DIA MENGIRA TELAH MENGHANCURKAN MIMPINKU MASUK UI—TETAPI SAAT AKU MEMBUKA PORTAL DI DEPAN KELUARGA, TERNYATA DIA-LAH YANG MEMPERTARUHKAN MASA DEPANNYA SENDIRI, SEMENTARA AKU HANYA TERDIAM MENATAP

Aku baru saja turun untuk mengambil paket ketika saudara kembarku mengira ia telah menang.

Saat kembali ke apartemen kami di Jakarta Selatan, ia sudah tersenyum kepadaku seperti seseorang yang baru saja menyembunyikan bom.

“Kak,” kata Mikayla Santoso sambil memutar-mutar iPhone barunya di jari, “aku sudah mengganti semua pilihan kampusmu. Tidak ada lagi UI untukmu. Masuk SMK saja.”

Aku tidak langsung panik.

Karena aku masih ingat dengan jelas: sebelum turun, aku sudah logout dari laptopnya. Dan di portal penerimaan mahasiswa, pilihan jurusan hanya bisa diubah tiga kali. Edit terakhir sudah kugunakan tadi siang.

Seharusnya ia tidak bisa menyentuh akunku.

Tetapi kalimat berikutnya membuat tengkukku dingin.

“Lucu juga sih,” ia tertawa. “Kenapa kamu memilih jurusan yang sama denganku di Universitas Indonesia? Memangnya nilai 82 cukup untuk Hubungan Internasional?”

Aku berkedip.

Universitas Indonesia?

Aku tidak memilih jurusan itu.

Pilihan pertamaku adalah Universitas Indonesia, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, jurusan Ilmu Ekonomi.

Aku telah memperjuangkannya selama setahun penuh.

Perlahan aku memandang Mikayla.

Kami kembar.

Rambut panjang yang sama.

Bentuk mata yang hampir sama.

Bahkan nama kami di dokumen sekolah hampir identik.

Aku Maria Mikayla Santoso.

Dia Maria Mikaila Santoso.

Bahkan tadi siang aku hampir salah masuk akun.

Karena itu aku sengaja menggunakan browser yang berbeda agar login kami tidak tertukar.

Aku melirik jam dinding.

Pukul 16.06.

Portal sudah ditutup pukul 16.00.

Kalau ada kesalahan, semuanya sudah terlambat.

Mikayla tersenyum lebih manis, sekaligus lebih menyakitkan.

“Tidak usah lihat jam, Kak. Sistemnya sudah ditutup.”

Sebelum aku sempat bicara, pintu terbuka.

Mama pulang membawa kantong belanja.

“Mika, paketnya sudah diambil?” tanyanya sambil melepas sepatu.

Aku tidak menjawab.

Aku hanya berkata,

“Ma, Mikayla bilang dia sudah mengganti semua pilihan kampusku dan membuatku masuk SMK.”

Mama berhenti.

Ia memandangku sebentar, lalu memandang Mikayla.

Mikayla terlihat terkejut.

Mungkin ia tidak menyangka aku akan langsung mengatakannya.

“Ma, aku cuma ingin yang terbaik untuk Kakak,” katanya cepat. “Nilainya cuma 82. Daripada memaksakan diri ke universitas mahal, lebih baik masuk sekolah kejuruan. Lebih praktis.”

Aku tertawa pelan karena kesal.

Namun sebelum aku menjawab, Mama berkata,

“Kalau begitu, bagus.”

Seolah air dingin disiramkan ke kepalaku.

“Ma?”

“Sayang, biaya kuliah mahal. Bahkan universitas swasta biasa bisa menghabiskan Rp25 juta setahun. Kalau sekolah kejuruan lebih murah dan cepat dapat kerja.”

Aku sudah terbiasa.

Untuk Mikayla, Mama bisa membelikan iPhone seharga hampir Rp20 juta.

Untukku, ponsel bekas seharga Rp300 ribu sudah dianggap cukup karena “yang penting bisa telepon dan SMS”.

Untuk Mikayla, laptop baru seharga Rp16 juta sebagai hadiah karena diterima di Universitas Indonesia.

Sedangkan ketika laptopku rusak, mereka bahkan tidak mau mengeluarkan Rp400 ribu untuk memperbaikinya.

Aku harus menabung sendiri.

Dan sekarang, bahkan masa depanku pun kembali dihitung dengan cara yang paling murah.

Aku berusaha menahan suaraku yang gemetar.

“Ma, nilaiku bukan 82.”

“Nilai masukku 98,9.”

“Aku diterima di Universitas Indonesia.”

Ruangan menjadi sunyi selama beberapa detik.

Lalu Mama tertawa.

Bukan karena bahagia.

Melainkan seperti mendengar lelucon paling lucu di dunia.

“Maria, sudah cukup. Jangan berbohong hanya karena kamu iri pada adikmu.”

Dadaku terasa membeku.

Selama tiga tahun SMA, mereka tidak pernah benar-benar bertanya tentang nilaiku.

Hanya sekali Mama datang ke pertemuan orang tua.

Saat itu aku sedang demam sehingga nilai ujianku turun.

