetar saat memasukkan memory card itu ke laptop tua milik penjaga kapel.
Layar sempat berkedip beberapa kali sebelum akhirnya sebuah folder terbuka.
Namanya sederhana.
“UNTUK LIANNE.”
Dadaku langsung sesak.
Aku menekan video pertama.
Dan di layar… muncul wajah Papa.
Masih memakai jaket cokelat lusuh itu.
Wajahnya tampak bingung, tua, dan lelah… tapi matanya hangat seperti dulu.
Kalimat pertamanya langsung membuatku menangis.
“Kalau kamu lihat video ini… berarti Papa mungkin sudah lupa semuanya.”
Aku menutup mulutku sendiri agar tidak terisak terlalu keras.
“Papa tahu penyakit Papa makin parah,” lanjutnya pelan. “Kadang Papa lupa jalan pulang… lupa makan… bahkan lupa nama sendiri. Tapi ada satu hal yang Papa nggak pernah lupa.”
Beliau mengangkat foto kecil kami berdua.
“Kamu anak Papa.”
Air mataku jatuh tanpa bisa berhenti.
Lalu video itu berubah.
Rekaman CCTV.
Tanggalnya… tiga minggu sebelum kakiku dihancurkan Miguel.
Aku langsung membeku.
Di layar terlihat Isabelle duduk di sebuah café bersama seorang pria asing.
Dan kalimat yang keluar dari mulutnya membuat darahku dingin.
“Aku nggak cinta Miguel,” katanya sambil tertawa kecil. “Aku cuma butuh hartanya. Setelah menikah, semua saham perusahaan bakal pindah ke namaku.”
Pria itu tertawa.
“Tapi tunangannya gimana?”
Isabelle tersenyum sinis.
“Lianne terlalu bodoh. Dia cinta mati sama Miguel. Tinggal bikin Miguel benci dia sedikit lagi… selesai.”
Tanganku mulai gemetar hebat.
Video berikutnya lebih menghancurkan.
Rekaman dari parkiran restoran malam saat aku menampar Isabelle.
Dari sudut kamera terlihat jelas…
Isabelle sengaja menjatuhkan dirinya sendiri sebelum menangis histeris di depan Miguel.
Dan yang paling parah—
Saat Miguel mendorongku.
Dia sebenarnya tidak berhenti.
Dia melihatku jatuh dari tangga.
Dia tahu kakiku patah.
Tapi dia tetap memilih memeluk Isabelle lebih dulu.
Aku menatap layar dengan napas memburu.
Belum selesai.
Ada satu file audio terakhir.
Suara Papa terdengar pelan dan gemetar.
“Lianne… kalau suatu hari Papa nggak ada…”
Aku menggigit bibirku kuat-kuat.
“Papa sebenarnya pernah dengar Isabelle bicara di telepon. Dia bilang dia sengaja mendekati Miguel karena perusahaan keluarga Villafuerte sedang mau merger dengan investor asing.”
Papa batuk kecil sebelum melanjutkan.
“Papa simpan semua bukti ini… karena Papa takut suatu hari kamu akan dihancurkan.”
Tangisku pecah.
Bahkan dalam keadaan lupa segalanya…
Papa masih berusaha melindungiku.
Keesokan paginya, sebelum kremasi dimulai, Miguel datang bersama Isabelle.
Dia tampak dingin seperti biasa.
“Bawa dia keluar,” katanya pada pengawal. “Dia nggak boleh bikin keributan.”
Tapi sebelum mereka menyentuh kursi rodaku, layar besar di kapel tiba-tiba menyala.
Semua tamu menoleh.
Termasuk Miguel.
Dan video pertama langsung diputar.
Suasana kapel berubah sunyi total.
Wajah Isabelle perlahan pucat saat suaranya sendiri terdengar memenuhi ruangan:
“Aku nggak cinta Miguel. Aku cuma mau hartanya.”
“Miguel terlalu gampang dimanipulasi.”
“Lianne itu cuma batu penghalang.”
“Setelah menikah, aku akan ambil semuanya.”
“Kalau perlu, aku bikin mereka saling menghancurkan.”
“MATIKAN ITU!” jerit Isabelle histeris.
Tapi semuanya sudah terlambat.
Para direktur perusahaan Villafuerte yang hadir mulai berbisik-bisik.
Miguel berdiri kaku.
Wajahnya kehilangan warna.
Lalu rekaman parkiran diputar.
Semua orang melihat dengan jelas bagaimana dia mendorongku hingga jatuh.
Beberapa wanita di kapel langsung menutup mulut karena shock.
“Miguel…” suara salah satu direktur bergetar. “Apa yang sudah kamu lakukan?”
Miguel mundur selangkah.
Tatapannya langsung menuju Isabelle.
Dan untuk pertama kalinya… aku melihat penyesalan di matanya.
Isabelle panik.
“Sayang, dengarkan aku—”
PLAK!
Tamparan keras Miguel menggema di seluruh kapel.
Isabelle jatuh sambil menangis.
“Kamu bohong padaku?” suara Miguel pecah. “Kamu menghancurkan hidup Lianne demi uang?!”
Aku tertawa kecil di tengah air mata.
Lucu sekali.
Pria yang menghancurkan hidupku… akhirnya ikut dihancurkan oleh wanita yang dia bela mati-matian.
Miguel berlutut di depanku.
Tangannya gemetar memegang kursi rodaku.
“Lianne… aku salah…”
Aku menatapnya lama.
Sepuluh tahun cinta.
Sepuluh tahun kesetiaan.
Sepuluh tahun menunggu.
Dan semuanya mati di ruangan itu.
“Aku pernah mencintaimu lebih dari diriku sendiri,” bisikku pelan. “Tapi saat Papa meninggal sendirian mencariku… kamu juga membunuh bagian terakhir hatiku.”
Miguel menangis.
Benar-benar menangis.
Tapi sudah terlambat.
Aku mengeluarkan amplop cokelat dari tas kecil di pangkuanku.
“Ayahmu datang menemuiku tadi malam,” kataku.
Miguel mengangkat wajahnya perlahan.
“Dia menyerahkan ini.”
Tangannya gemetar saat membuka amplop itu.
Surat pemecatan.
Namanya dicabut dari posisi CEO.
Seluruh saham utama perusahaan dipindahkan sementara ke dewan komisaris karena skandal kekerasan dan penyalahgunaan wewenang.
Miguel langsung terduduk lemas.
Sementara Isabelle…
ditarik keluar kapel oleh petugas keamanan setelah para investor melaporkannya atas penipuan dan manipulasi finansial.
Dan aku?
Aku akhirnya mendorong kursi rodaku mendekati peti Papa untuk terakhir kali.
Kali ini tak ada yang menghalangiku.
Aku menyentuh peti itu pelan sambil tersenyum di tengah tangis.
“Papa…” bisikku lirih. “Sekarang semuanya sudah selesai.”
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
aku tidak merasa sendirian lagi.
Karena bahkan setelah meninggal…
Papa masih berhasil melindungiku sampai akhir.