Dan tepat ketika aku terjatuh akibat ditabrak dari belakang, suara hati adikku, Tania, kembali terdengar jelas di telingaku.
【Seberapa pintar pun kamu, percuma saja!】
【Saat membantu memungut pulpen tadi, aku sudah diam-diam menukar semuanya lagi!】
【Kakak bodoh, kali ini aku ingin melihat bagaimana caramu lulus Universitas Indonesia!】
Aku mengepalkan tangan erat.
Jadi memang begitu.
Di kehidupan sebelumnya, setiap kali aku mengira sudah lolos dari jebakannya, ternyata Tania selalu berhasil menemukan kesempatan untuk menyerangku lagi.
Namun kali ini…
Aku hanya tersenyum pelan.
Karena ketika dia membungkuk pura-pura membantuku mengambil pulpen, aku juga mendengar pikiran lain di kepalanya.
【Syukurlah dia tidak sadar kalau aku terlalu panik sampai menjatuhkan gelang giok pemberian Ibu…】
【Kalau gelang itu hilang, Ibu pasti memarahiku habis-habisan…】
Mendengar itu, mataku langsung menyipit.
Sebuah gelang giok hijau memang tergeletak tidak jauh dari tempat kami bertabrakan.
Aku diam-diam menginjaknya dengan sepatu, lalu berdiri sambil pura-pura kebingungan.
“Tania, terima kasih ya sudah membantu.”
Dia tersenyum manis.
“Tenang, Kak. Semoga ujianmu berjalan lancar.”
Namun dalam hatinya, dia tertawa seperti orang gila.
【Lancar? Mimpi saja!】
【Sebentar lagi kau akan menangis seperti di kehidupan sebelumnya!】
Aku tidak menjawab.
Sebaliknya, aku langsung masuk ke area pemeriksaan.
Dan tepat sebelum memasuki gedung ujian, aku sengaja berkata kepada petugas dengan suara keras:
“Pak, saya baru saja terjatuh dan semua pulpen saya berceceran. Saya khawatir tintanya rusak. Bolehkah saya meminjam pulpen cadangan dari panitia?”
Petugas mengangguk.
“Tentu.”
Kemudian, di depan kamera CCTV dan para peserta lain, ia menyerahkan dua pulpen baru yang masih tersegel.
Wajah Tania yang berdiri di luar pagar langsung membeku.
【Apa?!】
【Tidak mungkin!】
【Bagaimana aku bisa menukar pulpen itu sekarang?!】
【Sial! Sial!】
Melihat ekspresi paniknya, aku hampir tertawa.
Untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan…
Akulah yang membuatnya putus asa.
Tiga jam kemudian.
Aku keluar dari ruang ujian dengan perasaan lega.
Begitu melihatku, Tania langsung berlari mendekat.
“Bagaimana ujianmu, Kak?”
【Cepat bilang gagal! Cepat bilang gagal!】
Aku tersenyum tipis.
“Cukup bagus.”
Wajahnya langsung berubah pucat.
【Tidak mungkin…】
【Aku sudah menukar semua pulpennya!】
【Kenapa dia masih bisa mengerjakan soal?!】
Namun sebelum dia sempat bertanya lagi, suara marah Ibu tiba-tiba terdengar dari belakang.
“Tania!”
Kami berdua menoleh.
Ibu dan Ayah baru saja turun dari mobil.
Wajah Ibu sangat jelek.
“Gelang giok warisan nenekmu ke mana?!”
Tubuh Tania langsung membeku.
【Tidak… tidak mungkin…】
【Bukankah tadi jatuh di dekat gerbang?】
【Kenapa tidak ada?!】
Aku pura-pura terkejut.
“Memangnya hilang?”
Tania langsung panik.
“Bu, aku… aku tidak tahu…”
Namun pikirannya sudah kacau balau.
【Selesai aku…】
【Kalau Ibu tahu aku menjatuhkan gelang itu karena sibuk mengganggu Kakak, aku pasti mati!】
Melihat wajahnya yang pucat, aku hanya tersenyum dalam hati.
Akhirnya…
Dia juga merasakan ketakutan yang pernah kualami.
Seminggu kemudian.
