Ia mengambil seluruh penelitianku dan mengunggahnya ke sistem.

Ia mengambil seluruh penelitianku dan mengunggahnya ke sistem.
Rp5.000 sebagai “imbalan” untuk tiga bulan keringat dan kurang tidur.
Sampai sebuah pemberitahuan dari dewan akademik membuatnya terpaku di tempatnya…

Malam itu hujan turun deras di Yogyakarta.

Aku hanya keluar tepat dua puluh menit dari laboratorium Teknik Energi Universitas untuk membeli kopi di kantin kampus.

Saat kembali, laptopku masih menyala…
tapi kursi di sebelahku kosong.

Di sanalah biasanya duduk Nadia Pratama.

Aku bahkan belum sempat duduk ketika ponselku bergetar.

Notifikasi dari grup riset:

“Proposal berjudul ‘Smart Coastal Energy Grid’ telah diunggah ke sistem oleh Nadia Pratama.”

Jantungku seperti berhenti berdetak.

Itu skripsiku.

Tiga bulan aku hampir tinggal di lab.
Bolak-balik ke Pantai Parangtritis untuk mengumpulkan data angin dan arus laut.
Begadang setiap malam memperbaiki model simulasi.

Semua ada di file itu.

Tanganku gemetar saat membuka sistem akademik.

Nama penulis: Nadia Pratama.

Bukan aku.

Ini bukan sekadar edit.
Bukan sekadar referensi.

Ini… pengambilalihan terang-terangan.

Aku langsung berdiri dan berlari ke lorong.

Nadia berdiri di dekat jendela, bermain ponsel, seolah tak terjadi apa-apa.

“Apa yang kamu lakukan dengan fileku?” suaraku bergetar.

Ia mengangkat alis.

— Aku cuma mengunggah proposal.

— Mengunggah… punyaku?

— Punyamu? Maksudmu apa?

Aku mengepalkan tangan.

“Itu dataku. Semua aku yang kerjakan.”

Ia tersenyum tipis, lalu menunjukkan layar ponselnya.

Pesan dari dosen pembimbing:

“Struktur sangat baik. Lanjut ke sidang final.”

Napas di dadaku terasa sesak.

— Aku lihat filemu terbuka, jadi kubaca.

— Bagus. Jadi kupakai saja.

— Kamu kan belum upload, ya?

“Kamu mencuri risetku.”

— Jangan lebay.

— Dalam penelitian, ide itu untuk dibagikan.

— Lagipula… kamu tidak mengunci laptopmu.

Rasanya seperti ditampar.

“Hapus sekarang.”

Ia menyilangkan tangan.

— Terlambat.

— Sudah tercatat di sistem.

— Besok sidang.

Ia tersenyum sinis.

— Kalau kamu tidak terima…

— Buat saja topik baru.

— Masih ada 24 jam, kan?

Aku tertawa pahit.

“Tiga bulan… diganti 24 jam?”

Ia mengeluarkan dompetnya, mengambil beberapa lembar uang, lalu menyelipkannya ke tanganku.

— Ini, tanda terima kasih.

— Rp5.000.

— Lumayan untuk mahasiswa.

Aku menatap uang itu.

Seperti harga diriku dipatok murah.

Aku melemparkannya kembali padanya.

“Kamu pikir aku siapa?”

Ia mengangkat bahu.

— Lambat.

— Kalah.

— Dan… tanpa bukti.

Aku kembali ke lab.

Kubuka laptopku.

Fileku… hilang.

Bukan cuma file utama.

Backup juga.

Cloud juga.

Seolah tidak pernah ada.

Punggungku terasa dingin.

Nadia berdiri di ambang pintu, tersenyum.

— Lagi cari sesuatu?

— Oh ya… lupa bilang.

— Sudah kubersihkan juga untukmu.

— Biar rapi.

Kepalaku berdengung.

Tidak ada file.
Tidak ada data.
Tidak ada bukti.

Hanya aku.

Dan proposal dengan namanya.

