Enam tahun lalu, dia memblokirku setelah aku mengatakan bahwa aku hamil.
Dan di hari pertama anakku masuk sekolah, aku melihatnya lagi—berdiri terpaku di depan gerbang sekolah.
Karena wajah anak itu… terlalu mirip dengannya hingga mustahil disangkal.
Tiga bulan setelah kami putus, aku berdiri di bawah atap sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Selatan, tangan gemetar menggenggam test pack yang hampir terjatuh.
Hari itu hujan deras mengguyur Jakarta.
Air hujan seperti ingin menenggelamkan seluruh kawasan Sudirman.
Aku menempelkan ponsel ke telinga sambil mendengarkan nada sambung yang terus berbunyi.
Baru pada dering keempat, dia mengangkat telepon.
“Halo?”
Suara Arga Mahardika masih serendah dulu, tapi kini terdengar jauh lebih dingin.
Aku menarik napas panjang.
“Aku hamil.”
Sunyi.
Bukan sunyi karena terkejut.
Melainkan sunyi yang mampu membuat seluruh tubuh membeku.
Aku menggenggam lebih erat kantong kertas berisi hasil USG.
“Arga… aku hamil.”
Terdengar suara korek api menyala.
Dia sedang merokok.
Dulu, kalau aku batuk sedikit saja, dia langsung mematikan rokoknya.
Tapi sekarang semuanya berbeda.
“Naura.”
Dia menyebut namaku perlahan.
“Kamu pikir aku masih akan percaya drama seperti itu?”
Aku terdiam.
“Maksud kamu apa?”
Arga tertawa pelan.
“Tiga bulan lalu kamu sendiri yang pergi dari apartemen kita di SCBD.”
“Tiga bulan lalu juga kamu bilang hubungan kita selesai.”
“Lalu sekarang kamu menelepon dan bilang kamu hamil?”
Aku menggigit bibir.
“Anak ini anakmu.”
“Anakku?”
Dia terkekeh kecil.
“Kamu lupa hasil pemeriksaan di Medistra tahun lalu?”
Dadaku langsung berdebar keras.
Medistra…
Setahun lalu, ibunya memaksa kami melakukan premarital check-up.
Saat hasilnya keluar, Arga diam sepanjang perjalanan pulang.
Aku terus bertanya sampai akhirnya dia berkata:
“Bukan masalah serius.”
Lalu malam itu dia memelukku erat dan berkata:
“Apa pun yang terjadi, aku nggak akan ninggalin kamu.”
Tapi sekarang…
Suaranya sedingin es.
“Dokter bilang aku mandul.”
“Dari awal aku memang nggak mungkin punya anak.”
Dunia terasa berdengung.
Hujan di luar kaca masih turun tanpa henti.
Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri.
“Nggak mungkin…”
“Naura.”
Suaranya semakin rendah.
“Kalau kamu butuh uang, ngomong langsung aja.”
“Jangan pakai anak yang bahkan nggak jelas ayahnya buat mengikat aku.”
Jari-jariku gemetar hingga memutih.
“Arga… serendah itu penilaianmu tentang aku?”
“Lalu aku harus berpikir apa?”
Dia langsung membalas.
“Sebentar lagi aku menikah dengan putri keluarga Wijaya.”
“Jangan hancurkan hidupku.”
Wijaya.
Keluarga konglomerat paling terkenal di Surabaya.
Saat itu aku akhirnya mengerti kenapa Arga menghilang begitu cepat beberapa bulan terakhir.
Aku juga paham kenapa ibunya memandangku seperti orang asing saat kami putus.
Ternyata…
Semua orang sudah tahu.
Hanya aku yang terakhir ditinggalkan dalam kegelapan.
“Aku akan melahirkan anak ini.”
Kataku pelan.
“Mau kamu akui atau tidak.”
Dia diam dua detik.
Lalu berkata dingin:
“Terserah.”
“Mulai sekarang jangan hubungi aku lagi.”
Tut. Tut. Tut.
Telepon terputus.
Aku menatap layar ponsel cukup lama.
Foto profilnya masih foto kami berdua di Bali.
Hari itu dia memelukku dari belakang sambil tersenyum dan berkata:
“Kalau nanti kita punya anak perempuan, aku mau dia mirip kamu.”
