Ujian kelulusan SMA baru saja berakhir.
Malam itu, pria yang kukenal secara online mengirim pesan dan bertanya universitas mana yang akan kupilih.
Aku melihat nilai-nilaiku yang hampir sempurna, lalu dengan tenang mengetik nama sebuah akademi seni biasa di kota kecil yang jauh dari Jakarta.
Beberapa menit kemudian, dia membalas.
— Benarkah?
Aku menjawab:
— Ya. Bagiku, belajar di mana saja sama saja.
Namun itu bukanlah kebenaran.
Selama tiga tahun, aku begadang dan bekerja keras demi mendapatkan nilai-nilai itu.
Tetapi aku sudah lelah membiarkan orang lain menentukan masa depanku.
Sejak kecil, selalu ada orang lain yang membuat keputusan untukku.
Aku sudah sangat lelah.
Pria yang kukenal di forum belajar online itu bernama Rafael Wijaya.
Selama hampir dua tahun, kami berbincang di sebuah forum pendidikan.
Awalnya hanya percakapan biasa.
Namun seiring waktu, dia menjadi orang yang tampaknya paling mengerti diriku.
Atau setidaknya, itulah yang kupikirkan.
Semakin lama, aku merasa Rafael ingin mengetahui segala hal tentangku.
Dia bertanya di mana aku sekolah.
Siapa saja yang tinggal bersamaku.
Apa cita-citaku.
Bahkan kadang-kadang, dia sendiri yang merencanakan masa depanku.
Dan perlahan-lahan, aku mulai merasa sesak.
Karena itu aku mulai berbohong.
Kupikir jika dia menganggapku hanya gadis biasa dengan nilai biasa, dia akan menjauh dengan sendirinya.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Dia mengirim pesan:
— Kalau kamu mau, aku bisa membantumu masuk ke universitas yang lebih baik.
Aku tidak menjawab.
Aku mematikan ponsel.
Seperti yang kulakukan terhadap puluhan pesan darinya selama beberapa hari terakhir.
Keesokan harinya, kami makan malam bersama seperti biasa.
Ibuku terus menceritakan nilai-nilaiku kepada semua orang.
Dia selalu bangga padaku.
Atau mungkin…
Dia bangga pada prestasi yang bisa kuberikan kepadanya.
Saat makan malam hampir selesai, tiba-tiba ia menoleh kepadaku.
“Tadi Ibu masuk ke kamarmu untuk mengambil sesuatu.”
“Ibu melihat kamu mencari informasi tentang sebuah akademi seni kecil?”
Aku hampir menjatuhkan sendok.
“Aku hanya melihat-lihat.”
“Hanya melihat-lihat?”
Ibuku mengernyit.
“Dengan nilai setinggi itu, kenapa kamu melihat sekolah seperti itu?”
Aku hanya menunduk.
Pada saat itu, kakak angkatku mengangkat kepalanya.
Namanya Nathan Pratama.
Usianya enam tahun lebih tua dariku.
Dingin.
Pendiam.
Dan hampir tidak pernah tertarik pada apa pun yang berkaitan denganku.
Namun kali ini…
Tatapannya tertuju padaku lebih lama dari biasanya.
Beberapa detik kemudian, ia berdiri dan pergi.
Aku tidak terlalu memikirkannya.
Aku sama sekali tidak tahu bahwa momen kecil itu akan menjadi awal dari segalanya.
Malam harinya.
Pesan Rafael datang tanpa henti.
【Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?】
【Apa nilai kamu benar-benar seperti yang kamu katakan?】
【Aku merasa ada yang aneh.】
【Mari kita bertemu.】
【Aku ingin berbicara denganmu secara langsung.】
Aku menatap layar itu lalu meletakkan ponsel.
Aku tidak membalas.
Satu menit kemudian.
Ponselku berdering.
Panggilan pertama darinya selama dua tahun kami saling mengenal.
Aku tidak mengangkatnya.
Dia menelepon lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Kemudian berhenti.
Sesaat kemudian muncul pesan baru.
【Kalau kamu tidak mau bicara, aku sendiri yang akan mencari jawabannya.】
Aku tersenyum kecil.
Bagaimana mungkin dia menemukanku?
Dia tidak tahu nama asliku.
Dia tidak tahu di mana aku tinggal.
Dia tidak tahu aku sekolah di mana.
Selama dua tahun, kami hanya berbicara di balik layar.
Dia tidak akan pernah bisa menemukanku.
Aku yakin akan hal itu.
Keesokan paginya.
Aku pergi ke sekolah untuk mengambil dokumen kelulusan terakhir.