Ponselku bergetar lagi.

Email baru.

Dari Dewan Akademik Universitas.

Kubuka.

Baris pertama membuat napasku terhenti:

“Kami menerima laporan anonim mengenai kemungkinan duplikasi data pada proposal ‘Smart Coastal Energy Grid’…”

Aku terdiam.

Belum sempat membaca lanjutannya, Nadia mendekat dan mengintip layar ponselku.

Wajahnya berubah.

Untuk pertama kalinya.

Senyumnya hilang.

Digantikan… ketakutan.

Aku menatapnya perlahan.

Lalu tersenyum.

“Nadia…”

“Kamu yakin… cuma aku yang kehilangan file?”

Nadia mundur satu langkah.

Tangannya yang tadi percaya diri kini sedikit gemetar.

“Apa maksudmu?” suaranya tidak lagi setenang sebelumnya.

Aku mematikan layar ponselku perlahan.

“Tiga bulan aku mengerjakan itu, Nadia. Kamu pikir aku sebodoh itu menyimpan semuanya di satu tempat?”

Wajahnya mulai pucat.

“Data asli memang ada di laptop. Tapi server sensor di Pantai Parangtritis mencatat semua aktivitas pengambilan data—lengkap dengan ID peneliti dan waktu akses.”

Aku melangkah mendekat.

“Dan tahu siapa yang terdaftar sebagai pemilik akun itu?”

Nadia menelan ludah.

Aku melanjutkan dengan suara tenang, hampir berbisik.

“Namaku.”

Hujan di luar semakin deras.

Tak lama kemudian, ponselnya ikut bergetar.

Email masuk.

Dari Dewan Akademik.

Ia membukanya dengan tangan gemetar.

Wajahnya benar-benar kehilangan warna.

Subjek emailnya singkat:

“Pemanggilan klarifikasi dan penangguhan sidang.”

Isi pesannya menjelaskan bahwa metadata sistem menunjukkan file yang ia unggah dibuat dan direvisi dari akun milikku selama tiga bulan terakhir.
Termasuk jejak login terakhir dua puluh menit sebelum pengunggahan—dari perangkat yang sama.

Sistem mencatat semuanya.

Dan seseorang—entah siapa—telah mengirimkan log lengkapnya ke dewan.

Nadia menatapku.

“Kamu… sudah merencanakan ini?”

Aku menggeleng pelan.

“Aku cuma belajar satu hal dari penelitian: selalu simpan data cadangan.”

Aku menunjukkan flashdisk kecil yang tergantung di gantungan kunciku.

“Dan selalu kirim laporan mingguan ke email pribadi.”

Ia terduduk di kursi lorong.

Seluruh kepercayaan dirinya runtuh dalam hitungan menit.


Dua Minggu Kemudian

Sidangku tetap berlangsung.

Kali ini, dengan namaku sendiri tertera jelas di layar proyektor.

Ruangan hening ketika grafik simulasi energi pesisir muncul.

Dosen pembimbingku berdiri dan berkata,

“Integritas dalam penelitian lebih penting daripada kecerdasan.”

Aku tahu kalimat itu bukan hanya tentang skripsi.

Nadia?

Sidangnya dibatalkan.

Ia harus mengulang semester dan menjalani pemeriksaan etik akademik.

Rp5.000 yang dulu ia sodorkan padaku menjadi simbol kesombongan yang terlalu murah untuk menukar masa depan.


Malam setelah sidang, aku kembali ke lab.

Hujan sudah berhenti.

Udara terasa bersih.

Aku berdiri di depan jendela, memandangi kampus yang tenang.

Tiga bulan kerja keras hampir saja hilang.

Bukan karena kurang pintar.

Tapi karena terlalu percaya.

Kini aku mengerti.

Pengetahuan bisa dicuri.
File bisa dihapus.
Nama bisa diganti.

Tapi kerja keras yang jujur selalu meninggalkan jejak.

Dan jejak itulah… yang akhirnya membawaku ke garis akhir.