Dia tidak melakukan apa-apa seharian.
Hanya duduk di lobi sebagai “resepsionis”, bermain game atau menonton video.
Gajinya? Rp150.000.000 per bulan.
Sementara aku, yang sudah tiga tahun berturut-turut menjadi Top Sales Performer, hanya menerima Rp15.000.000 per bulan.
Pada hari pembagian Year-End Bonus, komisi yang seharusnya menjadi hakku sebesar Rp4.000.000.000 justru diberikan seluruhnya kepadanya.
Untukku?
Sebuah amplop tipis berisi Rp100.000.
“Gina,” kata bosku, Rico Pratama, dengan nada serius.
“Kalau bukan karena ‘Goldfish luck’-nya Tricia yang membawa keberuntungan bagi perusahaan ini, kamu tidak ada artinya. Kamu tidak akan mendapatkan penjualan sebesar itu tanpa auranya.”
Aku melemparkan uang Rp100.000 itu ke wajahnya dan langsung mengundurkan diri.
Tiga bulan kemudian, dia berlutut di hadapanku dan memohon agar aku kembali.
Bos baruku hanya tersenyum dan berkata:
“Saya menggajinya Rp6 miliar per tahun. Kamu sanggup bayar berapa?”
1
Hari pembagian bonus, seluruh kantor di kawasan Sudirman, Jakarta, dipenuhi suasana aneh—campuran kegembiraan dan ketegangan.
Dari pantry aku mendengar bisikan rekan-rekanku:
“Katanya bonus Tricia tahun ini Rp4 miliar. Ditambah gajinya, total penghasilannya hampir Rp22 miliar setahun…”
“Beruntung banget sih. Kata Pak Rico, auranya bagus. Makanya dia dipekerjakan sebagai ‘lucky charm’ perusahaan.”
“Kita di sini kerja sampai hampir mati, dia cuma duduk di lobi, sudah jadi miliarder.”
Tanganku sempat terhenti di atas keyboard, tapi aku tetap melanjutkan menyusun kontrak klien di layar.
Tiga tahun aku bekerja di perusahaan ini.
Tiga tahun tanpa pernah kehilangan gelar Top Sales.
Tahun pertama, aku menyumbang 40% total revenue perusahaan.
Tahun kedua, 50%.
Tahun ini, aku berhasil menutup dua kontrak besar senilai total Rp1,5 triliun.
Dengan skema komisi 0,25%, bonusku seharusnya Rp4 miliar.
Uang itu sudah berkali-kali kuhitung dalam pikiranku.
Bulan lalu, dokter mendiagnosis ibuku mengalami gangguan tiroid dan harus operasi. Biayanya sekitar Rp3 miliar.
Kupikir bonus itu akan menyelamatkan kami.
Sisanya ingin kugunakan sebagai uang muka rumah kecil di Bogor.
Rencanaku sudah begitu rapi.
Jam tiga sore, HR mengumumkan semua karyawan harus masuk ke ruang konferensi untuk “Year-End Party”.
Kami semua tahu itu sebenarnya acara pembagian bonus.
Seperti biasa, Pak Rico akan membacakan nama satu per satu, dan masing-masing naik ke depan untuk menerima amplop merah berisi cek bank.
Saat melewati lobi, kulihat Tricia Wijaya bersandar santai, tertawa melihat layar ponselnya.
Ia mengenakan cardigan Chanel dan jam tangan mewah.
Kami masuk perusahaan ini di hari yang sama.
Dulu dia terlihat sederhana dan pendiam.
Beberapa hari kemudian tersebar kabar: Pak Rico membayar mahal seorang konsultan feng shui yang menyarankan merekrut gadis dengan “energi pembawa rezeki”.
Sejak itu, Tricia duduk di lobi.
Tidak menerima tamu.
Tidak mengangkat telepon.
Tidak mengurus dokumen.
Tugasnya?
Main game. Belanja online. Minum bubble tea.
Rp150 juta per bulan.
Awalnya kupikir lelucon. Sampai suatu hari slip gajinya “tak sengaja” terlihat di meja HR.
Kupikir tidak apa-apa. Asal bagianku tetap adil.
