Gabriel menatap layar ponselku cukup lama sampai hujan di jas mahalnya menetes ke lantai marmer rumah sakit.
Suasana kamar langsung berubah dingin.
“Apa hubunganmu dengan Leon Castillo?” tanyanya pelan.
Aku perlahan meletakkan ponsel di samping tempat tidur.
Untuk pertama kalinya sejak operasi itu, aku tidak takut menatap matanya.
“Pertanyaan yang lucu,” jawabku lirih. “Setelah kamu mencuri mataku demi wanita lain.”
Rahang Gabriel menegang.
“Aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan?” Aku tertawa kecil, suara serakku hampir seperti orang asing. “Apa yang mau kamu jelaskan? Bahwa hidupku memang pantas ditukar demi Celina?”
Dia melangkah mendekat.
“Aku melakukan itu untuk menyelamatkan nyawa seseorang.”
“Dan menghancurkan nyawa istrimu sendiri.”
Sunyi.
Hanya suara monitor jantung dan hujan deras di luar jendela.
Aku melihat sesuatu retak di wajahnya.
Bukan rasa bersalah.
Tapi ketakutan.
Karena akhirnya… aku berhenti mencintainya.
“Daniela…” suaranya melemah. “Aku akan menebus semuanya. Apa pun yang kamu mau.”
Aku menyentuh perban di mata kiriku perlahan.
“Aku mau hidupku kembali.”
Dia terdiam.
Karena kami berdua tahu… itu satu-satunya hal yang tak bisa dia kembalikan.
—
Tiga hari kemudian, aku menghilang dari Manila.
Tidak ada drama.
Tidak ada pesan panjang.
Aku hanya meninggalkan cincin pernikahan kami di meja penthouse BGC dan pergi naik pesawat pertama menuju Cebu.
Leon menjemputku sendiri di bandara.
Dia tetap sama seperti dulu—tenang, tajam, dan terlalu berbahaya untuk dicintai dengan aman.
Namun saat melihat perban di mataku, ekspresinya berubah.
Tangannya mengepal keras.
“Dia benar-benar melakukannya…” katanya lirih.
Aku tersenyum pahit.
“Aku juga dulu tidak percaya.”
Leon tidak banyak bicara lagi.
Dia membawaku ke rumah besar miliknya di kawasan pegunungan Busay, jauh dari media dan orang-orang Gabriel.
Di sana, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun… aku bisa tidur tanpa rasa takut.
Tanpa Celina.
Tanpa kebohongan.
Tanpa lelaki yang mengorbankanku demi cinta lamanya.
—
Namun Gabriel Del Rosario bukan pria yang bisa menerima kehilangan.
Seminggu setelah aku pergi, seluruh Manila gempar.
Vice Chairman Del Rosario Holdings membatalkan semua rapat.
Celina dipindahkan diam-diam ke Singapura.
Dan rumor tentang pertengkaran besar antara Gabriel dan keluarga Del Rosario mulai tersebar di kalangan bisnis.
Karena ternyata…
Kakek Gabriel baru mengetahui dari mana donor mata Celina berasal.
Dan lelaki tua itu murka.
“Seorang pria yang menghancurkan ibu dari anaknya sendiri demi wanita lain,” katanya dalam rapat direksi, “tidak pantas memimpin perusahaan keluarga ini.”
Dalam satu malam, saham Gabriel dibekukan.
Posisinya dicabut.
Media mulai mencium skandal itu.
Dan orang pertama yang membocorkannya…
adalah Marcus.
Sahabat yang akhirnya muak melihatku dihancurkan.
—
Sebulan kemudian, aku duduk di balkon rumah Leon sambil memandangi laut Cebu saat seseorang datang tanpa pemberitahuan.
Gabriel.
Tubuhnya jauh lebih kurus.
Matanya merah karena kurang tidur.
Tidak ada lagi aura pria sempurna yang dulu selalu dikagumi semua orang.
Dia tampak seperti seseorang yang akhirnya sadar bahwa uang tidak bisa membeli kembali orang yang sudah hancur karena dirinya.
