Empat tahun lalu, aku pergi dari Manila sambil membawa dua nyawa kecil di dalam rahimku… tanpa membawa apa pun selain harga diriku yang sudah diinjak-injak keluarga Villareal.
Dan sekarang, di tengah keramaian Rizal Park yang penuh lampu Natal, pria yang dulu membiarkanku dihina akhirnya berdiri di hadapanku dengan wajah pucat seperti orang yang baru kehilangan dunia.
Alejandro menatap Lucas tanpa berkedip.
Tangan besarnya gemetar.
— “Tanda lahir itu…”
Aku langsung menarik lengan Lucas dan menutupinya kembali.
— “Tidak ada yang perlu kamu lihat.”
Tapi sudah terlambat.
Mata Alejandro mulai memerah.
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya… pewaris dingin keluarga Villareal itu terlihat benar-benar hancur.
Wanita di sampingnya — si tunangan kaya bernama Veronica — mulai panik.
— “Alejandro… jangan bilang kalau…”
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Karena jawabannya sudah terlihat jelas di wajah kami.
Lucas menatap Alejandro dengan dingin.
— “Mommy bilang tidak sopan menatap orang terus-menerus.”
Suara kecil itu menusuk Alejandro lebih dalam daripada pisau.
Karena Lucas berbicara persis seperti dirinya.
Cara berdiri.
Cara mengernyit.
Bahkan nada dinginnya.
Semua terlalu mirip.
Alejandro perlahan berlutut di depan Lucas dan Maya.
Matanya tidak lepas dari mereka.
— “Umur kalian… empat tahun?”
Aku langsung memotong.
— “Tidak ada urusanmu.”
Dia menoleh kepadaku.
Dan aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat selama ini:
penyesalan.
Penyesalan yang datang terlalu terlambat.
— “Isabella…” suaranya pecah. “Kenapa kamu tidak bilang?”
Aku tertawa kecil.
Pahit.
— “Bilang apa? Bahwa aku hamil saat ibumu menyuruhku menghilang?”
— “Bahwa aku muntah darah sendirian di apartemen kecil sambil bekerja tiga shift demi membesarkan anak-anakmu?”
— “Atau bahwa setiap malam Lucas demam dan memanggil ayah yang bahkan tidak tahu dia ada?”
Tubuh Alejandro menegang.
Veronica mulai mundur perlahan, wajahnya memucat.
Aku menatap pria di depanku tanpa rasa takut lagi.
— “Empat tahun lalu aku menunggumu datang.”
— “Aku berharap sekali saja… sekali saja… kamu memilihku.”
Air mata mulai jatuh dari mata Alejandro.
Tapi kali ini, aku tidak merasa sakit melihatnya.
Karena akhirnya aku sadar…
ada luka yang terlalu dalam untuk disembuhkan oleh penyesalan.
Lucas menggenggam tanganku.
— “Mommy… ayo pulang.”
Satu kalimat sederhana itu membuat Alejandro seperti runtuh sepenuhnya.
Karena anaknya sendiri memilih pergi bersamaku tanpa mengenalnya.
Dia berdiri cepat.
— “Tunggu. Isabella, tolong… beri aku kesempatan.”
Aku menatapnya lama.
Lalu tersenyum tipis.
Bukan senyum cinta.
Bukan senyum rindu.
Tapi senyum seorang wanita yang akhirnya berhasil menyelamatkan dirinya sendiri.
— “Kesempatan itu sudah kuberikan empat tahun lalu.”
— “Dan kamu diam.”
Sunyi.
Lampu Natal berkilauan di belakang kami.
Orang-orang berlalu-lalang tanpa tahu ada sebuah keluarga yang hancur tepat di tengah taman itu.
Veronica akhirnya membuka cincin tunangannya dengan tangan gemetar.
— “Jadi… selama ini kamu masih mencintainya?”
Alejandro tidak menjawab.
Karena jawabannya ada di matanya saat menatapku dan anak-anak.
Veronica tertawa pahit sambil menangis.
Lalu pergi meninggalkannya di tengah keramaian.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Alejandro Villareal ditinggalkan sendirian.
Maya menarik ujung bajuku.
— “Mommy, Uncle itu kenapa menangis?”
Aku membelai rambutnya pelan.
— “Karena ada orang yang baru sadar… bahwa uang tidak bisa membeli kembali keluarga yang pernah dia buang.”
Lalu aku menggenggam tangan kedua anakku.
Dan berjalan pergi.
Kali ini…
Alejandro tidak mengejar lagi.
Karena akhirnya dia mengerti satu hal:
anak-anak itu mungkin membawa darahnya…
tetapi hati mereka tidak pernah lagi menjadi miliknya.

Malam itu, setelah aku dan anak-anak pergi dari Rizal Park, hujan mulai turun perlahan di jalanan Manila.
Lucas tertidur di pundakku di dalam taxi.
Sementara Maya memeluk boneka kelincinya sambil setengah mengantuk.
— “Mommy… Uncle tadi benar-benar mirip sama Kak Lucas…”
Aku hanya tersenyum kecil.
— “Tidur ya, sayang.”