Dengan tangan gemetar, aku membuka chat kami.
Aku bahkan belum sempat mengetik.
Sudah muncul tanda seru merah.
Dia memblokirku.
Aku berdiri sendirian di lorong rumah sakit yang sempit dan ramai.
Seorang ibu hamil sedang dipapah suaminya.
Seorang pria lain berjongkok mengikat tali sepatu istrinya.
Dan aku…
Sendiri.
Aku duduk perlahan di bangku dingin.
Tanganku menyentuh perutku.
Bayinya masih sangat kecil.
Terlalu kecil sampai belum ada yang tahu bahwa dia sudah hidup di dunia ini.
Tapi sejak detik itu…
Aku tahu dialah satu-satunya alasan aku harus bertahan hidup.
⸻
Enam tahun berlalu.
Jakarta masih sama sibuk dan bisingnya seperti dulu.
Tapi aku bukan lagi Naura yang lama.
Aku sudah lama meninggalkan SCBD.
Sekarang aku tinggal di Bekasi dan punya toko roti kecil dekat SD Harapan Bangsa.
Hidupku tidak mewah.
Tapi tenang.
Nama anakku Nathan.
Usianya enam tahun.
Dia anak yang sangat baik.
Terlalu baik untuk usianya.
Suatu malam aku sempat demam tinggi.
Diam-diam Nathan pindah ke sampingku dan mengompres dahiku dengan handuk basah.
Padahal dia baru enam tahun…
Seharusnya dia masih bermanja pada ibunya.
Bukan belajar merawat orang terlalu cepat.
Pagi itu adalah hari pertama Nathan masuk kelas satu SD.
Dia memakai seragam baru dan tas biru yang masih berbau toko.
“Mama, aku ganteng nggak?”
Aku tersenyum sambil membetulkan dasinya.
“Anak Mama paling ganteng.”
Nathan tersenyum sambil memejamkan mata.
Senyuman itu…
Menakutkan sekali karena sangat mirip Arga.
Kupikir waktu akan menghapus wajah Arga dari ingatanku.
Ternyata tidak.
Karena setiap hari aku masih melihatnya di wajah anakku sendiri.
Halaman sekolah pagi itu penuh orang tua dan murid.
Suara tawa dan teriakan anak-anak memenuhi udara.
Aku sedang membungkuk untuk memberi pesan pada Nathan ketika terdengar suara rem mobil berhenti di belakangku.
Sebuah Bentley hitam berhenti tepat di depan gerbang sekolah.
Semua orang langsung menoleh.
Pintu mobil terbuka.
Seorang pria turun.
Setelan hitamnya pas sempurna.
Jam silver yang dulu sangat kukenal masih melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Wajahnya hanya terlihat lebih dewasa sekarang.
Arga Mahardika.
Jantungku seperti diremas.
Enam tahun.
Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dia lagi di sini.
Di sampingnya ada seorang gadis kecil sekitar lima tahun memeluk boneka.
Anaknya?
Aku langsung menarik Nathan mendekat.
Tapi terlambat.
Saat Arga mengangkat kepala, pandangannya menyapu sekitar.
Lalu berhenti.
Tepat di wajah Nathan.
Seakan waktu ikut berhenti.
Tas kecil Nathan jatuh ke lantai.
Arga membeku.
Wajahnya perlahan pucat.
Dia menatap Nathan tanpa berkedip.
Karena wajah anak itu…
Benar-benar seperti versi kecil dirinya sendiri.
Matanya.
Hidungnya.
Bahkan cara mengernyit saat bingung.
Semuanya sama persis.
Gadis kecil di sampingnya menarik lengan jasnya.
“Daddy?”
Dia tidak menjawab.
Perlahan dia berjalan ke arah kami.
Pelan.
Berat.
Seperti seseorang yang baru sadar telah kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya.
Saat berdiri di depan Nathan, suaranya bergetar.
“Anak ini…”
“Umurnya berapa?”
Sebelum aku sempat menjawab, Nathan mendongak sopan dan berkata:
“Enam tahun, Om.”
Saat itu juga…
Mata Arga membesar.
Tangannya bergetar hebat.
