Ibuku berkata, karena aku belum menikah, semua saudara dan teman-temannya meremehkannya.
Mengikuti tren di TikTok, aku merekam video dan bertanya satu per satu kepada keluarga besar kami apakah mereka benar-benar meremehkan Ibu.
Paman Rudi berkata:
“Tidak, saya tidak ikut campur urusan hidup kalian. Saya tidak pernah meremehkannya.”
Bibi Sinta berkata:
“Aduh, mana mungkin saya begitu? Saya menghormati kakak saya.”
Om Budi, ayah baptisku, berkata:
“Pola pikir anak muda sekarang sudah berbeda. Kita tidak bisa menghakimi mereka.”
Aku menoleh ke arah Ibu. Aku ingin bertanya siapa sebenarnya yang meremehkannya.
Namun dalam sekejap, ia menerjangku, merebut ponselku dan membantingnya ke lantai.
Di depan seluruh keluarga, ia menamparku keras.
“Aku! Aku yang meremehkan diriku sendiri! Dan kamu alasan kenapa aku membenci diriku!”
1
Tamparannya membuatku terhuyung hingga punggungku membentur dinding. Matanya penuh amarah, seolah belum puas.
Bibi Sinta segera menahannya.
“Kak, dia cuma bercanda. Kenapa sampai segitunya?”
Ibu meledak:
“Bercanda? Umurnya sudah 26 tahun tapi masih tak tahu malu! Apa dia tak sadar betapa memalukannya aku?”
“Rambutku dan ayahnya sudah memutih karena memikirkan pernikahannya! Adiknya, Arga, gagal terus pacaran gara-gara dia! Dia merusak hidup kita semua, lalu bilang cuma bercanda?”
Semua orang terdiam.
Arga menyela dengan kesal:
“Kak, waktu aku terakhir kencan, semuanya baik-baik saja. Tapi setelah mereka tahu aku punya kakak perempuan yang belum menikah, sikap mereka berubah. Mereka bilang mungkin keluarga kita ada masalah sampai kamu tidak laku. Aku ditinggalkan di restoran!”
“Kak, kamu hampir 27! Menikahlah! Sampai kapan kamu jadi beban di rumah ini?”
Aku memegang pipiku yang memerah. Tak tahu harus berkata apa.
Bibi Sinta berkata lembut,
“Nadia, dengarkan kami. Kamu sudah dewasa. Jangan terus jadi beban pikiran orang tuamu. Pikirkan masa depanmu.”
Semua mata memandangku penuh penilaian.
Dengan suara gemetar aku berkata,
“Aku tidak bilang aku tidak mau menikah. Hanya saja aku belum menemukan orang yang tepat. Dan kamu, Arga—apa salahku kalau kamu tidak punya pacar? Bukankah karena kamu malas dan belum punya pekerjaan tetap?”
Ibu berteriak:
“Jangan salahkan orang lain! Semua ini karena kamu! Keluarga ini sial karena keras kepalamu! Tuhan menghukum kita karena kamu!”
Tiba-tiba nadanya berubah, seperti memohon:
“Nadia… kasihanilah Ibu. Menikahlah. Teman-teman sebayamu sudah punya anak. Ibu tak bisa tidur, tak berani bertemu arisan karena kamu!”
Lalu ia mencibir:
“Kamu egois! Hanya mau memeras uang dan jadi beban Arga seumur hidup!”
Hatiku terasa ditusuk.
“Ma, kapan aku pernah jadi beban—”
Ia memotongku:
“Ya, ya! Kamu pasti mau bilang kamu yang kirim uang, bayar kuliah adikmu, beli perabot rumah!”
“Bawa saja uangmu! Walau kami makan nasi dengan garam saja, asal kamu pergi dan menikah, Ibu sudah bahagia!”
Tiba-tiba ia berlari ke dapur dan mengambil pisau.
“Mau lihat Ibu mati di depanmu baru kamu sadar?!”
Semua orang panik menahannya.
“Nadia! Setuju saja! Kita carikan jodoh sekarang juga!”
“Tak usah pilih-pilih! Asal baik dan rajin sudah cukup!”