Tapi bahkan setelah kedua anakku terlelap… tanganku masih gemetar.
Karena untuk pertama kalinya dalam empat tahun…
Alejandro akhirnya melihat mereka.
Dan dia tahu.
Mereka adalah darah dagingnya.
⸻
Tiga hari kemudian, berita besar mengguncang dunia bisnis Manila.
Pertunangan Alejandro Villareal dibatalkan.
Saham Villareal Holdings turun drastis.
Dan untuk pertama kalinya, pewaris keluarga Villareal itu menghilang dari semua acara publik.
Tapi itu belum seberapa.
Karena seminggu kemudian…
Ibunya datang mencariku.
Doña Beatriz Villareal.
Wanita yang dulu menuangkan wine merah ke wajahku di depan para sosialita.
Wanita yang berkata aku tidak pantas menyandang nama keluarga mereka.
Dia datang ke toko kecilku di Quezon City tanpa pengawal.
Tanpa makeup mewah.
Tanpa kesombongan.
Saat melihat Lucas dan Maya bermain di sudut ruangan…
wajahnya langsung pucat.
Karena kedua anak itu terlalu mirip Alejandro saat kecil.
Maya bahkan punya lesung pipi keluarga Villareal.
Doña Beatriz perlahan mendekat.
Tangannya gemetar.
— “Mereka… cucuku?”
Aku tidak menjawab.
Karena empat tahun lalu, wanita itu bahkan tidak menganggap anak-anakku layak lahir ke dunia.
Matanya mulai berkaca-kaca.
— “Isabella… aku tidak tahu…”
Aku tertawa pelan.
— “Tidak tahu?”
— “Atau tidak peduli?”
Dia langsung diam.
Lucas menatapnya hati-hati.
— “Mommy, siapa Grandma ini?”
Kalimat itu menghancurkan sisa harga dirinya.
Karena anak yang dulu dia tolak…
secara polos memanggilnya Grandma tanpa tahu siapa dia sebenarnya.
Doña Beatriz menangis.
Benar-benar menangis.
Dan itu pertama kalinya aku melihat wanita itu tampak tua.
Sangat tua.
— “Maafkan kami…”
Aku menatap lurus ke matanya.
— “Empat tahun lalu aku memohon pada kalian.”
— “Aku cuma minta satu hal.”
— “Jangan pisahkan anak-anak dari ayah mereka.”
Air matanya jatuh semakin deras.
— “Alejandro hampir gila sejak melihat mereka.”
Aku memejamkan mata sejenak.
Lalu tersenyum tipis.
— “Sayang sekali.”
— “Aku dulu juga hampir mati karena dia.”
⸻
Malam itu, setelah Doña Beatriz pergi…
Aku menemukan Alejandro duduk di luar apartemenku.
Masih memakai kemeja yang sama seperti saat di taman.
Basah karena hujan.
Dan lebih kurus dari sebelumnya.
Begitu melihatku, dia langsung berdiri.
Matanya merah.
Seolah tidak tidur berhari-hari.
— “Aku tidak akan merebut mereka.”
Itu kalimat pertama yang keluar dari mulutnya.
Aku terdiam.
Dia menunduk.
Suara pria yang dulu paling sombong di Manila itu kini terdengar patah.
— “Aku cuma ingin… melihat mereka tumbuh.”
Aku menatap lama wajah yang dulu sangat kucintai.
Wajah yang dulu menjadi rumahku.
Dan anehnya…
aku tidak lagi merasakan apa-apa selain tenang.
Karena luka itu akhirnya sembuh.
Alejandro perlahan mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Sebuah gelang kecil berwarna biru.
Murah.
Sudah usang.
Aku langsung mengenalinya.
Itu gelang pasangan yang kami beli saat masih miskin di Pasig.
Aku pikir dia sudah membuangnya bertahun-tahun lalu.
Tangannya gemetar saat menyerahkannya padaku.
— “Aku mencarimu selama empat tahun.”
— “Tapi ibuku bilang kamu pergi bersama pria lain…”
Aku tertawa lirih.
— “Dan kamu percaya?”
Dia menutup mata.
Seolah membenci dirinya sendiri.
— “Aku pengecut.”
Sunyi.
Hanya suara hujan.
Dari dalam apartemen, tiba-tiba terdengar suara Maya kecil:
— “Mommyyyy! Kak Lucas ambil ice cream aku!”
Alejandro langsung menoleh refleks.
Dan tanpa sadar…
dia tersenyum.
Senyum kecil paling tulus yang pernah kulihat darinya.
Air mata jatuh dari matanya tepat saat itu.
Karena akhirnya dia mendengar suara anak-anaknya sendiri.
Bukan lewat mimpi.
Bukan dari bayangan.
Tapi nyata.
Hidup.
Dan begitu dekat.
Aku membuka pintu apartemen perlahan.
Lalu berkata tanpa menatapnya:
— “Masuklah.”
Alejandro membeku.
Aku menarik napas panjang.
— “Bukan untukku.”
— “Tapi untuk mereka.”
Dan di detik itulah…
pria yang pernah kehilangan seluruh dunianya akhirnya menangis seperti anak kecil di depan pintu rumah sederhana kami.