Leon berdiri di belakangku.
“Aku bisa menyuruh orang membuangnya,” katanya dingin.
Aku menggeleng pelan.
“Biar aku yang selesaikan.”
Leon masuk kembali ke dalam rumah, tapi sebelum pergi, dia menatap Gabriel dengan tatapan yang nyaris seperti ancaman.
“Aku tidak akan memberimu kesempatan kedua.”
Setelah kami tinggal berdua, Gabriel berjalan mendekat.
Lalu…
untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun kami bersama—
dia berlutut di depanku.
Dadaku sesak melihatnya.
Bukan karena cinta.
Tapi karena akhirnya aku melihat lelaki yang dulu kuanggap seluruh duniaku… ternyata hanyalah manusia biasa yang penuh ego dan penyesalan.
“Aku kehilangan semuanya,” bisiknya.
Aku memandang laut.
“Tidak.”
Dia mengangkat kepala perlahan.
“Kamu masih punya Celina.”
Wajahnya langsung pucat.
“Tidak ada apa-apa lagi antara kami.”
Aku tersenyum kecil.
“Aneh ya. Dulu kamu rela mengambil mataku demi dia.”
Air mata jatuh dari matanya.
“Aku salah.”
“Kamu bukan salah, Gabriel.” Aku menatapnya tenang. “Kamu memilih.”
Sunyi panjang menyelimuti kami.
Lalu aku meletakkan satu map cokelat di meja kecil di depannya.
Dokumen perceraian.
Sudah kutandatangani.
Tangan Gabriel gemetar saat membukanya.
“Apa… sudah tidak ada kesempatan lagi?”
Aku mengusap perutku perlahan.
Karena di dalam tubuhku masih ada anak kami.
Dan itu adalah satu-satunya alasan kenapa aku tidak membencinya sepenuhnya.
“Aku pernah mencintaimu lebih dari diriku sendiri,” kataku pelan. “Tapi seorang pria yang benar-benar mencintai istrinya tidak akan pernah menjadikan tubuhnya sebagai pengorbanan untuk wanita lain.”
Gabriel menangis malam itu.
Benar-benar hancur di hadapanku.
Namun anehnya…
aku tidak ikut hancur lagi.
Karena akhirnya aku mengerti:
cinta yang membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri bukanlah cinta yang pantas diperjuangkan.
Saat Gabriel pergi dari rumah itu, hujan kembali turun di Cebu.
Dan untuk pertama kalinya sejak kehilangan mata kiriku…
aku merasa bisa melihat hidupku dengan jauh lebih jelas.

Enam bulan setelah perceraian kami resmi selesai, nama Gabriel Del Rosario hampir tidak pernah lagi muncul di halaman bisnis Manila.
Orang-orang bilang dia berubah total.
Menjual sebagian sahamnya.
Menutup penthouse di BGC.
Dan jarang muncul di acara publik.
Sementara itu, Celina… pergi lagi.
Kali ini benar-benar meninggalkannya setelah semua kekayaan dan kekuasaan yang dulu membuatnya kembali perlahan runtuh.
Ironis sekali.
Wanita yang ia pilih dibanding istrinya sendiri ternyata bahkan tidak sanggup tinggal saat semuanya memburuk.
—
Aku melahirkan anak laki-laki kami di Cebu saat hujan deras mengguyur kota sepanjang malam.
Leon ada di luar ruang persalinan selama sebelas jam penuh.
Tidak banyak bicara.
Hanya duduk diam dengan tangan terkepal sejak aku masuk ke ruang operasi.
Saat akhirnya tangisan bayi terdengar, dokter keluar sambil tersenyum.
“Selamat. Ibu dan bayinya selamat.”
Aku masih ingat wajah Leon saat pertama kali menggendong putraku.
Pria yang selama ini ditakuti banyak orang itu… gemetar saat memegang bayi sekecil itu.
“Dia mirip kamu,” katanya pelan.