Pihak keamanan kampus menghubungi kami.
Mereka menemukan gelang giok itu melalui rekaman CCTV.
Dan dalam rekaman tersebut…
Terlihat dengan jelas bagaimana Tania sengaja menabrakku, lalu diam-diam menukar pulpen-pulpenku.
Ayah dan Ibu terdiam.
Selama bertahun-tahun, mereka selalu mengira bahwa Tania hanyalah anak manja yang sedikit nakal.
Tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka bahwa putri kesayangan mereka mampu melakukan hal sekejam itu.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, Ayah menampar Tania.
Dan Ibu menangis sambil memegang bahuku.
“Juan… maafkan Ibu…”
“Selama ini Ibu tidak pernah mempercayaimu…”
Aku memejamkan mata.
Kalimat itu…
Terlambat satu kehidupan.
Namun untungnya…
Tidak terlambat untuk kehidupan ini.
Dua bulan kemudian.
Hasil UTBK-SNBT diumumkan.
Namaku berada di urutan pertama se-provinsi.
Dan aku diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dengan beasiswa penuh.
Hari itu, seluruh keluarga besar datang memberi selamat.
Sedangkan Tania hanya berdiri sendirian di sudut ruang tamu.
Tidak ada lagi senyum kemenangan di wajahnya.
Tidak ada lagi tatapan meremehkan.
Ketika aku hendak berangkat ke Jakarta, dia tiba-tiba memanggilku dengan suara gemetar.
“Kak…”
Aku berhenti.
Air matanya jatuh satu per satu.
“Aku… aku minta maaf…”
“Aku iri padamu sejak kecil…”
“Aku selalu takut kalau Ayah dan Ibu lebih menyayangimu daripada aku…”
“Makanya aku selalu ingin menghancurkanmu…”
“Aku salah…”
Untuk pertama kalinya, aku tidak mendengar kebencian dalam pikirannya.
Yang tersisa hanyalah penyesalan yang tak berujung.
Aku memandangnya lama.
Lalu tersenyum pelan.
“Tania.”
“Kamu kalah bukan karena aku lebih beruntung.”
“Tapi karena selama aku berusaha mengejar masa depan…”
“Kamu justru menghabiskan seluruh hidupmu untuk menghancurkan orang lain.”
Kereta menuju Jakarta perlahan bergerak.
Sinar matahari sore menyinari wajahku.
Dan untuk pertama kalinya setelah dua kehidupan…
Aku benar-benar merasa bebas.
Karena akhirnya aku mengerti.
Orang yang paling menakutkan bukanlah musuh yang kuat.
Melainkan seseorang yang membiarkan rasa iri menguasai seluruh hidupnya.
Dan orang yang benar-benar menang…
Bukanlah mereka yang berhasil membalas dendam.
Melainkan mereka yang tetap berjalan maju, meskipun berkali-kali dijatuhkan oleh orang lain.

Bab Terakhir
Namun, aku mengira semuanya sudah berakhir.
Aku salah.
Tiga hari sebelum keberangkatanku ke Jakarta, aku terbangun di tengah malam vì mendengar suara tangisan pelan dari ruang tamu.
Ketika aku membuka pintu kamar, aku melihat Ibu duduk sendirian di sofa sambil memegang album foto lama.
Matanya merah.
Di sampingnya, Ayah menundukkan kepala, sementara Tania berlutut di lantai, wajahnya penuh air mata.
Begitu melihatku keluar, tubuh Tania langsung gemetar.
“Kak…”
Suaranya serak.
“Aku tahu aku tidak pantas meminta maaf.”
“Aku tahu aku sudah menghancurkan terlalu banyak hal…”
“Tapi aku ingin mengatakan satu hal yang selama ini tidak pernah berani kuucapkan.”
Dia menunduk semakin rendah.
“Sejak kecil… aku selalu iri padamu.”
“Kamu pintar.”
“Kamu baik.”
“Guru-guru menyukaimu.”
“Bahkan teman-temanku sering mengatakan mereka berharap punya kakak seperti dirimu.”
“Aku takut…”
“Aku takut suatu hari Ayah dan Ibu hanya akan bangga padamu.”
