Ibuku selalu bilang aku alergi seafood.Selama 32 tahun, dia bahkan tidak pernah membiarkanku menyentuhnya.

Ibuku selalu bilang aku alergi seafood.
Selama 32 tahun, dia bahkan tidak pernah membiarkanku menyentuhnya.


Malam itu, aku—Clara Wijaya, 32 tahun—duduk di restoran mewah tepi laut di Jakarta bersama rekan-rekan kantor dari PT Arunika Digital.

Di atas meja bundar dengan lazy susan, terhidang oyster panggang dengan saus mentega bawang putih. Aromanya harum, menggoda.

“Clara, coba ini,” kata Pak Lito, Direktur Marketing kami, sambil memutar meja ke arahku.
“Spesial restoran ini.”

Lebih dari sepuluh pasang mata menatapku.

“Pak… saya—”

“Jangan bilang alergi,” ia tertawa ringan.
“Saya lihat medical check-up kamu bulan lalu. Tes alergi kamu negatif semua.”

Joy, rekan setimku, menyenggol kakiku pelan di bawah meja.
“Sudah, Clara. Cuma satu.”

Aku menelan ludah.

Selama 32 tahun, aku tidak pernah makan udang, kepiting, cumi, atau ikan laut. Kata Ibu, saat aku berusia tiga tahun, aku hampir meninggal karena makan udang. Tubuhku ruam, tenggorokan bengkak, dan aku masuk IGD berjam-jam.

Sejak itu, rumah kami bebas seafood.

Tanganku gemetar saat menjepit satu oyster.

Aku memasukkannya ke mulut.

Rasa asin laut bercampur gurih mentega memenuhi lidahku.

Aku langsung menelannya.

Detik itu juga, ponselku bergetar.

Ibu.

Aku menjawab.

“Clara! Kamu makan seafood?!” Suaranya tajam, panik.

“Hanya satu oyster, Bu…”

“Muntahkan! Sekarang juga!”

Aku berdiri dan keluar ruangan.


1

Di lorong yang redup, aku bersandar di dekat alat pemadam api.

“Bu, saya baik-baik saja.”

“Lebih penting bosmu atau nyawamu?! Kamu lupa dulu kamu hampir mati?!”

“Tapi hasil lab saya negatif…”

“Mesin tidak lebih tahu dari ibumu!”

Hening sejenak.

“Kamu di mana?”

“Harbor View, dekat Ancol.”

“Jangan pergi. Ibu ke sana sekarang. Bawa obat.”

Telepon terputus.

Aku menatap layar gelap itu lama sekali.


Di toilet, Joy menatapku melalui cermin.

“Clara… kamu tidak pernah curiga?”

“Curiga apa?”

“Kalau mungkin… kamu sebenarnya tidak pernah alergi?”

Aku membeku.

“Sepupuku juga begitu. Dibilang alergi kacang seumur hidup. Setelah menikah, dia coba diam-diam. Tidak terjadi apa-apa.”

Air keran mengalir dingin di pergelangan tanganku.

Sudah sepuluh menit.

Tidak ada gatal.
Tidak ada sesak.
Tidak ada ruam.

Hanya detak jantungku yang cepat—karena takut.

Takut bukan pada alergi.

Tapi pada kemungkinan bahwa selama ini… aku dibohongi.


2

Dua puluh lima menit kemudian, Ibu tiba.

Ia langsung memeriksaku dari kepala sampai kaki.

“Kamu pucat.”

“Karena takut, Bu.”

Ia mengeluarkan obat antihistamin dari tasnya.

“Minum ini.”

Aku menatapnya.

“Bu… kalau saya tidak alergi?”

Wajahnya berubah.

“Kamu meragukan ibumu?”

“Saya sudah 32 tahun. Tes medis saya negatif. Tadi saya makan oyster, dan tidak terjadi apa-apa.”

Matanya bergetar.

“Itu karena kamu cuma makan sedikit.”

“Kalau saya makan lagi?”

Suasana menjadi tegang.

“Clara, jangan coba-coba.”

“Tiga puluh dua tahun, Bu.” Suaraku mulai gemetar.
“Saya tidak pernah mencicipi apa pun. Bahkan kecap ikan pun tidak boleh.”

Orang-orang mulai memperhatikan kami.

Ibu menunduk.

Lalu pelan sekali, hampir tak terdengar:

“Dulu… waktu kamu kecil, kamu memang masuk rumah sakit.”

“Karena udang?”

Ia terdiam.

“Bukan.”

Dadaku terasa kosong.

“Karena tersedak. Kamu tersedak waktu makan. Dokter bilang saluran napasmu sempit waktu itu.”

Aku mundur selangkah.

“Jadi… bukan alergi?”

“Aku takut!” suaranya tiba-tiba pecah.
“Ayahmu meninggal karena syok alergi obat. Aku takut kehilangan kamu. Aku tidak mau ambil risiko.”

Air matanya jatuh.

“Aku pikir… kalau kamu tidak pernah menyentuh seafood, kamu akan aman.”

Aku berdiri diam.

Selama 32 tahun… aku hidup dalam ketakutan yang bukan milikku.


3

Aku kembali ke meja makan.

Semua orang berhenti bicara.

Pak Lito menatapku.
“Sudah aman?”