Saat keluar dari gerbang, aku melihat sebuah mobil hitam di seberang jalan.
Tidak ada yang aneh.
Namun entah kenapa, ada sesuatu yang membuatku menoleh lagi.
Perlahan kaca mobil itu turun.
Seorang pria duduk di dalam.
Dia mengenakan kemeja hitam gelap.
Tatapannya tertuju ke arah gerbang sekolah.
Aku tidak tahu mengapa, tetapi sosoknya terasa sangat familiar.
Sebelum sempat melihat lebih jelas, mobil itu sudah pergi.
Kupikir aku hanya terlalu banyak berpikir.
Sore harinya.
Aku membuka komputer untuk mencari informasi mengenai beasiswa.
Begitu masuk ke akun forumku.
Pesan dari Rafael langsung muncul.
Hanya satu kalimat.
【Akhirnya aku tahu siapa dirimu.】
Tubuhku membeku.
Jantungku berdetak semakin cepat.
Jari-jariku berhenti di atas keyboard.
Beberapa detik kemudian.
Pesan lain muncul.
Disertai sebuah foto.
Foto gerbang sekolahku.
Dan foto itu diambil pagi tadi.
Tepat saat aku keluar dari sekolah.
Seluruh tubuhku mendadak dingin.
Sebelum aku sempat pulih dari keterkejutan…
Pesan ketiga muncul.
【Jangan takut.】
【Aku sudah berada di depan rumahmu.】
Aku langsung berdiri dan berlari menuju jendela.
Dengan cepat aku membuka tirai.
Di bawah cahaya lampu jalan yang redup…
Sebuah mobil hitam terparkir di depan rumah.
Dan di samping mobil itu…
Seorang pria tinggi perlahan mengangkat kepalanya ke arah jendela kamarku.
Bersamaan dengan itu…
Ponselku kembali bergetar.
Pesan baru muncul.
【Keluarlah. Mari kita bertemu.】
Dan tepat pada saat yang sama…
Sebuah suara dingin terdengar dari belakangku.
“Yakin ingin menemui pria yang kamu kenal dari internet?”
Aku terkejut dan buru-buru berbalik.
Aku bahkan tidak tahu sejak kapan Nathan sudah berdiri di depan pintu kamar.
Namun yang lebih membuatku membeku…
Adalah ponsel di tangannya.
Layarnya masih menyala.
Dan di layar itu…
Terbuka seluruh percakapanku dengan Rafael selama dua tahun terakhir.
Bagian selanjutnya dari cerita ini ada di kolom komentar. Pilih “SEMUA KOMENTAR” untuk membaca kisah lengkapnya…
Semoga harimu menyenangkan! 👇

Aku membeku.
Selama beberapa detik, aku bahkan lupa bagaimana cara bernapas.
Nathan berdiri di depan pintu kamar dengan ekspresi tenang seperti biasa.
Namun untuk pertama kalinya dalam hidupku…
Aku melihat kemarahan di matanya.
Di tangannya, ponsel yang selama ini digunakan oleh Rafael masih menyala.
Seluruh percakapan kami selama dua tahun terakhir terpampang jelas di sana.
“Ka… Kak Nathan…”
Suaraku bergetar.
“Kenapa… ponsel itu ada padamu?”
Nathan tidak menjawab.
Ia hanya berjalan perlahan mendekat.
Lalu mengangkat ponsel itu.
“Jadi…”
“Selama dua tahun terakhir…”
“Orang yang paling kau percayai…”
“Adalah aku.”
Duniaku seakan berhenti.
Aku menatapnya tak percaya.
“Rafael…”
“Adalah Kak Nathan?”
Ia tersenyum tipis.
“Ya.”
Aku langsung mundur beberapa langkah.
“Gila…”
“Ini gila!”
“Kakak membohongiku selama dua tahun!”
Nathan menundukkan kepala.
“Dan kamu?”
“Bukankah kamu juga membohongiku?”
“Kamu bilang nilai kamu biasa saja.”
“Kamu bilang tidak punya impian.”
“Kamu bilang tidak peduli kuliah di mana.”
“Tapi diam-diam kamu menangis setiap malam karena takut tidak bisa masuk Institut Seni Nasional.”
Air mataku langsung jatuh.
Karena…
Dia benar.
Tidak seorang pun tahu.
Bahkan ibuku sendiri tidak tahu.
Selama ini aku diam-diam menyimpan brosur Institut Seni Nasional di bawah bantal.
Aku takut.
Takut kalau Ibu memaksaku mengambil fakultas kedokteran seperti yang selalu diinginkannya.
