Hari pertama kuliah di Universitas Indonesia, aku baru saja tiba di asrama ketika Mama menyerahkan kunci mobil yang katanya sudah lama disiapkan sebagai hadiah karena aku berhasil masuk universitas.

Namun sebelum aku sempat beristirahat, teman sekamarku, Vanessa Wijaya, tiba-tiba pamer di depan seluruh angkatan.

“Weekend ini kita liburan! Semua aku yang traktir—villa, makanan, bahkan semua aktivitas di pantai!”

Seluruh ruangan langsung riuh kegirangan.

Di tengah keramaian, dia menghampiriku dengan senyum seorang sosialita sejati.

“Alya, ikut juga dong. Sayang kalau kamu cuma tinggal di asrama.”

Aku hanya menatapnya dengan tenang.

Karena di pergelangan tangannya…

terpasang gelang yang diberikan Mama kepadaku tadi malam.

Sebuah gelang desainer edisi eksklusif yang bahkan belum dirilis ke pasaran.

Dan pagi ini…

gelang itu sudah hilang.

01

Orientasi mahasiswa baru baru saja selesai ketika Vanessa berdiri di tengah kelas dan mengayunkan kunci mobil sportnya.

“Guys, private resort sudah aku booking. Pokoknya kalian tinggal bersenang-senang, semuanya aku yang bayar.”

Seluruh kelas langsung terkejut.

“Serius? Private resort?”

“Vanessa, ternyata kamu benar-benar kaya!”

“Boleh nggak aku jadi sahabatmu?”

Seseorang langsung membelikan boba untuknya.

Ada yang menawarkan diri membawakan tasnya.

Bahkan beberapa mahasiswa laki-laki berebut membukakan pintu untuknya.

Sementara aku hanya duduk diam di belakang.

Vanessa menghampiri mejaku dan tersenyum.

“Alya, jangan jadi anak kuper dong. Kita teman, kan?”

Tatapanku jatuh ke gelang di tangannya.

Persis sama.

Bahkan goresan kecil di sampingnya juga sama.

Tadi malam, ketika Mama memakaikan gelang itu ke tanganku, beliau berkata:

“Hanya ada satu di dunia. Ada sistem pengaman khusus. Kalau dilepas oleh orang lain, ponsel Mama akan langsung menerima notifikasi.”

Namun seharian penuh…

tidak ada notifikasi apa pun.

Artinya…

penguncinya belum pernah dibuka.

Ketua kelas, Cindy Pratama, tertawa kecil.

“Mungkin Alya malu karena nggak punya barang mewah.”

Yang lain ikut tertawa.

“Mungkin ini pertama kalinya dia pergi ke resort mewah.”

“Aku rasa tasnya juga palsu.”

Aku menutup buku catatan perlahan dan menatap Vanessa.

“Gelangmu bagus sekali.”

Vanessa sempat terdiam.

Namun dia segera tersenyum.

“Hadiah ulang tahun dari Papa.”

“Benarkah?”

Suasana kelas sempat menjadi hening.

Tetapi Cindy langsung menyela.

“Alya, kamu sedang menghina Vanessa?”

Vanessa pura-pura tenang sambil menyibakkan rambutnya agar gelang itu semakin terlihat.

“Papa bilang nanti saat Natal dia akan membelikanku yang lebih mahal.”

Semua orang langsung semakin kagum.

Aku diam-diam mengambil ponselku.

Pesan baru dari Kakak.

‘Rekaman CCTV sudah kami dapatkan.’

Aku keluar menuju koridor dan langsung meneleponnya.

Dalam video itu terlihat jelas bagaimana Vanessa membuka laci mejaku saat aku sedang mandi.

Dia mengambil gelang itu.

Lalu…

memakainya di tangannya sendiri.

Kakakku tertawa dingin.

“Berani sekali.”

Aku kembali melihat ke arah kelas.

Vanessa sedang duduk di tengah kerumunan seperti seorang ratu yang dikelilingi pengagumnya.

“Kamu mau lapor polisi sekarang?” tanya Kakakku.

Aku menggeleng.

“Belum.”

“Kenapa?”

Aku tersenyum perlahan.

“Biarkan dia membawa semuanya sampai ke resort.”