Dan sejak hari itu, mereka memberi label padaku:

“Biasa saja.”

Mikayla adalah si pintar.

Mikayla adalah kebanggaan keluarga.

Sedangkan aku hanyalah saudara kembar yang “lumayan”.

Ketika hasil seleksi keluar, aku sebenarnya ingin memberi tahu mereka.

Tetapi mereka terlalu sibuk merayakan keberhasilan Mikayla masuk Universitas Indonesia.

Saat melihatku berdiri di sudut ruang tamu, Mama hanya bertanya,

“Kamu lulus batas minimum?”

Aku mengangguk.

Dan ia bahkan tidak menunggu jawabanku berikutnya.

Mereka pergi makan di restoran all-you-can-eat.

Dan aku tinggal sendirian di rumah sambil memegang email penerimaan dari Universitas Indonesia.

“Mama beli ceri impor?” teriak Mikayla.

Aku melihat paket yang baru kuambil.

Ternyata ia sudah membukanya.

Ceri impor seharga Rp500 ribu satu kotak kecil.

Buah favoritnya.

Sedangkan aku paling suka jeruk.

Tetapi Mama selalu membelikanku jeruk murah dari pasar tradisional seharga Rp15 ribu per kilogram.

Kadang asam.

Kadang kering.

Aku memandangi mereka berdua yang tertawa sambil memakan ceri.

Dan saat itulah aku sadar.

Aku tidak akan menunggu seseorang memberiku sesuatu yang manis.

Aku akan pergi mencarinya sendiri.

Malam itu aku pergi ke perpustakaan umum.

Aku membuka portal penerimaan mahasiswa.

Dan semuanya masih ada.

Pilihan pertama:

Universitas Indonesia.

Status:

DITERIMA.

Jadi…

Ia sama sekali tidak mengubah akunku.

Tetapi…

akun siapa yang telah ia ubah?

Beberapa hari berlalu.

Aku mulai mengajar les matematika untuk siswa SMP dan bekerja paruh waktu di sebuah kedai kopi di Depok.

Aku lelah setiap hari.

Tetapi aku bahagia.

Karena setiap rupiah yang kupegang terasa seperti satu langkah menjauh dari rumah itu.

Suatu malam ketika aku pulang, Bibi Rina, adik Mama, sedang berada di rumah.

Mama menyambutku dengan tatapan dingin.

“Bagus kamu sudah pulang. Besok ikut Bibimu ke pabrik di Bekasi.”

“Aku tidak akan pergi,” jawabku.

Mama mengerutkan dahi.

“Memangnya kamu pikir siapa dirimu? Kalau akhirnya masuk sekolah kejuruan juga, lebih baik kerja saja dan cari uang sendiri!”

Aku sudah tidak tahan lagi.

“Sudah kubilang, Ma!”

“Aku diterima di UI!”

Aku mengeluarkan ponsel lamaku dan menunjukkan tangkapan layar hasil seleksi.

“Saya tidak berbohong.”

Namun sebelum Mama mendekat, Mikayla tertawa.

“Kak, itu cuma screenshot.”

“Aku juga bisa membuatnya pakai Inspect Element.”

“Tekan F12, ubah nilai, lalu screenshot. Mudah.”

Aku menatapnya.

“Baik.”

“Sini ambil laptopmu.”

“Aku akan login sekarang.”

“Di sini.”

“Di depan kalian semua.”

Dan untuk pertama kalinya…

senyum Mikayla menghilang.

Perlahan…

wajahnya mulai menegang.

BAGIAN 2 di komentar 👇👇

Tangan Mikayla mulai gemetar.

“Apa perlunya sekarang?” tanyanya sambil tertawa kecil.

“Karena katanya aku pembohong,” jawabku tenang. “Jadi lebih baik kita lihat bersama.”

Mama melipat tangan.

“Silakan. Biar semuanya jelas.”

Aku mengambil laptop Mikayla.

Jari-jariku mengetik dengan tenang.

Email.

Password.

Kode verifikasi.

Dan beberapa detik kemudian…

Portal penerimaan Universitas Indonesia terbuka.

Statusku muncul dengan jelas.

DITERIMA

Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Program Studi Ilmu Ekonomi.

Ruangan menjadi sunyi.

Bibi Rina langsung berdiri.

“Ya Tuhan… Maria benar-benar diterima?”

Mama memucat.

Sedangkan Mikayla…

tidak berkedip sama sekali.

Aku menoleh kepadanya.

“Sekarang giliranmu.”

Wajahnya berubah.

“Aku… aku tidak perlu membuktikan apa pun.”

Namun Bibi Rina sudah berkata,

“Kalau Maria harus membuktikan, kamu juga.”

Mama mulai panik.

“Tidak perlu, kan kita sudah percaya pada Mika…”

Tetapi untuk pertama kalinya, Bibi Rina memotong perkataannya.

“Selama ini kalian selalu percaya pada anak yang satu dan meragukan anak yang lain.”

“Sekarang buka.”

Dengan tangan gemetar, Mikayla memasukkan emailnya.

Password.

Kode verifikasi.