Arga menatapku seperti musuh.
“Kak, kamu masih punya hati nurani? Seluruh keluarga menderita karena kamu!”
Aku tertawa pahit. Memaksaku menikah… demi kebaikanku?
2
Usiaku 26 tahun. Aku bekerja di perusahaan swasta di Jakarta dengan gaji tetap. Aku tak menyangka tekanan untuk menikah bisa sebesar ini.
Karena kami dulu miskin, saat aku mulai bekerja, aku mengutamakan keluarga.
Aku membayar uang muka apartemen kecil untuk orang tuaku di Bekasi.
Aku mengganti semua peralatan rusak: AC, mesin cuci, TV.
Setiap bulan aku mengirim Rp 60.000.000 untuk biaya hidup mereka.
Aku juga membayar iuran BPJS dan menabung dana pensiun untuk mereka.
Namun setiap kali aku membantu, jawaban Ibu selalu sama:
“Kalau kamu benar-benar sayang kami, menikahlah. Jangan habiskan uang untuk barang. Cari suami!”
Ayah bahkan berhenti bicara padaku. Ia berkata pada tetangga bahwa aku sombong karena berpendidikan tinggi.
Menjadi lajang seolah menjadi kejahatan.
Rumah yang kubiayai sendiri, justru membuatku jadi orang luar.
Air mataku jatuh.
“Baiklah. Kalau Ibu ingin mati hari ini, aku akan beli peti mati paling mahal.”
Semua terdiam.
Ibu terduduk sambil menangis histeris:
“Dosa apa aku punya anak seperti iblis!”
“CUKUP!” teriakku.
“Ini hidupku. Aku yang memutuskan. Aku tidak pernah menelantarkan kalian, jadi jangan manipulasi aku dengan drama seperti ini!”
Aku pergi. Kupikir semuanya selesai.
Ternyata belum.
3
Keesokan harinya di kantor, temanku menyenggolku.
“Nadia, kamu lihat video viral ini? Sepertinya itu ibumu…”
Judul videonya:
“ANAK PEREMPUAN SEPERTI INI, SAYA TAK PERLU MAHAR! SIAPA MAU AMBIL?”
Dalam video itu, Ibu mengunggah potongan saat aku berteriak, sementara ia menangis. Aku dijadikan penjahat.
“Dia menolak menikah meski kami mohon. Dia jadi beban keluarga, bahkan adiknya ikut terdampak…”
Dalam semalam video itu viral.
Komentar-komentar:
“Terlalu pilih-pilih, merasa dirinya emas.”
“Perawan tua, tak hormat pada orang tua.”
“Usir saja dari rumah!”
Ibu bahkan menandai akunku:
“Inilah anak saya. Tolong nasihati dia agar sadar dan mau menikah.”
Inbox-ku dipenuhi pesan tak senonoh dari pria-pria asing.
“Aku bisa menikahimu sekarang.”
“Tak perlu pesta, langsung saja ke hotel.”
Bosku memanggilku. Beberapa orang men-tag perusahaan, menyebarkan rumor bahwa aku wanita simpanan.
Aku terancam diskors jika tak menyelesaikan “skandal” ini.
Saat pulang, kulihat Ibu santai menonton TV, bahkan bernyanyi.
Lima tahun lalu, ketika aku belum punya uang, ia bekerja sebagai petugas kebersihan agar Arga bisa sekolah. Ayah bekerja bangunan.
Sekarang, karena aku, ia bisa hidup nyaman.
Namun kini ia menghancurkan hidupku.
Aku meletakkan ponsel di depannya.
“Hapus video itu.”
Ia tak menoleh.
Aku mematikan TV.
“HAPUS SEKARANG! KAU TAHU AKU BISA KEHILANGAN PEKERJAAN?!”
Ia tertawa dingin.
“Biarlah. Supaya kamu sadar, bagi perempuan yang paling penting itu suami dan keluarga, bukan karier!”
Tubuhku gemetar menahan marah.
Tepat saat itu, bel rumah berbunyi.

Bel rumah berbunyi lagi.
Ibu berteriak dari dalam,
“Pasti tetangga mau lihat drama lagi!”