Aku tersenyum lemah.
“Syukurlah.”
Namun beberapa jam kemudian, pintu kamar rumah sakit terbuka perlahan.
Dan Gabriel masuk.
Tubuhnya basah oleh hujan.
Persis seperti malam saat ia mengetahui aku menelepon Leon.
Matanya langsung jatuh pada bayi di pelukanku.
Lalu… hancur.
Karena untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat apa yang hampir ia hilangkan selamanya.
Anaknya.
Keluarganya.
Hidup yang dulu rela diinjaknya sendiri demi obsesi masa lalu.
“Aku… boleh melihatnya?” tanyanya lirih.
Ruangan menjadi sunyi.
Leon berdiri di dekat jendela, menatap Gabriel tanpa ekspresi.
Sedangkan aku memandang lelaki yang dulu pernah menjadi rumah bagiku.
Aku mengingat semuanya.
Masa-masa kami miskin di Cebu.
Mie instan yang kami bagi berdua.
Tangan Gabriel yang dulu selalu menghangatkanku saat listrik mati.
Dan juga malam ketika ia memilih mengambil mataku demi wanita lain.
Cinta dan luka bercampur jadi satu rasa pahit yang sulit dijelaskan.
Akhirnya, perlahan aku mengangguk.
Gabriel mendekat seperti orang yang takut dunia akan pecah kalau ia bergerak terlalu cepat.
Saat bayi itu diletakkan di pelukannya, air mata langsung jatuh dari matanya.
Bukan tangisan seorang miliarder.
Bukan tangisan pewaris keluarga besar.
Tapi tangisan seorang ayah yang sadar ia hampir kehilangan segalanya karena kebodohannya sendiri.
Jari kecil bayi kami menggenggam tangan Gabriel.
Dan lelaki itu langsung menunduk sambil menangis tanpa suara.
“Aku tidak pantas menjadi ayahnya…” bisiknya.
Aku menatapnya lama sebelum akhirnya berkata pelan,
“Mungkin memang tidak.”
Wajahnya semakin pucat.
“Tapi dia tetap anakmu.”
Gabriel menutup mata.
Tangisnya pecah malam itu.
Dan anehnya…
untuk pertama kali setelah semua yang terjadi, aku tidak lagi merasa marah.
Karena dendamku akhirnya selesai.
Bukan saat Gabriel kehilangan jabatan.
Bukan saat semua orang membencinya.
Tapi saat aku melihat sendiri bagaimana penyesalan bisa menghancurkan seseorang lebih kejam daripada balas dendam apa pun.
—
Setahun kemudian, aku membuka klinik mata kecil di Cebu menggunakan uang hasil perceraian dan tabunganku sendiri.
Namanya:
“Liwanag.”
Cahaya.
Karena meski aku kehilangan satu mata, aku tidak ingin kehilangan cara melihat hidup.
Leon tetap ada di sisiku.
Tidak memaksaku mencintainya.
Tidak pernah menuntut jawaban.
Ia hanya hadir dengan tenang di setiap hari burukku.
Dan perlahan… aku belajar lagi bagaimana rasanya dicintai tanpa harus dikorbankan.
Sedangkan Gabriel?
Kadang ia datang diam-diam untuk menemui putranya.
Membawakan mainan.
Duduk berjam-jam hanya untuk mendengar anak kecil itu memanggilnya “Papa.”
Namun setiap kali menatap bekas luka kecil di dekat mataku…
ia selalu terlihat seperti sedang dihukum oleh hidupnya sendiri.
Suatu sore sebelum pulang, ia pernah berkata pelan kepadaku:
“Aku pikir cinta berarti menyelamatkan orang yang paling tidak bisa kulepaskan.”
Aku tersenyum tipis sambil memandang laut Cebu dari balkon klinik.
“Tidak, Gabriel.”
Aku lalu menatapnya lurus dengan satu mata yang masih tersisa.
“Cinta adalah ketika kamu tidak menghancurkan orang yang paling mencintaimu.”