Dan saat portal terbuka…

warna wajahnya langsung hilang.

Aku melihatnya lebih dulu.

Dan aku mengerti.

Dia memang pernah masuk ke portal seseorang.

Tetapi bukan milikku.

Karena saat terburu-buru, dia salah login.

Dia masuk ke akunnya sendiri.

Dan menggunakan kesempatan edit terakhir…

untuk mengubah pilihan jurusannya sendiri.

Status yang muncul sekarang membuat seluruh ruangan membeku.

TIDAK LOLOS PILIHAN UTAMA

Pilihan jurusan yang tadinya Hubungan Internasional…

telah berubah menjadi program yang bahkan tidak pernah ia inginkan.

“Astaga…” bisik Bibi Rina.

Mama menatap layar tanpa percaya.

“Mika…”

“Mika, apa ini?”

Tubuh Mikayla mulai gemetar.

“Aku… aku pikir itu akun Kak Maria…”

“Aku cuma mau membuatnya gagal…”

“Aku tidak tahu…”

Dan untuk pertama kalinya sejak kami lahir…

aku melihat saudara kembarku menangis bukan karena kalah.

Melainkan karena menyadari bahwa kebenciannya sendiri telah menghancurkan mimpinya.

Mama terduduk di sofa.

“Tidak…”

“Ini tidak mungkin…”

Tetapi yang paling menyakitkan bukanlah tangisan Mikayla.

Melainkan kalimat berikutnya dari Bibi Rina.

“Kak.”

“Anak yang selama ini kau anggap biasa saja ternyata diterima di UI.”

“Dan anak yang kau banggakan setiap hari…”

“Justru menghancurkan dirinya sendiri.”

Mama menangis.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…

aku tidak merasa menang.

Aku hanya merasa lelah.

Sangat lelah.


Tiga bulan kemudian.

Aku resmi menjadi mahasiswi Universitas Indonesia.

Aku tetap mengajar les matematika dan bekerja paruh waktu di kedai kopi.

Aku menyewa kamar kecil dekat kampus.

Tidak besar.

Tidak mewah.

Tetapi tenang.

Suatu malam, saat sedang belajar di perpustakaan, aku menerima pesan dari Mama.

“Maria…”

“Mama minta maaf.”

“Mama gagal menjadi ibu yang adil.”

Aku membaca pesan itu lama sekali.

Lalu meletakkan ponselku.

Karena ada luka yang tidak sembuh hanya dengan satu kata maaf.


Tahun-tahun berlalu.

Aku lulus dengan predikat cum laude.

Aku mendapatkan beasiswa S2 di Singapura.

Kemudian bekerja sebagai analis ekonomi di sebuah perusahaan investasi internasional.

Sedangkan Mikayla…

setelah melewati masa depresi yang panjang, akhirnya bangkit kembali.

Ia memulai kuliah dari awal di universitas lain.

Hubungan kami perlahan membaik.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

ia berhenti bersaing denganku.

Dan mulai belajar menjadi dirinya sendiri.


Delapan tahun kemudian.

Pada hari ulang tahun Mama yang keenam puluh, seluruh keluarga berkumpul.

Mama sudah beruban.

Langkahnya lebih lambat.

Ketika semua orang sedang makan, ia berdiri sambil memegang mikrofon.

Matanya merah.

“Sepanjang hidupku…”

“Aku selalu berpikir bahwa aku harus lebih mencintai anak yang lebih kuat.”

“Aku takut anak yang lebih pintar akan gagal.”

“Dan aku yakin anak yang lebih tenang akan selalu baik-baik saja.”

Air matanya jatuh.

“Ternyata aku salah.”

“Karena anak yang paling sedikit meminta…”

sering kali adalah anak yang paling lama belajar hidup dengan luka.”

Lalu ia berjalan ke arahku.

Di depan seluruh keluarga.

Ia memelukku erat sambil menangis.

“Maafkan Mama, Maria…”

Dan setelah bertahun-tahun…

aku akhirnya memeluknya kembali.

Bukan karena aku melupakan semuanya.

Tetapi karena aku tidak ingin membawa rasa sakit itu sampai akhir hidupku.

Malam itu, ketika aku pulang, aku berdiri di balkon apartemenku di Jakarta.

Angin malam berembus lembut.

Aku teringat hari ketika Mikayla tersenyum dan berkata bahwa ia telah menghancurkan mimpiku.

Padahal…

ia tidak pernah menghancurkan mimpiku.

Karena mimpi yang dibangun dengan kerja keras…

tidak bisa dihancurkan oleh rasa iri orang lain.

Dan aku akhirnya mengerti:

Kadang-kadang, orang yang paling berbahaya bagi masa depan kita…

bukanlah musuh yang berdiri di depan kita.

Melainkan kebencian yang kita simpan di dalam diri sendiri.

Karena pada akhirnya…

Mikayla tidak kalah dariku.

Ia hanya sempat kalah dari dirinya sendiri.

Dan aku…

akhirnya menang.

Bukan atas saudara kembarku.

Melainkan atas luka yang selama bertahun-tahun diam-diam kubawa sendirian.