Aku takut mengecewakan semua orang.
Melihatku menangis, Nathan menghela napas pelan.
“Kenapa kamu tidak pernah mengatakan semua ini?”
Aku tertawa pahit.
“Karena tidak ada yang pernah bertanya apa yang aku inginkan.”
“Ayah dan Ibu hanya peduli pada nilai.”
“Teman-teman hanya peduli pada prestasi.”
“Dan Kakak…”
“Kakak bahkan tidak pernah peduli padaku.”
Untuk pertama kalinya…
Nathan terlihat terkejut.
Lalu ia tersenyum pahit.
“Tidak peduli?”
“Rania…”
“Kamu benar-benar berpikir begitu?”
Ia membuka dompetnya.
Dan mengeluarkan sebuah foto lama.
Foto itu diambil saat aku berusia sebelas tahun.
Saat pertama kali masuk ke rumah ini.
Aku berdiri canggung dengan koper kecil di tangan.
Dan di belakangku…
Nathan yang saat itu berusia tujuh belas tahun sedang memandangku.
Tatapannya lembut.
“Aku menyimpan foto ini selama delapan tahun.”
“Aku membuat akun Rafael karena aku tahu…”
“Sebagai kakakmu, aku tidak pernah bisa mendengar isi hatimu.”
“Tapi sebagai orang asing…”
“Aku bisa mengenalmu.”
Aku membeku.
“Kenapa?”
Nathan tertawa pelan.
“Karena aku bodoh.”
“Aku takut.”
“Aku takut kalau terlalu dekat denganmu, aku akan mulai menyukaimu lebih dari yang seharusnya.”
Air mataku jatuh semakin deras.
“Tapi kita keluarga…”
Nathan menggeleng.
“Tidak.”
“Kamu bukan adik kandungku.”
“Dan aku…”
“Sudah jatuh cinta padamu sejak lama.”
Ruangan langsung menjadi sunyi.
Aku bahkan bisa mendengar detak jantungku sendiri.
Saat itu juga…
Pintu kamar terbuka.
Ibu masuk sambil membawa buah.
Namun begitu melihat kami berdua menangis, beliau langsung panik.
“Ada apa ini?”
Nathan berdiri.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…
Ia berkata dengan tegas,
“Bu.”
“Aku ingin Rania memilih hidupnya sendiri.”
“Kalau dia ingin masuk Institut Seni Nasional…”
“Aku akan mendukungnya.”
“Kalau dia gagal…”
“Aku yang akan bertanggung jawab.”
Ibu terdiam.
Beliau memandangku.
Dan untuk pertama kalinya…
Beliau melihat air mata yang selama ini kusembunyikan.
Beberapa saat kemudian…
Ibu menangis.
“Maaf…”
“Ibu hanya ingin memberikan yang terbaik.”
“Tapi ternyata…”
“Ibu bahkan tidak tahu mimpi anak Ibu sendiri.”
Hari itu…
Untuk pertama kalinya dalam delapan belas tahun hidupku…
Aku memeluk Ibu sambil menangis.
Dan untuk pertama kalinya…
Aku berkata dengan jujur.
“Bu…”
“Aku ingin menjadi pelukis.”
Empat tahun kemudian.
Di sebuah galeri seni di Jakarta.
Pameran lukisan pertamaku dibuka.
Puluhan media hadir.
Dan karya utamaku terjual seharga 1,8 miliar rupiah.
Para wartawan bertanya,
“Apa rahasia kesuksesan Anda?”
Aku tersenyum.
Lalu memandang pria tinggi yang berdiri diam di sudut ruangan.
Pria yang selalu menemaniku begadang.
Pria yang mengantarku ke ujian masuk.
Pria yang menyimpan setiap tiket pameranku.
Pria yang selama ini menjadi pendengar terbaikku.
Nathan Pratama.
Ia tersenyum kepadaku.
Masih dengan tatapan lembut yang sama seperti delapan tahun lalu.
Aku tersenyum sambil menjawab,
“Karena suatu hari…”
“Ada seseorang yang mengajariku bahwa mimpi bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan.”
“Dan cinta…”
“Bukanlah tentang mengendalikan seseorang.”
“Melainkan keberanian untuk mendukungnya menjadi dirinya sendiri.”
Kemudian aku berjalan ke arahnya.
Menggenggam tangannya.
Dan di depan semua orang…
Aku tersenyum bahagia.
Karena akhirnya…
Aku tidak perlu lagi berbohong tentang mimpiku.
Dan aku juga tidak perlu lagi berbohong…
Tentang siapa orang yang paling kucintai.