Hari ketiga perjalanan bisnis suamiku, Jayson Hartono.

Malam itu, setelah memastikan Jayson tidak akan pulang, aku duduk sendirian di ruang tamu dengan tablet tua yang masih menyala di pangkuanku.

Aku membuka akun Viber kedua yang diam-diam masih login.

Jantungku berdebar ketika daftar percakapan muncul di layar.

Nama paling atas adalah seseorang yang kusangka tidak akan pernah kulihat lagi.

Chloe Tan.

Foto profilnya memperlihatkan seorang wanita bergaun putih sedang tersenyum di depan Marina Bay Sands, Singapura.

Tanganku gemetar saat membuka percakapan mereka.

Ribuan pesan.

Ribuan.

Bukan hubungan yang baru dimulai beberapa minggu lalu.

Mereka telah berhubungan selama hampir dua tahun.

Aku menggulir layar perlahan.

Setiap kalimat terasa seperti pisau yang mengiris harga diriku sedikit demi sedikit.

“Aku cuma menunggu waktu yang tepat untuk menceraikannya.”

“Sabarlah sedikit lagi.”

“Begitu semua aset sudah aman, kita bisa menikah.”

“Lagipula, aku tidak pernah benar-benar mencintainya.”

Aku berhenti bernapas.

Tidak pernah benar-benar mencintaiku?

Tujuh tahun pernikahan.

Tujuh tahun aku mendukungnya dari nol.

Tujuh tahun aku membela dirinya di depan keluarga ketika semua orang meragukannya.

Dan ternyata baginya, semua itu hanya investasi.

Aku terus membaca.

Kemudian sebuah pesan membuat darahku langsung membeku.

Chloe:
“Apa kamu yakin orang tuanya akan menyerahkan rumah itu?”

Jayson:
“Tenang saja.”

“Grace terlalu bodoh untuk curiga.”

“Ayahnya memang keras kepala, tapi dia sangat mencintai putrinya.”

“Kalau perlu, aku akan membuat Grace menandatangani surat kuasa penuh.”

“Begitu uang pinjaman cair, aku akan memindahkan semuanya.”

“Setelah itu, bahkan kalau dia menggugat sekalipun, dia tidak akan mendapatkan apa-apa.”

Aku menutup mata.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, air mata tidak keluar.

Yang tersisa hanya kemarahan.

Kemarahan yang sangat dingin.

Aku mengambil tangkapan layar semua percakapan.

Satu per satu.

Ratusan bukti.

Foto.

Transfer bank.

Tiket hotel.

Bahkan ada foto Jayson dan Chloe sedang berpelukan di Bali saat dia mengaku sedang menghadiri konferensi otomotif di Surabaya.

Selesai mengunduh semuanya, aku langsung mengirimkan seluruh berkas kepada Pak Ardi Wijaya.

Ponselku berdering beberapa menit kemudian.

“Bu Grace.”

Suara Pak Ardi terdengar sangat serius.

“Ini jauh lebih besar daripada yang saya kira.”

“Apa maksud Anda?”

“Suami Anda bukan hanya berencana menipu Anda.”

“Dia juga sedang mencuci aset melalui beberapa perusahaan cangkang.”

Aku terdiam.

Pak Ardi melanjutkan.

“Saya sudah memeriksa beberapa nama perusahaan yang muncul dalam percakapan mereka.”

“Salah satunya ternyata terdaftar atas nama mantan sopir Jayson.”

“Dan ada transfer dana yang jumlahnya mencapai miliaran rupiah.”

Aku mengepalkan tangan.

“Jadi dia benar-benar melakukannya.”

“Ya.”

“Lalu apa langkah berikutnya?”

Ada jeda beberapa detik.

Kemudian Pak Ardi berkata pelan:

“Kita tunggu dia bergerak lebih jauh.”

“Semakin banyak bukti yang kita kumpulkan, semakin berat kejatuhannya nanti.”

Aku tersenyum tipis.

“Tentu saja.”

Bukankah itu yang kuinginkan?

Aku sudah terlalu lama menjadi istri yang baik.

Terlalu lama menjadi wanita yang selalu mengalah.

Terlalu lama menjadi orang yang percaya bahwa cinta bisa mengubah seseorang.

Kini giliranku bermain.

Dan aku berniat memenangkan permainan ini.


Tiga hari kemudian, Jayson pulang membawa kabar gembira.

“Wifey!”

Dia masuk rumah sambil memelukku.

“Pinjaman bank kemungkinan besar akan disetujui!”

Aku pura-pura ikut bahagia.

“Benarkah?”

“Ya.”

Dia mencium keningku.

“Sebentar lagi semua masalah kita selesai.”

Aku menatap wajahnya.

Wajah pria yang dulu sangat kucintai.

Sekarang aku hanya melihat seorang penipu.

Seorang pengkhianat.

Seorang pria yang rela menjual keluargaku demi perempuan lain.

Aku tersenyum lembut.

“Saya ikut senang, Hubby.”

Dia tidak tahu.

Saat itu juga, seluruh rekening pribadinya sedang diperiksa oleh tim hukum.

Seluruh transaksi perusahaan sedang diaudit.

Dan semua percakapannya bersama Chloe sudah tersimpan aman di tangan pengacara.

Dia pikir dirinya adalah pemburu.

Padahal tanpa sadar, dia sudah berjalan masuk ke dalam perangkap yang kubangun sendiri.

Dan kali ini…

Aku tidak akan kehilangan apa pun.

