“HINDI AKU AKAN MEMAAFKAN SEPERTI IBUKU DULU…”
Itulah kalimat terakhir yang kuucapkan setelah mengetahui tunanganku meninggalkanku di malam pertunangan kami demi menjemput mantan kekasihnya.
Namun tepat saat aku membalikkan badan… terdengar suara rem yang memekakkan telinga di tengah hujan malam Jakarta.
Hujan terakhir musim penghujan mengguyur kawasan Sudirman, Jakarta Selatan.
Lampu-lampu neon memantul di jalanan basah di depan hotel mewah tempat pesta pertunangan kami seharusnya berlangsung sempurna.
Aku berdiri di bawah kanopi hotel sambil memeluk kotak mango cake yang sudah sedikit hancur terkena hujan.
Gaun putihku dingin dan basah.
Aku memilih gaun itu selama hampir dua minggu.
Karena dulu Adrian pernah berkata:
— Kamu paling cantik saat memakai warna putih.
— Seperti bulan di Bali waktu malam.
Dan aku mempercayainya.
Aku mempercayainya sampai menolak liburan kantor demi malam ini.
Aku mempercayainya sampai menghabiskan waktu berjam-jam berdandan dan membeli heels baru.
Aku mempercayainya sampai berpikir… malam ini akhirnya dia akan melamarku di depan semua orang.
Namun pukul sembilan malam…
Kursi di depanku tetap kosong.
Lilin di meja sudah tiga kali diganti pelayan.
Es di champagne sudah mencair.
Musik violin di restoran bahkan sudah berganti berkali-kali.
Enam kali aku menelepon Adrian.
Tak ada jawaban.
Pesan terakhirnya datang pukul 9:20 malam.
“Sayang, ada klien penting dari Surabaya yang tiba-tiba datang. Aku harus menemuinya. Besok aku ganti semuanya ya ❤️”
Aku menatap pesan itu lama sekali.
Sampai Instagram tiba-tiba memberi notifikasi baru.
Yang mengunggah adalah:
Camille Prasetyo.
Mantan kekasih Adrian.
Perempuan yang meninggalkannya pergi ke Singapura tiga tahun lalu.
Foto itu diambil di Bandara Soekarno-Hatta Terminal 3.
Ada koper merah.
Rambut panjang yang sangat kukenal.
Dan di belakangnya…
Mobil BMW hitam milik Adrian.
Plat nomor B 7281 ADR.
Caption-nya sederhana:
“Finally home.”
Diunggah pukul 9:12 malam.
Aku tertawa kecil.
Tawa dingin yang bahkan terdengar asing bagiku sendiri.
Jadi “klien penting”-nya…
Adalah cinta pertamanya.
Aku masih ingat saat Camille pergi meninggalkan Indonesia dulu.
Adrian mabuk hampir seminggu penuh.
Bahkan pernah berkata padaku:
— Kalau saja Camille tidak pergi waktu itu… mungkin dia yang akan kunikahi.
Waktu itu aku pura-pura tidak peduli.
Karena ibuku selalu berkata:
— Semua orang punya masa lalu.
— Yang penting siapa yang dipilih sekarang.
Ibuku mempercayai kalimat itu sepanjang hidupnya.
Sampai usiaku tujuh belas tahun.
Hari ketika beliau berdiri di balkon lantai dua puluh apartemen kami di Jakarta Timur.
Angin menghantam gaun kuningnya.
Aku baru pulang sekolah saat itu dan langsung berlutut sambil menangis.
— Mama… turunlah…
— Tolong…
— Aku tidak butuh keluarga sempurna…
Beliau menoleh kepadaku.
Matanya merah, tetapi wajahnya sangat tenang.
Lalu beliau berkata:
— Sofia… Mama salah…
— Mama salah karena berpikir laki-laki akan berubah jika terus dimaafkan.
Malam itu…
Ayahku masih bersama wanita simpanannya di hotel.
Saat mendapat kabar tentang Mama, barulah ia bergegas ke rumah sakit.
Ia berlutut di lorong rumah sakit dan menangis.
Menangis seolah dirinya suami paling menderita di dunia.
Padahal hanya aku yang tahu…
Seminggu sebelum Mama meninggal, Ayah bahkan membawa wanita itu liburan ke Bali.
Aku sendiri yang menemukan struk hotel di saku jasnya.
Sejak hari itu…
Aku berjanji pada diriku sendiri.
Aku bisa mencintai seseorang sepenuh hati.
Tapi aku tidak akan pernah menjadi seperti ibuku.
Pukul 9:50 malam.
Aku berdiri dari meja.
Pelayan perempuan menatapku dengan iba.
— Semua tagihan sudah dibayar Pak Adrian, Mbak…
Aku mengangguk pelan.
— Terima kasih.