Dan tepat di saat itu, terdengar suara wanita dingin dari balik kerumunan:
“Arga… kamu sedang apa?”
Lanjutan cerita ada di kolom komentar. Pilih SEMUA KOMENTAR untuk membaca kelanjutan lengkapnya… 👇👇

Anim na taon siyang nawala.
Anim na taon na wala kahit isang tawag, isang mensahe, o kahit simpleng tanong kung buhay pa ba kami ng anak niya.
Pero sa isang tingin lang kay Nathan…
Parang gumuho ang buong mundong matagal niyang pinanindigan.
Dahan-dahan akong lumingon sa babaeng nagsalita.
Nakatayo roon ang isang elegante at matangkad na babae na naka-cream trench coat.
Si Cassandra Wijaya.
Ang babaeng pinili ni Arga kapalit ko noon.
Mahigpit nitong hawak ang kamay ng batang babae sa tabi niya.
Pero nang makita niya si Nathan…
Bigla ring nagbago ang mukha niya.
Nanlamig.
Parang may bagay na biglang nag-connect sa isip niya.
Tumingin siya kay Arga.
Pagkatapos kay Nathan.
Paulit-ulit.
At saka siya mahinang nagsalita:
“Arga…”
“Bakit kamukhang-kamukha mo ang batang iyan?”
Tahimik ang buong paligid.
Maging ang mga magulang sa paligid namin ay tila nakikiramdam.
Hindi agad nakasagot si Arga.
Nakatitig lang siya kay Nathan na para bang natatakot siyang kumurap.
Parang kapag pumikit siya…
Mawawala ulit ang anak niya.
“Mama?”
Mahinang hinila ni Nathan ang manggas ko.
“Bakit po nakatingin sa akin si Tito?”
Napapikit ako sandali.
Tito.
Hindi niya alam.
Hindi niya alam na ang lalaking nasa harap niya…
Ay ang ama na minsang itinanggi ang existence niya.
Huminga ako nang malalim saka hinawakan ang balikat ni Nathan.
“Halika na, late ka na sa class mo.”
Pero bago pa kami makaalis…
Biglang nagsalita si Arga.
Basag ang boses niya.
“Naura…”
Unti-unti akong napahinto.
Anim na taon.
Anim na taon kong pinangarap na marinig niyang tawagin muli ang pangalan ko.
Pero ngayong narinig ko na…
Wala na pala itong epekto.
Dahan-dahan siyang lumapit.
Halos nanginginig ang mga mata niya habang nakatingin kay Nathan.
“Siya ba…”
Hindi niya matapos.
Hindi niya kayang itanong.
Dahil alam na niya ang sagot.
Tahimik ko siyang tiningnan.
“At ngayon mo lang natanong?”
Parang sinuntok ang dibdib niya sa sinabi ko.
Napaatras siya nang bahagya.
Si Cassandra naman ay tuluyan nang namutla.
“Arga…”
Mahina ngunit matalim ang boses niya.
“Anong ibig sabihin nito?”
Walang sumagot.
Dahil kitang-kita na sa mukha ni Nathan ang katotohanan.
Lumuhod si Arga sa harap ng anak namin.
Dahan-dahan.
Parang natatakot siyang layuan siya ni Nathan.
“Ano’ng pangalan mo?”
Ngumiti si Nathan nang magalang.
“Nathan po.”
“Grade 1 na ako.”
Biglang namula ang mga mata ni Arga.
Nathan.
Pangalan na minsang sinabi niyang ipapangalan daw niya sa magiging anak naming lalaki.
Akala ko noon biro lang iyon.
Hindi ko akalaing maaalala ko pa hanggang ngayon.
“Mahilig ka ba sa basketball?” tanong niya nang paos.
Masayang tumango si Nathan.
“Opo! Pero sabi ni Mama kailangan ko raw muna lumakas kasi payat ako.”
Biglang napayuko si Arga.
At sa unang pagkakataon sa buong buhay ko…
Nakita kong umiiyak siya.
Tahimik lang.
Pero tuloy-tuloy ang luha.
Parang anim na taon iyong sabay-sabay bumagsak.
“Sir…”
Mahinang tawag ng driver niya mula sa likod.