Kakakku terdiam sesaat lalu tertawa.

“Wah… ternyata kamu punya rencana yang lebih besar.”

“Dia sedang menggali kuburnya sendiri.”

Malam harinya, kami semua berangkat menuju resort di Anyer.

Vanessa duduk di depan mobil van sambil melakukan siaran langsung.

“Guys, malam ini nikmati saja semuanya! Uang bukan masalah!”

Komentar para penontonnya terus bermunculan.

“Baik banget!”

“Kaya dan cantik!”

“Pengen punya teman seperti Vanessa!”

Cindy tertawa sambil melirikku.

“Alya, kamu beruntung masih diajak Vanessa.”

Aku tidak menjawab.

Tiba-tiba ponselku bergetar.

Pesan dari Mama.

‘Apa perempuan yang memakai gelang itu ada di sampingmu sekarang?’

Aku mengernyit.

Lalu pesan kedua masuk.

‘Mama baru menerima peringatan keamanan tingkat tinggi.’

Aku langsung menoleh ke arah Vanessa.

Jari-jarinya sedang memainkan gelang itu.

Dan kemudian—

terdengar suara pelan.

“Klik.”

Seluruh tubuhku langsung membeku.

Karena baru saja…

dia membuka sistem pengaman pada gelang tersebut.

Suara “klik” itu sangat pelan.

Tidak seorang pun di dalam van menyadarinya.

Tidak seorang pun…

kecuali aku.

Dan Mama.

Beberapa detik kemudian, sebuah pesan baru masuk.

“Sistem identifikasi telah aktif.”

“Lokasi gelang terkonfirmasi.”

“Prosedur keamanan tingkat tertinggi dimulai.”

Aku mengerutkan kening.

Prosedur keamanan?

Aku bahkan tidak tahu gelang itu memiliki fitur seperti itu.

Belum sempat aku bertanya, Mama mengirim pesan lagi.

“Jangan katakan apa-apa. Nikmati liburanmu.”

Aku tersenyum tipis.

Baiklah.

Kalau begitu…

aku akan menonton pertunjukannya.


Sesampainya di resort, Vanessa langsung melakukan siaran langsung.

“Guys, lihat! Villa pribadi dengan kolam renang!”

Semua teman sekelas bersorak.

Cindy bahkan memeluk Vanessa.

“Vanessa! Aku sayang banget sama kamu!”

Semua orang sibuk mengambil foto.

Sementara aku duduk di balkon sambil menikmati jus jeruk.

Setengah jam kemudian…

Tiga mobil hitam memasuki halaman villa.

Empat pria berjas turun lebih dulu.

Di belakang mereka, dua wanita asing berpakaian formal membawa koper perak.

Semua orang terdiam.

Vanessa juga menghentikan siaran langsungnya.

Seorang pria paruh baya melangkah maju.

“Permisi.”

“Kami dari Divisi Perlindungan Aset Aurora Maison.”

Wajah Vanessa berubah bingung.

“Ada apa?”

Pria itu tersenyum sopan.

“Kami mendeteksi bahwa salah satu perhiasan prototipe milik perusahaan kami telah dibuka oleh pengguna yang tidak terdaftar.”

Suasana langsung hening.

Vanessa tertawa kecil.

“Oh, maksud Anda gelang ini?”

“Ya.”

“Ini hadiah dari ayah saya.”

Pria itu tersenyum lagi.

“Benarkah?”

Dia membuka koper perak.

Di dalamnya terdapat dokumen, foto, nomor seri, dan sertifikat keaslian.

“Gelang ini adalah prototipe Aurora Maison seri A-One.”

“Hanya ada satu di dunia.”

“Pemilik resminya adalah Nona Alya Maheswari.”

Semua kepala langsung menoleh kepadaku.

Vanessa membeku.

Cindy membeku.

Seluruh teman sekelas membeku.

“Mustahil!”

Vanessa berdiri.

“Ini milikku!”

Pria itu mengangguk.

“Tentu.”

“Lalu apakah Anda bisa membuka kunci biometrik kedua?”

Wajah Vanessa langsung pucat.

“Kunci apa?”

Pria itu tersenyum.