Lalu aku berjalan keluar menuju hujan.
Malam Jakarta begitu terang.
Tapi tubuhku terasa dingin sampai ke tulang.
10:17 PM.
Telepon dan pesan Adrian masuk bertubi-tubi.
“Sayang jawab aku.”
“Tolong dengarkan penjelasanku.”
“Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”
“Aku cuma jemput dia.”
Satu per satu aku memblokir semuanya.
WhatsApp.
Instagram.
Telegram.
Bahkan playlist Spotify couple kami.
Tanpa ragu.
Namun saat aku hendak masuk ke taksi…
Sebuah SUV hitam berhenti mendadak di depanku.
Pintunya terbuka.
Adrian berlari keluar di tengah hujan deras.
Kemeja hitamnya basah kuyup.
Napasnya terengah-engah.
— Sofia!
Ia meraih tanganku.
— Tolong dengarkan aku dulu!
Aku menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya selama tiga tahun…
Dia terlihat seperti orang asing.
— Lepaskan aku.
— Aku cuma takut Camille kenapa-napa! Aku tidak berniat meninggalkanmu!
Aku tertawa kecil.
— Tidak berniat?
— Adrian… malam ini malam pertunangan kita.
Wajahnya langsung pucat.
Seolah baru sadar.
Ibunya sendiri yang membeli cincin pertunangan.
Semua teman kami tahu malam ini ia akan melamarku.
Bahkan nenekku yang sedang dirawat di rumah sakit masih sempat menelepon dan bertanya:
“Kapan Nenek bisa datang ke pernikahan kalian?”
Namun dia…
Malah pergi menjemput mantan kekasihnya.
Tangannya menggenggamku semakin erat.
— Aku salah…
— Aku benar-benar salah…
— Sofia… please…
Dan tepat di tengah hujan itu…
Dia berlutut.
Persis seperti ayahku dulu berlutut di depan kamar jenazah ibuku.
Mata merah.
Suara gemetar.
Permohonan yang sama:
— Maafkan aku kali ini saja…
Aku berdiri diam.
Air hujan mengalir di pipiku.
Aku bahkan tidak tahu apakah itu hujan…
Atau air mata.
Dan tepat saat itu…
Ponsel Adrian menyala.
Napasaku berhenti saat melihat nama di layar.
“Camille ❤️”
Adrian membeku.
Sementara aku…
Hanya menatap layar itu beberapa detik.
Lalu perlahan aku melepas cincin couple dari jariku.
Dan meletakkannya di telapak tangannya.
— Adrian…
— Ibuku meninggal karena terlalu sering memaafkan.
Aku menatap lurus ke matanya di tengah hujan deras.
— Tapi aku…
— tidak akan mengorbankan diriku demi laki-laki yang masih hidup di masa lalunya.
Setelah mengatakan itu, aku berbalik pergi.
Namun tepat beberapa langkah kemudian—
Terdengar suara klakson panjang yang memekakkan telinga.
Seseorang berteriak histeris di tengah hujan:
— ADRIAN!!! AWAS!!!
Aku spontan menoleh.
Dan detik berikutnya—
Sebuah truk kontainer besar meluncur liar di jalan basah menuju arah Adrian.
Semua orang menjerit.
Tubuh Adrian membeku di tengah jalan.
Lampu putih truk menyilaukan di tengah hujan.
Waktu terasa melambat.
Aku bisa saja pergi.
Aku bisa saja membiarkannya menerima akibat dari semua pilihannya.
Tapi tubuhku bergerak lebih cepat daripada pikiranku.
Aku berlari.
Mendorong Adrian sekuat tenaga ke trotoar.
BRAKKK!!!
Suara benturan keras mengguncang malam Jakarta.
Tubuhku terpental ke jalan basah.
Dunia langsung berputar.
Aku hanya mendengar samar-samar suara Adrian yang berteriak panik.
— SOFIAAA!!!
Hujan terasa hangat di wajahku.
Tidak…
Itu bukan hujan.
Itu darah.
Pandangan mataku mulai kabur.
Di tengah kesadaran yang hampir hilang, aku melihat Adrian berlutut sambil memelukku erat.
Tangannya gemetar hebat.
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya…
Aku melihat ketakutan nyata di matanya.
— Jangan tidur… tolong jangan tinggalin aku…
Air matanya jatuh bercampur hujan.
Dan anehnya…
Hatiku justru terasa sangat tenang.
Karena akhirnya aku sadar satu hal.
Aku memang masih mencintainya.
Tapi mencintai seseorang…
Bukan berarti harus menghancurkan diri sendiri demi dipilih.
Sebelum semuanya gelap, aku tersenyum kecil dan berbisik:
— Kali ini… yang aku selamatkan… cuma diriku sendiri…

…Ngunit hindi ako namatay noong gabing iyon.