Ternyata aku salah.
Di ruang konferensi, amplop merah tersusun rapi.
Ketika nama Tricia dipanggil, Pak Rico menyerahkan amplop paling tebal.
Semua orang terdiam.
Lalu namaku dipanggil terakhir.
Amplopku tipis.
Kubuka di depan semua orang.
Di dalamnya hanya selembar uang Rp100.000.
Ruangan itu membeku.
Aku menatap Pak Rico.
“Pak, saya butuh penjelasan.”
Ia menghela napas dan mengambil mikrofon.
“Gina, kamu memang Top Sales. Tapi pernahkah kamu berpikir kenapa kamu bisa menutup deal sebesar itu?”
Ia menatapku tajam.
“Sejak Tricia datang, grafik penjualan naik drastis. Itu bukan karena kamu. Itu karena energi keberuntungannya. Tanpa dia, kamu hanya sales biasa.”
Beberapa orang mengangguk ragu.
“Rp100 ribu itu saya ambil dari kantong pribadi saya sebagai bentuk penghargaan atas kerja kerasmu. Kamu harusnya bersyukur.”
Darahku mendidih.
Aku melangkah maju dan melemparkan uang itu ke wajahnya.
“Mulai hari ini, saya resign.”
Aku berbalik dan berjalan keluar tanpa menoleh lagi.
Tiga bulan kemudian, perusahaan Pak Rico kehilangan tiga klien besar.
Pendapatan anjlok.
“Goldfish luck” ternyata tidak bisa menutup kontrak atau membaca detail legal agreement.
Suatu sore, ia datang ke kantor baruku di kawasan SCBD.
Ia berdiri di depanku, wajahnya jauh lebih pucat dari sebelumnya.
“Gina… tolong kembali. Gajimu bisa kita negosiasikan.”
Bos baruku, Arman Santoso, berdiri di sampingku dan tersenyum tenang.
“Saya membayarnya Rp6 miliar per tahun,” katanya ringan.
“Pak Rico, Anda sanggup bayar berapa?”
Wajah Rico berubah kaku.
Untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban.
Aku tersenyum tipis.
Keberuntungan bukan aura.
Bukan jimat.
Bukan ikan emas.
Keberuntungan adalah kerja keras yang dihargai dengan adil.
Dan kali ini, aku berdiri di tempat yang benar-benar tahu nilai diriku.

Aku tidak mengatakan sepatah kata pun lagi.
Aku hanya berdiri perlahan, lalu meletakkan dokumen terakhir itu di atas meja.
Seluruh ruangan langsung hening.
Itu bukan surat permintaan maaf.
Bukan pula surat perceraian.
Tapi surat pengalihan aset.
Seluruh harta… atas namaku.
Orang-orang yang selama ini menganggapku lemah, yang mengira aku hanya menumpang hidup, yang mengira aku tidak mengerti apa-apa…
Mereka salah.
Selama ini aku tidak bodoh.
Aku hanya diam.
Diam, sambil mencatat semuanya.
Diam, sambil menunggu mereka menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya.
Ibu mertua langsung pucat.
Suamiku gemetar membaca dokumen itu.
Dan wanita itu—yang dulu berdiri dengan senyum penuh kemenangan di rumahku—kini hanya bisa menunduk tanpa suara.
Aku menatap mereka satu per satu.
Lalu aku tersenyum.
Untuk pertama kalinya, senyumku tidak mengandung luka.
“Terima kasih,” kataku pelan, “kalian sudah menunjukkan siapa yang sebenarnya tidak pantas memiliki semua ini.”
Aku melangkah keluar dari rumah itu.
Langit senja berwarna merah keemasan, seperti api yang perlahan meredup.
Kali ini aku tidak pergi dengan tangan kosong.
Aku pergi dengan harga diriku.
Dengan kebenaran.
Dan dengan masa depan yang akhirnya aku miliki sendiri.
Di belakangku, pintu itu tertutup pelan.
Di depanku, dunia yang jauh lebih luas sedang menunggu.
Dan kali ini…
Aku tidak akan pernah kembali lagi.