Hujan mengguyur deras ketika aku tiba di basement Tower C, Sudirman.

Hujan mengguyur deras ketika aku tiba di basement Tower C, Sudirman.

Jam di dashboard mobil menunjukkan 22.58 WIB.

Dua menit lagi.

Parkiran hampir kosong. Lampu neon berkedip pelan. Suasana sunyi, hanya terdengar gema tetesan air dari pipa bocor.

Pukul 23.00 tepat.

Sebuah mobil hitam berhenti di depanku.

Pintu belakang terbuka.

Seorang pria turun.

Aku mengenal wajah itu.

Rizky.

Bukan suara rekaman.

Bukan video rumah sakit.

Dia berdiri di depanku. Sehat. Tanpa ekspresi panik.

Tangannya memegang sebuah tas kecil.

“Cepat sekali kamu datang,” katanya santai.

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Pamanku di mana?”

Dia tersenyum tipis.

“Tenang saja. Dia memang di rumah sakit. Tapi belum sekarat.”

Dadaku langsung terasa kosong.

“Jadi video itu?”

“Direkam dua hari lalu. Dokternya teman.”

Sunyi.

Hujan terdengar semakin keras.

“Mana uangku?” tanyaku.

Dia mengangkat tas itu.

“Di sini ada sebagian.”

“Sebagian?” suaraku berubah dingin.

“Rp100 juta.”

“Lima puluh jutanya?”

Dia tersenyum.

“Biaya administrasi.”

Aku tertawa pelan.

Bukan tawa marah.

Tapi tawa seseorang yang akhirnya mengerti semuanya.

“Rizky,” kataku pelan, “kamu yakin ini keputusan yang cerdas?”

Dia menyipitkan mata.

“Apa maksudmu?”

Aku mengangkat ponselku.

Layar masih menyala.

Satu ikon kecil berkedip merah.

Live recording.

Dan bukan hanya itu.

Di pojok layar, ada notifikasi kecil:

“Call connected — 00:12:47”

Wajah Rizky berubah.

“Kamu menelepon siapa?”

Aku menoleh sedikit.

Dari balik pilar parkiran, dua pria melangkah keluar.

Bukan polisi berseragam.

Tapi petugas dari unit cyber crime Polda Metro Jaya.

Dan di belakang mereka—

Mama.

Wajahnya pucat.

Tangannya gemetar.

Aku menatap Rizky lagi.

“Sejak kamu kirim video rumah sakit, aku sudah curiga. Aku telepon pihak RS Siloam langsung. Mereka bilang tidak ada ancaman penghentian tindakan.”

Wajahnya semakin pucat.

“Lalu aku cek ke bank. Rekening palsu itu dibuat dengan KTP hasil scan yang kamu minta dariku bulan lalu… katanya untuk daftar asuransi keluarga.”

Tangannya mulai gemetar.

“Aku datang ke sini bukan sendirian,” lanjutku tenang.

“Aku datang untuk mengembalikan uangku… dan mengakhiri sandiwara.”

Petugas mendekat.

“Saudara Rizky Pratama?”

Dia mundur selangkah.

Tasnya jatuh.

Ritsleting terbuka.

Bundelan uang terlihat di lantai.

“Saudara ditahan atas dugaan penipuan dan pemalsuan identitas.”

Rizky menoleh padaku.

Tatapan panik.

“Kamu tega melaporkan keluarga sendiri?”

Aku menatapnya lurus.

“Keluarga tidak mencuri satu sama lain.”

Hening.

Hanya suara hujan.

Saat tangan Rizky diborgol, dia menunduk.

Tidak ada lagi kesombongan.

Tidak ada lagi sandiwara air mata.

Hanya ketakutan.

Mama berjalan mendekatiku perlahan.

Air matanya jatuh.

“Maaf… Mama hampir percaya mereka.”

Aku memeluknya pelan.

“Yang penting sekarang kita tahu siapa yang benar.”


Dua minggu kemudian.

Uang Rp150 juta berhasil dibekukan dan dikembalikan sepenuhnya.

Pamanku menjalani operasi dengan biaya yang transparan dan resmi.

Grup keluarga?

Sunyi.

Tak ada lagi sindiran.

Tak ada lagi tuduhan.

Hanya satu pesan terakhir dari tanteku:

“Kami tidak menyangka sejauh ini.”

Aku membaca pesan itu tanpa emosi.

Lalu keluar dari grup.

Kadang yang membuat darah membeku bukanlah kehilangan uang.

Tapi menyadari bahwa orang yang paling dekat dengan kita…

adalah orang yang paling siap menjatuhkan kita.

Dan malam itu di basement parkiran,

yang benar-benar hilang bukan hanya Rp150 juta—

melainkan satu ilusi bernama “keluarga.”