Pagmulat ko ng mata, puting kisame ng ICU ang bumungad sa akin.
Masangsang ang amoy ng antiseptic.
May nakakabit na oxygen tube sa ilong ko at halos hindi ko maigalaw ang kaliwang braso ko dahil sa matinding sakit.
Tahimik ang buong silid maliban sa tunog ng heart monitor.
At sa tabi ng kama ko…
Nakatulog si Adrian habang nakayuko at mahigpit na hawak ang kamay ko.
Namumula ang mga mata niya.
Magulo ang buhok.
Suot pa rin niya ang parehong basang polo noong gabing iyon.
Parang ilang araw siyang hindi natulog.
Dahan-dahan kong hinila ang kamay ko palayo.
Agad siyang nagising.
At nang makita niyang dilat na ang mga mata ko—
Parang tuluyang nabuhay muli ang mukha niya.
“Sofia…”
Basag ang boses niya.
“Akala ko… hindi ka na gigising…”
Hindi ako nagsalita.
Tahimik ko lang siyang tinitigan.
At sa unang pagkakataon…
Nakakita ako ng takot sa isang lalaking dating sigurado na hinding-hindi ko siya iiwan.
Bigla siyang lumuhod sa tabi ng kama ko.
Eksaktong katulad noong gabing nasa ulan kami.
Pero ngayon… wala nang pagmamadali.
Wala nang palusot.
Puro pagod at pagsisisi na lang.
“Iniwan ko si Camille.”
“Binenta ko na rin ‘yung condo na binili ko para sana sa amin.”
“Tinigil ko lahat ng project sa Singapore.”
“Please…”
Nanginginig ang mga kamay niya habang umiiyak.
“Kahit huwag mo na akong mahalin ulit…”
“Hayaan mo lang akong bumawi habang buhay.”
Tahimik akong nakinig.
Pagkatapos ay marahan kong tinanong:
“Kung hindi ako nasagasaan…”
“Talaga bang pipiliin mo ako?”
Nanigas siya.
At sapat na ang katahimikang iyon para maintindihan ko ang lahat.
Pumikit ako sandali.
Masakit pa rin.
Hindi lang katawan ko.
Kundi pati ang natitirang bahagi ng pusong pilit ko pa ring inililigtas.
“Adrian…”
Mahina akong ngumiti.
“Alam mo kung bakit ako tumakbo para iligtas ka?”
Napaiyak siya habang paulit-ulit na umiling.
“At that moment…”
“Tiningnan kita hindi bilang fiancé ko.”
“Kundi bilang isang taong minsan kong minahal nang totoo.”
“Pero hindi ibig sabihin noon… pwede mo na akong mahalin pabalik kapag convenient na sa’yo.”
Tuluyan siyang napayuko.
At doon ko unang nakita—
Na may mga lalaking hindi umiiyak dahil nawalan sila ng babae.
Umiiyak sila dahil ngayon lang nila na-realize ang halaga nito.
Pagkaraan ng dalawang linggo, tahimik akong umalis ng ospital.
Walang drama.
Walang yakapan.
Walang second chance.
Iniwan ko ang engagement ring sa ibabaw ng bedside table niya sa VIP lounge.
Kasama ng isang maikling sulat.
“Hindi kita galit.”
“Pero pagod na akong mahalin ang taong palaging may ibang pinipili bago ako.”
“At sa unang pagkakataon…”
“Pinipili ko naman ang sarili ko.”
Lumipad ako papuntang Bali makalipas ang isang buwan.
Mag-isa.
Unang beses kong maglakbay nang walang takot maiwan.
Walang hinihintay na message.
Walang chine-check na location.
Walang umiiyak sa hotel bathroom dahil sa lalaking hindi marunong makuntento.
At habang pinapanood ko ang paglubog ng araw sa tabing dagat—
Biglang nag-vibrate ang cellphone ko.
Isang larawan mula kay Adrian.
Nasa harap siya ng puntod ng mama ko.
May dalang puting lilies.
At may kasamang mensahe:
“Ngayon ko lang naintindihan kung bakit ka takot maging katulad niya.”
“Pasensya na kung huli ko nang naintindihan.”
Matagal kong tinitigan ang message.
Pagkatapos ay marahan akong ngumiti.
Hindi dahil gusto ko pa siyang balikan.
Kundi dahil sa wakas…
Hindi na masakit.
Dahan-dahan kong pinatay ang cellphone.
At habang sumasabay ang hangin sa tunog ng alon—
Pakiramdam ko, unang beses akong tunay na malaya.
Dahil minsan…
Ang pinakamagandang ending sa isang love story—
Ay ang sandaling pinili mo nang mahalin ang sarili mo nang higit kaysa sa taong paulit-ulit kang sinasaktan.