Pero hindi siya gumalaw.
Nakatingin lang siya kay Nathan na parang gusto niyang bawiin lahat ng panahong nawala.
Lahat ng birthday.
Lahat ng lagnat.
Lahat ng unang hakbang.
Lahat ng gabing hinanap ng anak niya ang salitang “Daddy” na hindi ko kailanman naturuang sambitin.
“Mama?”
Bulong ni Nathan.
“Bakit umiiyak si Tito?”
Napatingin ako kay Arga.
Matagal.
Tahimik.
Pagkatapos ay mahinahon kong sinabi:
“Kasi minsan…”
“May mga taong huli nang nare-realize kung ano talaga ang pinakamahalaga.”
Biglang napatakip ng bibig si Cassandra.
“Hindi… imposible ito…”
Pagkatapos ay mabilis siyang lumapit kay Arga.
“Sinabi ng doktor na hindi ka puwedeng magkaanak!”
Unti-unting tumigas ang mukha ni Arga.
Dahan-dahan siyang tumayo.
At sa unang pagkakataon…
Nakaramdam ako ng takot si Cassandra sa kanya.
“Sinungaling ang doktor.”
Mababa niyang sabi.
“Dahil binayaran mo sila.”
Biglang nanlaki ang mga mata ko.
Pati si Cassandra ay namutla.
Tahimik na tumawa si Arga.
Pero puno iyon ng galit at pagkamuhi sa sarili.
“Dalawang taon matapos kitang pakasalan…”
“Lasing na lasing ang isa sa dating doctors ng pamilya ninyo.”
“At sinabi niya ang totoo.”
“Normal ako.”
“Wala akong problema.”
Unti-unting nawalan ng kulay ang mukha ni Cassandra.
“At alam mo kung bakit nila ako ginawang baog?”
Mahina ngunit matalim ang boses ni Arga.
“Para mapilitan akong pakasalan ka.”
Parang nawalan ng hangin ang paligid.
Bigla kong naalala lahat.
Kung gaano kabilis niya akong binitawan noon.
Kung gaano siya kalamig.
Kung gaano kadali para sa kanya na paniwalaan na niloko ko siya.
Dahil mas madali iyong paniwalaan…
Kaysa labanan ang pamilyang kumokontrol sa buong buhay niya.
Tumulo ang luha ni Cassandra.
“Arga… listen to me—”
“Tumahimik ka.”
Unang beses kong narinig na ganoon siya magsalita.
Malamig.
Walang pagmamahal.
Dahan-dahan siyang muling tumingin sa akin.
Sa pagkakataong ito…
Hindi bilang lalaking mayabang.
Hindi bilang lalaking mayaman.
Kundi bilang isang lalaking wasak.
“Naura…”
“Patawarin mo ako.”
Anim na taon ko iyong hinintay.
Anim na taon kong inisip kung ano ang mararamdaman ko kapag narinig ko iyang mga salitang iyan.
Akala ko iiyak ako.
Akala ko sisigaw ako.
Pero wala.
Tahimik lang akong ngumiti.
Pagkatapos ay hinawakan ko ang kamay ni Nathan.
“Hindi ko kailangan ng sorry mo.”
Napabagsak ang balikat niya.
“At hindi rin kailangan ng anak ko ng ama na anim na taon kaming kayang talikuran.”
Parang tuluyan siyang nadurog.
Lumuhod muli siya.
Sa pagkakataong ito…
Hindi sa harap ko.
Kundi sa harap ng anak niya.
Nanginginig ang boses niya.
“Nathan…”
“Pwede bang… pwede bang maging kaibigan mo si Tito?”
Tahimik si Nathan.
Pagkatapos ay inosente siyang tumingin sa akin.
“Mama?”
Lumuhod ako sa tabi niya at inayos ang buhok niya.
“Anak…”
“Piliin mo kung ano’ng gusto mong gawin.”
Matagal nag-isip si Nathan.
Pagkatapos ay dahan-dahan niyang inilabas ang maliit niyang panyo mula sa bulsa.
Inabot niya iyon kay Arga.
Ngumiti siya.
Katulad na katulad ng ngiti ng ama niya noon.
“Huwag ka pong umiyak, Tito.”
“Okay lang po.”