Sebaliknya.

Aku akan mengambil kembali seluruh hidup yang pernah kuserahkan kepadanya.

Dengan bunga.

Dan dengan harga yang jauh lebih mahal daripada yang pernah ia bayangkan.

Tiga bulan kemudian.

Hari yang ditunggu-tunggu Jayson akhirnya tiba.

Ia mengundang para investor, kerabat, dan beberapa rekan bisnis ke sebuah hotel mewah di Jakarta Selatan.

Menurut rencananya, hari itu akan menjadi awal kehidupan barunya bersama Chloe.

Ia bahkan sudah menyiapkan surat gugatan cerai.

Yang tidak ia ketahui adalah bahwa hari itu juga akan menjadi hari kehancuran seluruh hidupnya.

Aku datang mengenakan gaun hitam sederhana.

Pak Ardi datang bersamaku.

Ayah dan Ibu duduk di barisan depan.

Dari kejauhan, aku melihat Chloe menggandeng lengan Jayson dengan penuh kemenangan.

Tatapan matanya seolah berkata bahwa ia sudah menang.

Mereka salah.

Sangat salah.

Ketika acara hampir selesai, Jayson berdiri di atas panggung.

Dengan senyum percaya diri, ia mengangkat mikrofon.

“Hari ini saya ingin mengumumkan sesuatu yang penting.”

Ruangan langsung hening.

“Ada seseorang yang selama ini menjadi alasan saya bekerja keras.”

Tatapannya mengarah ke Chloe.

Wajah Chloe memerah karena bahagia.

“Akhirnya, saya memutuskan untuk mengejar kebahagiaan saya sendiri.”

Tepat saat itu.

Suara lain terdengar dari belakang ruangan.

“Bagus sekali.”

Semua orang menoleh.

Pak Ardi berdiri perlahan.

Tangannya membawa sebuah map tebal.

“Sebelum Pak Jayson melanjutkan pidatonya, saya rasa para tamu berhak mengetahui satu hal.”

Wajah Jayson langsung berubah.

“Anda siapa?”

“Saya kuasa hukum Ibu Grace Hartono.”

Detik berikutnya, layar LED besar di belakang panggung menyala.

Foto-foto Jayson dan Chloe muncul satu per satu.

Percakapan rahasia mereka.

Transfer uang.

Dokumen perusahaan cangkang.

Rencana memindahkan aset.

Rencana menipu bank.

Rencana mengambil rumah orang tuaku.

Semuanya.

Tanpa tersisa sedikit pun.

Ruangan meledak dalam kegaduhan.

Wajah Chloe memucat.

Jayson hampir menjatuhkan mikrofon.

“Matikan itu!”

“MATIKAN SEKARANG!”

Tetapi semuanya sudah terlambat.

Para investor mulai berdiri.

Beberapa wartawan yang hadir langsung mengangkat kamera.

Pak Ardi membuka mapnya.

“Dengan ini kami juga mengajukan laporan resmi atas dugaan penggelapan aset, penipuan keuangan, dan pemalsuan dokumen.”

Tubuh Jayson gemetar.

Ia menoleh kepadaku.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat ketakutan yang sesungguhnya di matanya.

“Grace…”

“Aku bisa menjelaskan…”

Aku tersenyum.

Tenang.

Dingin.

Seolah-olah pria itu hanyalah orang asing.

“Menjelaskan apa?”

“Bahwa kau tidak pernah mencintaiku?”

“Atau bahwa kau berencana merampas rumah orang tuaku?”

Air mata mulai memenuhi matanya.

“Grace, tolong…”

“Aku salah.”

“Aku benar-benar salah.”

Chloe langsung mundur beberapa langkah.

Perempuan yang selama ini ia perjuangkan bahkan tidak berani berdiri di sisinya ketika segalanya runtuh.

Aku menatap mereka berdua.

Lalu tertawa pelan.

Bertahun-tahun lalu.

Aku pernah berpikir kehilangan Jayson berarti kehilangan seluruh duniaku.

Hari itu aku akhirnya sadar.

Ternyata yang hilang bukan duniaku.

Melainkan beban yang selama ini mengikat kakiku.

Enam bulan kemudian.

Perceraian kami resmi selesai.

Seluruh aset yang dibangun menggunakan dana keluargaku berhasil dikembalikan.

Perusahaan Jayson bangkrut.

Banyak investornya menarik diri.

Kasus hukumnya masih berjalan.

Sedangkan Chloe?

Ia meninggalkannya bahkan sebelum sidang pertama dimulai.

Suatu sore, aku menerima pesan singkat dari nomor yang tidak kukenal.

Itu dari Jayson.

“Hari ini ulang tahunmu.”

“Aku hanya ingin bilang maaf.”

“Aku kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintaiku.”

Aku membaca pesan itu selama beberapa detik.

Lalu menghapusnya.

Tanpa membalas.

Karena ada satu hal yang akhirnya kupahami.

Maaf tidak selalu harus diterima.

Dan cinta tidak selalu harus diberi kesempatan kedua.

Aku menutup ponsel.

Di luar jendela, matahari senja perlahan tenggelam di ufuk Jakarta.

Ayah dan Ibu sedang tertawa di ruang keluarga.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.

Rumah terasa hangat lagi.

Damai lagi.

Dan aku akhirnya bisa tersenyum tanpa rasa sakit.

Kali ini, aku tidak kehilangan apa pun.

Aku menemukan kembali diriku sendiri.