Aku mở cửa.
Bukan tetangga.
Dua orang berdiri di depan rumah. Satu pria berjas rapi, satu perempuan membawa map dokumen.
“Apa ini rumah Ibu Ratna?”
Aku mengangguk.
Pria itu menyerahkan kartu nama.
“Saya dari kantor hukum. Kami datang terkait laporan pencemaran nama baik dan penyalahgunaan data pribadi.”
Wajah Ibu langsung berubah.
“A-apa maksudnya?”
Aku melangkah masuk, berdiri tepat di depan ruang tamu tempat ia biasa merekam video menangisnya.
“Aku sudah mengumpulkan semua bukti. Video yang Ibu potong, komentar yang memfitnahku, pesan-pesan pelecehan yang masuk karena Ibu menyebarkan dataku.”
Suara Ibu mulai gemetar.
“Kamu… kamu mau laporkan Ibu sendiri?”
Aku menatapnya lurus.
“Yang melaporkannya bukan aku.”
Aku membuka ponsel dan memperlihatkan email resmi.
Perusahaan tempatku bekerja telah mengambil langkah hukum karena reputasi perusahaan diseret ke dalam fitnah publik. Dan aku, sebagai korban, dilindungi oleh hukum.
Ruangan terasa sunyi.
Ayah yang selama ini diam akhirnya bicara pelan,
“Ratna… ini sudah terlalu jauh…”
Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan di mata Ibu. Bukan takut kehilangan muka. Tapi takut kehilangan kendali.
Ia selalu mengira aku akan tunduk. Karena aku anak perempuan. Karena aku berbakti. Karena aku takut dianggap durhaka.
Ia salah.
Seminggu kemudian
Video itu dihapus.
Ibu mengunggah video klarifikasi, dengan suara jauh lebih kecil dari biasanya.
Namun internet tidak mudah lupa.
Orang-orang mulai melihat versi lengkap rekamanku. Potongan yang selama ini ia sembunyikan tersebar. Netizen mulai berbalik arah.
“Kenapa memaksa anak sampai segitunya?”
“Dia sudah kirim Rp 60 juta per bulan, masih dibilang beban?”
“Orang tua seperti ini yang bikin anak trauma.”
Arga berhenti menatapku seperti musuh.
Ia akhirnya sadar: bukan aku yang merusak hidupnya. Ia hanya butuh kambing hitam.
Satu bulan kemudian
Aku pindah.
Apartemen kecil yang dulu kubeli atas nama orang tuaku, kini resmi kuganti atas namaku sendiri.
Aku tetap mengirim uang. Tapi jumlahnya sesuai kewajiban, bukan karena rasa bersalah.
Bukan Rp 60.000.000 lagi.
Cukup untuk hidup layak.
Sisanya? Untuk diriku.
Untuk pertama kalinya, aku membeli sesuatu bukan untuk keluarga.
Aku membeli tiket perjalanan ke Bali.
Di tepi pantai, aku duduk sendirian. Angin laut menyentuh wajahku.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada tuntutan.
Tidak ada kata “malu”.
Hanya suara ombak.
Aku tersenyum.
Aku tidak membenci Ibu.
Tapi aku akhirnya memilih diriku sendiri.
Beberapa bulan kemudian, Ibu menelepon.
Suaranya tidak lagi keras.
“Nadia… kamu sehat?”
Aku menjawab tenang,
“Sehat, Bu.”
Hening sebentar.
Lalu ia berkata pelan,
“Maaf.”
Satu kata yang tidak pernah ia ucapkan seumur hidupku.
Aku menutup mata.
Memaafkan bukan berarti kembali seperti dulu.
Memaafkan berarti berhenti membawa luka itu ke masa depan.
“Aku juga mendoakan Ibu bahagia,” kataku.
Dan kali ini, untuk pertama kalinya dalam 26 tahun hidupku…
Aku merasa bebas.
Karena menjadi anak yang baik tidak berarti harus mengorbankan seluruh hidupmu.
Dan menjadi perempuan tidak berarti harus menikah demi harga diri orang lain.
TAMAT.