“Aku takut menjadi orang yang tidak berarti.”
“Tapi sekarang aku mengerti…”
Dia menangis tersedu-sedu.
“Orang yang paling tidak berarti bukanlah orang yang kalah.”
“Melainkan orang yang terus-menerus mencoba menjatuhkan keluarganya sendiri.”
Ibu tak kuasa lagi menahan air mata.
Ayah, yang sepanjang hidupnya jarang menunjukkan emosi, diam-diam membalikkan wajahnya.
Ruangan itu sunyi.
Hanya suara isak tangis yang terdengar.
Setelah sekian lama, aku berjalan mendekat.
Tania langsung gemetar.
Mungkin dia mengira aku akan memarahinya.
Mungkin dia mengira aku akan mengatakan bahwa aku tidak akan pernah memaafkannya.
Namun…
Aku hanya mengeluarkan sebuah foto dari album tua itu.
Foto kami berdua ketika masih kecil.
Saat itu aku berusia delapan tahun.
Dan Tania baru berusia empat tahun.
Di foto itu, dia duduk di pundakku sambil tertawa ceria.
Aku masih ingat hari itu.
Dia terjatuh dari sepeda dan menangis selama hampir satu jam.
Aku menggendongnya pulang.
Dan malamnya, dia memelukku sambil berkata:
“Kakak adalah orang terbaik di dunia.”
Aku meletakkan foto itu di tangannya.
“Masih ingat?”
Tubuh Tania langsung membeku.
Lalu dia menangis semakin keras.
Karena dia ingat.
Dia ingat semuanya.
Dia ingat bahwa sebelum rasa iri memenuhi hatinya…
Dia pernah sangat mencintai kakaknya.
Dan aku…
Juga pernah sangat menyayangi adikku.
Hari keberangkatanku akhirnya tiba.
Langit Jakarta cerah.
Ayah membawa koperku.
Ibu terus mengingatkanku untuk makan tepat waktu.
Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun…
Tania ikut mengantarku ke stasiun.
Saat kereta akan berangkat, dia menyerahkan sebuah kotak kecil.
“Apa ini?”
Dia tersenyum sambil menyeka air mata.
“Kak…”
“Dulu aku menghancurkan semua pulpenmu.”
“Jadi sekarang…”
“Aku ingin mengembalikannya.”
Ketika kubuka kotak itu, di dalamnya terdapat satu set pena premium berwarna hitam.
Dan sebuah catatan kecil.
Tulisan tangannya masih sama seperti dulu.
『Untuk kakak terbaik di dunia.
Semoga semua impianmu tercapai.
— Adikmu, Tania.』
Aku menatap tulisan itu lama sekali.
Dan tanpa kusadari, mataku mulai memanas.
Kereta mulai bergerak perlahan.
Tania berlari di samping jendela sambil melambaikan tangan.
Air mata terus mengalir di wajahnya.
“Kak!”
“Belajarlah dengan baik!”
“Aku akan menjadi adik yang lebih baik!”
“Kali ini… aku pasti tidak akan membuatmu kecewa lagi!”
Aku tersenyum dan melambaikan tangan.
Dan pada saat itu, aku mendengar suara hatinya untuk terakhir kali.
Bukan kebencian.
Bukan iri hati.
Melainkan…
【Terima kasih karena masih mau menjadi kakakku.】
Aku tersenyum pelan.
Karena akhirnya aku mengerti.
Keluarga tidak selalu sempurna.
Kadang ada luka.
Kadang ada pengkhianatan.
Kadang bahkan ada kebencian.
Namun selama seseorang benar-benar menyesal dan mau berubah…
Maka masih ada kesempatan untuk memulai kembali.
Dan kebahagiaan terbesar dalam hidup…
Bukanlah mengalahkan orang yang membencimu.
Melainkan melihat orang yang pernah tersesat…
Akhirnya menemukan jalan pulang.
Tahun itu, aku diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Dan tahun itu pula…
Aku mendapatkan kembali seorang adik.
Yang sempat hilang selama bertahun-tahun.
Ternyata, beberapa kemenangan tidak tertulis di lembar jawaban ujian.
Melainkan tertulis di dalam hati manusia.