Aku duduk.

Lalu, tanpa berkata apa pun, aku mengambil satu potong kecil lobster.

Semua orang menahan napas.

Aku mengunyah perlahan.

Rasanya manis. Lembut. Hangat.

Aku menunggu.

Satu menit.
Dua menit.
Lima menit.

Tidak terjadi apa-apa.

Joy tersenyum kecil.

Aku menoleh ke arah pintu. Ibu masih berdiri di sana, memandangku dengan mata merah.

Aku bangkit dan menghampirinya.

“Bu,” kataku lembut,
“Saya tidak marah.”

Ia menggenggam tanganku erat.

“Tapi mulai hari ini… biarkan saya hidup tanpa ketakutan yang bukan milik saya.”

Ia terisak.

Aku memeluknya.


Malam itu, untuk pertama kalinya dalam 32 tahun, aku makan seafood tanpa rasa takut.

Dan untuk pertama kalinya juga, aku menyadari sesuatu:

Yang membuatku sesak selama ini bukan alergi.

Tapi cinta yang terlalu takut kehilangan.

Dan cinta, kalau terlalu takut,
bisa berubah menjadi sangkar.

Hari itu, aku tidak hanya mencicipi lobster.

Aku mencicipi kebebasan.

Ibu tidak langsung berubah.

Ia masih menatap piringku seperti itu bom waktu.
Masih menggenggam tasnya seakan-akan obat di dalamnya adalah jimat terakhir yang melindungiku.

Tapi malam itu, ada sesuatu yang berbeda.

Ia tidak lagi melarang.
Ia hanya diam.

Dan diamnya… adalah langkah pertama.


Beberapa minggu kemudian, aku sengaja mengajaknya makan siang.

Bukan di restoran mahal.
Bukan di tempat penuh orang kantor.

Hanya warung seafood sederhana di tepi pantai.

Angin asin meniup rambut kami. Meja kayu tua sedikit goyah. Di atasnya ada udang bakar, cumi goreng tepung, dan sup ikan hangat.

Ibu menatap makanan itu lama sekali.

“Aku tidak pernah benar-benar melihat kamu makan ini,” katanya pelan.

“Aku juga tidak pernah benar-benar tahu rasanya,” jawabku sambil tersenyum.

Aku mengupas satu udang.
Kali ini aku makan perlahan. Menikmati.

Tidak ada ruam.
Tidak ada sesak.
Tidak ada ambulans.

Yang ada hanya suara ombak dan napas Ibu yang perlahan menjadi tenang.

Tiba-tiba ia berkata,
“Clara… maafkan Ibu.”

Aku terdiam.

“Selama ini Ibu pikir melindungi berarti mengontrol. Ibu pikir kalau Ibu takut, kamu juga harus takut. Supaya kamu selamat.”

Air matanya jatuh, tapi kali ini bukan karena panik.

“Padahal kamu sudah lama cukup kuat.”

Aku menggenggam tangannya.

“Bu, kalau bukan karena Ibu terlalu mencintai saya, mungkin saya tidak akan tumbuh sekuat ini.”

Ia tersenyum dalam tangisnya.


Beberapa bulan kemudian, aku sadar perubahan terbesar bukan pada makananku.

Tapi pada hidupku.

Aku mulai berani mengambil proyek yang dulu kutolak karena Ibu takut aku terlalu lelah.
Aku mulai traveling tanpa harus video call tiap dua jam.
Aku mulai membuat keputusan… tanpa menunggu persetujuan siapa pun.

Dan setiap kali rasa takut lama itu muncul—
aku akan mengingat malam pertama aku makan oyster.

Tubuhku baik-baik saja.
Duniaku tidak runtuh.
Yang runtuh hanya tembok yang tidak pernah seharusnya dibangun.


Suatu sore, Ibu mengirim pesan:

“Clara, nanti pulang ya. Ibu masak.”

Aku tersenyum.

“Masak apa, Bu?”

Beberapa detik kemudian balasannya masuk.

“Udang saus mentega. Resep baru. Ibu belajar dari YouTube.”

Aku tertawa kecil.

Tiga puluh dua tahun, seafood dilarang masuk rumah.
Hari ini, dapur kami harum oleh bawang putih dan mentega.

Saat aku duduk di meja makan rumah masa kecilku, Ibu menyendokkan udang ke piringku.

Tangannya tidak gemetar lagi.

“Enak?” tanyanya hati-hati.

Aku mengangguk, tersenyum lebar.

“Enak sekali.”

Ia tersenyum bangga.

Dan di momen itu aku sadar—

Aku tidak pernah benar-benar alergi pada seafood.

Yang dulu ada hanyalah ketakutan seorang ibu yang pernah kehilangan, dan tidak ingin kehilangan lagi.

Tapi cinta yang sehat bukan tentang menjauhkan dunia dari anaknya.

Melainkan mengajarinya cara menghadapi dunia… tanpa rasa takut.

Malam itu, kami makan bersama.

Bukan lagi ibu yang melindungi anaknya dari bahaya yang tak ada,
bukan lagi anak yang hidup dalam bayang-bayang kecemasan.

Hanya dua perempuan—
yang sama-sama sedang belajar bahwa melepaskan
kadang adalah bentuk cinta yang paling berani.