“Karena pemilik sebenarnya dapat membukanya dengan sidik jari yang sudah didaftarkan.”

Dia menoleh kepadaku.

“Nona Alya.”

Aku berjalan mendekat.

Lalu meletakkan jariku di atas gelang itu.

Klik.

Lampu kecil di dalam gelang menyala.

Semua orang ternganga.

Dan pada saat yang sama—

layar kecil tersembunyi di bagian dalam gelang menampilkan namaku.

ALYA MAHESWARI

Disusul logo Aurora Maison.

Vanessa hampir terjatuh.

“Ti-tidak…”

“Tidak mungkin…”

Pria itu lalu mengeluarkan tablet.

“Selain itu…”

“Kami juga menerima rekaman CCTV dari pihak keluarga Nona Alya.”

Di layar muncul video Vanessa membuka laci mejaku saat aku sedang mandi.

Lalu mengambil gelang itu.

Tubuh Vanessa langsung gemetar.

“Bu-bukan…”

“Aku hanya meminjam…”

“Mau mengembalikan…”

Cindy yang tadi paling keras membelanya langsung mundur tiga langkah.

“Vanessa… kamu mencuri?”

Teman-teman yang sebelumnya memujanya juga ikut menjauh.

“Ya ampun…”

“Dia pencuri?”

“Aku bahkan membelikannya minuman tadi!”

Vanessa menangis.

Lalu menoleh kepadaku.

“Alya… tolong…”

“Kita teman sekamar.”

Aku memandangnya dengan tenang.

“Teman sekamar tidak membuka laci orang lain.”

“Teman tidak mencuri.”


Namun…

kejutan sebenarnya baru dimulai.

Pria dari Aurora Maison tiba-tiba membungkuk kepadaku.

“Nona Alya.”

“Presiden Direktur ingin berbicara dengan Anda.”

Sebuah panggilan video tersambung.

Dan begitu wajah wanita elegan itu muncul…

seluruh tubuh Vanessa membeku.

Karena wajah wanita itu sangat mirip denganku.

Wanita itu tersenyum.

“Sayang.”

“Mama minta maaf karena mengganggu liburanmu.”

Seluruh teman sekelasku membelalak.

Mama tersenyum kepada para tamu.

“Perkenalkan.”

“Saya Laras Maheswari.”

“Pendiri Aurora Maison Asia.”

Cindy menjatuhkan ponselnya.

Salah satu mahasiswa laki-laki bahkan hampir tersedak.

Karena nama Laras Maheswari…

adalah salah satu wanita terkaya di Indonesia.

Dan Aurora Maison…

adalah merek perhiasan mewah yang nilainya mencapai puluhan triliun rupiah.

Vanessa langsung terduduk di lantai.

“Ti-tidak…”

“Jadi selama ini…”

Aku tersenyum.

“Ya.”

“Aku memang tidak suka pamer.”


Keesokan harinya, video CCTV dan rekaman siaran langsung Vanessa tersebar di seluruh kampus.

Semua orang mengetahui bagaimana dia berpura-pura menjadi orang kaya dengan barang curian.

Statusnya sebagai mahasiswa baru yang paling populer runtuh dalam semalam.

Sedangkan Cindy…

yang selama ini paling sering mengejekku…

datang sambil menangis meminta maaf.

Aku hanya tersenyum.

Karena sejak awal…

aku tidak pernah membutuhkan mereka untuk mengagumiku.

Aku hanya ingin teman.

Teman yang tulus.


Tiga bulan kemudian.

Aku masih tinggal di asrama yang sama.

Masih memakai pakaian sederhana.

Masih naik mobil biasa.

Namun kali ini…

aku memiliki tiga sahabat yang selalu menemaniku belajar sampai larut malam.

Dan pada hari ulang tahunku…

mereka memberiku sebuah gelang persahabatan buatan tangan.

Harganya mungkin hanya lima puluh ribu rupiah.

Tetapi saat memakainya…

aku tersenyum lebih bahagia dibanding saat memakai gelang miliaran rupiah dari Aurora Maison.

Karena akhirnya aku mengerti.

Perhiasan paling mahal di dunia…

tidak akan pernah lebih berharga daripada hati manusia yang tulus.

TAMAT.